Diam tanda kram otak

Hal yang paling menyebalkan dari profesi konsultan dan trainer adalah berhadapan dengan sekelompok orang yang pasif.

Dalam pekerjaan saya, yang dihadapi tidak hanya mereka yang berpendidikan tinggi, tapi kebanyakan karyawan operasional semacam pencuci piring atau cleaning service.

Saya suka dengan tim marketing yang spontan, mereka bahkan hampir selalu menjawab sebelum pertanyaan selesai ditanyakan. Namun sayangnya tidak semua perusahaan memiliki tim marketing.

Bayangkan perasaan kami ketika sudah membawakan dengan semangat dan menggunakan bahasa semudah mungkin, tapi trainee (peserta training) hanya melongo saat pertanyaan dilontarkan.

image

Dan konyolnya, seringkali penyebabnya bukan karena mereka tidak mengerti pertanyaannya, tapi karena mereka takut salah, takut malu, takut ditertawakan…

Lebih konyolnya lagi, ternyata ini tidak hanya dihadapi oleh konsultan atau trainer seperti saya, sebagian guru di sekolah menghadapinya.

Ada dua tipe orang yang lambat ketika menjawab

Saya akan menceritakan bagaimana tipe dan tahap-tahap ekspresi mereka. Tipe pertama mereka yang mendengar pertanyaan sambil bengong… Kemudian saat terjadi kekosongan suasana, mereka akan mengerutkan kening dan akting seolah-olah mereka berpikir, namun tidak ada jawaban keluar dari mulut mereka. Saat pertanyaan diulang kedua kalinya dengan lebih rinci dan jelas, mereka tetap mempertahankan ekspresi berpikir namun tak ada jawaban yang dihasilkan…. Seperti terkena kram otak mendadak.

Saya tidak paham juga, apakah mereka ini termasuk golongan lemot, sulit berpikir atau kurang konsentrasi. Pastinya bahan apapun yang diberikan pada mereka akhirnya adalah seperti benih yang jatuh di pinggiran jalan… Di mana mereka mengijinkan burung mematuknya.

image

Tipe kedua adalah mereka yang mendengar pertanyaan, kemudian mata mereka berbinar seolah mengetahui jawabannya, cengengesan dan komat kamit, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Saat mereka ditunjuk untuk menjawab mereka tersipu-sipu malu dan menjawab dengan suara yang sangat pelan. Kemungkinan ketakutan mereka ada dua: mereka takut jika jawabannya salah, atau jika dianggap sok pintar oleh rekannya.

Ini iklim yang sangat tidak sehat bagi dunia pendidikan di Indonesia. Akibat dari guru yang tidak meningkatkan kecerdasan linguistik dan intrapersonal anak didik. Akibat dari tidak meratanya perhatian guru pada seluruh siswa. Akibat dari guru mengajar sekenanya saja, tidak peduli anak didik memahami atau tidak. Akibat dari guru yang marah ketika ditanya, atau mengolok-olok ketika anak didik salah menjawab pertanyaan.

Jika ada istilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, saya memiliki istilah yang pintar makin pintar, yang bodo makin goblok. Bukankah harusnya sekolah mencerdaskan anak? Jika anak didik memang bodoh atau ber-IQ rendah, bukankah setidaknya mereka diajar untuk berkomunikasi dengan baik, karena manusia toh diciptakan sebagai mahluk sosial.

Jadi, para guru,… Tahukah bahwa peranan Anda sangat berpengaruh pada mentalitas bangsa ini? Tahukah Anda bahwa sebuah jawaban sinis atau bentakan bisa berpengaruh pada hidup seorang manusia?

Jika Anda tahu, saya rasa Anda tak akan lagi menyepelekan tugas mengajar Anda.

Advertisements

Antara Insting, Emosi, Logika, Iman dan Seorang Gadis Bernama Novela

Saya suka sekali dengan drama pilpres tahun ini. Bagi saya, drama pilpres ini memberi banyak pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Ketika Sang Macan tidak terima kekalahannya dan membawa kasus kekalahannya ini ke Makhamah Konstitusi. Kemudian masyarakat disuguhi lagi pelajaran mengenai sidang konsititusi yang menarik untuk disimak. Mulai dari saksi-saksi yang bodoh, tidak relevan, hingga ketua MK yang berwibawa dan para hakim anggota yang pintar benar-benar menarik perhatian.

Hari ini, kita disuguhi komedi dalam Sidang MK, ketika seorang saksi yang didatangkan kubu Prabowo Hatta berani membentak setiap orang yang bertanya padanya, mulai dari pengacara, hingga hakim ketua MK sendiri. Continue reading “Antara Insting, Emosi, Logika, Iman dan Seorang Gadis Bernama Novela”

Dunia nyata vs film

image

Kemarin malam saya menonton sebuah film berjudul “Last Action Hero” yang diproduksi tahun 1993 dan dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger berperan sebagai Jack Slater dan dirinya sendiri.

Film ini sepertinya ditujukan untuk anak-anak walau ceritanya tidak boleh dicerna dengan logika karena akan membingungkan. Berkisah tentang seorang anak yang menemukan tiket yang membawanya ke dalam dimensi film.

Dalam dimensi film tidak ada sutradara atau lampu-lampu, hanya kehidupan biasa yang tidak masuk akal. Anak ini, Danny, mencoba meyakinkan Jack Slater, idolanya bahwa itu adalah dunia film. Diperlihatkannya beberapa hal tidak masuk akal seperti kucing yang jadi polisi, seluruh wanita cantik yang hilir mudik (tidak ada wanita biasa), dan pistol yang tidak pernah diisi peluru tapi selalu ada pelurunya.

Intinya, Danny menunjukkan bahwa dunia film itu dunia yang tidak masuk akal. Dunia di mana kehidupan begitu mudah, di mana tokoh utama tidak akan mati hingga semua penjahat ditangkap. Namun Jack Slater mengatakan bahwa itu semua masuk akal, tidak ada yang aneh.

Cerita semakin rumit ketika tokoh jahat menemukan tiket yang membuka pintu masuk ke dunia nyata, membuat onar dan berencana mwmbunuh Arnold, pemeran Jack Slater, karena pikirnya jika Arnold mati, maka Slater juga akan mati.

Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika Bennedict, si tokoh jahat menemukan sebuah fakta bahwa di dunia nyata, tidak ada sirine polisi yang serta merta berbunyi ketika seseorang baru melakukan kejahatan. Ia membunuh seseorang, berteriak mengumumkan apa yang baru saja dia lakukan. Namun, tidak ada sirine polisi, apalagi petugas polusi yang datang.

Hal lain adalah ketika Nick, penjaga bioskop, mengatakan bahwa dunia nyata tidak seideal fiksi, ada politisi dan masalah lain yang membuat kenyataan menjadi begitu buruk.

Rupanya film ini memuat kritik sosial, ketika dunia nyata di Amerika tidak seideal dunia fiksinya. Pesan yang sederhana namun seharusnya cukup menampar. Namun perbedaan fiksi dan nyata sendiri dapat dianalisa penyebabnya. Apakah untuk mengelabui rakyat, ataukah ini merupakan harapan bagi rakyat Amerika.

Saya menemukan perbedaan jika dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Sinetron kita menyajikan hal yang sungguh ironis, lebih buruk dari kenyataan sehari-hari. Bukannya memberikan harapan, namun justru kesesakan. Bukannya membangkitkan semangat, tapi justru membuat kita berpikir, betapa rusaknya generasi muda bangsa,

Beberapa hari yang lalu saya bersama beberapa teman membahas K Pop. Bukan artis-artisnya, tapi bagaimana kemajuan Korea yang luar biasa, dimulai dari membangun anak mudanya, khususnya di dunia hiburan, bukan hanya masalah penampilan, tapi sikap hidup. Saat ini, Korea melesat cepat menjadi trendsetter bagi anak-anak muda.

Bagaimana dengan Indonesia?

Yaah, jika kita tidak bisa mengharapkan pemerintah, dunia pendidikan dan dunia hiburan, mari kita mulai dengan keluarga kita. Mendidik diri kita sendiri, anak-anak kita, anak-anak didik kita untuk menjadi harapan bagi kemajuan bangsa.

Hamil, ujian nasional dan berkat

Kemarin saya melihat berita di TV One tentang topik yang menarik. Topik yang pernah saya bicarakan dengan seorang teman juga sebelumnya mengenai “Bolehkah seorang siswa yang hamil (atau menikah) ikut ujian nasional”. Menurut narasumber di acara tersebut, tidak ada larangan dalam undang-undang yang mengatur bahwa pelajar yang sudah menikah atau hamil tidak boleh ikut ujian. Namun kenyataannya beberapa sekolah menetapkan aturan bahwa siswa yang menikah atau hamil tidak diperkenankan ikut ujian.

Saat itu diundang bintang tamu, seorang siswa yang sudah menikah. Saya tidak tahu apakah siswa ini menikah karena dipaksa orangtuanya melalui perjodohan ala sinetron atau karena bertanggungjawab karena sudah menghamili pacarnya (sedikit sekali kemungkinan dia menikah karena menghindari berbuat dosa di usia SMA). Siswa tersebut tidak diperkenankan mengikuti ujian oleh sekolah karena dia sudah menikah.

Menurut saya, ini memang suatu kekonyolan. Ayolah!! Katakan saya seorang siswi melakukan kelalaian hingga hamil. Saya yakin dia tidak akan bersukacita dan berpesta pora merayakan masa depannya karena kehamilannya di masa remaja ini. Seorang siswi yang memang ingin menikah atau ingin punya anak biasanya akan dengan sadar mengundurkan diri dari sekolah dan memutuskan untuk menikah (ini benar! Silahkan datang ke daerah, beberapa remaja puteri yang menikah di usia remaja biasanya dengan sadar akan mengundurkan diri dari sekolah)

Mari kita lihat dari kacamata ini: seorang siswi jaman sekarang yang sampai hamil biasanya adalah mereka yang polos dan lugu. Siswi gaul jaman sekarang tentunya sudah paham benar bagaimana caranya menghindari kehamilan. Mereka yang sampai hamil adalah mereka yang tidak paham mengenai hal ini atau begitu lugu sehingga dapat mengikuti emosi sesaat dan blassss….. Tuhan menaruh jiwa baru dalam janin-nya.

Saya katakan Tuhan yang menaruhnya karena tentunya semua setuju bahwa kehamilan terjadi karena ijin Tuhan. Begitu banyak pasangan yang sudah menikah, jika Tuhan tidak mengijinkan, mereka tidak juga memiliki anak.

Baik, ketika siswi yang polos ini menyadari bahwa dia hamil, reaksi pertamanya tentunya bukannya pesta pora atau dengan sukacita menceritakan berita bahagia ini pada orangtuanya. Mereka akan merasa begitu kotor, begitu berdosa, frustrasi dan bingung “bagaimana nasib saya? bagaimana masa depan saya”.

Begitu tolol Anda kalau mengatakan “kenapa dong bisa sampai hamil” kepada siswi yang sudah TERLANJUR hamil. Anda mungkin bisa mencegah siswi Anda yang lain melakukan hubungan suami istri sebelum waktunya dengan mengajarkan moral yang benar pada mereka. Namun tidak ada gunanya Anda berceloteh soal moral atau menasihati seorang siswi yang sudah TERLANJUR hamil. Percayalah, mereka sudah cukup merasa bersalah.

Belum lagi jika mereka merasa tertekan saat hamil, terpikirkah oleh Anda apa dampak psikologisnya bagi si jabang bayi? Hey… Anda tengah melibatkan seorang anak dalam masalah yang rumit, dan ini sama sekali tidak baik!

Ada dua kemungkinan “pelaku” dalam kasus kehamilan remaja ini. Teman pria yang juga naif dan polos, atau seorang pria lihai dari luar sekolah yang memang memanfaatkan siswi ini untuk kesenangan semata. Jika yang melakukannya adalah teman pria yang naif dan polos, biasanya mereka akan bertanggungjawab dan menikahi pacarnya yang hamil ini. Jika yang melakukannya adalah pria lihai hidung belang, maka biasanya mereka akan menghilang entah ke mana.

Katakanlah yang melakukannya adalah teman pria yang mau bertanggungjawab dan menikahi pacarnya, bukankah ini pun patut kita beri apresiasi? Masakan kemudian sekolah melarangnya ikut UN dan menghancurkan masa depan sebuah keluarga baru? Bayangkan suami istri remaja yang baru membina rumah tangga. Sang suami butuh kerja untuk menghidupi istri dan anak mereka kelak. DIA BUTUH IJAZAH MINIMAL SMA, dan sekolah dengan seenaknya melarangnya ikut UN??

Atau katakan yang melakukannya pria hidung belang. Bukankah sudah cukup siswi ini merasa frustrasi, kotor, sendirian dan ditinggalkan? Apakah perlu sekolah menambah kemalangannya dengan melarangnya ikut UN? Mungkin siswi ini akan diusir dari rumah atau orangtuanya tidak akan peduli, dia butuh kerja dan untuk kerja DIA BUTUH IJAZAH MINIMAL SMA, dan sekolah melarangnya ikut UN?

Bukankah“Setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, termasuk hak mendapatkan nilai dan mengikuti ujian.”?

Ironis sekali, sementara Muh. Nuh menteri pendidikan mengatakan bahwa siswi hamil tetap diijinkan untuk ikut ujian, bahkan dalam ruangan yang sama dengan siswi lain, seorang Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara menghimbau agar siswi hamil ikut ujian Paket C saja.

Jadi, sebagian Anda mungkin berkata kehamilan ini akan jadi contoh buruk bagi teman-temannya. Mari kita gunakan logika. Katakanlah Anda seorang siswi SMA. Kemudian Anda melihat seorang teman yang hamil, merasa malu, frustrasi dan bingung. Apakah kemudian dalam hati atau pikiran Anda akan berkata, “Ah, kalau ternyata siswi hamil boleh ujian, sebaiknya saya hamil juga.” ?? TIDAK!! Sebenarnya kehamilan siswi ini cukup menjadi pelajaran bagi yang lain.

Saya tidak membenarkan dua orang pelajar kebablasan sampai si wanita hamil. Apa yang saya maksud di sini adalah “jika itu sudah terlanjur terjadi, apa yang harus kita lakukan?”

Kemudian saya jadi teringat peraturan sebagian besar gereja yang tidak mau memberkati pasangan yang menikah dengan kondisi wanita sudah hamil. Saya selalu bertanya “KENAPA?” Kemudian dijawab, “mereka didoakan kok…. tapi tidak diberkati”

INI KONYOL!!

Ijinkan saya bertanya “memangnya berkat datang dari siapa?” Apakah dengan menumpangkan tangan dan memimpin sakramen pernikahan kudus, maka seorang pendeta berhak mengklaim bahwa dirinya yang memberikan berkat bagi pasangan ini? TIDAK!

Berkat datangnya dari Tuhan. Kalau perlu berpuasalah Anda, dan bertanyalah pada Tuhan, apakah DIA masih akan memberkati pasangan yang melakukan kelalaian sampai hamil kemudian memutuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikah?

Di salah satu gereja bahkan menetapkan aturan bahwa pendeta baru akan “memberkati” jika si pasangan ini mengakui perbuatan mereka di hadapan seluruh jemaat dan meminta maaf. WHAT?? Apakah tertulis seperti itu dalam Alkitab, bapak pendeta yang terhormat?

Bukankah justru mereka yang sudah hamil sebelum nikah membutuhkan perlindungan, pengampunan dan berkat lebih?

Tunggu dulu!! Saya tidak sedang berkampanye mengenai pergaulan bebas. Saya sangat setuju dan mendukung pendidikan moral dan Character Building yang kokoh untuk anak-anak kita sehingga mereka tidak sampai kebablasan (tidak cukup sekedar tidak hamil dengan maraknya informasi mengenai bagaimana menghindari kehamilan).

Saya bahkan menghimbau agar orangtua dan guru menanamkan sejak dini pada anak dan anak didiknya mengenai bagaimana mereka harus melihat tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan pada Tuhan.

Namun sekali lagi, saya tidak menyoroti tindakan pencegahan, saya sedang membicarakan tindakan penanganan. Ketika seorang remaja putri hamil di luar nikah, apakah yang dilakukan gereja atau komisi remaja? Merangkulnya atau mengucilkannya?

Ketika sepasang manusia melakukan kesalahan dengan berhubungan sebelum menikah yang mengakibatkan si wanita hamil, apa yang dilakukan gereja, menolak melakukan konseling dan menolak memberkatinya dengan alasan “hanya didoakan saja” walau mereka sebenarnya juga bukan si pemberi berkat? Atau justru memberikan konseling lebih intens, membimbing pasangan ini dan memintakan pengampunan dan berkat Tuhan turun atas keluarga baru ini?

Ini memang pemikiran yang cukup berat karena menyangkut pola pikir lama dan moral yang kita pikir kita miliki. Namun, tidak ada salahnya kita memikirkannya sekaligus menganalisa, apakah kita teman, guru dan orangtua yang baik bagi mereka yang terlanjur melakukan kesalahan?

Santet, Astral Projection dan Voodoo

Tadi sore saya menonton tayangan Show Imah di Trans 7. Sebuah tayangan yang dipandu oleh Soimah, seorang wanita serba bisa yang mengaku dirinya memiliki image kampungan di mana publik. Tidak ada yang salah dengan tayangan ini, saya pun salah seorang penggemar dari Soimah. Hal yang ingin saya soroti di sini adalah topik yang diangkatnya, yaitu mengenai Eyang Subur.

Beberapa pekan belakangan Eyang Subur memang menjadi sosok misterius yang namanya banyak dibicarakan orang. Mulai dari dianggap sebagai guru, sampai dikatakan telah melakukan pesugihan monyet putih agar mendapat banyak uang. Apapun yang dibicarakan orang, yang jelas sosok ini telah berhasil memiliki cukup banyak pengikut di kalangan artis, khususnya pelawak.

Awalnya dimulai dari seorang Adi Bing Slamet yang merupakan murid lama Eyang berbicara pada media bahwa dirinya kena tipu dan guna-guna oleh Eyang. Dirugikan ratusan juta, plus menjadi malas sholat. Tulisan ini tidak ditujukan untuk memihak salah satu pihak. Saya hanya akan mencoba menyoroti fenomena yang sedang terjadi pada bangsa ini.

Di tayangan Show Imah tadi, bintang tamu yang diundang adalah seorang pengacara bernama Ramdan Alamsyah, yang ditunjuk oleh eyang Subur (yang entah mengapa enggan memunculkan dirinya) untuk menjadi pengacara sekaligus juru bicaranya. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah disebutkannya topik mengenai RUU mengenai Santet.

Indonesia ini adalah negara yang besar. Keberuntungan menyebabkan negara ini berada di lokasi strategis dengan jumlah kekayaan alam yang luar biasa. Namun sebagaimana umumnya, kemapanan membuat bangsa ini berpuas diri dan tertinggal jauh dari negara-negara yang bahkan lebih kecil dan tidak memiliki kekayaan alam seperti negara ini.

Walau dengan kekayaan alam seperti Indonesia seharusnya Indonesia bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia, namun masyarakat yang tinggal di dalamnya membuat Indonesia menjadi salah satu negara (hampir) terbelakang. Saya tahu, mungkin saya agak kasar di sini. Tidak sedikit orang Indonesia yang berprestasi. Ajang Indonesia Mencari Bakat telah membuktikannya.

Namun negara ini rupanya “dikuasai” oleh sejumlah besar manusia-manusia tidak berpendidikan yang “dihibur” oleh media. Saya tidak mengatakan seluruh media buruk. Namun mayoritas penduduk Indonesia yang tidak berpendidikan itu tidak menyukai tayangan berkelas seperti berita, informasi atau debat politik. Mereka lebih suka disuguhi tayangan-tayangan bersifat klenik (yang disamarkan dengan istilah “misteri”). Bahkan Sang Capres Muda Farhat Abbas membuktikan ketololan masyarakat ini dengan mengumbar soal Sumpah Pocong.

Saya tidak menyalahkan negara ini. Saya menyalahkan mayoritas Rakyat Indonesia (tidak semua) yang tidak mau berusaha untuk membuat negara ini menjadi lebih baik.

Beberapa kali saya pernah memindahkan channel saya ke SCTV, salah satu stasiun TV tertua di negara ini. Beberapa kali program yang sedang tayang adalah “Karnaval SCTV”. Entah mengapa dua kali saya menangkap Karnaval SCTV, acara yang sedang ditayangkan adalah Demian yang sedang beraksi.

Kali pertama saya tidak sengaja menonton, Demian sedang mencoba melakukan aksi Astral Projection. Kali kedua, Demian sedang melakukan Voodoo…

Menurut saya ini sangat amat tolol… Masyarakat yang saat itu banyak menonton adalah masyarakat dari kelas bawah di kota Sidoarjo. Entah mereka menyimak atau tidak yang jelas mereka ikut bertepuk tangan dan bersorak saat menonton aksi Demian ini.

Saya akan membahas sedikit masalah Astral Projection (dalam bahasa Indonesia: meraga sukma). Astral Projection adalah sebuah kejadian di mana tubuh astral manusia (roh) berpisah atau lepas dari tubuh fisiknya. Praktek Astral Projection ini merupakan salah satu praktek yang dilakukan di gereja setan. Mereka melepaskan roh dari tubuh mereka untuk memasuki tubuh orang lain dan menyesatkan mereka.

Anehnya, jika Anda memasukkan kata kunci  “Astral Projection” di google, maka Anda akan menemukan begitu banyak web berbahasa Indonesia yang memberikan tips melakukan astral projection.

image

Demian mempraktekannya (entah apakah benar atau hanya tipuan). Dengan menyebut diri Ilusionis, Demian melepaskan raganya, bersikap seolah-olah hanya onggokan tubuh kosong, dan kemudian ZAP!! menggerakkan benda-benda dengan rohnya. Terjadi sedikit drama pada saat dia kembali ke tubuhnya, yaitu terjadinya kebakaran di sekitarnya dan perutnya terlihat seperti terbakar, namun bajunya tidak terbakar sedikitpun.

Saya tidak ingat apakah seminggu atau hanya berselang beberapa hari kemudian, saya kembali melihat aksi Demian di Karnaval SCTV, hanya saja kali ini dia melakukan aksi VOODOO, di mana ia memegang boneka, menggerakannya, dan ada orang yang terlihat tanpa sadar menggerakan tangannya sama persis seperti boneka yang digerakkan Demian. Selanjutnya ia menaruh kain putih di belakang seseorang yang kemudian dia hipnotis.

Orang tersebut merasakan apapun yang dilakukan Demian pada bayangannya sendiri. Demian membakar tangan bayangan, telapak tangan orang itu ada bekas terbakar. Demian bertindak seperti mengangkat tangan bayangan, tangan orang itu terbakar. Selanjutnya Demian meminta Ruben mencubit boneka yang sudah diberi jampi-jampi, dan perut orang yang bayangannya dibakar tadi tiba-tiba ada tanda bekas dicubit.

image

Saya akan jelaskan sedikit soal Vodoo. Praktek Vodoo awalnya berasal dari Afrika Barat. Praktek ini dibawa ke daerah barat oleh para budak digunakan untuk menyembuhkan, melindungi atau melukai orang lain. Untuk mendapat ilmu ini biasanya seseorang harus mengikuti ritual tertentu.

Saya tidak tahu dan tidak peduli apakah ini hanya trik atau benar. Hal yang ingin saya soroti di sini adalah mengenai dampak acara ini. Walaupun di layar kaca tertulis “jangan meniru, trik ini hanya dilakukan oleh ahlinya”, namun kenyataannya, hal-hal seperti Astral Projection dan Vodoo telah masuk ke dalam industri hiburan Indonesia, dan itu sangat BURUK.

Bayangkan apa jadinya jika anak-anak menontonnya. Mereka tidak akan menganggap itu buruk. Mereka akan menganggap bahwa hal-hal seperti itu adalah suatu hal biasa, lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Mencoba untuk mencari tahu dan…Anda tahu bagaimana kelanjutannya.

Santet, Vodoo, Astral Projection dan ilmu klenik lainnya tidak dapat diselesaikan dengan Rancangan Undang Undang. Silahkan saja para pejabat yang terhormat memikirkannya, namun melalui tulisan ini saya hendak mengajak Anda, orangtua, guru, pendidik dan semua yang berhubungan dengan dunia anak. Hati-hati!! Awasi acara TV yang ditonton oleh anak-anak Anda. Kalau pun mereka telah menontonnya, beri pengertian tentang mana yang benar dan tidak, jangan malas menjawab saat mereka bertanya.

Anda bertanggungjawab untuk masa depan negara ini!!

Bacaan yang berat: Kurikulum 2013 (bag.1)

Kemarin malam saya menonton Mata Najwa, sebuah talk show yang dipandu oleh seorang reporter handal, Najwa Shihab, di Metro TV. Episode hari itu membahas tentang kurikulum 2013 yang akan menggantikan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang digunakan sejak 2006. KTSP sendiri merupakan kurikulum penyempurnan dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang digunakan sejak 2004.

Talk Show saat itu didahului oleh menteri pendidikan yang menyebutkan alasan-alasan kementerian pendidikan mengubah kurikulum (melalui webcam), yang kemudian dikritisi oleh dua orang wanita hebat yang kontra terhadap kebijakan ini, praktisi pendidikan Weilin Han dan sekjen PSGI Retno Listyarti. (Anda bisa menonton episode itu di sini).

Mendikbud, M.Nuh mengatakan bahwa kurikulum 2013 inilah yang terbaik karena merupakan kurikulum siap pakai. Beliau menyampaikan bahwa dalam kurikulum tersebut, mata pelajaran dikurangi, IPA dan IPS yang saat ini justru menjadi mata pelajaran terpenting, akan digabung dengan pelajaran lain. Di lain pihak, anak-anak akan senang ke sekolah karena beban buku menjadi ringan.

Beberapa pendapat kontra jika dirangkum akan menjadi sebagai berikut, “Pendidikan di negara ini kurang berkualitas karena SDM pengajar yang tidak berkualitas. Guru dinilai kurang berkualitas karena tidak dilengkapi dengan pelatihan yang memadai.”

Menurut saya, minimnya kualitas pengajar disebabkan 3 faktor:
1. Motivasi guru
2. Usia produktif guru
3. Pemerintah dan korupsi

Jujur sajalah, motivasi orang menjadi guru SAAT INI kebanyakan adalah sebagai berikut:
1. Satu-satunya cara mudah diterima di univ favorit adalah program MIPA yang ujung-ujungnya jadi guru. Untuk tipe ini, minim pengetahuan mengajar karena memang tidak diajar untuk menjadi guru.
2. Kuliah pendidikan itu mudah, murah, cepat. Untuk tipe ini, sebenarnya harusnya bisa mengajar, tapi, pikir sendiri bagaimana tipe orang yang ingin kuliah mudah, murah, cepat.
3. Banyak hari liburnya. Anak libur, guru ikut libur. Untuk tipe ini lebih gawat lagi, bisa jadi sembarang orang jadi guru, tidak terlatih, hanya bisa menumpahkan isi kepala.
4. Tidak diterima bekerja di tempat lain, sementara jadi guru dulu. Untuk tipe ini, mereka bekerja setengah hati, tanpa komitmen.
5. Suka anak-anak/remaja. Kedengarannya motivasi yang bagus? Jangan heran jika Anda melihat tipe ini sibuk bermain bersama anak tanpa memberi bobot belajar dalam kegiatan bermainnya.
6. Suka mengajar. Ini motivasi yang paling baik. Tapi keburukannya, biasanya orang yang suka mengajar merasa metodenya paling tepat sehingga sulit untuk diajar.

Anda mengatakan saya skeptis? Baik, tanyakan pada guru yang Anda kenal, bagaimana perasaan mereka ketika membuat RPP dan silabus (akan dibahas di bagian selanjutnya).

Baik, setelah motivasi, kita soroti usia produktif. Lihatlah guru-guru SD di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, katakan pada saya, berapa usia mereka? Menurut pengamatan saya (saat mengunjungi SD Negeri dalam kaitannya dengan pelayanan, atau memberi training guru), kebanyakan berusia di atas 50 tahun. Bahkan ada yang berusia 70an dan masih mengajar.

Jangan salah sangka, saya tidak mendiskreditkan para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Saya menyoroti gap usia yang terlalu luas ini berpeluang menimbulkan konflik. Kebanyakan guru menerapkan metoda lama (yang diperolehnya saat mereka belajar dulu) untuk mengajar generasi muda abad 21 ini. Hal ini jelas akan menimbulkan kesulitan karena peningkatan teknologi yang begitu pesat membuat pola pikir anak cepat berkembang, dibanding generasi abad 20an.

Belum lagi guru usia 50 ke atas sebagian besar menentang teknologi dan tidak mau tahu pada apa yang terjadi dengan dunia maya.

Bagaimana dengan yang berusia kebih muda? Saya pernah menjumpai guru di salah satu SMP Negeri pinggiran yang tidak pernah masuk kelas untuk mengajar. Padahal mata pelajarannya butuh tatap muka, yaitu matematika. Apa yang dilakukannya sebagai gantinya? Ia membuat blog (sekalian ajang cari uang), mengupload soal-soal ujian, menscan buku pelajaran, dan mendorong anak didiknya membuka blognya untuk belajar sendiri dan mengerjakan soal dari blognya.

Absen dinilai dari komentar murid di blog tersebut. Betapa dunia pendidikan di negeri ini sudah sekarat!

Terakhir, faktor pemerintah. Menurut sekjen PSGI, ibu Retno, tidak ada rencana training guru dalam anggaran tahunan kemendikbud. Menunjukan bahwa pemerintah kita tidak peduli pada kualitas guru. Entah apakah pemerintah naif dengan berpikir bahwa selama ini masalah rendahnya kualitas pendidikan adalah karena kurikulum, ataukah pemerintah memanfaatkan kesempatan perubahan kurikulum ini sebagai ajang mengumpulkan rupiah untuk kantong pribadi mereka.

Training guru secara merata diikuti dengan mentoring berkesinambungan dan regulasi yang tegas merupakan jalan keluar untuk masalah pendidikan di negeri ini.

Saat ini, pendidikan swasta di negeri ini jauh lebih baik daripada pendidikan si sekolah negeri, berbeda dengan di luar negeri. Ah, andai saja pendidikan sepenuhnya ditangani swasta, atau…pemerintah berbesar hati untuk bekerjasama dengan para pakar pendidikan, atau sekedar meminta pendapat mereka.

Toh semuanya untuk masa depan bangsa, untuk Indonesia yang lebih baik.

Saya tidak mau membuat pembaca bosan, bagian ini saya hentikan dulu. Di bagian berikutnya saya akan membahas mengenai apa itu kurikulum 2013, dan komentar saya, tentunya…. (ini kan blog pribadi saya, bukan media informasi hehe…)