Holiday day 1: Negara yang dikucilkan tetangga

Tahun ini, keluarga kami menghabiskan liburan di Korea selama 5 hari (dan 2 hari di perjalanan). Mengunjungi negara yang tumbuh karena industri kreatif merupakan sesuatu yang baru bagi saya, namun tidak bagi adik saya, penyuka film korea yang tahun lalu sudah mengunjungi negeri ini.
Kami berempat berangkat pada hari pertama Idul Fitri, Minggu, 25 Juni 2017 dan pesawat pertama yang kami naiki adalah Air Asia Indonesia yang berangkat tepat waktu pk. 08.20 dan dikepalai seorang pilot handal asal Indonesia.

Kapten ini selalu memberi informasi pada para penumpang sehingga kekuatiran kami banyak berkurang sepanjang penerbangan. Kami disambut cuaca tidak bersahabat di Negeri Singapura ini. Akibat cuaca tak bersahabat ini, pesawat yang sudah hampir menyentuh landasan Singapura terpaksa dipaksa mengudara lagi karena jarak pandang yang sangat pendek (pilot memberitahu saat kami sudah di udara lagi). Namun kemudian pada percobaan kedua, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus sekali.

Perjalanan kali ini, lagi-lagi diatur oleh Yovi, yang membagikan buku petunjuk kepada kami semua, katanya agar tidak ada yang banyak tanya saat kami liburan nanti (yang mana saya lebih suka bertanya sebenarnya).

(maafkan karena bukunya kusut, Sib).

Kurang lebih begitulah itinerary perjalanan kami…

Hari pertama ini kami habiskan di Singapura. Untuk mengisi waktu, kami akan mengikuti heritage tour. Tour ini gratis, diperuntukkan bagi mereka yang transit cukup lama di Singapura, dan di sepanjang perjalanan Anda akan dipandu oleh tour guide yang banyak bicara. 

Untuk dapat mengikuti Heritage tour, Anda harus mendaftar di boot berwarna ungu yang terletak di Terminal 2. Di sana ada Bapak berbaju ala Hawaii biru muda yang ramah. Dia akan memutuskan apakah sebaiknya Anda ikut Heritage Tour. Karena jika penerbangan Anda berikutnya sebelum pk. 6.00 sore, maka Anda kemungkinan besar akan tertinggal pesawat jika memaksakan diri ikut tour ini.

Setelah early check ini yang cukup lama di Terminal 1 (karena kami akan menggunakan Thai Airways yang berangkat dari Terminal 1), kami kembali ke Terminal 2 (area arrival dekat McD) untuk memulai perjalanan keliling Singapore (video bisa dilihat di instagram @greissia).

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang biasa saja, kami hanya berhenti 30 menit di Garden by the bay dan 20 menit di kampung Glam (perkampungan yanh dipenuhi restoran Turki dengan mesjid besar di ujungnya) karena Merlion ditutup berkenaan dengan public holiday. Namun yang menjadi luar biasa adalah bagaimana tour guide yang merupakan seorang wanita berusia 40an keturunan China sepertinya menghindari mengucapkan “Indonesia” (beliau melarang kami mengambil gambar dan video saat beliau menjelaskan karena menurutnya, beliau tidak cukup baik dan itu aturan perusahaan)

Saya selalu bangga mengatakan bahwa negara asal saya adalah Indonesia, sampai hari itu. Dalam bus itu ada dua keluarga Indonesia: kami, dan keluarga (juga keturunan China) yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. 

Saya mulanya sadar ketika beliau tidak menyebutkan nama “Indonesia” di antara negara tetangga Singapura yang merayakan Lebaran (yang dia ceritakan). Lalu ketika tour guide menanyakan satu persatu asal negara kami, dia tidak mentebutkan “Indonesia” ketika merangkum negara mana saja yang ikut tour hari itu (tapi menyebut New Zealand dan Jepang yang masing-masing hanya diwakili 1 orang). Kemudian dia lagi-lagi tidak menyebut Indonesia ketika bercerita mengenai negara-negara tetangga yang warga negaranya kerap mengunjungi Singapura (padahal, dia menyebut Brunei, Vietnam dan Filipina).

Saya tidak heran. Bagi negara tetangga kita hari ini, Indonesia adalah negara rasis yang memenjarakan seorang Gubernur jujur hanya karena dia berasal dari kelompok minoritas.

Kalau dipikir-pikir, tanpa bermaksud rasis, sebenarnya keturunan China di Indonesia merupakan warga negara yang “tangguh”. Mereka bertahan tidak menggunakan bahasa China dalam pergaulan sehari-hari (kecuali di pulau-pulau yang dekat dengan negara tetangga), bahkan mereka hanya bisa bahasa Indonesia hingga dicibir ketika mengunjungi negara tetangga yang warga negara keturunan Chinanya berbahasa Mandarin dalam pergaulan sehari-hari. Namun walau begitu, warga negara keturunan China di Indonesia tetap mendapatkan diskriminasi yang tak adil dari mereka yang menamakan diri pribumi. Tapi sudahlah, mungkin negara ini masih harus belajar…

Setelah Heritage tour, kami kembali ke Terminal 1, makan malam di KFC dan menyantap ayam goreng tepung bumbu Kari yang tidak ada di Indonesia, kemudian menunggu sampai akhirnya kami diijinkan masuk ke pesawat.

Suatu insiden kecil yang menyebalkan adalah ketika dengan berat hati saya merelakan cairan pembersih softlens saya karena botolnya berkapasitas 120 ml (maksimum seharusnya 100 ml, tapi saya mengira 150 ml).

Pesawat Thai yang kami tumpangi akan transit sebentar di Bangkok sebelum melanjutkan ke Korea. Kami berangkat ke Bangkok pk. 20.55 waktu Singapura dan tiba di Bangkok pk. 22.15 waktu Bangkok (3 jam 20 menit). Kami mendapat makan malam yang cukup banyak (nasi tom yam, roti bagel, cake kayu manis dan salad) yang kami santap habis walau ayam bumbu kari masih terasa di mulut. Setelah makan saya minta white wine yang membuat saya mengantuk luar biasa sesudahnya. Di tengah rasa kantuk luar biasa, kami dipaksa turun di Bangkok, dan berganti pesawat ke Korea. 

Korea memiliki waktu yang sama dengan Indonesia bagian Timur. Kami tiba di Korea pk. 6.30 waktu Korea yang artinya menghabiskan perjalanan sekitar 4 jam. Sekali lagi kami mendapat makan (kali ini nasi ayam, kimchi, pastry, jus buah kemasan, yogurt rendah lemak dan buah-buahan) pada pk. 4.30 dini hari (waktu Korea) yang saya santap sebagian sambil setengah tertidur (yogurt dan minuman jus buah terpaksa saya masukan tas karena ‘tidak muat’).

Baiklah, hari satu saya akhiri di sini, hari berikutnya akan saya awali di ketibaan kami di Korea.

Advertisements

Tentang berekspresi

Saya pernah berkata bahwa budaya Indonesia (khususnya keluarga yang berasal dari Warga Negara Keturunan Tionghoa) sangat minim sekali berekspresi…

Saat orang Indonesia ditanya “apa perasaanmu?” mereka hanya memiliki dua alternatif jawaban, yaitu senang atau tidak senang… Dalam kamus mereka tidak ada perasaan “kecewa” atau “terhina” atau “dicampakkan” atau “putus asa” atau perasaan-perasaan lainnya. Semua perasaan negatif akan berkumpul menjadi “tidak senang” dan perasaan positif menjadi “senang”.

Saat membahas bersama rekan2 pelayanan anak, mereka berkata hal ini dimulai dari rumah. Anak-anak tidak memiliki kebebasan untuk bersuara, untuk menyatakan pendapat dan mengungkapkan perasaan. Anak-anak terlalu diatur agar memiliki ekspresi sesuai harapan orang dewasa.

Dalam pelayanan saya di beberapa gereja dan sekolah Kristen, khususnya ketika mereka sedang ada acara khusus, saya sering menemukan suatu pertanyaan yang menjadi contoh hipotesis saya di atas. 

Biasanya guru atau guru sekolah minggu akan bertanya “apa kalian merasa diberkati (senang)?” lalu anak-anak akan menjawab dengan bergumam “yaaa”, merasa tidak puas biasanya guru akan bertanya lagi “yang merasa diberkati (senang) angkat tangannya”, lalu saat ada yang tidak mengangkat tangan, guru tersebut akan mengeluarkan kalimat-kalimat seperti “kok ga semuanya angkat tangan” atau kalimat lain soal bersyukur atau sukacita, sehingga anak-anak yang tadi tidak angkat tangan akan terpaksa mengangkat tangannya.

Minggu kemarin saya mengunjungi suatu retreat anak untuk membawakan firman. Sebelum pujian, ada guru yang bertanya pada siswa peserta retreat “untuk apa kalian datang kemari?”

Peserta pertama yang ditanya menjawab “merayakan Paskah”, dijawab “baguusss”, peserta kedua ditanya dan menjawab “merayakan Paskah” dijawab “wah sama jawabannya”, peserta ketiga ditanya dan menjawab yang sama dan guru itu berkata “wah nyontek nih”.

Ketika peserta keempat, seorang anak yang terlihat cerdas, ditanya ia menjawab “untuk bermain bersama teman”, karena dia tidak ingin dianggap menyontek. 

Bukannya mengapresiasi niat anak yang mengikuti retreat untuk main, guru itu menjawab “ah, kan main bisa di rumah”, anak itu lalu berpikir keras “untuk tidur bersama teman” dijawab “itu juga bisa dilakukan di rumah”, karena tidak ada pilihan lagi, dengan lesu anak itu menjawab “untuk merayakan Paskah”

Selanjutnya guru itu bertanya pada empat puluh siswa yang hadir satu persatu dan mendapat jawaban yang sama (benar-benar menghabiskan waktu, pikir saya).

Kalau itu tergantung pada saya, maka saya tidak akan merasa keberatan ada yang merasa tidak senang ikut acara camp,… justru itu membuat saya bekerja lebih keras membuat ia merasa senang,…dan diberkati.

atau saya tidak akan menyalahkan anak yang mengaku ingin main di retreat atau sekolah minggu,… tugas saya memperbaii paradigmanya dengan tindakan, bukan dengan pemaksaan agar dia menjawab sesuai keinginan saya.

Anak-anak perlu diajar menyampaikan perasaan dan pendapatnya sejak dini… seringkali orang tua dan pengajar yang tanpa disadari membuat mereka takut (dan apatis) jika berpendapat atau memiliki perasaan yang tidak sesuai dengan keinginan orang dewasa.

Dengan mengetahui pendapat dan perasaan mereka, kita dapat lebih efektif mengajar dan mengarahkan mereka.

Antara Kehendak Tuhan dan “Ramalan” Pendeta

(Untuk kalangan sendiri)

Heboh pilkada baru saja mencapai klimaksnya. Saat ini kondisi yang memanas ini sedang menurun menuju anti-klimaks. Masih ada sisa-sisa kemarahan di media sosial. Janji ditagih, penyesalan dicuitkan dan olok-olok dilontarkan.

Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas mengenai Ahok atau Anies. Tiba-tiba saja saya teringat pada masa pilkada sekitar enam bulan yang lalu, ada sebuah video yang cukup viral, berisi seorang pendeta yang menghampiri Ahok dan merasa mendapatkan “pesan dari Tuhan” yang harus disampaikan. Dalam video itu terlihat Bapak Pendeta berkata bahwa Tuhan menetapkan Ahok untuk menang satu putaran, menjadi gubernur  lagi dan nanti Ahok akan menjadi Presiden. Hari ini kita melihat apakah ramalan nubuat bapak pendeta itu tergenapi atau tidak.

Saudara, seperti pernah saya tulis sebelumnya, tulisan dengan tanda “untuk kalangan sendiri” di awal artikel saya tujukan khusus untuk Umat Kristen, tidak untuk menjelek-jelekkan, tapi untuk bahan renungan bersama.

Akhir-akhir ini emosi kita, bangsa Indonesia seolah sedang diajak naik roda berputar yang diputar dengan cepat. Kewarasan dipermainkan hingga ke titik nadir. Di mana-mana kita melihat makian, sindiran dan kata-kata pedas hilir mudik tidak hanya di media sosial, namun juga di kehidupan nyata. Isu SARA diangkat seolah mayoritas berhak untuk mendiskreditkan minoritas.

Emosi yang dimainkan ini bagi mayoritas merupakan bahan bakar untuk dapat memilih di sisi mana dia berdiri dan dengan lantang menyuarakan pilihannya. Sebagian berpihak pada kewarasan sebagian lagi hanya berpikir dirinya waras (padahal tidak). Namun bagi minoritas, emosi yang dimainkan ini menumpuk dan muncul dengan cara-cara tak terduga. Sebagian mengeluarkannya dengan cara melakukan doa puasa untuk negeri, sebagian memutuskan untuk menutup telinga dan tak peduli, sebagian lagi memutuskan untuk mengungsi saja ke luar negeri.

Bagi para rohaniwan, emosi yang fluktuatif ini merupakan suatu ujian yang berat. Bagaimana mereka harus tetap peka terhadap suara Tuhan atau terbawa emosi saat menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Emosi memang diberikan Tuhan kepada seluruh mahluk hidup, termasuk manusia… namun kemampuan mengendalikan emosi hanya diberikan kepada manusia.

Memang betul, Pendeta juga manusia, namun Pendeta seharusnya tidak seperti umat lainnya yang dapat terbawa emosi dengan begitu mudah. Membaurkan suara Tuhan dengan emosi merupakan hal yang sangat menyesatkan. Bayangkan dalam emosinya seorang Pendeta menyampaikan pesan yang diklaimnya sebagai “Suara Tuhan”, kemudian ternyata apa yang disampaikannya tidak sama dengan kehendak Tuhan. Apa kira-kira reaksi umat? Apa kira-kira reaksi dunia? Apakah Tuhan yang disembah Pendeta itu bisa salah? Atau pendeta itu mendengar Tuhan yang salah?

Selain pendeta yang bernubuat mengenai Ahok yang akan memenangkan Pilkada satu putaran dan ternyata kemudian entah Tuhan berubah pikiran (yang mana agak aneh) atau kehendak Tuhan berbeda, kita juga pernah mendengar ada pendeta yang mengeluarkan nubuatan-nubuatan yang akhirnya terbukti tidak tergenapi. Nubuatan mengenai tanggal akhir jaman yang keliru adalah salah satu contohnya.

Jangan salah sangka, saya tidak menganggap rendah nubuatan, bahkan Rasul Paulus berkata “janganlah anggap rendah nubuat-nubuat” (I Tesalonika 5:20), namun bukankah selanjutnya dia berkata “ujilah segala sesuatu”

Saya tidak akan memanjangkan tulisan ini. Saya akan menutupnya dengan sebuah ayat yang ditulis Rasul Petrus “karena nubuat TIDAK PERNAH dihasilkan oleh KEINGINAN MANUSIA, sebaliknya orang-orang kudus Elohim telah mengucapkan APA YANG DIHASILKAN oleh ROH KUDUS” (2 Petrus 1:21, penekanan dari saya, versi ILT 3)

Ya, nubuat tidak didorong oleh emosi manusia, tapi oleh dorongan Roh Kudus. Jadi lain kali, tolong berhati-hatilah ketika Anda (khususnya Pendeta) berkata “Tuhan berfirman kepada saya bahwa….”, pastikan itu tidak dihasilkan oleh emosi atau keinginan Anda sendiri.

Bedanya manusia dan hewan

Belakangan ini makan ala botram sedang trend di Bandung. Saya tidak tahu bagaimana di kota lain, karena sepertinya masakan Sunda yang paling cocok untuk cara makan jenis ini. 

Sejak awal trend ini, saya yang ribet dan rese ini selalu berkomentar “idih” setiap kali melihat gaya makan botram. Masalahnya, kemajuan jaman membuat kita manusia memberi wadah untuk makanan yang kita makan… Walau manusia makhluk sosial, toh manusia juga makhluk berakal yang menghargai privacy,… itulah alasan saya.

Bayangkan nasi yang dikumpulkan di tengah beserta sayur mayur dan lauk, yang akan diambil dengan tangan kemudian dimakan bersama-sama dalam wadah daun yang jadi satu.

Budaya botram sendiri merupakan budaya daerah Sunda untuk masyarakat yang tinggal di desa, artinya makan bersama dengan sayur yang dibawa bersama-sama juga.

Namun hari-hari terakhir ini sepertinya masyarakat perkotaan ingin mencoba makan ala masyarakat pedesaan. Makan botram dilakukan di mana-mana, mulai dari di rumah hingga di rumah makan.

Kemarin saya melihat foto botram, yang mana makanan disusun di lantai dengan beralaskan daun. Lalu saya berkata kepada teman saya, “Bedanya manusia dengan binatang itu, manusia membawa makanan ke mulutnya, tapi binatang membawa mulut ke makanannya.”

Bagi Anda umat Kristen, tahu kan kisah mengenai pasukan Gideon yang ditolak Tuhan karena membawa mulut ke air dan bukan sebaliknya. 

Lalu teman saya menjawab, ini hal menarik yang membuat saya menuliskan ini, “Bedanya manusia dan hewan adalah, manusia bisa memilih untuk menjadi seperti hewan, tapi hewan tidak punua pilihan untuk jadi seperti manusia”

Bukan botram yang ingin saya angkat di tulisan ini, tapi kenyataan bahwa jaman sekarang banyak manusia yang memilih berkelakuan seperti binatang. Manusia adalah mamalia yang berakal dan berbudaya. Tanpa akal dan budaya, hanya tersisa mamalia saja.

Berita yang kita dengarkan akhir-akhir ini: penganiayaan anak SMP, pembunuhan mahasiswa, penyerangan supir ojek online, merupakan sedikit contoh manusia yang merendahkan dirinya menjadi seperti binatang.

Salah satu sifat yang paling membuat manusia menjadi seperti binatang adalah sikap iri hati. Saya memiliki dua ekor anjing di rumah. Anjing yang pertama sudah berusia 6 tahun, dan anjing kedua baru berusia 1 tahun. Saat anjing pertama saya pegang dan elus biasanya anjing kedua akan panik. Dia minta saya menghentikan kegiatan saya dan mengelus dia saja. Jika saya tidak juga mengelus dia, maka dia akan mulai mengganggu anjing pertama. 

Sebaliknya saat anjing kedua yang saya elus, anjing pertama akan datang dan menaruh mukanya di badan saya (walau tidak secara agresif menyerang anjing kedua).

Mogoknya angkot di kota Bandung kemarin disebabkan iri hati supir angkot yang merasa dirugikan karena keberadaan taksi dan ojek online. Sungguh alasan yang lucu. Mereka ingin hak mereka diperjuangkan tanpa melakukan kewajiban dan tanpa mempertimbangkan kebebasan customer untuk memilih sarana transportasi yang dia sukai. 

Bukankah kisah mengenai pembunuhan pertama yang dilakukan oleh kakak terhadap adiknya juga disebabkan iri hati, padahal kesalahan awal terletak pada si kakak yang tidak memberi persembahan pada Tuhan sebagaimana mustinya. Mirip supir angkot kan? Dia yang mulai kasih layanan buruk, saat ada saingan dan memenangkan hati customer, malah marah-marah dan menganiaya.

Ya, manusia bisa memilih untuk menjadi seperti binatang yang bertindak berdasarkan iri hatinya, atau mengikuti saran Tuhan pada Kain saat ia mulai merasa iri “hati-hati, dosa sedang mengintip, kau harus berkuasa atasnya… ”

Pembeda manusia dan hewan adalah manusia diberi kemampuan menguasai emosinya dengan akal budi… jika tidak, maka manusia hanyalah mamalia biasa. Maafkan tulisan mengacau yang melompat-lompat ini, semoga Anda bisa memahami maksud saya..

Tentang Hashem Melech, Plagiat dan Hati yang Besar

Adik saya dan saya bukan orang Jakarta, tapi kami kagum dengan Ahok yang memiliki integritas tinggi dan kinerjanya yang membuat Ibukota negara kita menjadi luar biasa.(Kami juga makin lama makin ga respek sama kubu Anies Sandi yang nyinyir dan aneh). 

Baru saja adik saya mengirimi Whatsapp yang isinya memberitahu bahwa Pastor besar Gilbert mengeluarkan twit mengenai lagu Hashem Melech (The Lord is King), lagu rohani Yahudi yang ditiru oleh PKS dan kubu Anies Sandi menjadi “kobarkan semangat”.

Tak sampai menunggu waktu lama twitnya langsung bikin heboh senusantara dan menjadi trending topic. Luar biasa bukan ketika sebuah kebencian dipupuk. Saya tidak mengatakan Pak Pendeta menyebarkan kebencian, tidak! Pak Pendeta adalah korban kesalahpahaman saya, saya rasa.

Maksud saya, kebetulan twit beliau dibaca oleh orang dengan kebencian dan take all this election things personally.

Walau saya termasuk orang yang suka menulis ‘pedas’, namun saya selalu mencari narasumber dan memastikan apa yang akan saya tuliskan. 

Jadi sebelum ikut euforia mengolok-olok kubu paslon 3 mengenai plagiat lagu, saya mencoba mencari tahu dulu mengenai lagu ini dan alangkah terkejutnya saya menemukan sebuah video lagu berjudul C’est La Vie oleh Khalid yang musiknya sama persis dengan Kobarkan Semangat nya Anies Sandi

Saya terkejut dengan fakta bahwa yang ditiru oleh Anies Sandi bukanlah lagu Hashem Melech, karena sebenarnya melodi Hashem Melech pun diambil lagu lain yaitu C’est La Vie yang dirilis tahun 2012 (Hashem Melech tahun 2013). Saya sendiri tidak tahu bagaimana proses penggunaan melodi antar negara seperti itu.

Anda yang mengenal saya melalui tulisan saya (karena terkadang tulisan saya lebih kejam daripada saya sendiri) tentu tahu bahwa saya tidak biasa mendiamkan sesuatu yang salah berlalu begitu saja. Orang lain mungkin akan pura-pura tidak tahu selama kubunya mendapat keuntungan, tapi maaf, saya tidak bisa begitu.

Saya berusaha mengirimi Direct Message via twitter pada Pak Pendeta, agar beliau bisa meralatnya tanpa harus terkesan diberitahu saya. Tapi sepertinya settingan twitter tidak bisa mengirim DM pada seseorang yang tidak mengikuti kita (salahkan twitter saudaraku).

Jadi, karena saya adalah orang ribet dengan hati dan isi kepala yang rese, akhirnya saya memention beliau dan mengatakan bahwa kali ini beliau salah. 

Saya pikir beliau adalah Pendeta Besar dengan karakter seperti Pendeta Gereja Bintang Lima yang saya kenal yang selau mengatakan dirinya selalu benar dan akan mengamuk dan memecat orang yang mengritiknya.

Yah, saya tidak tahu bagaimana karakter Pak Pendeta ini. Namun seluruh hormat saya padanya malam ini karena beliau langsung merespon dan mengakui kesalahannya (walau se-Nusantara sudah keburu geger sih).

(walau twit sebelah kiri dihapus oleh ybs, mungkin takut orang baca twit saya yang jelas-jelas mengatakan bahwa beliau salah)

Namun lepas dari masalah election dan plagiat ini, saya kemudian merenungkan betapa kita bisa menjadi sangat memihak dan tidak obyektif ketika dihadapkan pada sebuah berita mengenai keburukan lawan kita.

Mungkin ini yang terjadi pada kubu lawan ketika mendengar “Ahok menista agama”. Tanpa cek dan ricek langsung menyebarkan berita secara luar biasa dan menjadikannya masalah dengan cakupan nasional.

Melalui tulisan ini saya mengajak seluruh sahabat, khususnya umat Kristen, untuk bisa berkepala dingin menyikapi semua hal. Jika tak bisa berkepala dingin, setidaknya tahan diri dan lakukan cek dan ricek sebelum menyebarkan sebuah berita.

Karena karakter seseorang terlihat dari bagaimana ia saat mengalami tekanan, dan saat memiliki kekuasaan…

Saya berharap semoga Bapa di Surga memberi kita hikmat untuk berkata benar dan bersikap benar agar kita senantiasa menjadi terang di dunia ini.
tambahan: Beberapa pengikut Ps. Gilbert mencoba membenarkan diri dan Ps. Gilbert kembali memberi klarifikasi… Saya hormat, Pak!

Urus Ijin Sendiri (3)

Masalah perijinan ini saya lanjutkan di hari Selasa, 1 Maret kemarin. Dimulai dengan mengecek apakah berkas SKDP saya sudah ditandatangani oleh Ibu Camat atau belum. Seperti biasa, saya langsung diminta masuk ke dalam ruangan Ibu N yang bertugas menyampaikan dan meminta tandatangan Ibu Camat.

KEMARIN

Saya disambut dengan “kebetulan, baru saya mau telepon, ada masalah sedikit”. Ketika saya bertanya masalah apa, beliau mengatakan bahwa masalahnya terletak pada IMB gedung yang akan kami pakai, di situ tertulis bahwa peruntukan gedung itu adalah untuk Rumah tinggal.

(Hal ini memang pernah jadi kekhawatiran saya sebelumnya. Saya pernah diberitahu petugas perijinan bahwa IMB dari bangunan yang akan kami pakai haruslah merupakan IMB khusus tempat usaha, namun ada kemungkinan bahwa tak apa jika untuk Apotek. Saya juga pernah telepon call center perijinan dan seorang ibu mengatakan, rumah tinggal bisa dipakai untuk apotek.)

Jadi, saya jawab Ibu N tersebut, “saya pernah tanya sama petugas perijinan Bu. Beliau mengatakan bahwa IMB Rumah Tinggal bisa digunakan untuk apotek. Kalau ibu ga percaya, saya bisa kasih no telpnya”

Ibu N tersebut kemudian menjawab, “Ya sudah gini aja, buat ajalah surat pernyataan. Menyatakan bahwa ibu bersedia mengubah IMB ini sewaktu-waktu jika diperlukan”

“Lho, gak bisa dong, Bu” jawab saya, “ini kan bukan rumah saya. Zaya ngontrak bu. Mana mungkin saya ganti begitu saja”

“Ya, minta saja tandatangan pemilik juga”

“Bagaimana suratnya Bu, kapan selesai?”

“Ibu camat masih rapat, nanti diusahakan secepatnyalah ya”

Dengan dongkol akhirnya saya meninggalkan tempat itu. Perlu Anda tahu bahwa pengurusan perijinan saat ini seluruhnya menggunakan online. Tidak bisa menyelipkan uang di dalam map seperti dulu untuk memuluskan urusan Anda. Jadi, jika Anda salah mengupload data, maka Anda akan ditolak dan harus mengulang proses dari awal.

Saya kemudian mengunjungi Jalan Cianjur untuk meminta kejelasan sekali lagi soal IMB. Saat itu sudah pk. 3 sore dan mereka sudah siap-siap mengakhiri layanan. Di situ kemudian saya mendapat sedikit solusi, “Ibu ke gedung sebelah saja urus KRK. Setahu saya, peruntukan rumah tinggal bisa untuk apotek asal luas apotek tidak melebihi 20 persen luas bangunan. Tapi coba ibu ke sebelah saja, bagian tata ruang kota (distaru). Tapi bu, sebenarnya kecamatan tidak ada urusan dengan IMB”

Ketika saya ke gedung sebelahnya, saya diberitahu untuk kembali lagi besok karena layanan sudah tutup lima menit yang lalu (pk. 3 sore). Tanpa hasil yang berarti, akhirnya sore itu saya memutuskan untuk berenang, demi kesehatan tulang belakang saya.

Pulang dari renang, saya mencoba untuk menelepon bagian pengaduan pungli (saber pungli) di nomor 0812.2000.4878 (catatlah, siapa tahu suatu saat Anda membutuhkannya) dan diangkat oleh seorang Bapak bernama Pak A. Saya menjelaskan kepada Pak A perihal permintaan bunga anggrek (“Pak, apakah memang ada ketentuan bahwa pengusaha memberi kontribusi untuk memperindah lingkungan kecamatan, karena kemarin saat saya mengurus SKDP saya dimintai bunga anggrek oleh petugas kecamatan”) dan lamanya pelayanan di kecamatan untuk sebuah tanda tangan saja.

Beliau kemudian mengusulkan agar nanti ketika saya kembali lagi, saya membawa hape dan merekam seluruh percakapan. Kemudian beliau meng-sms saya nomor pribadinya dan jika ada bukti apapun meminta saya mengirimkan via Whatsapp kepada beliau.

HARI INI

Perjalanan pagi ini dimulai dari Distaru kota Bandung. Saya akan menjelaskan mengenai KRK di sini, sebagai bagian dari janji saya ikut mensosialisasikan masalah ini pada sebanyak mungkin orang.

Petugas KRK yang baik hati bernama Bapak J menjelaskan pada saya mengenai area kuning yang peruntukannya adalah untuk rumah tinggal. Beliau menunjukkan semacam peta lokasi pada saya dan memberitahu bahwa deretan ruko yang saya kontrak peruntukannya adalah untuk Rumah Tinggal. Beliau menjelaskan, per 1 Februaru 2017 hal ini ditertibkan dan tak boleh lagi ada bangunan yang peruntukannya tidak sesuai.

Mengenai area kuning, tidak mungkin ada bangunan di area kuning yang IMBnya bukan rumah tinggal. Kalaupun dipakai usaha, maka hanya usaha-usaha tertentu saja, itupun bangunannya harus merangkap rumah tinggal dan syaratnya area untuk usaha tidak melebihi 20 persen luas bangunan.

Saya ditunjukkan tabel yang berisi usaha-usaha yang diijinkan di area kuning. Beberapa usaha tidak dibolehkan didirikan di area kuning. Untungnya, apotek merupakan salah satu usaha yang diijinkan untuk berdiri di area kuning (dengan catatan luas area yang digunakan untuk apotek tidak melebihi 20 persen luas bangunan).

Bapak J mengatakan, “Seharusnya siapapun yang ingin mendirikan tempat usaha datang dulu ke kami. Jangan melihat karena bangunannya ruko otomatis bisa dijadikan tempat usaha. Kami akan memberi info apakah suatu daerah / bangunan bisa dipakai tempat usaha atau tidak.”

Kemudian saya bertanya, “jadi apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur seperti ini”.

Saya akan mencoba menjelaskan tahapan-tahapan yang harus kita lalui jika mau mendirikan usaha namun IMB kita tidak sesuai. Tahapan-tahapan ini dijelaskan oleh Bapak J dengan sangat baik.

TAHAP PERTAMA adalah membuat site plan atau pengukuran situasi bidang tanah yang akan kita gunakan untuk tempat usaha. Hasil ukur ini nantinya untuk dijadikan acuan perbandingan luas bidang yang kita pakai tempat usaha vs luas bangunan.

Pengukuran ini harus dilakukan oleh badan / perorangan yang memiliki sertifikat keahlian. Saya diberi dua pilihan yang paling mudah dihubungi di kota Bandung:

  1. Lab. Pusat Kajian Batas Wilayah Prodi Teknik Geodesi Fak Teknik Unwim, Jl. Pahlawan 69 Bandung
  2. Sekretariat Ikatan Surveyor Indonesia Komwil Jabar, Jl. Jakarta 20-22 Bandung

Saya diberitahu bahwa dulunya, pengukuran ini dilakukan sendiri oleh Distaru, tapi untuk menghindari sogok menyogok maka sekarang harus dilakukan oleh badan independen.

TAHAP KEDUA adalah membuat KRK (Keterangan Rencana Kota) dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Hasil ukur (dari tahap pertama tadi) hard copy dan soft copy
  2. Fotocopy berwarna KTP pemohon
  3. Fotocopy PBB dan pelunasan tahun terakhir
  4. Fotocopy sertifikat tanah / Akta Jual Beli (AJB) yang telah dilegalisir pejabat berwenang atau notaris
  5. Akta PT / Yayasan jika SHM milik Perusahaan atau Yayasan
  6. Surat Kuasa Bermeterai apabila pengurusan dilakukan oleh orang lain selain pemegang hak sesuai Surat Tanah
  7. Surat Perjanjian Pemakaian Tanah yang di warmerking notaris apabila: a. Nama di SHM lebin dari satu orang; b. Nama Surat Akta Hibah lebih dari satu orang; c. Nama Surat Ahli Waris Hibah lebuh dari satu orang
  8. Lampirkan gambar pra Site Plan apabila luas tanah yang dimohon lebih dari 1000 m2
  9. Denah lokasi (sederhana, hanya untuk menunjukkan lokasi kepada petugas pemeriksa).

Pengurusan KRK seharusnya bisa online, tapi saya disarankan untuk datang langsung dan dibimbing dalam melakukan pendaftaran online mengingat pelayanan online KRK masih baru.

Lamanya pengurusan ini menurut Bapak J adalah maksimal 14 hari kerja.

TAHAP KETIGA adalah verifikasi gambar rencana. Di tahap ini kita akan melampirkan rencana detil usaha yang akan dibuat di atas bangunan itu. Verifikasi dilakukan untuk memastikan luas usaha kita tidak melebihi 20 persen luas bangunan. Lamanya proses ini adalah 7 hari kerja.

TAHAP KEEMPAT adalah pembuatan IMB baru dengan peruntukan yang sesuai untuk usaha yang akan kita buat, dalam kasus saya menjadi untuk rumah tinggal dan apotek.

Dari Distaru kemudian saya meluncur ke kecamatan karena saya mendapat telepon bahwa Ibu Camat sudah menandatangani berkas saya. Di kecamatan, setelah menunggu di dalam ruangan yang sama sekitar lima menit, akhirnya saya bertemu ibu N (yang wajahnya mirip si Sirik di majalah Bobo)

Kurang lebih percakapan saya dengan dia begini

Ibu N : Ini sudah selesai, mana surat pernyataannya?

Saya menyerahkan surat pernyataan

Ibu N : (sedikit berbisik, suaranya pelan sekali) begini, saya ada titipan dari Ibu (Ibu Camat), kita kan lagi penghijauan, jadi tolong ibu nanti bawa pohon pucuk merah, mau yang lebih bagus juga boleh. Ini ga ada pemaksaan lho ya, tapi anggap saja bantuan untuk kecamatan.

Saya : pucuk merah ya bu? Berapa banyak?

Ibu N : ya, seratus pohon juga boleh. Tapi jangan dikasih pot ya. Potnya mahal.

Saya : seratus bu?

Ibu N : ya, mau lima puluh juga boleh…tapi kalau bisa mah seratus, pucuk merah ya, mau yang lebih bagus juga boleh. Ini kan musim hujan, biar kecamatan jadi bagus.

Saya : iya deh bu, tapi nanti ya, kalau saya sudah tidak sibuk

Ibu N : kapan? Atau tulis saja di sini, kalau ibu akan kirim pucuk merah (menunjuk surat pernyataan bermeterai saya)

Saya : wah, masa ditulis di sini bu, kan beda masalah.

Ibu N : ah, tidak apa-apa, ini kan kertasnya buat pegangan kita.

Saya : Wah, jangan deh bu

Ibu N : atau mau langsung ketemu sekcam aja?

Saya (baru tahu kalau ternyata ibu N bukan sekcam, jadi siapa dia??) : iya deh saya ketemu sekcam saja. Tolong aja bu buatkan janji, kalau SKDPnya saya bisa ambil dulu?

Ibu N : ya, ketemunya harus hari ini, nanti baru mapnya saya kasihkan.

Rasanya ingin sekali marah-marah dan memaki si ibu “katanya ga ada pemaksaan kok dokumen saya ditahan”. Tapi masalahnya dokumen itu masih di beliau, dan saya benar-benar mengkhawatirkan keselamatan dokumen itu”

Ibu N : kata ibu mah mending tulis aja di sini, apa susahnya, terus diparaf.

Saya : di kertas lain saja ya bu

Ibu N : ah, jangan di situ saja, itu kan ada meterainya

Saya : duh, jangan deh bu,…saya takut kena

Ibu N : tidak, ini untuk pegangan ibu saja

Saya : baik, tapi kirimnya Senin ya bu, saya sibuk soalnya.

Ibu N : senin tidak apa-apa, tuliskan saja

Kemudian saya menuliskannya, tapi tidak membubuhi paraf dan tidak menuliskan kata “bersedia”. Saya tulis “akan dikirim 50 pucuk merah pada Senin 6 Maret 2017”.

Entah dikirim oleh siapa….dalam tulisan itu saya tidak berjanji bahwa saya akan mengirim dan tidak memberi Paraf sama sekali. Anda terpikur tidak apa yang akan dia lakukan dengan 100 pohon pucuk merah. Saya hanya tidak bisa membayangkan di mana dia akan menaruh 100 pohon itu selain dari dijual kembali ke tukang tanaman.

Setelah saya menulis itu, Ibu N buru-buru mengambil kertasnya dan kemudian menyerahkan SKDP pada saya.

Sepulang dari kecamatan, saya berusaha menelepon Saber Pungli lagi, tapi tidak terhubung dan baru berhasil terhubung pk. 17.3o. Saya diundang untuk membuat laporan ke Inspektorat Bandung esok hari. Kita lihat besok apa yang akan terjadi.

Sebenarnya urusan saya sudah selesai dengan diperolehnya SKDP, tapi saya merasa sebal dengan mentalitas pejabat negara yang memanfaatkan situasi.

Jangan harap saya akan mengirimkan 100 atau 50 pohon pucuk merah, bahkan satu pohon pun tidak.

Urus Ijin Sendiri (2)

Seperti yang saya ceritakan dua hari yang lalu, tahap selanjutnya adalah mengurus SKDU ke kelurahan. Saya memulai hari dengan harapan dan doa, mudah-mudahan saja urusan hari itu lancar… anggap saja itu hadiah ulang tahun kecil dari Tuhan,… well, Dia memang sudah memberi banyak, tapi kemarin saya membuat permohonan kecil yang tak berarti untuk-Nya, tapi berarti banyak untuk saya.

Kelurahan

Urusan di kelurahan dimulai sekitar pukul. 10.30 karena saya harus memfotokopi banyak berkas yang baru saya dapatkan paginya, diantaranya tanda tangan dari pemilik gedung. Setelah merapikan, mengisi checklist, menandatangani pernyataan, saya pun berangkat ke kelurahan yang berada di samping jalan tol itu.

Saya ditemui lagi oleh operator yang kemarin, yang memeriksa berkas saya dengan cepat dan membuat Berita Acara bahwa beliau telah menerima berkas dari saya. Sebuah ketimpangan sistem menurut saya adalah tidak adanya tanda terima yang saya pegang untuk saat pengambilan berkas.

Bagusnya, operator yang menangani saya di kelurahan ini masih muda dan mengerti kekhawatiran saya. Beliau mempersilahkan saya mengambil gambar Berita Acara (tidak boleh dibawa pulang karena harus ditandatangani oleh Pejabat pemeriksa)

Saya rasa, secara sistem di kelurahan itu (dan juga kelurahan lain) memang tidak mengatur adanya tanda terima dokumen. Mereka bahkan tidak menyuruh para tamu mengisi buku tamu. Entah bagaimana jika ada keteledoran yang menyebabkan dokumen-dokumen itu hilang. Mereka akan dengan mudah mengatakan “oh, saya tidak terima dokumennya tuh” atau “aduh, saya lupa…kapan ya dokumennya diberikan pada saya”

Namun, untungnya hari itu tidak ada yang kehilangan dokumen. Saya bahkan melihat seorang bapak yang dihardik “layanan di sini gratis Pak” saat ingin memberi tip untuk operator yang bertugas.

Pukul 15.10 saya dihubungi oleh operator tersebut yang mengatakan bahwa SKDU sudah selesai dan dapat diambil, juga bahwa Bapak Lurah ingin bertemu dengan saya. Luar biasa pelayanan di kelurahan ini, pikir saya. Mereka dapat menyelesaikan dalam waktu empat jam saja. Maksud saya, memang yang mereka kerjakan hanya mengeprint dua lembar kertas dan meminta tanda tangan Pak Lurah, tapi mengingat birokrasi di Indonesia, maka empat jam merupakan rentang waktu yang fantastis.

Di kelurahan pukul 16.00, saya bertemu Bapak Y yang kemarin, bersikap ramah dan dengan sedikit canggung menjelaskan beberapa hal. Kurang lebih begini,

“Neng, tahu kan sekarang sudah tidak ada pungli, jadi semua urusan ini tidak ada biaya, gratis. Sudah tidak bisa macam-macam sekarang. Tapi Neng, ini mah pesan Bapak (bapak lurah), tolong perusahaan berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Tolong nanti kalau ada permintaan sumbangan dari Karang Taruna atau PKK, dibantu aja ya Neng.

Oya, satu lagi, kalau ada tukang sampah jangan dikasih materi (uang). Kalau memang Neng mau ngasih, kasih aja baju atau peralatan kebersihan gitu ya Neng.”

Kurang lebih itulah isi pesan dari Pak Lurah untuk saya (dan saya rasa untuk orang-orang lain yang seperti saya). Sebuah pesan yang positif dan bisa dijawab “iya” dengan mudah sekali.

Bapak Y juga menjelaskan bahwa saat ini pengusaha tidak bisa minta bantuan ‘orang dalam’ karena sering ada ‘sidak saber pungli’. “Kalau bapak bawa map terus ada sidak, diperiksa mapnya ternyata punya warga,…wah bisa kena Bapak”. Saya baru mengerti itulah mengapa bapak RW berkata “sekarang mah ga bisa dibantu Neng, harus urus sendiri”.

Saya tidak bisa ke kecamatan hari itu karena terlalu sore, jadi saya memutuskan untuk ke kecamatan esoknya (yaitu hari ini).

Kecamatan

Urusan di kecamatan tidak semulus urusan di kelurahan. Tapi keduanya sama-sama memiliki sistem yang (saya katakan) “tidak mampu telusur”. Saat ada yang datang, tidak ada buku tamu yang harus diisi, sehingga tidak akan ada jejak bahwa kami pernah datang ke kecamatan. Hal ini menurut saya sangat bahaya. Jika kita dimintai pungli dan kita menolak, maka dengan mudah mereka melenyapkan dokumen kita dan mengaku tidak menerima dokumen apapun. Entah saya paranoid atau apa, tapi ‘insting management consultant’ saya mengatakan ada yang kurang dari sistem ini.

Saya datang dan dilayani oleh seorang ibu yang sibuk dengan urusannya sehingga saya yang sudah duduk di hadapannya harus memanggilnya, “Bu, saya mau urus SKDU”. Beliau kemudian meminta anak magang yang masih SMA untuk melihat apakah “ibu ada”. Awalnya saya kira yang dimaksud ‘ibu’ adalah bu Camat, tapi kemudian saya mengetahui bahwa yang dimaksudnya adalah sekretaris camat.

Anak magang itu datang dan dengan polos berkata “ada bu” yang dijawab “sudah dikasih tau ada tamu?”. Anak magang itu kemudian nyengir kuda sambil berkata “belum, dikirain cuma pengen tau ada atau tidak” yang dijawab lagi “Eh, kumaha sih jadi bolak balik. Sok kasihtau ada tamu gitu”

Kemudian saya diminta “masuk saja sendiri ke ruangan kedua”. Saya masuk ruangan pertama (yang ditatap oleh beberapa anak magang yang sedang bekerja di ruangan itu) dan di ruangan pertama ada pintu lagi untuk masuk ke ruangan kedua yang dimaksud. Di ruangan kedua itu ada dua buah meja berbentuk L. Saya diminta menghadap ibu yang duduk di pojokan.

Saya ragu apakah ini Ibu Camat atau bukan. Jika ibu camat, kok ya duduk di pojokan. Kalau bukan Ibu Camat, untuk apa saya menghadap dia, bukankah operator di depan yang seharusnya bertugas menerima berkas saya dan meneruskannya pada Ibu Camat.

Insting ‘ada udang di balik batu’ saya ternyata benar. Saya duduk dan ibu itu memeriksa kelengkapan dokumen saya satu persatu (tanpa check list, mungkin saja dia sudah hafal berkas apa saja yang diperlukan).

“Siapa Yoanna”
“Saya sendiri bu”
“Kelurahan anu?”
“Itu rumah saya bu, usaha saya yang ini di anu”
“Rumah sendiri”
“Ngontrak Bu”
“Berapa ngontraknya?”. Sampai sini saya merasa tidak relevan, untuk apa dia menanyakan uang kontrakan saya. Tapi saya ini orang yang polos cenderung bodoh dalam menilai maksud tersembunyi orang, jadi saya jawab apa adanya, sejumlah uang.

Dia kemudian bertanya lagi “Kahartos teu?”. Maksudnya apakah usaha saya akan ada artinya dibandingkan dengan uang yang saya keluarkan untuk sewa. Pertanyaan itu tidak saya jawab, bukan urusannya sama sekali!

Berbeda dengan Pak Y yang menyampaikan untuk memberi melalui Karang Taruna atau PKK, ibu ini mengatakan begini,

Gini ya Neng, memang tidak ada di Perda, tapi tanggungjawab perusahaan untuk memperindah Lingkungan Kecamatan.

Saya menatap dengan tatapan tidak mengerti, sehingga dia menjelaskan dengan lebih rinci

Bukan lingkungan perusahaan ya Neng, da pasti lingkungan perusahaan mah akan Neng bikin bagus kan? Yang ibu maksud lingkungan kecamatan. Yah, bawa apalah gitu buat kecamatan, boleh alat kebersihan, boleh tanaman, bunga, anggrek gitu misalnya…

Tiba-tiba saya teringat sehari sebelumnya diingatkan oleh pemilik tempat saya menyewa, seorang Cici yang baik sekali, bahwa dulu dia pernah mengurus ijin ke kelurahan di mana Ibu Lurahnya suka sekali anggrek dan minta dikirimi banyak anggrek. Cici itu (mungkin menyadari dirinya Warga Negara Keturunan yang bisa saja dipersulit) akhirnya mengirim satu mobil anggrek untuk Ibu Lurah.

“Maksudnya gimana ya Bu? Saya bawa bunga buat kecamatan?”
“Ya…tidak ada sih Neng, di Perda,…tapi kan kewajiban perusahaan untuk berpartisipasi dalam lingkungan kecamatan.”
“Bunga aja atuh ya Bu”
“Iya, anggrek gitu… Atau kalau mau ngasih itu juga boleh (maksudnya ngasih “mentahnya”), ibu ada langganan di Cihideung, nanti ibu beli sendiri”

Jadi begini…Saat Ahok membersihkan birokrasi di Jakarta, beliau menaikkan gaji PNS. TIDAK ADA ALASAN untuk pungli karena kebutuhanmu sudah dipenuhi. Jika masih ada yang nekad, warga bisa langsung sms gubernur dan petugas ybs akan distaffkan. Pantas saja dia dibenci, budaya menerima hadiah yang sudah mendarah daging di Indonesia tiba-tiba dibasmi begitu saja, oleh Warga Negara Keturunan lagi…

Di Bandung, rupanya birokrasi ingin diperbaiki, tapi entah mengapa PNS masih merasa butuh untuk mendapat penghasilan, atau (sekali lagi) memang budaya ‘menerima hadiah’ itu sudah mendarah daging dan tidak bisa dihilangkan begitu saja dengan dalih “SABER PUNGLI”.

Karena kemarin saya sudah bertekad untuk tidak memberi uang, maka saya berkata “baik bu, nanti saya belikan bunga”

“Ya, ibu bilang gini kan supaya dipersiapkan dulu bunganya, sebelum nanti ditandatangani suratnya”. Beliau kemudian meminta no telp saya dan berjanji akan menghubungi jika dokumen sudah siap.

Sebenarnya ini sudah masuk ancaman. Saya mendengar kalimat terakhir itu seperti “kalau tidak dikasih bunga, saya tidak yakin dokumen ini akan ditandatangani.

Saya kemudian pergi dari situ dengan bingung. Jika saya tidak memberi bunga, maka belum tentu dokumen itu ditandatangani. Jika saya memberi bunga tapi jelek, maka dokumen itu belum tentu juga ditandatangani. Saya akui saat itu saya tidak berpikir panjang. Saya pergi ke tegallega, membeli tiga kuntum Anggrek (dua buah anggrek bulan dan satu anggrek dendrobium) seharga Rp. 280.000 dan kemudian kembali ke Ibu yang tadi meminta bersama dengan teman saya, seorang pria (karena saya mendengar kalau menangani ibu-ibu bawalah seorang pria).

Saya sengaja datang ke operator yang ada di depan sambil berkata “Bu, saya bawa bunga anggrek untuk ibu yang tadi. Saya taruh mana bunganya?”

Ibu operator yang di depan itu wajahnya seperti takut dan canggung menjawab “langsung dibawa ke dalam saja Bu bunganya”

Lalu saya mengajak teman saya yang membawa bunga masuk, menemui ibu yang meminta bunga anggrek. Ibu itu melihat saya terkejut dan tak lama kemudian teman saya masuk sambil membawa anggrek. Dia kemudian berdiri, cengengesan sambil berkata
“aduh, meni cepet gini”,
“Ditaruh di mana bu bunganya”
“Ya, taruh di sini saja”
“Dapat pesan dari penjualnya bu, itu bunga jangan disiram tiga hari. Jadi kapan saya bisa ambil berkas-berkas saya?”
“Senin atau selasa. Nanti ibu kabari”
“Ada tanda terima untuk berkas-berkas ini bu?”
“Tidak ada”

Dia bahkan tidak membuat Berita Acara penerimaan dokumen untuk berkas-berkas yang saya berikan. Entah sistem macam apa ini. Saya bayangkan, jika saya menolak memberi anggrek, atau ngajak ribut dengan berkata “saya tidak mau berikan suap”, maka beliau bisa dengan mudah membakar dokumen-dokumen saya dan berkilah “saya tidak terima tuh”. Atau membakar salah satu dokumen dan berkata “oh, tidak bisa ditandatangani, masih banyak yang kurang dokumennya”

Di luar, saya bertanya pada ibu Operator di depan, “apakah yang tadi saya temui itu Ibu Camat” dijawab “bukan, ibu Camat sedang tidak di tempat”

Sepulangnya dari sana, saya mengirimkan tweet kepada walikota. Namun saya tidak yakin akan menerima respon, mengingat ini bukan tentang membangun taman di tengah kota… Saya hanya bisa menarik nafas dan berharap semuanya baik-baik saja dan bu Camat senang dengan anggrek yang saya berikan.

Ah, seandainya saja ada seorang Ahok di Jawa Barat ini, saya tentu akan langsung mengirimkan sms aduan. Sayangnya hanya adasatu Ahok di Indonesia, itu pun kemudian dikriminalisasi. Tak heran banyak pejabat yang takut menjadi seperti Ahok…

Kita lihat bagaimana kelanjutannya nanti. Apakah dokumen saya akan beres Senin, Selasa atau bahkan lebih lama? Apakah ada masalah dengan kelengkapan karena ibu Camat tidak suka anggreknya, atau dia menyukainya… Sulit juga kalau Tuhan terus menerus direpotkan untuk urusan yang sebenarnya dipercayakan pada umat-Nya.

Sarang Penyamun

​Kemarin saya berdiskusi dengan beberapa teman mengenai “gereja”. Gereja bukan bahasan favorit saya belakangan ini sebenarnya. Tapi karena memang kami sedang membahas mengenai pekerjaan di gereja jadi nyerempet ke topik yang baru-baru ini saya bahas, mengenai iklan komersial di multimedia gereja.

Salah seorang yang duduk dalam diskusi itu berkata “gua ga lihat apa yang salah dengan iklan di multimedia”, lalu saya tanya balik “kira-kira kenapa ya Yesus marah pada yang berjual beli di Bait Suci”, dijawab “nah itu masalahnya, gua juga ga paham kenapa Yesus harus marah.”

Lalu beliau melanjutkann “Yesus marah-marah (harap dicatat, bagi saya beda antara marah dengan marah-marah) dan mengatakan bahwa para pedagang itu menjadikan Rumah Bapa sebagai sarang penyamun. Gua ga paham apa definisi sarang penyamun”

Saya membuka Alkitab elektronik saya, tiga Injil pertama menggunakan istilah sarang penyamun, sementara Yohanes menggunakan istilah ‘tempat berjualan’. Teman saya melanjutkan “apakah tempat berjualan sama dengan sarang penyamun”, sebuah pertanyaan yang menarik, tapi keluar konteks. Kalau kita persempit di kitab Yohanes saja, maka yang akan kita baca adalah Yesus marah karena Rumah Doa dijadikan tempat berjualan.

Saya sudah sering membahas ini sebenarnya. Saya pernah menulis bahwa Yesus marah ketika perhatian yang seharusnya ditujukan pada Tuhan (Rumah doa) menjadi pada bisnis (tempat berjualan).

Lalu dengan polosnya teman saya berkata, “gua rasa sih karna burung-burung itu bikin kotor. Kalau di multimedia, gua belum liat ada yang salah”.

Dalam perenungan pribadi saya, tiba-tiba saya teringat satu kata “PASAR”. Anda yang pernah SMP Psti pernah belajar bahwa pasar dalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, dengan kata lain, pasar adalah “tempat berjual beli” atau “tempat berjualan”. Mengutip apa yang Yesus katakan saat marah, saya akan menggantinya menjadi “Seharusnya Rumah Bapa-Ku menjadi Rumah Doa dan kau menjadikannya pasar?”

Di pasar, Anda akan melihat para penjual dan pembeli. Jika Tempat doa dijadikan pasar, maka pertanyaan selanjutnya adalah “siapa yang menjual? Siapa yang membeli?” Dan “apa yang dijual? Apa yang dibeli?”

Bagaimana jika saya katakan bahwa gereja saat ini menjual peluang bisnis bagi jemaatnya? Pengusaha membelinya, jemaat adalah target marketnya… Misalkan, bagaimana dengan iklan ini: Jika anak Anda les musik di tempat kami, mereka akan punya kesempatan main musik di salah satu gereja besar di Bandung…

Bagaimana jika saya katakan bahwa gereja saat ini menjual hiburan bagi jemaatnya, sebuah prestise karena menjadi jemaat gereja berkelas di kota besar?

(Bedakan dengan sebuah profesionalisme… jika Anda seorang supplier alat musik, misalnya, tentu gereja harus membayar Anda jika ingin membelinya)

Tidak? 

Lalu apa yang membuat Yesus marah dan kisah ini ada di Alkitab kita? Apa karena barang dagangannya kotor? Sesederhana itu?

Apakah ketika Yesus datang ke dunia, ia sedang memainkan permainan jual beli? Di sinilah letak masalahnya…. Jika kasih karunia diberikan secara gratis, … jika hubungan dengan Bapa dijamin dengan darah yang mahal tanpa kita harus membayarnya… masakan Tempat Doa itu direbut menjadi tempat jual beli? Bukankah itu akhirnya membuat pelaku bisnis di dalamnya menjadi pencuri? Pencuri kemuliaan dan hormat,… sarang penyamun…

Holiday day 4: Hidup berdampingan

Tadi pagi, saat saling mencari (karena lagi-lagi saya kesiangan sehingga mama saya keluar sendirian, akhirnya menyerah dan kembali ke kamar… kemudian saya mencari adik saya agar tidak menunggui mama saya….rumit deh pokoknya), saya bertemu dengan seorang bapak keturunan China (oya, di sini China ya China aja) yang mengajak saya biacara dengan bahasa China. Karena tidak bisa berbahasa China, saya jawab “I don’t speak Chinese, sorry” (sepertinya kalimat ini yang paling sering saya ucapkan selama liburan. 

Beliau melihat saya dengan tatapan heran dan berkata, “where are you from” yang saya jawab dengan “Indonesia”. Sekali lagi dia bertanya  (seperti dengan nada kecewa) “but you are Indonesian Chinese, right?”. Dengan percaya diri saya menjawab “yes, but we don’t speak Chinese in Indonesia”.

Sebenarnya alasan saya kurang tepat, ada banyak juga Warga Negara Keturunan yang bisa berbahasa Mandarin di Indonesia (walau tak banyak) dan di beberapa daerah memang Warga Negara Keturunan berbahasa Mandarin dalam percakapan sehari-hari. Tapi saya tinggal di Pulau yang penduduknya berbaur dan berbahasa Indonesia.

Lagipula saya besar di era Orde Baru, di mana bahasa Mandarin tidak diajarkan di sekolah dan bahkan etnis China tidak disukai (suka atau tidak itulah kenyataannya). Berbeda dengan era sekarang di mana banyak sekolah menggunakan tiga bahasa.

Setelah sarapan, kami bersiap-siap karena jam 11 kami sudah harus meninggalkan kapal. Tempat tinggal kami berikutnya adalah bayview hotel, sebuah hotel besar dekat dengan Penang street (salah satu pusat kuliner di penang). 

Sempat terjadi sedikit kebingungan karena dua kamar yang kami pesan seharusnya memiliki besar yang sama (harga sama, tipe sama), tapi yang satu begitu strategis tempatnya dan besar, yang satu lagi terkesan kamar gudang (di pojok, kecil, jauh dari lift). Walaupun hotel besar, namun layanan hotel ini begitu membingungkan, kami harus bolak balik ke bawah untuk komplain (password wo fi expired, kunci tidak berfungsi berkali-kali, ada bau bangkai tikus di dekat lift). Namun seluruh personil melayani dengan sangat ramah dan baik.

Setelah istirahat dan berenang sebentar di hotel, kami makan siang kemudian mengunjungi Gurney Mall dan Paragon mall, mall terbesar di Penang, tapi tidak lama karena saya tidak terlalu suka mall. 
Makan siang kami hari ini begitu ‘berwarna’, untuk pertama kalinya saya mencoba makanan India. Karena beberapa bulan belakangan saya suka menonton drama India, maka saya sering mendengar makanan India seperti samosa, poori dan thosa…oya, roti canai dan teh tarik juga. Saya suka makanan India, kaya akan rempah walau sedikit blenger.

Supir taksi yang membawa kami ke hotel memberitahu bahwa ada tempat makan di sebelah kiri hotel. Malamnya, Papa, saya dan Yovi mencari tempat makan itu dengan tekad akan mencoba makanan Penang. Setelah berjalan…dan berjalan…dan berjalan akhirnya saya mengatakan pada Papa saya, “sepertinya kita salah dan harus balik lagi deh”. Saya pikir sebaik ya kita ke Penang street saja seperti tadi siang yang letaknya di kanan hotel. Mungkin saja supir taksi itu salah sebut kanan dan kiri.

Tapi Papa saya itu tekadnya kuat sekali. Ia menjawab “kita jalan terus”. Karena adik saya memilih abstain, dan saya kalah usia, maka saya terpaksa ikut jalan terus (dengan perkiraan ‘papa saya akan menyesal nanti’, bukan ancaman kok). 

Akhirnya kami menemukan sebuah tempat makan, semacam foodcourt. Sebenarnya tempat makan itu terdiri dari dua bagian, halal dan haram. Kami kebetulan masuk ke tempat halal, dan tidak tahu kalau di sebelah ada tempat makan haram. Tanpa mengurangi rasa hormat, preferensi kami tentu saja makanan non halal.

Saya memesan sup tomyam yang enak, adik saya cendol es krim, papa saya makanan unik bernama Pesambur Rojak. Pesambur Rojak adalah makanan mirip gado-gado yang isinya dapat kita pilih, mulai dari seafood, bakso dan gorengan lain. Papa saya memilih seafood (udang, sotong, ketam) dan terkejut dengan harga fantastis (42 RM sekitar Rp. 130 ribu). 

Saya cukup kagum dengan Malaysia. Mereka tidak memiliki banyak suku bamgsa seperti Indonesia, tapi rupanya hal itu membuat mereka menghargai suku bangsa yang berbeda. Mereka berkata semua yang tinggal di Malaysia adalah Malaysia. Melayu, India, China hidup berdampingan tanpa takut yang satu akan menyerang yang lain. Gereja, Mesjid, Buddha temple, Hindu temple, berdiri tanpa takut dihancurkan. Memang ironis, ketika negara lain membanggakan kesatuan dalam keragaman saat mereka tidak terlalu beragam, bangsa Indonesia yang sangat beragam memiliki masalah dalam kesatuan.

Melihat bagaimana bangsa-bangsa yang berbeda hidup berdampingan, setidaknya di Pulau Pinang ini, saya jadi memiliki definisi baru toleransi yang paling mudah dilakukan: urus saja urusanmu sendiri (dan kaummu), hargai orang lain dengan tidak perlu mengurusi urusan mereka.

Ini adalah malam tahun baru. Kami tidak merayakannya dengan countdown seperti yang banyak dilakukan orang, tapi tahun ini kami mendengar orang-orang melakukan countdown dan kemudian melihat kembang api dari jendela kamar hotel kami di lantai 14.

Selamat tahun baru semuanya. Due to network error, saya terlambat memposting tulisan ini.

Holiday day 3: Apa yang dicari orang?

Kesimpulan saya setelah melewati hari ini adalah sebuah pertanyaan “apa yang dicari orang?”. Pertanyaan itu terpikir oleh saya ketika menyaksikan sebuah pertunjukkan di Cruise yang menjadi tempat kami menginap malam ini.Sebelum tiba di cerita itu, saya akan menceritakan pengalaman kami hari ini. 

Hari ini dimulai dengan bangun siang (yang saya namakan bangun sebangunnya) dan bermalas-malasan. Karena saya senang bangun siang, maka adik saya meninggalkan kami (saya, Papa dan Mama) entah ke mana. Kami sendiri memulainya dengan sarapan makanan khas Penang (Hokkien mie, semacam mie dan bihun dengan kuah udang, udang besar, udang kering dan daging babi), kemudian melanjutkan ke Priangin Mall yang baru mulai beroperasi pukul 11 dan tutup pukul 9 malam.

Penang masa ini didominasi oleh turis Asia, mulai dari India hingga China yang berjalan hilir mudik sepanjang Armenian street, berhenti untuk membeli makanan sebentar, kemudian berjalan lagi. Walau ada juga beberapa turis kulit putih yang sibuk mengambil gambar street art di Armenian street ini.

Kami membeli beberapa oleh-oleh, tidak banyak… dengan alasan “biar urusan oleh-oleh cepat beres”. Oleh-oleh khas dari Penang selain kaos bergambar street art yang dibuat di Thailand adalah Penang White Coffee. Sebenarnya white coffee yang dimaksud bukankah bijih kopi berwarna putih, tapi kopi hitam dengan kremer. 

Oya, di Armenian Street ini, jika Anda suatu saat mengunjunginya, kunjungi sebuah cafe bernama my own cafe yang hanya menjual satu jenis makanan saja, yaitu mie laksa. Mie laksa buatan mereka enak sekali, tersedia dengan dua ukuran, kecil dan besar. Di luar cafe ada penjual es krim kelapa yang rasanya ajaib, terutama jika dimakan di cuaca panas. Untuk minumannya, saya sarankan kopi durian, rasanya benar-benar membuat Anda menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kepuasan luar biasa.

Kapal Star Cruise Libra adalah cruise 9 lantai dengan beberapa layanan mulai dari salon, spa, jogging track, whirlpool (silahkan googling jika Anda tertarik).
Saya tidak dapat menemukan turis berkulit putih yang menaiki kapal ini, beda dengan saat di Halong Bay Vietnam di mana kami dulu merupakan satu-satunya turis Asia. Entah karena bukan waktu mereka untuk liburan model begini, atau mereka tidak tertarik menghabiskan liburan di Cruise.

Cruise dipenuhi turis Asia dari China, India dan Thailand… setidaknya itu bahasa yang saya temukan di sini (saya juga belum mendengar bahasa Indonesia, tapi ada kemungkinan banyak orang Medan yang menggunakan bahasa China dalam pergaulan). 

Nah, karena dipenuhi oleh orang Asia, Anda apat menebak apa bedanya dengan turis kulit putih. Saya tidak sedang meremehkan ras Asia karena saya pun orang Asia. Tapi kalau kita berbesar hati kita dapat mengakui kekurangan maupun kelebihan kita.

Dengan tak adanya turis Asia, bar penjual minuman kosong. Anda tahu kan bar, bangku-bangku tinggi menghadap penjual minuman. Orang Asia itu senangnya berkumpul, ke mana-mana bersama. Jadi Anda bisa melihat gerombolan yang terdiri dari berbagai usia di seluruh ruangan kapal. Juga, orang Asia suia mengambil foto dan jarang belanja jika harganya mahal. Maka, dek dipenuhi orang berfoto dan pusat belanja kosong sama sekali.

Orang Asia memiliki gaya makan yang sama saat diberitahu “ambil sepuasnya”, kalau ga habis tinggalkan saja… rugi dong kalau ga mencoba semua. Mungkin karena dulunya kita negara jajahan, dan rasa persaingan yang ditanamkan orang tua kita begitu tinggi, maka silahkan tebak bagaimana jadinya. Turis China yang mengantri bebek di depan papa saya memilih bagian daging saja dan ingin daging yang baru dipotong. Jadi tanpa sungkan saat belum tersedia di pinggan dia menunggu dan langsung mengambil bebek baru tiga kali berturut-turut dengan jumlah yang luar biasa, membuat antrian di belakangnya tiba-tiba saja menjadi panjang.

Turis Asia makan tanpa adanya aturan yang mengikat. Ada banyak makanan sisa yang ditinggalkan di meja dan mereka kan dengan santai merokok bahkan saat mengetahui bahwa ruangan itu berAC dan merokok akan sangat mengganggu tamu lain. Belum lagi masalah bicara keras-keras sambil makan di meja (atau saat mengangkat telepon sambil makan). Saya pernah berada satu kapal dengan turis ‘bule’ dan melihat dengan jelas perbedaan ini.

Turis Asia juga tidak saling menyapa satu dengan yang lain, terutama dengan yang tak dikenal, seolah mencurigai semua orang. Saat berpapasan, sekalipun di jalan sempit, mereka akan sibuk sendiri, atau bahkan membuang muka agar tak perlu tersenyum. Bandingkan dengan turis kulit putih yang memasang wajah senyum sambil berkata good evening atau good morning saat berpapasan. 

Sungguh, saya tidak sedang bersikap rasis di sini, tapi itulah kenyataannya, bahkan disadari atau tidak saya pun melakukannya tanpa perlu melakukan pembelaan diri bahwa yang saya lakukan itu kebiasaan yang baik.

Saat memperlihatkan jadwal acara di kapal, Papa saya bilang tidak tertarik dengan semuanya: sexy dance, line dance, casino, band perform. Namun akhirnya kami melihat pertunjukkan yang luar biasa (atau dapat juga disebut atraksi) dari beberapa penampil berkulit putih yang diadakan di ruang theater lt. 5. Star Cruise adalah kapal Eropa yang melayani perjalanan di Asia. Kapten, Staff Captain dan Chief Engineer adalah orang Eropa, dan crew lainnya merupakan orang Asia.


Ketika menonton pertunjukkan itu tiba-tiba terpikir oleh saya, sebenarnya apa yang dicari orang dengan menari, main hulahup bahkan melalukan atraksi dengan resiko terjengkang ke belakang. Apakah mereka hanya puas karena bayaran? Atau kepuasan saat mendengar tepuk tangan penonton lebih besar daripada kepuasan menerima bayaran. Ah, tapi bukankah itulah bedanya mereka yang melakukan sesuatu karena passion dan karena bayaran. Mereka yang melakukan sesuatu dengan passion puas dengan pencapaian dan hal lain di luar  / selain materil yang mereka dapatkan.

Oya, anehnya walau para penari itu mengenakan pakaian minim, tapi gaya dan bahasa tubuh mereka tidak erotis seperti jika Anda menonton dangdut erotis di Indonesia, aneh sekali.

Setelah menonton kami melihat-lihat Casino (ejujurnya untuk yang pertama kalinya). Kasino didominasi oleh orang-orang tua yang (sekali lagi) entah mencari apa dalam hidup. Saya hanya memikirkan dua kemungkinan untuk orang tua yang gemar bermain di kasino. Mereka suka perasaan “mendapatkan uang” di usia sudah tidak produktif. Atau mereka suka perasaan “beruntung” saat menang, di tengah-tengah kehidupan nyata di mana orang sulit untuk beruntung. Saya juga baru tahu bahwa orang-orang Malaysia cukup membayar RM 50 untuk masuk ke StarCruise, dan kebanyakan mereka masuk untuk Kasino (tentu saja Warna Negara Malaysia keturunan China non muslim, karena mereka yang muslim tidak diperkenankan).

Tak ada hal istimewa di sisa hari ini, angin begitu besar sampai kami tak berminat untuk ke dek kapal. Hanya menikmati Music Heart trio yang menyanyikan lagu-lagu dengan blending voice yang indah…. sampai akhirnya mengantuk dan tidur pk. 11.30