Ir. Samuel Sachiawan Sunarya

Papa saya adalah seorang Insinyur Teknik Sipil yang masih bekerja sebagai tenaga ahli hingga berusia 55-an. Sekarang papa membuka apotek dengan adik saya sebagai apotekernya. Papa adalah seorang yang sangat sabar dan jarang sekali marah. Bukan berarti papa lembek, tapi papa tahu dengan pasti mana yang menjadi bagiannya dan mana yang menjadi bagian mama. Saat ini saya mengingat-ingat kapan papa pernah marah besar sama saya, dan saya tidak dapat mengingatnya, mungkin karena papa tidak pernah membuat saya sakit hati walau papa marah.

Banyak sekali foto-foto saya dan adik saya saat kecil, mungkin lebih banyak dari foto anak-anak lain di jaman saya. Bagi saya, itu bukan sekedar foto. Di jaman itu, untuk mencetak foto dibutuhkan banyak sekali tenaga, membeli rol film, memotret dengan benar dan mencetaknya. Kesimpulan saya akan banyaknya foto itu, papa bangga akan kami anak-anaknya, seperti kami juga bangga pada papa.

Waktu kecil, sebelum tidur, papa selalu menceritakan kisah-kisah Alkitab pada kami anak-anaknya. Buat saya, papa lebih hebat dari guru sekolah minggu manapun. Saya mengenal Tuhan dan Alkitab dari papa saya.

Banyak tulisan-tulisan saya di blog yang lain untuk papa, diantaranya mengenai doa papa. Tulisan itu bukan rekayasa. Papa saya memang selalu berdoa untuk anak-anaknya, dan Tuhan mendengarkannya. Beberapa kali saat saya di rumah dan sakit, papalah yang ingat membawakan obat dan air minum untuk saya, dan setelah itu mendoakan saya, dan besoknya saya sembuh.

Papa adalah seorang yang mau belajar. Saat orang-orang seusianya pensiun dan menikmati waktu sambil nonton di rumah. Papa masih menjelajah internet dan mempelajari sendiri bahasa Mandarin, membuat blog dan memotivasi orang lain.

Papa saya juga adalah orang yang dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Saat saya kelas tiga rumah kami kebakaran. Mama terluka cukup parah dan harus masuk rumah sakit. Papa ditelepon oleh tetangga dan dipanggil pulang untuk menjemput kami (saya dan adik saya) dan menyusul mama di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, saya tahu papa berdoa, tapi tidak menunjukkan kemarahan saat lampu merah, tidak memaki-maki pada orang yang menghalangi jalan. Selama mama di rumah sakit, papa yang mengurus anak-anaknya. Papa juga yang mengurus mama saat mama di rumah nenek saya untuk pemulihan.

Saat saya kecil, bagi saya papa adalah orang yang serba bisa. Saya adalah gadis kecil yang cerewet yang selalu bertanya ini dan itu pada papa, apalagi saat di jalan. Saat saya lulus dari S1, saya mendapat pekerjaan di Jakarta. Papa yang mengantar saya untuk wawancara, untuk mencari kost, dan mengantar barang-barang saya ke Jakarta. Sekali waktu saya menghabiskan waktu 8 jam di jalan bersama papa. Selama 8 jam itu papa harus mendengar celotehan saya yang mungkin sudah didengarnya selama lebih dari 20 tahun. Tapi papa tidak pernah menyuruh saya diam (kecuali kalau saya mendesak bertanya dan papa lagi kesulitan menyetir, itupun papa menjawab “nanti dulu dong Greis”)

Tidak ada orang yang menghargai saya seperti papa saya. Papa saya bangun subuh untuk membantu saya membuat maket saat saya kuliah, hadir saat saya wisuda, membaca semua tulisan saya, menunjukkan tulisan saya pada orang lain, mendengarkan pendapat saya mengenai arah dalam “petualangan” kami ke luar kota.

Satu-satunya yang membuat papa marah dan kesal adalah kalau saya dan adik saya bertengkar. Kadang kami memang bertengkar secara keterlaluan. Seringkali saya membuat adik saya menangis. Papa sering menyuruh saya diam saat sedang bertengkar. Satu hal yang papa saya tidak sadari, sejak kecil papa saya sudah cukup menanamkan pada kami untuk saling menyayangi. Kami bisa menyelesaikan setiap pertengkaran dengan baik, bahkan sebelum papa menyadarinya, kami sudah berbaikan lagi.

Mama sering bilang bahwa saya mirip sekali dengan papa saya, dan saya memang sangat menyadari bahwa saya mirip papa saya, dan walau saya sering berpura-pura sebal, sebenarnya saya bangga sekali dikatakan mirip papa saya. Bukan masalah wajah saja, tapi dalam hal gesture dan sikap. Seringkali saya tidak sadar, saat sedang duduk atau berdiri, gaya saya seperti papa saya. Kalau sudah begitu, mama saya akan tertawa dan mengatakan “mirip-mirip teuing sama papa Greis….Greis….” haha…

Kalau mau dilanjutkan, saya bisa menulis satu buku tentang papa saya. Tapi sepertinya cukup segini saja. Saya tidak mau membuat semuanya sirik 😉

My father was a Civil Engineer who is working as an Expert Consultant to the age of 55. Now, papa has the pharmacy with my sister as a pharmacist. Papa was a very patient and rarely angry. It is not because my papa is mushy, but papa knew exactly about his part and mama’s part. Currently I can’t remember when papa get angry with me, probably because my papa never make me got a bitterness.

Lots of pictures of me and my younger sister as a child, maybe more than other children in those days. For me, it’s not just the photo. In that time, it takes more energy to make a photo. You must buy rolls of film, take a picture with a really careful way, and go to certain place to print it. My conclusion about that is, papa proud of his children, as we are also proud of papa.

As a child, before going to bed, papa always tell Bible stories to his children. For me, papa is greater than any Sunday school teacher. I know God and the Bible from my papa.

Many of my writings on other blogs is about papa and his prayer. I am not making this up. My father has always prayed for his children, and God listened. Several times when I was at home and ill, my father bring me some medicine and drinking water for me, and after that praying for me, and the next day I recovered.

Papa was a man who always willing to learn. As people in his age get a pension and enjoy the time, sleeping and watching at home. Papa still surf the internet and learn Mandarin, create blogs and motivate others.

My father is also a man who can control his emotions very well. When I was in a third grade, our house were on fire. Mama hurt pretty badly and had to be hospitalized. Papa was called by a neighbor and called back to pick us (me and my sister) and followed mama in the hospital. Along the way, I know papa pray, but do not show anger at a red light, no cursing at people who blocking our way. During mama in the hospital, papa was taking care of  us. Papa is also taking care of mama when mama at my grandmother’s house for recovery.

When I was little, for me papa was a versatile man. I was a chatty little girl who is always asking this and that, especially when on the road. When I graduated from University, I got a job in Jakarta. Papa took me for an interview, searched a boarding house, and deliver my luggage to Jakarta. Once upon a time I spent 8 hours on the road with papa. During that 8 hours my father had to heard my twits that he  may have been heard for more than 20 years. But papa never told me to shut my mouth up (except when papa got a difficulty in driving,he’ll said “wait a minute, Greis”)

No one appreciates me like my papa. he woke up at dawn to help me with my assignment, always attended in my graduation day, read all of my writings, show my writings to others, listening to my opinion about the direction of the “adventure” we were out of town.

The only thing that makes papa was angry and upset is when my sister and I have a fight. Sometimes we did fight the outrageous. Often I make my sister cry. papa often told me to be quiet when we’re fighting. One thing that my father was not aware of, since I was quite young, papa instilled in us to love each other. We can resolve any fights well, even before papa knew it..

Mama used to say that I am a lot like my papa, and I am very aware that I look like him, and although I often feign disgust, in fact I am very proud being similar to him. Not only , but in terms of our face, but also our gesture and attitude. Sometimes I do not realize, when I am sitting or standing, my style is like my papa. If it happened, my mother would laugh and say “you are really look like your papa” haha ​​…

If you want me to continue, I could write a book about my father. But it seems enough. I do not want to make everyone jealous 😉