Mama

Widawati

Mama saya adalah wanita yang sangat hebat. Dia wanita kuat yang bisa menanggung begitu banyak hal dan tetap menjadi wanita kuat. Kisah masa kecil mama saya seringkali membuat saya ingin menangis dan mengagumi mama saya. Namun kisah itulah mungkin yang membuat mama menjadi wanita kuat seperti sekarang.

Mama adalah wanita yang sangat cantik, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang sejak saya kecil. Guru-guru TK dan SD saya mengatakan mama saya cantik, begitu juga saat saya SMP hingga SMA. “Mamanya Greis cantik”, kata mereka.

Walau bukan sarjana, mama tau dengan sangat baik bagaimana menjadi seorang mama yang mengajar dan mendidik anak-anaknya. Mama kenal anak-anaknya sebaik tes personality. Mama tahu bagaimana membuat saya menurut, bagaimana membuat adik saya menurut, sifat-sifat saya dan adik saya dengan sangat baik.

Saat saya berusia kurang dari 1,5 tahun dengan sabar mama saya mengajari saya huruf-huruf abjad sehingga pada usia tersebut saya dapat mengurutkan abjad dari A sampai Z, mengajari saya merangkai kata hingga di usia 2,5 tahun saya bisa membaca.

Mama saya adalah “bad guy” di rumah. Selalu marah-marah dan menghukum anak-anaknya dengan hukuman-hukuman unik. Namun, saat saya besar saya menyadari, saya tidak mungkin menjadi seperti sekarang jika mama saya tidak marah-marah dan menghukum saya. Mama saya tahu dengan pasti bagaimana mendidik dan mengobati.

Mama suka memukul saya dengan rotan ketika kecil. Saat ini saya tidak menyalahkannya. Kalau saya punya anak seperti saya pun mungkin saya akan memukulinya. Ya, saya anak yang sulit, suka membantah dan memiliki gengsi setinggi langit. Saya bertahan untuk tidak meminta maaf dan tidak menangis saat dipukuli, bahkan terus melawan…membuat orangtua manapun akan kesal melihatnya. Tapi yang membedakan mama saya dengan mama lain adalah, mama saya akan datang di malam hari untuk melihat keadaan saya jika saya habis dipukul.

Saat saya kelas 3, kami mengalami musibah. Mama saya membuat kue, resep keluarga, saat itu. Ada oven besar, dua orang pembantu dan banyak kompor minyak tanah dan kompor gas. Siang itu saya sedang bertengkar dengan adik saya sehingga mama saya “memenjarakan” kami. Saya harus diam di kamar mama, adik saya di kamar kami (tapi mama tidak pernah mengunci kami). Saat kami sedang menjalani hukuman, tiba-tiba saya dengar mama teriak “anak-anak cepat keluar… cepat keluar”. Dengan segera saya masuk ke kamar kami untuk mengambil adik saya dan segera lari keluar.

Saat itu saya tidak tahu apa yang terjadi hingga ketika saya diluar tiba-tiba saya mencium bau gas dan mendengar suara ledakan, dan saya lihat rumah kami sedikit bergetar. Rupanya mama membeli gas. Gas itu bocor hingga mama meminta tukang gas membawanya ke kamar mandi. Saat gas itu akan dibawa, pembantu kami menyalakan api. Mama saya yang paling dekat posisinya dengan gas terkena api paling besar. Tapi, Tuhan itu baik. Tidak seperti ledakan gas lain pada umumnya, api hanya menyala beberapa detik, menyapu rumah kami, kemudian mati sendiri, sehingga kami tidak membutuhkan jasa pemadam kebakaran untuk memadamkan api.

Saat saya di luar, saya melihat mama keluar. Kulit kakinya terkelupas memperlihatkan daging merah yang cukup besar. Di tengah-tengah lukanya, mama saya masih memberikan perintah, “telepon papa” dan beberapa perintah lain sebelum akhirnya mama saya dibawa ke Rumah Sakit karena kondisinya yang buruk.

Kesalahan pihak rumah sakit membuat luka di kulit kaki mama saya semakin parah. Selama setahun mama saya menunjukkan kekuatannya berjuang untuk dapat berjalan lagi, dan mama saya berhasil. Seperti saya bilang, mama saya adalah wanita hebat…wanita kuat. Kulit kaki mama saya tidak pernah mulus lagi, mama harus menggunakan stocking khusus agar tidak keloid dan terus membengkak. Tapi sekali lagi, mama saya wanita kuat yang bisa menghadapi semuanya dengan luar biasa.

Saat saya kelas 6 SD, papa saya bekerja di luar kota dan hanya pulang seminggu sekali. Mama saya berperan ganda saat itu, menunjukkan kekuatannya sebagai seorang mama, mengantar saya ke sekolah dan melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan ibu-ibu lain.

Saya seringkali bertengkar dengan mama saya karena sifat keras mama saya turun pada saya. Beberapa prinsip membuat kami tidak mau mengalah satu dengan lain. Satu hal yang sampai saat ini saya sesali adalah saya pernah beberapa kali tidak bicara pada mama saya selama beberapa bulan ketika saya SMP. Kalau saja waktu bisa saya putar mundur, saya tidak akan bersikap seperti itu. Kepada mama sayalah hutang kesalahan saya paling besar. Tapi sekuat sifatnya begitu juga besarnya hati mama saya. Mama saya tidak pernah mengungkit itu sekarang. Kami adalah teman baik. Saya dan mama bisa bicara sampai subuh kalau sudah mengobrol panjang lebar.

Saat ini saya memiliki seorang siswa dimana saya berbagi hidup dengannya. Saya mengingat nasihat mama saya, menerapkannya pada siswa saya (hanya nasihat, saya tidak memukul atau menghukum).

Nantipun kalau kelak saya memiliki anak, saya akan banyak belajar dari mama saya. Seperti saya pernah bilang, kalau ada gelar untuk para mama, mama saya akan mendapat gelar profesornya mama.

My mom is a very great person. She’s a strong woman who can bear so many things and still be a strong woman. My mama’s childhood story often made me affected and admire my mom. But that’s probably what makes my mama become  a strong woman like now.

Mama is a very beautiful woman, at least that’s what people say to me since I was little. My kindergarten teachers and elementary school  told me that I have a pretty mama , as well as my junior high to high school. “Greis’ mother is beautiful,” they said.

Although not graduate from college, mama knows very well how to be a mom who teach and educate her children. Mama know her children as well as personality tests. Mama knows how to make me think, how to make my sister do something, knows me and my sister very well.

When I was less than 1.5 years,  my mother patiently taught me the alphabet so that at that age of 1,5 I can sort alphabetically from A to Z, taught me stringing words up so that in the 2.5 years I could read.

My mama is the “bad guy” in the house. Always angry and punish her children with unique punishments if we made a mistake. However, when I was growing up I realized, I could not possibly be like now if my mother did not get angry and punish me when i make a mistake. My mama knows exactly how to educate and treat.

Mama will hitting me with a cane when i was a child. Currently I do not blame her. If I had a child like me, i may probably going to beat her. Yes, I was a difficult child, likes to argue and have sky-high prestige. I held on for not asking for apology and did not cry when beaten, and even continued to defy… make any parent would be upset to see it. But what distinguishes her with other mama was, my mama would come in the evening to see and heal me after she hit me.

When i was in a third grade, we had a disaster. My Mama use to made the cake, family recipe, at that time. There is a large oven, two assistants and a lot of kerosene stoves and gas stoves. That afternoon I got a fight with my younger sister so my mama “imprison” us. I should be stay in my parents’ room, my younger sister in our room (but mama never lock us). When we are serving a sentence, I suddenly heard mama  yelled “kids out … quick exit”. I immediately went into our room to pick up my sister and soon ran out.

At that time I did not know what happened when I suddenly smelled gas and heard an explosion, and I saw our house vibrate slightly. Apparently Mom bought gas. That gas was leaking so mom ask the gas man to took it to the bathroom. When the gas brought, our maid light a fire. Mama is in a closest position to the gas caught by fire at most. But, God is good. Unlike most other gas explosion, fire is only lit a few seconds, sweep the house, then turns itself off, so we do not need the services of the fire department to extinguish the fire.

When I am outside, I saw my mama out. Skin peeling legs showed considerable red meat. In the middle of the wound, my mother still gives the command, “call papa” and some other commands before my mother was taken to the hospital due to the poor condition.

By a mistake of a my mother’s foot skin is getting worse. For a year my mother struggled to show his strength to walk again, and she did it. Like I said, She is a great woman … strong woman. The skin of her feet never smooth again, she has to use a special stocking to avoid keloids and continues to swell. But once again, my mama is a strong woman who can deal with all of the incredible things in life.

When I was in 6th grade, my dad works out of town and came home only once a week. Mama showed his strength as a mama, take me to school and do a lot of things that other mama may can not do.

I often quarreled with my mother because of the hardness of my mom passed on me. Some principles makes us  don’t want to budge one another. One thing that I regret to this day is that I had several times not to talk to my mom for a few months when I was junior high school. If only I could rewind time, I would not behave like that. To my Mama I owe many sorry. But as strong as its magnitude as well as my mother’s heart. My mama never bring up about my mistakes now. We are good friends. My mama and I can talk until dawn.

I currently have a student where I share my life with. I remember my mother’s advice, applying it to my students (just advice, I did not hit or punish).

If someday I have children, I will learn a lot from my mama. As I’ve said, if there is a degree to Mothers, My Mama will get her professorship as a mama.

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s