Supaya Kelihatan Menarik

Saya sudah mengatakan bahwa saya suka sekali membaca buku-buku Agatha Christie (Oya, saya baru saja mendownload sekitar 60 buku kriminal Agatha Christie. Jika ada yang mau, hubungi saya ya). Di salah satu bukunya, ada kalimat yang kurang lebih seperti berikut:

“Tentu tidak,” kata Poirot dengan murah hati. Dia merasa dirinya dalam keadaan nyaman yang berlebihan. “Dia berada dalam sebuah mobil yang boleh dikatakan kosong, sedang kedua gadis itu terengah-engah dan berpeluh-peluh dibebani ransel yang berat-berat dan tidak pula mempunyai kesadaran cara berpakaian supaya kelihatan menarik bagi laki-laki”

Sampai di kalimat itu, yang berada dalam halaman-halaman awal buku berjudul ‘Kubur Berkubah’, saya kemudian terhenti dan berpikir, “Apakah memang tujuan seorang wanita berpakaian kala itu (buku ini ditulis tahun 1956) adalah agar kelihatan menarik bagi laki-laki?” Mengingat lokasi penulisan adalah di Inggris. Apakah saat itu mereka berpikiran demikian?

Apakah sampai sekarang, tujuan para wanita menentukan cara berpakaiannya adalah agar terlihat menarik bagi laki-laki?

Dengan cara berpikir yang sama “apakah tujuan wanita menutup seluruh bagian tubuhnya adalah agar tidak ada pria yang tertarik?”

Setelah saya merenung singkat, saya berkesimpulan, setiap wanita memang ingin terlihat menarik bagi siapapun. Ketika seorang gadis memasuki usia remaja, hal terpenting bagi dirinya adalah ketika ada pria yang menganggapnya menarik. Makanya saya pernah berkata pada anak asuh saya, “masalah seorang remaja dimulai ketika ia merasa pendapat orang lain mengenai dirinya adalah hal yang sangat penting”.

Seorang wanita diciptakan indah, karenanya mereka ingin mendapatkan pujian atas keindahannya, seharusnya itu adalah hal yang wajar.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, ketika feminis bermunculan (saya tidak tahu apakah saya termasuk salah satu dari mereka), pendapat itu berubah menjadi “wanita berpakaian sesuai dengan pandangan mereka terhadap dirinya sendiri” dengan kata lain, “cara wanita berpakaian adalah urusannya sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain”. Dengan kata lain lagi “wanita bebas berpakaian seperti apapun yang mengekspresikan dirinya”

Ketika tujuan wanita berpakaian adalah agar “terlihat menarik bagi laki-laki”, bukankah wanita akhirnya hanya menjadi obyek untuk dilihat?

Kurang lebih begitu cara berpikir wanita modern.

Dengan pola pikir yang sama sebenarnya wanita modern menempatkan dirinya sejajar dengan kaum pria… dalam arti, sama-sama tinggi (bukan sama-sama rendah, lho). Artinya, para wanita modern berpikiran bahwa para pria modern seharusnya memiliki kendali sehat atas pikirannya, tidak lagi seperti kucing yang mudah (maaf) ‘terangsang’ ketika melihat ikan asin di depannya. Atau tidak terlalu ‘usil’ hingga mengurusi cara berpakaian wanita (cukuplah menyimpan dalam hati saja pendapatmu, jangan biarkan orang berpikir kamu adalah orang yang kepo dan usil).

Betul, wanita memang mahluk yang diciptakan dengan indah… Namun saya rasa keindahannya bukan terbatas pada kemolekan tubuh, tapi kecerdasan, kemampuan mengendalikan diri, dan kebaikan hatinya.

Dan pria adalah mahluk yang diciptakan dengan kekuatan… bukan untuk menekan atau menindas, tapi kekuatan untuk bekerja keras, bersabar dan melindungi..

Lho, kok saya malah bicara melantur ini…

Advertisements

Tentang Kebingungan Bahasa Roh

Untuk kalangan sendiri

Saat mengikuti pelajaran Alkitab dua puluh tahunan yang lalu, sebagai seorang remaja saya bertanya kepada pembimbing rohani di gereja kala itu, “bagaimana kita tahu kalau Bahasa Roh yang kita ucapkan adalah benar-benar bahasa Roh, dan bukannya sesuatu yang kita hafalkan dan ucapkan berulang-ulang… Atau sesuatu yang kita tiru dari orang lain dan kemudian kita ucapkan berulang-ulang”.

Saat itu terlihat rona terkejut di wajah pembimbing saya. Saya memang seorang remaja yang terlalu banyak berpikir. Dia kemudian menjawab “nanti kamu akan tahu sendiri”.

Belum puas dengan jawaban itu, saya bertanya lagi “ya, tapi bagaimana jika kita yakin itu bahasa Roh dari Tuhan padahal sebenarnya kita hanya terpengaruh dengan apa yang kita dengar dari orang lain. Atau bagaimana kita tahu bahwa itu bukan karangan kita saja”

Masih bingung, kali ini sambil gelagapan, tidak mengharapkan diberi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu, pembimbing saya akhirnya menjawab “ya, dengan iman”, dan walau tidak puas dengan jawaban itu, sayapun tidak bertanya lebih jauh lagi.

Ketika mengalami baptisan Roh Kudus beberapa bulan berikutnya, saya sedikit mengerti mengenai bahasa Roh ini. Tapi saya tetap berpikir bahwa Bahasa Roh seharusnya bukanlah sesuatu yang dihafalkan kemudian diucapkan berulang-ulang, atau sesuatu yang ditiru dari orang lain, seperti Worship Leader yang selalu mengucapkan sirabababababa setiap kali bertugas…

Pertanyaan itu kembali saya ingat ketika ibadah pagi ini,… Saat pemimpin pujian, sekelompok anak muda berjas dan berdasi kupu-kupu ala waiters hotel, mengucapkan sirapapapapapa rapapapapa sambil berkali-kali melihat jam, mengambil minum, menusukkan sedotan, melirik sana sini…

Ya, saya memang membuka mata saya… Sebenarnya masalahnya sederhana,… Telinga saya mudah terganggu… Suatu hal yang menyebalkan… Saya reflek membuka mata saat pemimpin pujian itu menaikkan nada yang sumbang…

Saya tahu, saya pernah mengatakan Tuhan tidak mempermasalahkan nada yang sumbang… Dan memang Ia tidak akan mempermasalahkannya, saya pun tidak… Hanya saja nada yang sumbang itu membuat saya membuka mata dan melihat yang bersangkutan sedang melakukan ini itu sambil terus rapapapapapa…

Keraguan itu kembali muncul di hati saya, seperti dua puluh tahun yang lalu… “bagaimana kita tahu bahwa iman mengenai bahasa Roh adalah benar-benar iman”.

Bahkan anak kecil yang belum mengerti pun bisa berkata rapapapapapa.

Ah, membingungkan bukan?

Membayar Pajak dan Membayar Tuhan

Kemarin tanggal 15. Setiap wajib pajak dan warga negara yang memiliki penghasilan diharuskan menyelesaikan pembayaran pajak penghasilan kepada negara (antara diharuskan atau kesadaran pribadi sih).

Dalam proses tersebut, saya tiba-tiba terpikir, “negara meminta 1 persen dari penghasilan kotor, dan gereja meminta 10 persen… yang benar saja!”

Sama seperti negara yang sering beriklan membayar pajak, kita seringkali mendengar iklan pendeta tiap minggu keempat mengenai “pentingnya membayar perpuluhan untuk ‘memperlancar’ berkat Tuhan” (baiklah, tidak segamblang ini, tapi intinya biasanya begitu)

Pikiran saya kemudian melayang lagi ke kasus gereja di Surabaya yang maha terkenal itu. Ketika suatu “kerajaan sinode” diperebutkan oleh anak pendeta besar yang hobi mengoleksi mobil mewah. Pertanyaannya, apakah orang yang mengaku hamba Tuhan ini membayar pajak kepada negara?

Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Saya bisa memahami sebagian orang akan berkata “jangan jadi provokatif” atau “yang seperti ini jangan dibahas di Facebook”. Saya tidak peduli… Apakah Anda, Hamba Tuhan, membayar pajak penghasilan kepada negara? Apakah Anda, pengelola gereja membayar pajak kepada negara?

Apakah Anda berkontribusi kepada kemajuan negara ini di luar dari sogokan-sogokan yang Anda berikan agar gereja Anda “aman”?

Saya suka sekali cerita ketika Yesus berkata “Berikan kepada kaisar apa yang harus kau berikan padanya” dengan kata lain “berilah pada negaramu apa yang harus kau berikan”. Sekarang, Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Gereja memiliki penghasilan luar biasa. Jika “iklan” Hamba Tuhan mengenai perpuluhan berhasil, maka ada ratusan juta, bahkan miliaran setiap bulannya yang diterima hanya dari perpuluhan. Lalu, apakah dari perpuluhan itu ada yang diberikan kepada negara?

Ketika Yesus mengatakan soal “berikan pada Tuhan apa yang harus kau berikan padanya” banyak orang mengaitkannya dengan memberi uang untuk Tuhan (yang biasanya dikaitkan dengan perpuluhan) karena saat itu mereka sedang membahas membayar pajak kepada Kaisar.

Namun hal yang lucu adalah, ketika orang Farisi bertanya soal “haruskah membayar pajak pada kaisar?” Yesus menyuruhnya membawa uang (dinar) kepada-Nya. “Gambar dan tulisan siapakah ini?” dan tebak.. gambar dan tulisan siapa di uang itu? Benar sekali!! KAISAR! (Markus 12 :13-17), bukan gambar dan tulisan Tuhan, bukan gambar dan tulisan imam…

Jadi, dalam pemikiran saya, ketika Yesus membahas “berikan pada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan”, Dia tidak sedang bicara tentang uang… Dalam bagian selanjutnya kita menemukan jawaban apa yang harus kita berikan kepada Tuhan “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan kekuatanmu”.

Saya tidak sedang memprovokasi dengan mengatakan “tidak perlu membayar perpuluhan kepada gereja”, toh organisasi sebesar itu memiliki biaya overhead yang besar (belum lagi gereja besar dengan banyak lighting, sound system, lantai marmer, lift, eskalator yang tentunya akan memakan biaya sangat tinggi…jika tidak dari perpuluhan, dari mana lagi… iya kan?).

Saya hanya mengajak sebagai orang Kristen kita tidak bersikap terlalu ekslusif. Tugas kita adalah menjadi terang dunia. Jangan berpikir bahwa dengan memberi “banyak uang” untuk gereja artinya Anda sudah “membayar Tuhan” untuk melakukan apa yang Anda mau… prosedurnya tidak seperti itu.

Saya hanya mengajak kita semua berpikiran terbuka. Tuhan tidak perlu dibayar dengan uang kita, tapi dengan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, “lalu mengapa seringkali kita diminta memberi uang untuk gereja”. Hmmm… Mungkin, selain karena gereja butuh biaya dan Hamba Tuhan perlu hidup, terkadang Tuhan ingin kita mengutamakan Tuhan dibanding berkatnya. Memberi uang yang seringkali menjadi “sesuatu-yang-sangat-kita-cintai” menunjukkan bahwa bagi kita, Tuhan lebih penting daripada berkat-Nya.

Bukan gereja yang membutuhkan uang,…tapi Tuhan perlu bukti bahwa bagi kita, Dia lebih penting daripada berkat-Nya…

Ah, semoga tulisan ini mudah dimengerti dan tidak disalahartikan…

Antara Rundown dan Liturgi

Pagi tadi saya mencoba beribadah di gereja Injili yang memiliki liturgi gerejawi yang benar-benar teratur, mulai dari paduan suara, doa pembuka, pembacaan kitab, pujian, pengakuan iman rasuli, kotbah, dan seterusnya. Sebuah ibadah di mana jemaan duduk dan berdiri diatur dalam sebuah tulisan.

Terus terang, baru pertama kali ini saya ibadah minggu di jenis gereja seperti ini. Gereja yang menjunjung “ibadah dengan akal sehat” dibanding “ibadah dengan emosional”. Bagi saya yang besar di gereja Pantekosta dan bertumbuh di gereja Karismatik, ini adalah sesuatu yang berbeda.

Ibadah ini masih menamakan pola ibadah (susunan ibadah) mereka dengan “liturgi”.

Sorenya, seorang sahabat mengajak saya beribadah di gereja karismatik modern yang singkatannya dieja dalam bahasa Inggris. Sebuah ibadah modern dengan lampu warna warni, pemimpin pujian berpakaian gaya anak muda (topi, jaket dan jeans) yang berjingkrak jingkrak sepanjang acara. 

Ibadah jenis ini menggunakan rundown sebagai  panduan acara mereka, lengkap dengan para crew yang menggunakan headphone dan berjalan hilir mudik merasa dirinya seperti bagian penting dari suatu acara hiburan kelas dunia. 

Sepulang dari ibadah, kami membahas beda antara “liturgi” dan “rundown”. Gereja Injili yang masih  berpegang pada aturan menggunakan bahasa liturgi sebagai panduan ibadah mereka, dan Gereja modern menggunakan bahasa rundown sebagai panduan mereka. 

Hasil dari pembicaraan kami adalah, tergantung dari bagaimana gereja melihat kegiatan yang dilakukannya saat itu, apakah ibadah atau “acara” (semacam acara hiburan). Terlepas dari konteks ‘kuno’ dan ‘modern’ yang mungkin lebih disukai.

Kami juga membahas mengenai mana jenis gereja yang lebih kami sukai. Kalau saya, terus terang saja… tidak dapat menjawab keduanya. Saya hanya ingin beribadah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya…

Dalam hati saya, hanya bisa berharap organisasi gereja yang saya cintai, tempat saya berjemaat dan bertumbuh di masa remaja saya, tidak harus berubah menjadi sedrastis sekarang. Saya menganalogikannya sebagai KFC yang mendadak mengubah menu menjadi ayam goreng khas Sunda, kehilangan citarasanya dan bahkan tidak akan mampu bersaing dengan restoran khas Sunda.

Saya hanya bisa menjawab… saya tidak sreg dengan ibadah di mana mereka yang berdiri di mimbar merasa bisa berpakaian semaunya. Di mana penghargaan terhadap Tuhan tidak ditunjukkan dalam berpakaian. Saya selalu percaya Tuhan menyukai aturan dan simbol-simbol. 

Walaupun aturan dalam imamat tidak lagi digunakan dalam jaman sekarang, namun bukankah esensi bahwa “Tuhan menginginkan penghormatan” tetap berlaku? Apakah Anda akan memakai kaos oblong, jaket dan jeans ke sebuah undangan pernikahan atau ketika Anda menikah? Jika tidak, lalu mengapa Anda menggunakannya ketika memimpin pujian?

Kira-kira apa yang dipikirkan Saudara yang berlainan agama dengan kita melihat mereka yang bertopi, jaket jogging, jeans dan sepatu menamakan dirinya “sedang menyembah Tuhan”, bukankah sikap kita selama ibadah (termasuk pakaian yang kita kenakan) menunjukkan tingkat penghargaan kita kepada Tuhan yang kita sembah.

Entahlah, itu hanya pendapat saya saja…

Konsep Anak, Bapa… dan bidan

Tadi… tepatnya kemarin malam sebenarnya, saya membaca mengenai ‘ceramah’ Rizieq Shihab di hadapan pengikutnya,… kurang lebih mempertanyakan siapa bidan yang membantu kelahiran Yesus. Umat Kristen, Anda dan saya, jujur saja… pernahkah kita berpikir kritis seperti Rizieq ini? Siapa yang membantu kelahiran Yesus? Seorang bidan? Ataukah Yusuf yang membantu kelahiran Maria? 

Saya pernah menulis mengenai “Apakah Yesus tidak dilahirkan di kandang?” Saya rasa untuk menjawab pertanyaan Rizieq, kita bisa dengan kalem menjawab “Saya rasa Maria memang membutuhkan bantuan saat melahirkan, dan orang-orang yang ada di sana membantunya.”

Ayolah, hal ini tidak akan membuat kita menjadi marah, bukan? Mempertanyakan siapa yang membantu kelahiran Yesus bukanlah masalah besar.

Sebenarnya yang menjadi inti permasalahan adalah karena Rizieq Shihab ini mempertanyakan iman kita bahwa Yesus adalah Anak Tuhan. Saya tidak akan menggunakan kata Anak Allah, karena mereka benar… Allah tidak beranak dan tidak memperanakkan (silahkan baca penjelasan saya di sini).

Konsep Bapa dan Anak ini memang sesuatu yang sulit dipahami oleh pengamat dari luar yang melihat iman Kristen tanpa mempelajarinya. Sesulit konsep mengenai Tritunggal dan Tuhan yang menjadi manusia untuk menebus seluruh dosa ciptaan-Nya itu. Tentu saja sulit dipahami, karena sekalinya Anda memahami hal ini, maka Anda akan dengan segera beriman pada Kristus.

Baiklah, mari kita membahas ini… Supaya jika ada di antara Anda, para pembaca, yang masih bingung harus menjawab apa saat ditanya…bisa mendapat sedikit gambaran mengenai konsep Bapa-Anak ini.

Bagaimana mungkin sanggup memahami konsep Bapa dan Anak jika satu-satunya hal yang terpikir ketika mendengar kata ‘anak’ hanyalah hubungan suami-istri dan bagaimana ‘membuat anak’. Mereka bertanya “Bagaimana mungkin Tuhan memiliki anak?” 

Betul sekali! Dia tidak mungkin memiliki anak dengan cara seorang manusia memiliki anak. Karena manusia ini mahluk fana… tidak dapat mengasihi tanpa syarat. Karena itulah Tuhan memberi pengalaman baru untuk mengasihi dengan sebuah hubungan. Hubungan suami-istri dan hubungan orang tua-anak. Bandingkan dengan Tuhan yang sanggup mengasihi secara luar biasa manusia yang berkali-kali menyakiti hati-Nya.

Tapi baiklah, mari kita ikuti cara berpikir dunia mengenai hubungan ayah-anak ini . Tahukah Anda apa yang membuat seorang pria menjadi seorang ayah? Itu karena ia menurunkan DNA-nya kepada anak kandungnya. Dalam kelas Biologi kita belajar mengenai hal ini. Sperma ayah bertemu dengan sel telur ibu, menjadi seorang manusia yang memiliki struktur DNA orang tuanya, termasuk ayahnya.

Dengan cara berpikir yang sama, mari kita melihat kepada Dia, yang dilahirkan dari seorang anak dara (perawan). Mengapa Dia disebut Anak Tuhan? Karena Dia memiliki DNA Tuhan. Tuhan tidak memerlukan cara yang sama dengan seorang manusia untuk menempatkan seorang bayi di dalam rahim seorang anak dara.

Saya tidak mengerti apakah Rizieq Shihab pernah membaca Al-Quran mengenai kelahiran Nabinya bernama Isa yang lahir dari perawan Maria. (Sudah lama saya meyakini bahwa ada perbedaan antara Yesus dan Isa-Almasih… sejak saya mengetahui bahwa Isa Almasih tidak mati untuk menebus dosa manusia, maafkan saya.. Bukankah itu inti dari kehadiran-Nya di dunia, untuk menebus dosa manusia? Jika saya seorang Greissia diceritakan dengan cara berbeda oleh orang lain, misalkan saya memiliki orang tua yang sama tapi hidup dengan cara berbeda, memiliki hobby yang berbeda, kemampuan dan pekerjaan yang berbeda, bukankah artinya kami dua orang berbeda?). Bagaimana caranya Isa Almasih dapat lahir dari seorang perawan?

Sekali lagi, Tuhan menaruh diri-Nya dalam rahim seorang Perawan bernama Maria, itulah mengapa Yesus disebut Anak Tuhan. Mengapa Dia harus menjadi manusia? Karena manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak sanggup membawa dirinya kepada Tuhan yang kudus. Karena manusia dengan Tuhan sudah terpisah begitu jauh akibat dosa.

Mengapa Dia harus menjadi manusia? Supaya Dia dapat mewakili manusia menerima setiap kutuk dan hukuman atas dosa, supaya setiap orang yang menerima-Nya mendapatkan kehidupan kekal dan hak untuk menjadi Anak-anak Tuhan.

UPS!!! Ada kata “Anak Tuhan” lagi di sini!!

Ada dua konsep Bapa-Anak yang berbeda di sini. Yesus disebut Anak Tuhan karena Dia sendiri yang adalah Tuhan ditempatkan dalam diri seorang anak dara dan lahir ke dunia.

Kita disebut Anak Tuhan karena telah diadopsi dari maut kepada kekal dengan darah yang mahal. Tahukah Anda seorang anak adopsi mendapatkan hak yang sama di mata hukum seperti anak kandung? Itulah sebabnya Yesus disebut “yang Sulung” sementara kita adalah “anak-anak Tuhan”

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Rm 8:29)

Kita yang tadinya bukan milik Tuhan, melainkan milik dosa… ditebus dengan darah yang mahal supaya menjadi milik Tuhan, diadopsi menjadi anak-anak Tuhan.

Masih dalam minggu Natal,… bukankah kita patut bersyukur, karena kita dapat menyebut diri kita anak-anak Tuhan? kita dapat memanggilnya BAPA. Kita ditentukan menjadi serupa (masih ingat penjelasan saya tentang DNA?) dengan gambaran Yesus?

Sulit memang memahami hal ini jika Anda tak memiliki kerendahan hati yang cukup untuk mengakui bahwa kebaikan kita tak akan sanggup membawa kita ke dalam keselamatan kekal. Sulit memahami hal ini jika kita masih mengandalkan akal manusia untuk keagungan Tuhan yang Maha Besar. Namun bukan berarti Anda tidak bisa memahaminya. Tuhan mengasihi Anda, dan Dia ingin agar Anda menjadi anak-anak-Nya. Proses menjadi anak-anak Tuhan begitu sederhana. Dia sudah melakukan semuanya, Anda hanya tinggal percaya dan menerimanya. Percaya bahwa Dia sudah mati untuk menebus dosa-dosamu, dan menerima Dia menjadi Juru Selamatmu.

Kiranya Damai Sejahtera, Hikmat dari Surga dan tuntunan Roh Kudus menyertai kita semua. Amin.

Tentang Nama Allah di Alkitab

Beberapa tahun belakangan saya mendengarkan Papa saya yang selalu menyatakan ketidaksetujuannya soal pemakaian nama Allah dalam Alkitab orang Kristen…
Ada banyak orang yang mencibir walau ada banyak juga yang mulai menyetujuinya…

Kemarin saya berdebat dengan seseorang di twitter. Walau namanya menunjukkan dia seorang Kristen, tapi sebenarnya tdk begitu.

Hari ini kembali saya melihat perdebatan antar agama… Agama mayoritas mengatakan bahwa agama yang diridhoi Allah hanya Islam… itulah kenapa umat muslim mengatakan bahwa mereka dapat menyatakan ‘kebenaran’ pada orang kafir (baca Kristen).

Saya setuju dengan mereka.. Agama yang diridhoi Allah adalah Islam… masalahnya, Tuhannya agama Kristen (seperti jg Tuhannya agama Hindu, Buddha, Sinto dan yang lain) tidak bernama Allah. Dia bernama YHWH yang kemudian menjadi manusia dengan nama Yesus Kristus (Yeshua Hamasiakh). 

Hanya saja di awal Alkitab diterjemahkan, terjadi masalah karena keterbatasan bahasa, sehingga digunakanlah nama Allah sebagai sinonim (bukan nama) Tuhan. Kemudian, sudah terlalu jauh untuk merevisi Alkitab sehingga muncullah teori-teori pembenaran yang mengatakan bahwa tak apa menggunakan Allah sebagai ganti Elohim dan bahwa Allah merupakan adaptasi dari Al-Ilah (Tuhan).

Dalam perjanjian lama, Yahweh diterjemahkan sebagai TUHAN sedangkan Elohim diterjemahkan sebagai Allah. Beberapa keanehan terjadi ketika ada tulisan Tuhan ALLAH, entah apa maksudnya. 

Lepas dari boleh tidak menggunakan kata Allah dalam Alkitab, yang ingin saya soroti adalah masalah yang timbul sebagai akibat dari penggunaan kata yang sama dalam dua agama yang berbeda (yang satu menggunakannya sebagai Nama yang Kudus, yang satu menggunakan sebagai sinonim ‘Tuhan’).

Saya rasa saya tidak menyalahkan jika umat muslim keberatan Yesus disebut Anak Allah, karena Allah tidak beranak dan memperanakkan… Begitu juga ketika mereka keberatan saat kita mengatakan Yesus adalah Allah, karena sesungguhnya keduanya berbeda.

Ah, kalau saja dulu Alkitab diterjemahkan dengan benar… mungkin saat ini kegaduhan macam ini bisa dikurangi…

Memuji Orang Farisi (Sebuah Ulasan “Christian Entertainment”)

Seperti tulisan Gereja Bintang Lima sebelumnya yang menuai banyak kritik, tulisan Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment juga menuai kritik (entah berapa persen dari pembaca yang melancarkan kritik diam-diam atau terang-terangan).

Anda pasti menuduh mengira saya seorang yang menyukai kritik atau mencari sensasi. Walau saya tidak menolak kritik dan (sedikit) menyukai sensasi, namun alasan saya menulis bukan itu. Saya hanya tidak bisa diam ketika sesuatu ‘menurut saya’ tidak pada tempatnya, dan ketika mulut sudah tidak dapat berbicara, maka jari-jari saya yang berbicara.

Seorang teman menegur saya sebulan setelah tulisan itu dimuat. Menurutnya, tulisan itu membuat “panas telinga” beberapa orang terkait. Saya tidak mengerti mengenai istilah ‘orang terkait’ ini, karena ketika seseorang mengaitkan dirinya dengan tulisan itu, maka secara tidak langsung beliau mengakui bahwa beliaulah yang dimaksud dalam tulisan itu.

Tulisan itu memang muncul karena kegelisahan dalam hati saya melihat banyak upacara keagamaan (baca: ibadah) berubah menjadi sebuah pertunjukkan rohani (performance) dengan begitu banyak tata lampu, sound system, kostum, make up, fotografer, kameramen.

Anda mungkin bertanya “dari mana kamu  menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka mengatakannya demikian. Ada banyak status dan gambar yang diupload dengan caption “great performance” atau “pertunjukkan yang luar biasa” dan pujian demi pujian dilancarkan pada mereka yang berperan di atas panggung yang kemudian menjawab dengan tersipu-sipu “terima kasih”.

“Tapi bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka bahkan tidak berdoa untuk membuka ibadah! Seolah Tuhan hanyalah tamu yang datang terlambat dan entah duduk di mana. Seolah Tuhan hanyalah pengunjung reguler dari gedung gereja dan bukan TUAN atas ibadah.

“Tapi bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka yang menyebut diri WORSHIP LEADER tidak berperan sebagai PEMIMPIN, melainkan hanya sibuk menari dan bernyanyi di panggung. Seolah tidak peduli apakah jemaat yang sedang mereka pimpin memuji Tuhan atau tidak, bahkan berkata “Motivasi kami adalah urusan kami, motivasi jemaat adalah urusan mereka. Jika tidak suka cara kami, silahkan cari tempat lain yang kau suka.”

Saudara, tulisan GBL: Christian Performance adalah sebuah kisah fiksi mengenai hitamnya seorang Pemimpin Pujian yang salah memahami fungsinya dalam ibadah yang secara sistem diubah menjadi pertunjukkan rohani. Seorang sahabat berkata, “yah, tapi kita harus menerima kekurangan mereka. Seharusnya jemaat dapat menerima kekurangan (organisasi) gerejanya seperti istri menerima kekurangan suami”

Anda tahu apa yang lucu dari pernyataan di atas?

Entah mengapa saya langsung membayangkan orang Farisi atau para Imam dengan pakaian kebesarannya berkata “kami tidak bisa menerima kritik” (sebenarnya tidak mau), atau “kami orang Lewi, suku terpilih. Apapun yang kami perbuat, kamu harus bisa menerima kekurangan kami”. Ada juga versi ‘baper’nya “kami sudah berbuat banyak, tega-teganya kamu mengkritik kami seperti itu”.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu, bagaimana dengan Anda? Suatu sistem yang terbolak-balik seperti ini membuat saya bingung setengah mati. Ketika suatu yang tidak pada tempatnya ditunjukkan dan dikritik, lalu tiba-tiba si pengkritik berubah menjadi pelaku sebuah kejahatan serius yang dinamakan menghakimi (terdengar seperti kasus Setya Novanto, bukan? Ketika saksi tiba-tiba diperlakukan seperti tersangka)

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika tiba-tiba saya berubah menjadi peran antagonis yang bersikap begitu tega pada segelintir orang yang (entah mengapa) panas hatinya membaca tulisan itu.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika mereka yang melihat ketidakberesan dipaksa untuk diam dan mengikuti saja ketidakberesan yang terjadi hanya karena mereka itu hanya “jemaat biasa” sementara bapak pendeta serta ‘orang-orang lewi” yang berdiri di panggung selalu benar.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika domba yang kelaparan justru diteriaki “kalau tidak puas di sini, pindah saja ke kandang lain, mungkin tempatmu bukan di sini”

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika suatu ketidakberesan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan seharusnya terjadi dan mereka yang menginginkan kebenaran justru dianggap tidak normal.

Saya tidak mengerti sistem seperti ini ketika ada orang berkata “kita harus menerima orang-orang Farisi di sinagoge itu apapun yang mereka lakukan”

Saya hanya mengerti, bagi mereka kritik atau perumpamaan atau apapun merupakan suatu serangan pribadi dan sama sekali tidak berdampak… bahkan kalau pun itu disampaikan oleh Kristus sendiri.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya . Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia- Matius 21:45-56a

Tapi pada akhirnya, apalah arti ini semua… Bukan tidak mungkin bahwa mereka pun menganggap saya bersikap seperti orang Farisi. Atau mungkin gedung gereja telah dipenuhi oleh orang-orang Farisi… entahlah.

 

 

Mereka yang banyak bicara

Menurut saya, politik kita sedang berada di puncak keemasan. Sejak munculnya orang-orang benar, seolah ada harapan baru bagi negeri ini. Walau ada juga beberapa orang, entah bayaran atau tidak, berperan antagonis dan memusuhi si orang benar. Tapi itulah kehidupan, tidak akan enak jika tidak ada penyeimbang.

Hal yang paling saya sukai adalah terbentuknya dua kubu di negeri ini, kubu pembela orang benar, dan kubu pembela orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar. Saya tidak mengatakan bahwa orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar otomatis adalah koruptor. Lihatlah Ratna Sarumpaet, walau dia pernah ada kasus sedikit, tapi dia bukan koruptor lagi sekarang… toh dia mati-matian melawan Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok yang saat ini sedang jadi “maskot kebenaran” Indonesia. Atau Ahmad Dani yang mati-matian membenci Ahok… dia kan bukan koruptor, tapi toh dia tidak suka pada yang benar.

Nah, hal yang bagi saya lucu adalah reaksi dari pihak orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar yang berusaha menjatuhkan orang benar. Mereka seperti naga yang terus menerus mengeluarkan api dari mulutnya. Api yang (mereka harap) mematikan. Cuitan mantan presiden kita salah satunya.

Beberapa orang yang masih bisa melihat dan berpikir sehat dapat mengatakan dengan pasti, sepuluh tahun sebelum kepemimpinan Presiden Jokowi, tidak banyak kemajuan yang berarti. Ada banyak koruptor yang berasal dari kalangan mentri dan politisi, ada banyak proyek mangkrak yang memakan biaya besar, seolah negara ini berjalan tanpa komando, negara autopilot.

Mantan Presiden kita mencuit-cuit, tidak terima jika banyak orang yang membandingkan hasil kerja 10 tahunnya dengan hasil kerja Presiden saat ini yang baru jalan dua tahun. Mantan Presiden kita mengungkit-ungkit seolah berkata “saya sudah lelah kok kalian tega!!”, hanya saja saya belum mendengar dia mencipta lagu lagi yang berkaitan dengan kegalauan hatinya ini.

Respon terhadap curhatan Mantan kita ini pun beragam. Ada yang membelanya, ada yang membully dan ada yang memilih diam saja.

Saya selalu respect pada orang yang berani berkata benar di atas yang benar dan salah di atas yang salah. Tidak peduli mereka dihujat atau dikata-katai ‘sok main hakim sendiri’, mereka adalah orang-orang banyak bicara yang memiliki sikap. Tentu saya tidak membenarkan bullying! Kata-kata yang berisi makian dan celaan hanyalah bukti bahwa bangsa ini ternyata masih buruk komunikasinya.

Salah satu “akun anonim” yang saya sukai adalah Pakar Mantan, yang menanggapi curhatan Mantan Presiden dengan menampilkan bukti-bukti dan fakta-fakta logis. Reaksinya membuahkan hasil, Sang Mantan terdiam beberapa saat lamanya.

Ketika suatu hal tidak pada tempatnya, kita bisa melihat ada saja orang-orang yang ‘banyak bicara’, mereka mengkritisi hal-hal yang tidak pada tempatnya tersebut. Di dalam hati mereka seolah ada gejolak yang tak bisa dipadamkan, “this is not right!” dan mereka bicara. Di dalam pikiran mereka seolah ada sengatan yang tak bisa dihentikan, “this is not right!” dan mereka menulis.

Panggung politik memiliki keuntungannya tersendiri, yaitu: Tak perlu ada kata ‘dosa’ dibawa-bawa, itulah kenapa bentuk ketidaksetujuan yang diungkapkan dengan satire dan sindiran mulai marak, disamping makian dan celaan yang tak kalah banyaknya (saya sih setuju kalau yang memaki terlalu kasar dan mencemarkan nama baik dihukum penjara)

Berbeda lagi dengan panggung rohani. Ada banyak kata “dosa” dan “menghakimi” di dalamnya. Tunjukkan mana yang menurutmu benar, maka kamu mungkin sedang jatuh dalam dosa “menghakimi sendiri”. Tunjukkan apa yang salah, maka kamu sedang jatuh dalam dosa “menghakimi sendiri”. Yah, saya tidak akan mengelak, di panggung politik pun kata-kata seperti itu banyak yang suka mengucapkan (dan kebanyakan mungkin adalah orang Kristen yang bersembunyi di balik ayat ‘jangan menghakimi’).

Saya pernah menunjukkan kesalahan tindakan seseorang satu kali, dan dia menjawab “yang penting motivasinya benar”. Kalimat “yang penting motivasinya benar” ini setara dengan “saya tidak punya motivasi yang buruk”. Lihatlah kasus Zaskia Gotik yang dituduh melecehkan Pancasila. Dia tidak mudah dibebaskan hanya dengan kalimat “saya tidak ada motivasi untuk ….”

Tidak!! Motivasi tidak cukup sebagai parameter tindakan kita. Berilah bayi Anda nasi rendang, kemudian katakan bahwa motivasi Anda adalah kasih sayang. Bayi Anda mungkin akan mati karena mengalami masalah pencernaan serius. Dapatkah Anda berkata “yang penting motivasi saya benar” ??

Orang-orang yang banyak bicara itu tidak peduli motivasi Anda. Mereka hanya peduli apa yang Anda lakukan benar atau salah. Ketika ternyata kepala dan hati mereka mengatakan bahwa itu tidak benar, mereka akan bicara (atau menulis). Tergantung kebesaran hati Anda menerimanya.

Lawan dari orang-orang yang banyak bicara adalah orang yang memilih diam. Saya berhati-hati dengan tipe seperti ini. Mereka diam, menganalisa, dan menjauh saat Anda terperosok lebih dalam. Bandingkan dengan orang yang banyak bicara. Mereka mengamati, memperingati, dan mungkin memiliki solusi untuk Anda… Jika Anda cukup rendah hati untuk belajar.

Saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah kisah politik dari masa lalu. Tentang seorang Raja yang melakukan kesalahan besar. Dia membahayakan bahkan membunuh orang yang setia padanya, demi merebut istrinya yang cantik dan sedang berselingkuh dengannya. Tuhan mengasihi raja ini sehingga mengirimkan utusan padanya yang memperingatinya. Saya bersyukur di akhir kisah itu, Sang Raja tidak mengatakan “kamu ini sirik ya sama saya karena bisa dapat istri baru yang cantik?? Kepaitan kamu sama saya?? Main hakim sendiri ya kamu??” dan kemudian memasukkan utusan itu ke penjara. Karena jika akhir kisahnya seperti itu, mungkin sampai sekarang dia tidak akan dikenal sebagai Raja Daud yang dekat dengan hatinya Tuhan.

Saya memiliki harapan baru atas Indonesia ini. Mudah-mudahan Presiden Jokowi memiliki kebesaran hati seperti Raja Daud, jika suatu saat ia mengambil langkah yang salah dan dinasihati oleh orang-orang yang peduli padanya. Yah…saya memiliki harapan besar atas negeri ini.

 

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”

(2 Timotius 4:2-3)

Hati-hati jika Menulis

Suatu nasihat yang sering disampaikan oleh mama dan keluarga saya yang lain adalah “hati-hati kalau menulis, jangan sembarangan. Nanti ada yang menuntut”. Maklum saya ini penulis yang ‘sembarangan’, menulis hal-hal ironis yang terjadi di sekitar saya. Saya merasa hal-hal ironis sangat menarik untuk diangkat, bisa digunakan untuk cerminan maupun pembelajaran baik bagi saya maupun pembaca.

Pembelaan yang sering saya kemukakan adalah, “ini kan blog diary saya, terserah dong saya menulis apa … Saya berhak berekspresi di blog pribadi saya sendiri” Namun beberapa orang tua dan yang merasa bijak suka berkata bahwa hal-hal ironis itu tidak perlu dipublikasikan dan disebarluaskan dalam sebuah blog seperti ini.

Tulisan-tulisan saya yang cukup kontroversial adalah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan organisasi gereja saat ini, seperti contohnya “Gereja Bintang Lima“. Beberapa orang bahkan menuduh saya admin dari @Gereja_Palsu (percayalah, saya bukan admin gereja_palsu walaupun sebenarnya saya akan sangat bangga sekali jika mendapat kesempatan menjadi admin dari akun twitter tersebut).

Saya tidak pernah menghiraukan nasihat dari mama saya dan keluarga saya yang lain karena sampai saat ini saya merasa bahwa saya memiliki kebebasan berekspresi, apalagi di jaman modern sekarang ini. Dalam kaitannya dengan gereja, saya merasa sejauh apa yang saya tuliskan tidak bertentangan dengan Buku Panduan Utama, yaitu Alkitab, maka tulisan saya sah-sah saja.

Walaupun sampai sekarang saya masih tidak kuatir dengan tulisan-tulisan saya, namun berita yang tadi siang saya baca cukup mengejutkan juga. Berita itu sebenarnya sudah lama, setahun yang lalu. Namun tetap saja berita itu mengejutkan saya betapa gereja telah bersikap begitu picik dan berpikiran begitu sempit. Anda dapat membaca tulisan tersebut di sini.

Saya akan mencoba merangkum berita dari Tempo tersebut. Jadi ceritanya ada seorang Kristen yang juga adalah kolektor benda bersejarah, Johan Yan, menulis di akun Facebooknya seperti ini: ‘korupsi atau money laundry yang dilakukan oleh ulama bukan ajaran agama Kristen’. Tulisannya ini tidak mengungkapkan nama, organisasi atau apapun yang menyudutkan sebuah organisasi atau gereja manapun. Status tersebut diunggah oleh Johan untuk mengomentari santernya pemberitaan di media online tentang dugaan korupsi dana jemaat Rp 4,7 triliun di Gereja Bethany Surabaya.

Salah seorang jemaat (yang hobby menjilat pendeta – sebutan dari saya – tanpa sensor), berinisiatif melaporkan Johan Yan ke polisi. Akhir dari cerita ini begitu tidak memuaskan:  Masalah ini dimediasi oleh penyidik, Johan meminta maaf kepada pimpinan Gereja Bethany, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra. Setelah permintaan maaf Johan diterima oleh Abraham, pihak pelapor bersedia mencabut perkaranya di kepolisian.

Namun menurut Penasihat Hukum Johan, ternyata pelapor hanya mau mencabut laporan kalau ada kompensasi materi. Mereka bahkan punya bukti rekaman skenario pemerasan itu. Saya akan langsung mengutip berita itu di sini:

Kuasa hukum Gereja Bethany, Sumarso, menyatakan bahwa sebenarnya perkara itu sudah dicabut pada Senin kemarin, 12 Agustus 2013. Sumarso justru balik mempertanyakan sikap Sholeh yang mempermasalahkan lagi kasus tersebut. “Maunya apa sih kok diungkit lagi,” kata Sumarso.

Adapun tuduhan Sholeh bahwa pihak pelapor hendak memeras Johan, Sumarso juga membantah. Namun ia tak memungkiri bahwa pernah mengucapkan permintaan kompensasi kepada Johan bila menginginkan laporan itu dicabut. “Itu kan bahasa hukum untuk negosiasi, jadi bukan secara eksplisit meminta imbalan,” ujar Sumarso.

Lihat cetak tebal dari saya… saya menganggap ini semacam pembelaan diri yang aneh. Menurutnya PERMINTAAN KOMPENSASI BILA MENGINGINKAN LAPORAN ITU DICABUT merupakan bahasa hukum untuk NEGOISASI! Benar-benar JENIUS!

Berkaitan dengan tulisan saya Gereja Bintang Lima, seorang teman pernah bertanya pada saya (karena sampai saat ini saya tidak mencabut tulisan tersebut dari blog saya, dan tidak berniat mencabut tulisan itu kalaupun seseorang melaporkan saya ke polisi), “apakah saya tidak takut jika saya dilaporkan ke polisi”. Saya kemudian menjawab “saya sama sekali tidak takut bahkan jika harus dipenjara karena tulisan saya itu.”

Jika para pemimpin gereja tidak bisa menerima kritik yang membangun dari beberapa orang yang jengah dengan apa yang terjadi di gereja saat ini, maka apa bedanya mereka dengan orang Farisi. Bukankah menurut Yesus orang-orang Farisi adalah seperti kuburan yang dicat putih di luar?

Jika para pemimpin gereja memilih untuk melapor ke polisi daripada introspeksi, apa bedanya mereka dengan orang Farisi yang menyerahkan Yesus ke Pilatus. Saya tidak sedang mempersamakan diri saya dan para kritikus lain dengan Yesus. Namun bukankah kebenaran harus disuarakan?

Jadi, jangan repot-repot untuk menasihati saya mengenai tulisan-tulisan saya yang tajam untuk gereja. Selain karena saya pun sudah bertobat (tepatnya apatis) untuk tidak menulis lagi tentang organisasi gereja, saya juga tidak takut sama sekali jika harus berurusan dengan polisi karena tulisan-tulisan saya. Tegur saya jika apa yang saya tulis tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Tegur saya jika apa yang saya tulis adalah sesuatu yang menyesatkan jemaat. Namun jangan tegur saya mengenai sesuatu yang bisa membuat orang-orang Farisi panas telinganya (atau mungkin matanya, atau kepalanya).

Maafkan jika tulisan saya kali ini terdengar arogan… Saya hanya ingin mengutarakan sikap hehehe… Gut nite!

Penulis yang Egois

Aku adalah penulis yang egois
Ku pandangi sekitarku
Ku pahami dengan akalku
Lalu ku tulis

Aku adalah penulis yang egois
Ku rekam setiap peristiwa
Ku simpan dalam kepalaku
Lalu ku tulis

Aku adalah penulis yang egois
Aku menulis untuk kepuasanku
Aku menulis untuk diriku
Aku menulis untuk kesenanganku

Aku adalah penulis yang egois
Aku tak peduli orang lain suka atau tidak
Aku tak peduli orang lain baca atau tidak
Aku tak peduli…

Aku adalah penulis yang egois
Huruf-huruf yang kurangkai cerminan pikiranku
Kata-kata yang kubuat menggambarkan perasaanku
Kalimat-kalimat yang kususun menceritakan yang kualami

Realis tapi Idealis
Skeptis dan Apatis
Aku adalah penulis yang egois

Suatu saat kukatakan pada diriku
“Tulislah sesuatu yang berguna
Setidaknya memotivasi dan menguatkan orang”

Namun diriku berkata
“Bagaimana aku tahu mereka membutuhkannya?”
“Bagaimana aku tahu mereka menggunakannya?”
“Bagaimana aku tahu mereka akan menyukainya atau tidak”

Kemudian ku katakan pada diriku
“Tulislah sesuatu yang baik,
Seperti kau menabur benih
Tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan benih yang ditabur
Tak ada yang tahu apakah mereka tumbuh atau mati”

“Sesuatu yang baik?”

Aku adalah penulis yang egois
Sekali lagi kupandangi layar komputerku

Jika sesuatu baik bagiku,
Mungkin itu baik bagi orang lain

Aku tak akan menceritakan masalahku
Jika itu merupakan masalah bagiku
Itu tak akan membantu orang lain

Jika sesuatu dapat memberiku pelajaran
Mungkin itu akan memberi orang lain pelajaran

Aku tak akan mencaci dan memaki
Namaku buruk bukan ketika aku dicaci,
Tapi ketika aku mencaci

Aku adalah penulis yang egois
Namun setidaknya aku menulis
Dan aku akan menulis
Untuk dunia yang lebih baik

 

Ps:
Didedikasikan untuk para penulis, facebookers dan pengguna jejaring sosial. Setiap manusia lahir dengan keegoisan. Mudah-mudahan keegoisan kita tidak berdampak buruk bagi orang lain. Mencaci dan memaki di media sosial sama sekali tidak membawa kebaikan. Curhat dan galau juga tidak akan membuat masalah kita selesai. Mari gunakan “keegoisan” kita untuk sesuatu yang baik… para penulis yang egois 🙂