Yang berkuasa atas kehidupan

Untuk kalangan sendiri

cemetery

Berita kematian datang silih berganti, seolah menghajar kita terus menerus. Kemarin saya dikagetkan dengan kepergian sepasang suami istri sahabat baik dari sahabat saya yang juga merupakan orang tua dari seorang kenalan saya. Mereka merupakan dua dari tiga korban longsor yang terjadi di hotel Club Bali. Semua orang yang mengenalnya terkejut dan berharap mereka masih hidup ketika Tim Basarnas belum berhasil mengeluarkan mereka.

Namun apa hendak dikata, Tuhan berkehendak lain. Puing-puing hotel menimpa tubuh mereka yang sepertinya langsung merenggut nyawa mereka.  Info dari pihak hotel, mereka berdua sempat pindah kamar pada pukul 10 malam, dan kamar sebelumnya aman dari kejadian longsor. Seolah mereka berdua mengetahui bahwa sudah waktunya menghadap Sang Ilahi. Keluarga yang ditinggal sedih, namun mereka tidak memiliki pilihan selain menerima keputusan Yang Maha Kuasa. Bukankah Dia Sang Pemilik Kehidupan? Dia yang memberi, bukankah Dia berhak mengambil?

Berita kematian di sekitar kita datang tanpa pandang usia. Seolah siapapun harus siap saat kematian datang, toh memang tidak ada pilihan.

Pagi ini saya dikejutkan dengan berita tutup usia seorang Hamba Tuhan besar. Hamba Tuhan yang oleh jemaatnya dipercaya akan ditinggal saat pengangkatan untuk berperang melawan antikris (berdasarkan salah satu kotban beliau). Hamba Tuhan besar yang kotbah-kotbahnya begitu luar biasa dan saya kagumi… Pastor Petrus Agung.

Diberitakan tutup usia pada hari Minggu, 13 Maret 2016 pk. 23.00, kemudian berita mulai menjadi simpang siur pada hari Senin, 14 Maret 2016. Seorang rekan hamba Tuhan tidak mau menerima kenyataan bahwa Sang Pastor Besar telah berpulang, mengutip kata-kata Yesus “ia tidak mati, hanya tidur”, dan mengumumkan bahwa Sang Pastor hanya koma.

Kemudian mereka mengambil jenazahnya dari Rumah Sakit, mengumpulkan jemaat dan memulai suatu jenis doa yang baru saya dengar “doa kebangkitan”, dikatakan mereka mengadakan Pertemuan Doa Ilahi untuk mendoakan kebangkitan Pastor Petrus Agung. Entah bagaimana ceritanya,… Mungkin beberapa orang mengambil kesimpulan saat mendengar gabungan berita antara ‘mati’, ‘koma’ dan ‘doa kebangkitan’, kemudian menyebarkan sebuah berita yang isinya bahwa Pastor Petrus Agung telah dibangkitkan dari kematian.

Picture1Berita mulai menjadi liar, hingga diturunkannya berita bahwa jemaat akan berdoa hingga pk. 15.00 untuk memohon kuasa kebangkitan dari Tuhan. Ah, mereka rupanya lebih ingin Pastor Petrus Agung bersama mereka daripada bersama Tuhan. Tanpa memikirkan apa yang sudah dialami Pastor Petrus Agung dalam kehidupan setelah kematian, mereka memintanya terus berlari walau pertandingannya sudah selesai.

Tak lama berita diakhiri oleh sebuah pengumuman bahwa akhirnya para pemimpin jemaat melihat pada jenazah Pastor Petrus Agung yang sepertinya sudah merasa tenang, dan akhirnya diputuskan untuk merelakan kepergiannya, memandikan jenazahnya dan memulai prosesi pemakaman. (Hello…ke mana perginya iman itu… bukankah Lazarus dibangkitkan hari keempat?

Saya tidak tahu apakah tulisan saya kali ini menunjukkan kurangnya iman saya, atau justru iman saya yang luar biasa akan kedaulatan Tuhan. Saya tidak pernah menemukan satu orang pun dalam kitab Suci yang memohon agar Tuhan membangkitkan anak, saudara, keluarga, atau kerabatnya yang sudah mati. Tidak ada! Oh, hanya satu orang yang berani melakukan itu, Elia. Tapi tahukah Anda mengapa ia melakukannya? Saya ceritakan sedikit.

Suatu saat terjadi kekeringan di seluruh negeri sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Tuhan memerintahkan Elia untuk  pergi ke Sarfat, karena di sana ada seorang janda yang sudah dipilih Tuhan untuk memberi Elia makan. Saat Elia tiba, Janda ini sedang mengumpulkan kayu api saat ia melihat ada orang asing datang, orang asing aneh yang berani-beraninya berseru “minta minum”. Rupanya ia adalah wanita yang baik. Dengan segera ia mengambil air untuk Elia. Saat ia sedang mengambil minum, Elia teriak lagi “aku juga minta roti”.

Kalau saya, pasti sudah kesal sekali. Apakah dia tidak tahu bahwa kekeringan sedang melanda negeri. Wanita di Sarfat ini berkata “Demi Yahweh, Tuhanmu yang hidup… aku tidak punya roti, hanya tepung dan minyak sedikit sekali. Ini juga aku lagi mengumpulkan kayu untuk membuat makanan terakhir untuk aku dan anakku” (terjemahan bebas dari saya, silahkah lihat versi alkitabnya di I Raja-Raja 17:7-24)

Kisah selanjutnya, Elia memberi jaminan atas nama Tuhan bahwa tepung dan minyak yang dimiliki perempuan itu tidak akan habis jika dia membuat roti untuk si Hamba Tuhan dulu baru kemudian buat mereka. Sebuah permintaan yang berani bukan? Saya bayangkan ia berkata “tenang aja, buat aja dulu roti untukku, baru untukmu dan anakmu. Karena kata Tuhan tepungmu tidak akan habis, demikian juga minyakmu.”

Bayangkan apa yang ada di pikiran janda itu saat mengolah tepung. Ia memiliki iman yang luar biasa, bukan? Iman di tengah-tengah kesulitan, dan Tuhan memberikan imbalan sesuai janji-Nya, kehidupan mereka dipelihara.

Tak lama kemudian, anak dari perempuan itu sakit keras. Alkitab mengatakan ia sakit keras hingga tak ada lagi nafasnya. Bagaimana perasaan wanita itu? Ah, apakah itu karena si nabi ini mengetahui dan melaporkan kesalahan-kesalahannya pada Tuhannya hingga Tuhan menghukumnya?

Elia kemudian mengambil anak itu, membawanya ke kamar atas yang ia tempati dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. Bagi saya, wanita ini tetap menunjukkan imannya dengan memberikan anak ini kepada Elia. Elia kemudian berdoa pada Tuhan agar ia menghidupkan anak ini. Ajaib! Tuhan mendengarkan permintaan Elia dan anak ini hidup kembali.
Apa kesimpulan Anda? Kalau saya,… Ketika Elia berdoa memohon kehidupan anak ini, ia melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk janda ini. Tidak ada kepentingan manusia di dalamnya. Tidak ada doa “Tuhan, kasihani janda ini yang pasti akan kesepian saat anaknya mati”. Tidak! Elia berdoa untuk mempertahankan nama Tuhannya yang hidup.

Setelah Elia, saya tidak pernah menemukan lagi seorang yang begitu berani meminta agar Tuhan mengembalikan nyawa mereka yang sudah dipanggil pulang, apalagi di Perjanjian Baru.

Ketika seorang anak dari perwira yang percaya meninggal, Yesus berkata “ia tidak mati, hanya tidur”. Saudara pikir apakah ini iman? Tidak!! ini bukan imannya Yesus. Ini adalah kedaulatan-Nya. Ia memiliki kedaulatan atas kehidupan dan kematian. Maka ia berkata Talitakum!

Kehidupan dan juga kematian adalah kedaulatan Tuhan (walau gaya hidup yang tidak bijak ikut berperan dalam usia seseorang).

Banyak yang berkata bahwa suatu saat Pak Petrus pernah berkotbah bahwa dia akan menjadi salah satu yang berperan dalam kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Saya kok kuatir… apa yang dilakukan jemaat dan hamba Tuhan di Semarang adalah karena mereka takut jika ternyata apa yang mereka percayai selama ini bukan kehendak Tuhan, bahwa ternyata rencana Tuhan berbeda dengan apa yang sudah sering mereka dengar…

Saya kok kuatir.. apa yang dilakukan jemaat di Semarang dan hamba Tuhan yang memprakarsainya bukanlah sikap yang bijak. Seolah mempertanyakan kedaulatan Tuhan akan kehidupan. Lagipula, untuk kepentingan siapa mereka melakukan itu? Kepentingan Tuhan, atau mereka sendiri?

Saya kok kuatir.. nama Tuhan kita justru dipermalukan dengan kejadian ini. Di saat Gubernur Ibu Kota berkata “bagi saya mati adalah keuntungan” yang ramai-ramai diamini oleh pengikut Kristus lainnya. Tiba-tiba ada seorang hamba Tuhan dan jemaat Tuhan beramai-ramai tidak terima dengan kematian seorang Hamba Tuhan, seolah tidak yakin bahwa yang bersangkutan sudah mengalami kehidupan kematian bersama Kristus di Sorga.

Saya kok kuatir.. apa yang diprakarsai oleh para hamba Tuhan ini justru akan menimbulkan reaksi kekecewaan yang luar biasa kepada Tuhan ketika seolah-olah Tuhan tidak mengabulkan doa yang dinaikkan ribuan orang dengan menangis, berteriak, berguling-guling, naik kursi, melompat, dan lain-lain.

Saya kok kuatir..tapi ah, siapa saya sehingga bisa mengomentari kejadian yang luar biasa ini. Mungkin iman saya yang kurang dibandingkan para pendeta besar itu…

Advertisements

Exodus the Movie – When human logic try to understand God

Kemarin saya dan beberapa teman remaja menonton sebuah film yang ide ceritanya (kelihatannya) dari Alkitab: Exodus.
image

Jika Anda seorang Kristen, Anda akan langsung mengetahui bahwa film ini (seharusnya) diambil dari kitab Keluaran (Exodus), dimana Musa memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, lepas dari penjajahan bangsa Mesir.

Tulisan saya kali ini kemungkinan sangat panjang karena akan berisi review film (maaf buat yang belum menonton) dan beberapa pandangan saya mengenai beberapa bagian dari film itu. Jadi, buat Anda yang penasaran dengan pandangan saya… Eh, maksud saya dengan film itu.. Selamat membaca!

Exodus the movie diawali dengan adegan demi adegan yang menunjukkan keakraban antara Musa, anak Putri Firaun dengan sepupunya, Ramses, anak dari Firaun yang berkuasa saat itu.

Musa digambarkan sebagai seorang yang baik sekali dalam berperang dan berstrategi, menyayangi Ramses seperti saudara kandungnya sendiri,  bahkan menyelamatkan hidup Ramses dalam sebuah pertempuran.
image

Kemudian diceritakan bahwa Musa menemui para penatua dalam kunjungannya ke Pitom, kota perbekalan yang dibangun bangsa Ibrani di Mesir. Penatua memberi tahu Musa bahwa ada ramalan (nubuat)  bahwa akan ada penyelamat bangsa Israel dan bahwa Musa sebenarnya adalah salah satu dari mereka,  orang Ibrani.
image

Mereka menceritakan bahwa saat dilahirkan Musa diserahkan kepada Miriam, kakaknya… Agar luput dari pembunuhan bangsa Israel.  Miriam menaruhnya di keranjang dan menghanyutkan keranjang itu hingga ditemukan oleh putri Firaun yang kemudian mengangkatnya menjadi anaknya dan menjadikan Miriam sebagai hambanya yang bertugas mengasuh Musa dan Ramses.

Musa menolak untuk mempercayai cerita ini dan tetap yakin bahwa dirinya adalah anak dari Bithia,  putri Firaun dan ayahnya adalah jendral Mesir yang hebat.
image

Kegagalan pertama cerita ini menurut saya adalah menghilangkan tokoh ibu Musa. Dengan hilangnya tokoh ibu Musa, maka hilang juga harapan bahwa Musa dibesarkan dalam pengenalan akan Yahweh, Tuhan Abraham,  Ishak,  dan Yakub.

Dengan hilangnya tokoh ibu Musa, hilang juga harapan bahwa Musa mengetahui jati dirinya sebagai bangsa Ibrani.

Kisah berlanjut ketika ternyata ada mata-mata Ibrani yang mendengar saat penatua Israel menceritakan jati diri Musa.  Mata-mata itu juga melihat bahwa Musa membunuh orang Mesir yang mengatainya “budak” (bandingkan dengan kisah AlKitab dimana Musa membunuh orang Mesir untuk membela bangsanya)

Mata-mata Ibrani itu kemudian menceritakan kepada gubernur Pitom yang tidak disukai oleh Musa yang kemudian menceritakannya kepada Ramses yang saat itu sudah jadi raja Mesir menggantikan ayahnya.

Di sini kita akan melihat bagaimana Musa tetap yakin pada pendiriannya bahwa ia adalah orang Mesir.
image

Ramses kemudian memanggil Miriam dan menanyainya perihal hubungannya dengan Musa dan Miriam menyangkal bahwa ia adalah kakak Musa,  mungkin untuk keselamatan nyawa mereka berdua.

Ketika Ramses menyadari bahwa Miriam berbohong (dengan menggunakan metode melihat pupil mata Miriam), ia berniat memotong tangan Miriam.  Tidak tega melihat tangan pengasuhnya dipotong,  akhirnya Musa berteriak bahwa Miriam adalah kakaknya.  Namun saat itu ia melakukannya untuk membela pengasuhnya dan sama sekali belum menerima kenyataan bahwa ia adalah orang Ibrani.

Ia baru menerimanya dengan berat hati ketika akhirnya Bithia menceritakan bahwa Musa memang bukan anak kandungnya. Bithia menceritakan kisah ini sebelum Musa ditinggalkan dalam pembuangan di gurun.

Kegagalan berikutnya dari kisah ini adalah kegagalan menceritakan tokoh Musa yang memiliki jiwa nasionalis tinggi terhadap Israel dan bukan Mesir.  Tentu saja ini merupakan akibat dari kegagalan pertama yang sudah saya bahas di atas.

Dalam Taurat (yang ditulis oleh Musa sendiri) diceritakan bahwa Musa lari ke Padang gurun setelah membunuh orang Mesir dan menemukan kenyataan bahwa justru bangsanya tidak mengenalnya dan sama sekali tidak menghargai pembelaan Musa.

Dalam Taurat dikisahkan bahwa dengan kekuatan sendiri Musa tidak akan sanggup menyelamatkan bangsanya (yang diceritakan juga oleh film ini tapi dengan cara berbeda… Nanti kita akan bahas)

Tanpa Musa yang memiliki nasionalis tinggi kepada bangsanya,  akan sulit untuk penokohan Musa berikutnya, dan memang itu akan kita lihat kemudian. 

Dengan menggambarkan Musa sebagai pribadi yang sombong dan arogan,  kita sekali lagi menghadapi persimpangan jalan antara benar dan salah kisah ini… Dan sayangnya kisah ini makin tersesat karena kegagalan kedua yang diakibatkan kegagalan pertama ini.

Musa kemudian berjuang antara hidup mati di gurun sampai dia berjumpa dengan Ziphora,  putri Yitro. Selebihnya hingga pernikahannya,  kisah ini sesuai dengan apa yang kita temui di Taurat.

Kisah ini sesuai dengan Taurat sampai kita menemui keanehan dan kegagalan selanjutnya.  Ketika Musa diceritakan tetap tidak mengenal Tuhannya orang Israel.

Suatu saat Musa penasaran dengan Gunung Tuhan (Horeb)  yang diceritakan anaknya. Ia kemudian menggembalakan ternak ke gunung itu namun kemudian dihadang dengan badai yang menyebabkan kepalanya terantuk batu dan dia terjebak dalam lumpur,  dalam keadaan telentang.

Dalam posisi demikian ia melihat semak terbakar dan suara yang memanggil “Musa”. Tak lama kemudian ia melihat seorang anak kecil emosional yang mengatakan dia membutuhkan seorang jenderal yang dapat memimpin umat yang besar. 

Saya menemukan bahwa anak itu ternyata digambarkan sebagai Tuhan (atau utusan-Nya,  entahlah). Ketika ditanya “Who are you?” oleh Musa, anak itu menjawab “I Am” kemudian layar gelap dan tiba-tiba Musa sudah berada di kamar dalam keadaan menggigil dan dirawat oleh Ziphora.

Kegagalan ketiga dari film ini adalah kegagalan mereka menggambarkan kekudusan Tuhan.

Mereka menggambarkan Tuhan sebagai pribadi pemarah yang tidak perlu diperlakukan hormat. Pribadi yang tidak memperkenalkan diriNya dengan benar. Pribadi yang bahkan tidak menuntut rasa hormat.

Tidak ada tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang menjadi kusta dalam film ini.  Rupanya si pembuat film tidak melihat pentingnya demonstrasi kuasa Tuhan yang akan membangun iman Musa untuk langkah berikutnya.

Hingga akhir kisah kita akan melihat Tuhan yang seperti apa yang saya gambarkan di atas.  Tuhan yang dimarahi Musa berkali-kali dan senang karena walau Musa sering tidak sependapat dengan Dia (dan sebaliknya)  namun Musa tetap menemuinya di atas gunung.

Kegagalan ketiga ini kembali membawa kita ke sebuah persimpangan yang akan membawa kita ke kegagalan berikutnya.

Kemudian entah karena pemikiran apa,  Musa pamit pada istri dan anaknya untuk pergi ke Mesir karena tugas menjadi jenderal yang diberikan kepadanya. Bandingkan dengan apa yang Musa tulis di Taurat di mana ia membawa serta istri dan anaknya kembali ke tanah Mesir.

Entah mengapa tapi saya melihat alasan Musa menerima tugas itu karena kerinduannya menjadi jenderal, dan bukannya taat kepada Tuhan.  Film ini jelas menyebutkan jenderal sementara Alkitab menyebutnya utusan..

Selanjutnya kemudian Musa kembali menemui Nun, penatua Israel yang menceritakan soal jati dirinya.  Ia kemudian diperkenalkan kepada Harun,  yang entah mengapa di film ini tidak memiliki peranan yang cukup besar dalam pembebasan bangsa Israel… Dan tidak memiliki tongkat.

Dalam film ini Musa kembali ke Mesir bukan dengan tongkat mujizat dan penyertaan Tuhan sebagai senjatanya,  tapi pedang pemberian Firaun yang selalu dibawanya kemana-mana dan masa lalunya sebagai anak putri Firaun, arogansinya dan kemampuannya berperang.
image

Setelah mengancam Ramses dengan pedang jika tidak melepaskan bangsa Israel,  kemudian Musa mengatur rencana.  Dibakarnya lumbung-lumbung persediaan orang Mesir dan kapal-kapal perangnya. 

Bukannya menuai keberhasilan,  akibat perbuatannya dari demi satu keluarga Israel dibunuh dan mereka dipekerjakan lebih keras dari sebelumnya hingga kemudian Musa menjumpai anak kecil yang digambarkan sebagai Tuhan.

Tuhan mengatakan bahwa rencana Musa bisa saja berhasil,  tapi akan memakan waktu yang sangat lama sementara Dia sudah tidak sabar.  Dia kemudian berkata pada Musa bahwa mulai saat itu Dia ambil alih.  Lucunya,  sampai detik ini itu penonton masih melihat Musa yang bimbang dan tidak sepenuhnya beriman pada Tuhan.  Tentu saja,  karena kegagalan tiga tadi… Musa belum diperlihatkan Kuasa Tuhan yang sebenarnya.

Sejak itu kemudian datanglah tulah demi tulah. Dimulai dari nelayan yang dimakan buaya dan buaya yang saling menggigit hingga menyebabkan seluruh air di Mesir berwarna merah darah.

Saya melihat di sini pembuat cerita berusaha memasukkan logika ke dalam kejadian hebat yang ditimpakan Tuhan atas Mesir.  Dengan efek yang luar biasa diperlihatkan air laut yang menjadi merah dan ikan-ikan mati.
image

Kemudian,  tanpa ada negosiasi dari Musa dan Ramses,  katak keluar dari dalam air yang berbau amis itu (kemungkinan besar karena tidak tahan akan bau amisnya).

Selanjutnya tanpa diberi kesempatan berpikir dan membuat keputusan, tiba-tiba datanglah bilatung dari bangkai katak (sebagai pengganti nyamuk agar bisa dijelaskan kemunculannya secara ilmiah) dan lalat pikat akibat bau amis.

Tanpa ada negosiasi dan demonstrasi kuasa Tuhan,  datanglah tulah demi tulah hingga tulah ke sembilan. Semuanya dijelaskan secara ilmiah oleh penasihat Firaun,  dan hal itu membuat Firaun berkeras hati. 

Setelah tulah ke sembilan,  Musa menghadap Tuhan…  Mengatakan bahwa rencanaNya juga tidak berhasil karena Firaun tidak juga melepaskan orang Israel dan juga karena orang Israel juga mengalami hal buruk seperti yang dialami orang Mesir.

Kegagalan keempat adalah mengenai di mana sisi Musa berdiri.  Karena harapannya adalah menjadi Jenderal,  maka fokus Musa adalah dirinya sendiri.  Setelah melihat sembilan tulah yang ditimpakan Tuhan,  bukannya percaya dan berada di sisi Tuhan, ia justru berpihak kepada “kemanusiaan”.  Di sini kita sedang melihat Musa humanis yang mempertanyakan kebesaran Tuhan.

Kegagalan kelima adalah mengenai kuasa Tuhan.  Jaman sekarang kita tidak banyak melihat mujizat.  Tapi jaman dulu,  saat pemerintahan Israel masih Teokrasi, mujizat adalah cara Tuhan menyatakan diriNya. Semua bencana yang terjadi dijelaskan dengan cara ilmiah seolah-olah kuasa Tuhan dibatasi oleh akal budi manusia. 

Alkitab mencatat tulah-tulah itu datang ketika Musa mengulurkan tongkat,  sementara film itu mencatat tulah-tulah itu datang seperti bencana alam.  Baik, kegagalan kelima tidak terlalu fatal…  Toh bencana alam pun merupakan bagian dari kuasa Tuhan.

Selanjutnya Tuhan berkata bahwa Ia akan mendatangkan bencana berikutnya.  Di film ini kita jelas melihat,  bagaimana Musa meragukan Tuhannya. Bagaimana ia berkata “aku tidak mau terlibat dengan pembunuhan ini”.

Tidak dijelaskan apa yang akhirnya membuat Musa taat,  memerintahkan orang Israel untuk mengambil anak domba dan mengoleskan darahnya di palang pintu agar terlepas dari pembunuhan anak sulung.  Namun hal yang menarik adalah keraguan Musa yang diceritakan di film ini, saat ia berkata, “jika aku salah, maka malang bagi domba-domba itu.  Jika aku benar,  maka kita semua selamat dari bencana besar”.

Kegagalan keenam adalah tentang bagaimana film ini melewatkan perayaan Passover atau Paskah yang justru merupakan hal terpenting dari bagian ini. 

Tuhan tidak hanya sekedar menyuruh orang Israel mengoleskan domba dalam waktu satu malam.  Alasan mengapa tulah kesepuluh diberitahukan adalah agar ada cukup waktu bagi orang Israel untuk merayakan iman mereka.

Saya akan kutip satu ayat:

Keluaran 13:3  Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatu pun yang beragi.

Dan ini…

Keluaran 13:8  Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir

.

Paskah merupakan hari raya yang penting bagi orang Israel. Ketika kematian dilewatkan dari siapa saja yang beriman bahwa Tuhan berkuasa atas hidup dan mati dan bahwa Tuhan sanggup melepaskan. Namun hal ini gagal dijelaskan oleh film ini.  Bukannya percaya,  Musa sendiri justru ragu.

Selanjutnya Musa memberi peringatan kepada Ramses,  untuk melepas orang Israel sebelum tengah malam.  Namun Ramses tidak mengindahkan peringatan ini. Malam itu kematian mendatangi kediaman Israel.  Satu persatu anak sulung mati,  termasuk anak sulung Ramses, kesayangannya.
image

Dalam film ini,  di sinilah Musa mulai percaya,  ketika tidak satupun anak sulung Israel mati seperti anak sulung Mesir.

Esoknya dengan dukacita yang mendalam,  Ramses mengusir seluruh orang Israel dari tanah Mesir.  Orang Israel pun meninggalkan Mesir dengan diiringi cemoohan orang Mesir.

Dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, Musa mampir ke rumah istrinya.  Tidak dijelaskan apakah kemudian Musa membawa serta istri dan anaknya dalam perjalanan ini atau tidak.
image

Tak lama kemudian Ramses menyesal telah melepaskan orang Israel,  mengumpulkan 1000 pasukan berkuda dengan dia sendiri memimpin di depan dan mengejar orang Israel.

Mengetahui mereka sedang dikejar,  Musa merasa ketakutan.  Ia berkali-kali memanggil Tuhan namun tidak ada jawaban.  Ia menjadi sangat bimbang ketika berada di persimpangan,  antara melewati pegunungan yang sulit atau melewati danau. 

Tanpa jawaban Tuhan akhirnya Musa  memutuskan untuk melewati gunung yang sulit dengan pertimbangan kereta Firaun akan kesulitan melewati jalur gunung yang sempit dan itu akan menghambat mereka.

Kegagalan ketujuh adalah mengenai penyertaan Tuhan.  Dalam film itu Musa lebih banyak mengeluh dibanding orang Israel sendiri,  dan menanggapi itu,  Tuhan diam.

Bandingkan dengan apa yang tertulis di Taurat :

Keluaran 14:19-20  Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka.

Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Perjalanan mereka terhenti ketika mereka menghadapi laut Teberau. Entah kemana Tuhan saat itu, yang jelas Musa putus asa.  Ia putus asa dan melemparkan pedangnya ke laut dengan sekuat tenaga.

Dia benar-benar terlihat begitu lemah di akhir namun kuat di awal kisah.  Berbeda dengan Musa yang kita kenal di Taurat,  Musa yang lemah di awal namun semakin kuat di akhir.

Tanpa perlu repot-repot mengulurkan tangannya seperti yang tertulis di bawah ini:

Keluaran 14:21  Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.

Musa hanya tidur dan besoknya tiba-tiba saja laut itu menjadi kering. Tak  ada tembok air seperti yang tertulis di Taurat…  Tiba-tiba saja laut itu menjadi kering segera setelah Musa melemparkan pedangnya.
image

Saya begitu bingung dengan peran pedang kesayangan Musa ini.  Jelas-jelas pedang ini menggantikan fungsi tongkat yang sebenarnya dimiliki Musa.
Mungkin sebagian dari Anda tidak mempermasalahkan hal ini,  tapi bagi saya ini jelas suatu kesalahan mayor. Tongkat Musa bukanlah suatu senjata berbahaya bagi manusia,  Musa dan tongkat bukanlah apa-apa tanpa penyertaan Tuhan.

Pedang adalah alat perang manusia untuk menyerang maupun mempertahankan diri.  Dengan pedang seolah-olah film ini menggantikan peran kekuasaan Tuhan dengan kekuatan manusia.  Entahlah,  bagaimana menurut Anda?

Bangsa Israel kemudian berjalan melalui laut kering itu, sementara tentara Mesir semakin dekat.  Dalam perjalanan mengejar bangsa Israel melewati tempat curam,  logika Musa berhasil memusnahkan sebagian tentara yang jatuh ke jurang karena jalanan sempit itu tidak cukup besar dan kuat dilewati kereta kuda begitu banyak.

Sebagian lain yang masih tersisa mengejar bangsa Israel sampai ke laut kering sebelum kemudian air laut kembali entah dari mana dan menenggelamkan mereka.
image

Hal yang menarik dari bagian ini adalah ketika Musa bukannya lari menyelamatkan diri saat air laut datang, ia justru menghampiri Ramses hingga mereka berdua berhadapan di tengah laut dan akhirnya terkena hantaman air laut.

Tapi tenang saja,  Musa selamat dan berhasil berenang ke bagian pantai di mana orang Israel berada sementara Ramses juga selamat dan berhasil berenang ke sisi satunya.

Kemudian tiba-tiba saja kita diperlihatkan Musa yang mengukir 10 perintah Tuhan di atas gunung. Tidak dikisahkan tentang anak lembu emas.

Adegan penutup merupakan keanehan yang paling fatal,  menurut saya.  Ketika Musa tua duduk di dalam kereta bersama kotak kayu berisi 10 perjanjian.  Dia melihat ke luar ke arah anak kecil yang merupakan jelmaan Tuhan. Ternyata selama itu Anak itu ikut berjalan bersama orang Israel. Namun kemudian entah apa maksudnya,  tiba-tiba saja Anak itu berhenti sementara orang Israel terus berjalan.  Seolah-olah menunjukkan bahwa Tuhan tak lagi menyertai mereka.

Well,  bagaimana? Apa tulisan saya cukup memberi Anda gambaran.  Jika Anda tidak percaya,  pergilah ke bioskop terdekat dan belilah tiket Exodus. Tapi saran saya,  bacalah dulu Alkitab saudara sebelum Saudara menonton…  Bukankah di jaman akhir memang banyak penyesat?

Kita senang karena merasa ada sebuah film yang diangkat dari kisah Alkitab,  tapi kemudian kebingungan menemukan bahwa begitu banyak perbedaan dengan cerita Alkitab.

Kemudian Anda melihat bahwa kisah di film lebih dapat masuk akal Anda dibanding apa yang dikisahkan Alkitab… 

Di jaman akhir ini, kita memang harus lebih berhikmat.  Namun,  apakah berhikmat berarti menggunakan logika manusia?  Atau mempercayai Firman Tuhan dan penyertaanNya?

Xenophobia – Phobia Orang Asing

Biasanya saya menulis rangkaian Phobia di greissia.com, hari ini karena satu dan lain hal saya menulisnya di sini. Baru saja saya melihat pidato Prabowo di hadapan Koalisi Merah Putih sehubungan dengan kemenangan mereka di rapat paripurna DPRD mengenai UU Pilkada. Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika dia mengatakan bahwa setelah kemenangan Koalisi Merah Putih kemarin, dia melihat begitu banyak media asing yang meliput dan berkomentar. Sebuah kalimat yang menurut saya absurd adalah “Siapa mereka sehingga merasa perlu ikut campur urusan kita bangsa Indonesia?” Continue reading “Xenophobia – Phobia Orang Asing”

Memilih, Dipilih, Terpilih dan Akhirnya Memalukan

Baru saja saya melihat drama yang luar biasa di rapat paripurna DPR. Jika dipikir-pikir sebenarnya tidak aneh juga hal itu terjadi di negara Indonesia. Rapat yang membahas RUU Pilkada ini berakhir ricuh dengan banyak anggota DPR yang menghampiri meja pimpinan DPR sambil marah-marah, dan sebagian berteriak-teriak di mic-nya menyatakan bahwa pimpinan tidak tegas dan mereka tidak puas dengan rapat itu. Petugas keamanan bersiap-siap dan akhirnya pimpinan yang bingung menyatakan bahwa sidang itu diskors.

Saya merasa malu! Sebagai rakyat Indonesia, yang menurut Pendidikan Pancasila yang saya peroleh saat sekolah merupakan kedaulatan tertinggi dari negara ini, merasa kecewa dengan sikap para elit yang duduk di gedung bernama DPR. Lebih malu lagi karena beberapa hal yang memicu kericuhan ini: Continue reading “Memilih, Dipilih, Terpilih dan Akhirnya Memalukan”

Antara Insting, Emosi, Logika, Iman dan Seorang Gadis Bernama Novela

Saya suka sekali dengan drama pilpres tahun ini. Bagi saya, drama pilpres ini memberi banyak pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Ketika Sang Macan tidak terima kekalahannya dan membawa kasus kekalahannya ini ke Makhamah Konstitusi. Kemudian masyarakat disuguhi lagi pelajaran mengenai sidang konsititusi yang menarik untuk disimak. Mulai dari saksi-saksi yang bodoh, tidak relevan, hingga ketua MK yang berwibawa dan para hakim anggota yang pintar benar-benar menarik perhatian.

Hari ini, kita disuguhi komedi dalam Sidang MK, ketika seorang saksi yang didatangkan kubu Prabowo Hatta berani membentak setiap orang yang bertanya padanya, mulai dari pengacara, hingga hakim ketua MK sendiri. Continue reading “Antara Insting, Emosi, Logika, Iman dan Seorang Gadis Bernama Novela”

Burung yang rapuh, pemain yang handal

Beberapa tahun yang lalu, permainan angry bird menjadi salah satu permainan populer yang membuat kaya pembuatnya. Hampir setiap gadget dan komputer memiliki games yang menjadi salah satu fitur di google chrome ini.

Angry bird merupakan permainan yang (sepertinya) menggunakan hukum fisika. Tentukan sudut dan kekuatan yang tepat untuk menembak obyek dengan jarak tertentu. Continue reading “Burung yang rapuh, pemain yang handal”

Rating oriented!

Beberapa hari yang lalu saya menonton tayangan Hitam Putih di Trans7. Sebuah tayangan yang kadang bagus kadang buruk. Ya, kadang bagus jika topik yang diangkat memang bagus dan buruk karena tak jarang mereka mengupas topik aneh seperti yang berbau dunia hitam (yah, namanya saja hitam putih).

Host dari acara ini adalah seorang (yang mengklaim dirinya) mentalis yang sedang naik daun di Indonesia (dan mungkin juga di luar negeri, entahlah). Entah sejak kapan Deddy Corbuzier yang sebelumnya menanamkan image seram pada dirinya mulai (ingin terlihat) super friendly, duniawi, dan bahkan setengah pelawak.

Salah satu yang identik dengan acara ini adalah air mata. Deddy yang mengklaim dirinya cukup paham pada dunia psikologi terlihat berusaha keras memainkan emosi bintang tamunya dengan memelankan suara, tersenyum kecil dan terlihat peduli. Juga ada cameraman yang bersekongkol denhgannya akan men-zoom bintang tamunya (mungkin jika perlu akan menzoom bagian mata bintang tamu saja yang berkaca-kaca).

Entah apa tujuan acara ini memainkan emosi bintang tamunya. Kemungkinan besar mereka berharap penonton juga akan terbawa emosi dan pada akhirnya akan kecanduan acara ini. Walau mereka juga harus siap dengan resiko sebagian penonton lain yang muak dengan scene tangis-tangisan dalam reality show.

Baik, kembali ke topik…beberapa hari yang lalu, saya menonton tayangan ini di mana bintang tamunya adalah dua orang penyanyi wanita (the Virgin), dan seorang anak tanpa lengan bernama Getun (dalam bahasa Jawa Getun berarti “menyesal” atau “kecewa”)

Getun ini cukup banyak mendapat sorotan dari media cetak. Anda dapat menuliskan namanya di google dan akan mendapatkan beberapa tautan yang membahas tentang kehidupan anak cantik ini.

Saya tidak mengerti ada seorang ibu yang tega memberi nama Getun pada anaknya. Terus menerus mengingatkan anaknya setiap kali namanya dipanggil bahwa kelahirannya mengecewakan.

Dalam acara ini, Sang Ibu ditempatkan di bangku penonton, jelas-jelas bukan merupakan bintang tamu acara ini, namun sering ditanya oleh Deddy Corbuzier.

Salah satu pertanyaan yang membuat saya kaget setengah mati adalah “kenapa ga dibuang aja ke panti asuhan saat tahu kalau anak ibu tidak memiliki lengan”.

Anda boleh mengatakan kalau ini adalah pertanyaan yang ditujukan untuk kepentingan hiburan semata. Anda juga boleh mengatakan bahwa ini merupakan pertanyaan yang menguji iman dan kasih seorang ibu. Namun bagi saya, ini adalah pertanyaan yang tidak berperikemanusiaan.

Jawaban apa memangnya yang diharapkan pembawa acara dengan pertanyaan itu? Apakah mungkin, di hadapan jutaan penonton ibu ini akan menjawab “niatnya sih begitu mas, tapi kasihanlah anaknya” atau “iya mas, harusnya begitu ya” atau “wah, kok gak kepikiran ya mas ya”.

Apakah si mentalis ini berpikir tentang perasaan Getun, “ah, berarti orang-orang berpikir aku ini merepotkan dan pantasnya dibuang saja ke panti asuhan”

(Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang kisah Getun di Hitam Putih. Anda dapat mencari saya tayangannya di youtube)

Saya melihat ada perbedaan budaya yang sangat jauh berbeda antara budaya Timur dan budaya Barat. Dalam budaya timur, kita akan melihat seorang yang cacat dengan pandangan kasihan (yang terkadang dibuat-buat, khususnya di media).

Dalam budaya Barat, media yang menayangkan perjuangan seorang yang cacat tidak akan membawakannya dengan nada “kasihan”, tapi support dan kagum.

Selain dalam episode Getun, Deddy juga pernah tersandung masalah “keceplosan bicara” ketika sedang mewawancarai keluarga dari korban tragedi Bintaro.

Saya tidak mengerti kecenderungan dunia hiburan kita akhir-akhir ini. Sepertinya mereka naik ke atas panggung dan beraksi di hadapan kamera hanya dengan berbekal nama beken. Sebagian malah berbekal kebodohan dan kekonyolan (seperti Olga Syahputra).

Sementara belahan dada, kata “bodoh” dan rokok disensor dari film barat, perusakan moral besar-besaran terjadi dalam reality show kita yang entah mengapa lolos sensor (ah, bahkan mereka tayang secara live).

Mereka naik ke atas panggung seperti tanpa script, tanpa briefing dan bermodalkan kata-kata cacian kepada teman mereka sesama artis dan sindiran-sindiran kepada kasus yang sedang disoroti oleh media.

Yah, tapi tak ada yang dapat kita lakukan. Sebagai penonton kita hanyalah pengamat. Toh masih banyak orang yang menyukai tayangan-tayangan tidak bermutu (maaf bagi para fans, saya mengeneralisasi bahwa semua tayangan dengan duo Rafi Ahmad dan Olga Syahputra tidak bermutu).

Tapi sebagai penonton kita bisa menyelamatkan sebagian orang dari pengrusakan moral yang terjadi. Jika Anda orangtua, Anda dapat menyeleksi tayangan yang ditonton anak-anak Anda (bahkan mendampingi). Jika Anda seorang guru, Anda dapat menyelipkan masalah moral dalam materi ajar Anda.

Jika tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah bangsa, setidaknya kita bisa melakukan sedikit untuk mereka yang menjadi tanggungjawab kita.

Menjadi kalkun yang diampuni nyawanya

November adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh warga Amerika Serikat. Bulan di mana mereka akan merayakan sebuah perayaan besar. Hari Raya yang sempat menjadi perdebatan di tahun 1940-an dan perayaannya bahkan dijadikan Undang-undang oleh Presiden Roosevelt. Apakah itu? Ya!! Hari Raya Thanksgiving.

Hari Raya Thanksgiving jtuh di minggu ke-empat bulan November. Saya menuliskannya lebih awal karena siapa tahu saja di antara pembaca ada yang ingin merayakannya bersama warga Amerika Serikat…

Hari Raya Thanksgiving tidak ada kaitannya dengan agama tertentu, namun karena di Amerika Serikat mayoritas penduduknya (tercatat) beragama Kristen, maka untuk sebagian orang “Timur” yang fanatik mungkin akan mengaitkan tradisi ini dengan tradisi perayaan Kristen.

Thanksgiving awalnya perayaan ucapan syukur setelah panen… biasanya dirayakan dengan berkumpulnya seluruh keluarga dan makan besar dengan kalkun sebagai menu utamanya. Sejarah Thanksgiving agak rumit, dimulai dari ketika kaum Pilgrim dari Eropa berhasil makan bersama suku asli Amerika dan seterusnya dan seterusnya… hingga jaman sekarang, ketika thanksgiving menjadi tanda dimulainya masa diskon besar-besaran oleh pusat-pusat belanja..

Tapi bukan itu yang akan menjadi inti tulisan saya kali ini….

Hal yang menarik perhatian saya dari Hari Raya Thanksgiving ini adalah kebiasaan yang berkembang sejak tahun 1947. Entah bagaimana ceritanya, Amerika memiliki suatu badan yang dinamakan Federasi Kalkun Nasional (saya tidak tahu apa mereka juga memiliki Federasi Gajah Nasional, Federasi Semut Nasional dan Federasi-federasi lainnya) . Nah, Federasi Kalkun Nasional ini sejak tahun 1947 memberikan dua kalkun kepada Presiden USA. Satu kalkun yang sudah diproses, dan satu kalkun hidup.

Entah melambangkan apa prosesi ini, Presiden USA kemudian akan secara simbolis memberikan “pengampunan nyawa” kepada kalkun yang masih hidup. Kalkun yang menerima grasi presiden ini kemudian akan dipelihara dengan baik di peternakan, mendapatkan kesempatan hidup satu tahun lagi. Kalkun itu bisa dinamakan sebagai kalkun yang beruntung. Saat semua kalkun seharusnya berakhir di oven panggangan, kalkun ini bisa bersantai di peternakan menjadi kalkun yang bebas.

Apakah Anda pernah berada di posisi seperti kalkun ini? Seharusnya Anda dipotong hidup-hidup, namun tiba-tiba sesuatu terjadi dan PLOP!! Anda lolos begitu saja keluar dari maut. Seharusnya Anda dihukum namun tiba-tiba saja sesuatu terjadi dan Anda bebas!!

Kisah kalkun yang diampuni nyawanya ini mengingatkan saya pada kisah Ishak. Apa rasanya berada di atas mezbah yang disiapkan oleh ayahnya sendiri. Apa rasanya diikat dan dalam keadaan tak berdaya dibaringkat di atas mezbah itu? Apa rasanya menanti nyawamu akan dicabut dari tubuhmu? Apa rasanya ketika tinggal hitungan detik tiba-tiba saja kau dibebaskan dan digantikan oleh seekor domba?

Kalau kalkun itu bisa berpikir, kira-kira apa yang dirasakannya? Seekor kalkun diselamatkan oleh presiden? Seekor presiden mengurusi hak hidup seekor kalkun? Wohhooo….. (ini memang hanya tradisi, tapi kalkun itu memang benar-benar dibiarkan hidup)

Tahukah Anda bahwa kita semua manusia juga berada di sisi jurang kematian. Ketika waktunya tiba, seharusnya kita terjun bebas ke dalam kematian kekal itu sementara kesenangan ada di seberang jurang itu. Beberapa orang bilang bahwa untuk menyeberangi jurang itu diperlukan banyak usaha baik, lebih banyak dari dosa yang dilakukan. Tapi kenyataannya kebaikan kita tak akan pernah cukup untuk mengimbangi keburukan yang melekat dalam karakter manusia kita.

Dibutuhkan lebih dari sekedar kebaikan, diperlukan penggantian… Ya!! Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan keselamatan pun tidak!! Hanya saja kebaikan kita tidak akan pernah cukup untuk membayar harganya. Diperlukan bayaran yang lebih besar untuk menebus kita dari kematian kekal. Harus ada kalkun yang dijadikan santapan thanksgiving, harus ada anak domba yang dikorbankan untuk Paskah, harus ada darah yang dicurahkan untuk penebusan dosa!

Untuk penebusan dosa dunia, diperlukan darah Anak Domba Kudus, agar kita manusia diberikan Grasi oleh Yang Maha Kuasa. Ya, tidak ada yang gratis. Kita selamat bukan karena Tuhan memberikannya cuma-cuma kepada kita, tapi Tuhan membayarnya bagi kita. Menenjadikan kita seperti “kalkun yang diampuni nyawanya”. Setelah itu,… hmmm, kita bisa menjalani hidup tanpa beban, seperti orang-orang yang mendapat diskon besar-besaran  di pusat belanja itu (maksa disambung-sambungin)

Ngomong-ngomong soal thanksgiving (ucapan syukur), saya rasa kalkun yang diampuni nyawanya itu lebih dapat memaknainya dibanding mereka yang makan di meja dan bersiap-siap untuk belanja Natal dengan diskon besar-besaran…. Dan, jika dibanding dengan kalkun itu, apakah kita dapat lebih memaknai arti UCAPAN SYUKUR?