Satu Kelapa Terakhir

Sudah hampir dua minggu saya minum air kelapa tiap malam sebelum pulang, sejak saya merasa ada yang salah dengan tubuh saya dengan mendapati ternyata kolesterol saya cukup tinggi (269, luar biasa!!).

Saking rutinnya membeli air kelapa.pada orang yang sama, sampai-sampai kalau bapak tukang kelapa mau libur dia akan bilang pada saya, “neng, enjing mah bapak libur nya, teu jualan ah”, dan saya akan menjawab “muhun pak, abdi meser di pasar weh atuh” (bahasa Sunda saya memang sudah meningkat drastis, papa saya pasti bangga).

Tadi, sebelum saya pulang, saya mengirim paket dulu ke JNE Soekarno Hatta. Sebenarnya, saya bisa saja ambil jalan pintas pulang dan tidak perlu melewati tempat tukang kelapa, tapi kebiasaan minum air kelapa tiap malam membuat saya memaksakan diri berputar untuk beli air kelapa (mungkin juga dua minggu kebersamaan dengan tukang kelapa menimbulkan hubungan batin… Hmmm….).

Setibanya saya di sana, si bapak meringis sambil berkata, “neng, ditungguan ku bapak, ieu kalapa sisa hiji, teu dijual titatadi nungguan eneng” (tuh, bener kan, ada hubungan batin). Saya merasa trenyuh karenanya,… Bahasa rohaninya, bapak tukang kelapa memberkati saya hari ini. Mengingat bahwa ada satu konsumen yang setia membeli air kelapa tanpa buah tiap hari demi menurunkan kolesterol dan mendapat kulit cantik (taruhan, yang baca pasti ada yang pengen coba juga beli air kelapa).

“Atuh saya meserna sakalian weh jeung buahna nya Pak”

“Siap Neng”

Kalau berjualan hanya tentang uang, Bapak tukang kelapa bisa saja menjual sisa satu kelapa itu dari tadI (yang mana mungkin pembeli lain membeli buahnya juga, tidak seperti saya biasanya, airnya saja), mendapat uangnya, dan pulanG karena kelapa jualannya sudah habis. Bapak ini mengajar pada saya, dalam melakukan segala sesuatu, hubungan dengan manusia lain tetaplah lebih penting.

Saya pamit sambil tersenyum pada si bapak yang sedang beres-beres untuk pulang sambil berkata “nuhun Neng, sekarang bapak bIsa pulang”.

Terimakasih Pak, air kelapa hari ini manis sekali….

Advertisements

Negara dengan toleransi kebiadaban

Saya sedang menunggu mobil saya di cuci sambil sarapan kesiangan di sebuah kedai, ketika seorang ibu menerobos masuk ke kedai itu dengan logat kental “hei, aku beli soto ayam, tapi kuahnya yang banyak dan ayamnya tolong kau potong dadu kecil-kecil”. Sambil bicara begitu dia ngeloyor masuk ke dapur kedai tersebut.

“Mana coba, kulihat ayam kau seperti apa rupanya”. Pegawai kedai menurut saja, tidak protes ketika area paling privat kedai tersebut diinvasi mahluk asing bernama customer rese.

“Oh, seperti itu ayam kau, coba kau potonglah kecil2 macam dadu. Bisa kau potong? Coba potong… Nah iya begitu, setelah itu kasih kuah yang banyak. Anakku ga mau makan, biar kasih kuah saja yang banyak supaya langsung telan, iya kan yah, benar tidak?”

Dipecundangi seperti itu oleh konsumen yang adalah raja, pegawai kedai langsung merasa dirinya inferior dibanding ibu ini.

Itulah masalah bangsa ini, mudah sekali kita diperlakukan seperti bawahan oleh orang-orang yang tidak mengenal sopan santun. Cobalah berkendara di jalan raya kota ini, walau kita ikut aturan, ada saja orang-orang biadab (biadab itu lawan kata beradab, artinya tidak tahu aturan dalam bermasyarakat) yang seenaknya saja melanggar aturan.

Anda berada di jalur yang benar saat angkot seenaknya memotong jalan Anda dari kanan kemudian banting setir ke kiri saat akan mengangkut penumpang. Anda kemudian kaget dan berteriak “Heeeey”. Apa yang terjadi, supir angkot biadab itu akan balik menantang Anda sambil berkata “naon siah anjing”, dan kita pun menjadi inferior dibuatnya.

Itulah mengapa di negara ini terkenal jargon “sing waras ngalah”, karena jumlah orang waras minoritas dibanding orang tak waras. Apa jadinya jika orang waras tak mengalah, bisa dilumat habis oleh orang tak waras nanti…

Manusia atau sponsor

Kemarin saya dan anak asuh saya menonton acara lelang pakaian olahraga dari atlit Asian Games yang hasilnya akan disumbangkan untuk korban gempa di NTB. Tak hanya pakaian olahraga, raket, gitar Pak Mentri Hanif sampai jaket Ibu Mentri Puan pun ikut dilelang.

Lelang rata-rata dimulai dari 100 hingga 150 juta. Perwakilan dari perusahaan-perusahaan besar yang diundang duduk rapi di bagian depan studio seolah mereka adalah pengusaha yang siap mengeluarkan uang berapapun.

Mahasiswa dan para penonton lain duduk di bagian belakang dari studio, menonton perwakilan perusahaan besar yang menawar barang-barang yang dilelang. Sebuah raket seharga 150 juta, sehelai baju seharga 100 juta, dan seterusnya.

Setiap kali seorang memutuskan membeli barang-barang lelang, yang bersangkutan akan disebutkan namanya dan nama perusahaannya (Perwakilan dari….), diminta ke depan kemudian menyampaikan sepatah dua patah kata.

DI tengah-tengah acara, entah ini setting atau sungguhan, tiba-tiba ada inisiatif dari mahasiswa yang terlihat seperti main-main saja, mengumpulkan uang dari teman-teman mereka dan mengatakan akan menyumbangkannya.

Main-main ini lama-lama jadi sungguhan. Mulai dari kelompok mahasiswa mengumpulkan total uang 80 ribuan, kelompok mahasiswa yang lain mengumpulkan 150 ribuan, hingga ada yang 500 ribuan. Ada yang menyumbang 50 ribu, 150 ribu hingga 300 ribu,

Di tengah-tengah menonton saya berkata pada anak asuh saya, “Feb, kalau menurut Tuhan Yesus, mahasiswa yang memberi 50 ribu atau 150 ribu itu memberi lebih banyak daripada para pengusaha yang mengeluarkan uang 150 juta.”

Febi melihat saya dengan pandangan heran dan bertanya, “kenapa?”

“Pernah satu kali ada perempuan yang memberikan dua duit di Bait Suci, sementara banyak orang kaya memberi jauh lebih banyak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa ibu itu memberi lebih banyak, karena dia memberi semua uangnya.”

“Anak-anak mahasiswa itu mungkin hanya memiliki uang sedikit. Seratus ribu mungkin 20 persen dari uangnya, atau 10 persen. Tapi Bapak-bapak itu perwakilan dari perusahaan yang berpenghasilan miliaran sebulan. Seratus juta hanya kurang dari 1 persen bagi mereka”

“Belum lagi, nama dari perusahaan yang diwakili bapak-bapak itu disebutkan keras-keras dan kadang ditampilkan di layar LED, mahasiswa yang memberi tidak disebutkan namanya. Dari kekurangannya mereka memberi dan bahkan namanya tidak disebutkan. Ada seorang ibu yang hanya disebutkan sebagai seorang ibu memberikan 500 ribu rupiah”

Ketika kita memberi tanpa dikenal, ketika tangan kiri kita memberi tanpa sepengetahuan tangan kanan, ada hormon endorfin yang keluar dari otak kita dan itu membuat kita bahagia, membuat kita merasa menjadi manusia yang sesungguhnya.

Tanpa mengecilkan pemberian dari para pengusaha itu… Ketika kita memberi dan nama kita dipasang besar-besar di layar atau nama kita disebutkan di TV nasional,…….. itu namanya biaya promosi….

Antara Kampanye dan Karakter

Tadi pagi saya ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi saya (Percayalah, Anda perlu rutin membersihkan karang gigi Anda, for your own good). Saya memarkirkan mobil saya di seberang klinik dokter gigi di Jl. Jend. Sudirman Bandung.

Setelah saya selesai, saat akan masuk ke mobil dan mencari kunci mobil di dalam tas (yang merupakan ritual yang menyebalkan), tukang parkir menghampiri saya dan berkata, “Neng, kalau punya kartu mah, semodel e-money bisa bayar sendiri di mesin parkir itu tuh“.

“Sebentar atuh Pak, sepertinya sih ada” dan saya yang sudah mendapatkan kunci mobil dengan susah payah dari dalam tas kembali melakukan pencarian dompet dengan susah payah dari dalam tas (padahal tas saya tidak terlalu besar, tapi sulit sekali mencari dan mengeluarkan barang dari dalamnya).

“Pak, pakai ini bisa ya” tanya saya setelah akhirnya berhasil mengeluarkan kartu belanja indomaret (E-Money dari Bank M*ndiri) dari dalam dompet.

“Bisa neng, sini geura ku saya diajarin cara pake mesinnya”, dan kami pun kemudian beriringan menghampiri mesin parkir merah yang ada di dekat situ.

“Sok neng, taro kartunya di situ”, saya menuruti instruksinya

“Terus pencet ini nih neng, pilih mobil… sok masukin nomor polisinya. Sok mau diliat dulu nomornya”

“Udah pak, terus gimana?

“Terus berapa jam? satu jam? sok pencet ku Neng”

Setelah selesai prosesnya dan mesin mengeluarkan struk parkir senilai Rp.3000, saya mengatakan”wah, hebat Pak”. Sebenarnya maksud saya adalah memuji si Tukang Parkir yang bersedia mengajarkan dan merelakan Rp.3000 langsung masuk ke rekening Kota Bandung.

“Yeuh, ieu teh programna Pak Wali Neng, Ridwan Kamil yeuh. Komo deui mun jadi gubernur pan? Alus Kang Ridwan mah”

Saya hanya nyengir, kemudian setelah berterimakasih sekali lagi, meninggalkan tempat itu.

Nilai lebih Kang Ridwan Kamil dalam mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat adalah, dia memiliki kesempatan rekam jejaknya dinilai di Bandung. Orang bisa melihat hasil kerjanya di Bandung sebagaimana orang melihat hasil kerja Ahok di Jakarta. Saya tidak dapat membandingkan keduanya karena nantinya tidak akan apple to apple.

Saya jadi ingat kata-kata yang sering saya sampaikan kepada murid-murid saya mengenai etika:

Walaupun Tuhan hanya melihat hati, tapi bagaimana pun manusia melihat apa yang di depan mata. Kamu tidak bisa berpenampilan seenaknya kemudian ingin dihargai orang. Kamu tidak bisa berkata ‘biarlah orang bilang apa, yang penting Tuhan melihat hati’

Dalam hal tanggung jawab, apa yang kau perbuat menunjukkan bagaimana orang menilaimu. Mungkin Tuhan menilai hatimu baik dan bisa menolerir kecerobohanmu… Tapi manusia yang tidak bisa menilai hatimu hanya menilai kecerobohanmu.

Pejabat publik biasanya hanya menunjukkan tanggungjawabnya pada hari-hari menjelang pemilihan. Pejabat yang bertanggungjawab menunjukkan etos kerjanya selama lima tahun masa jabatannya. Persetan jika kau melakukan itu untuk pencitraan, ketika kau melakukan apa yang benar terus menerus, maka orang akan melihat bahwa karaktermu memang seperti itu.

Saya kagum dengan tukang parkir yang tadi, melebihi kekaguman saya pada Pak Ridwan Kamil si pemilik program. Ketika sebelum pergi saya memujinya sekali lagi, “Terimakasih ya Pak sudah dijelaskan…” sambil mengacungkan jempol. Dengan rendah hati bapak itu bilang “Ah neng, da baru dapet penyuluhan, memang sudah seharusnya begitu. Semua petugas juga begitu”

Saya tidak tahu bagaimana hati si Bapak Tukang Parkir… Saya hanya tahu dia adalah orang yang menjalankan tanggungjawabnya dengan baik hari ini.

 

Manusia yang Berbudaya

PERHATIAN: TULISAN INI CUKUP BERAT, DAPAT MENIMBULKAN KEPALA PUSING DAN MATA BERKUNANG-KUNANG.

Menanggapi tulisan saya kemarin, seorang teman berkata “lama-lama gereja akan melarang orang berkoteka untuk masuk ke gereja”. Menurut saya, ini adalah suatu pembahasan yang sangat menarik. Saya tidak akan berpendapat apapun soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki ruangan ibadah yang besar dan nyaman di mall di sebuah kota yang jelas-jelas menjual kaos dan celana dengan harga kurang dari 100.000 saja?” Saya juga tidak akan berpendapat soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki gedung gereja dengan menara tinggi dan liturgi yang sangat teratur di mana ada banyak saudara yang bisa meminjamkan kemeja dan celana saat yang bersangkutan menginjakkan kakinya di Pulau Jawa (dengan mengenakan koteka turun dari pesawat).

Tidak sekedar menanggapi pernyataan di atas, saya memang berencana membahas topik mengenai “budaya” ketika pagi tadi saya mengunjungi Apotek Papa saya. Ada banyak orang mengantri membeli obat dengan resep di tangan, sementara Papa saya melayani seorang diri dari Pk. 09.00. Ke mana asisten apoteker? Datang terlambat!! Seperti biasanya! Ada sanksi untuk itu? Tidak, karena memang ketepatan waktu belum dibiasakan di sana.

Tanpa bermaksud membandingkan (maaf Pap), saya dan adik saya baru membuka Apotek yang baru (Sekalian Promosi: Gravita Farma, Jl. Mekar Laksana 11 G, ayo yang mau sehat silahkan mampir). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, memulai sesuatu yang baru itu menyenangkan.. Kita bisa memulai BUDAYA baru di tempat yang baru. Di apotek yang baru, ketika wawancara asisten apoteker, saya menekankan pentingnya tepat waktu dan bagaimana mereka akan mendapat sanksi ketika mereka datang terlambat. Nilai-nilai di bangun di suatu tempat, membentuk budaya tempat tersebut.

Sejak SD kita sering mendengar bahwa “Manusia adalah mahluk yang berbudaya” kemudian kita membayangkan budaya sebagai baju-baju adat yang berbeda-beda seperti yang dikenakan anak-anak TK saat hari Kartini. Pengertian BUDAYA tidak sedangkal itu. Budaya didefinisikan sebagai perilaku dan norma-norma sosial yang ada di suatu masyarakat, dengan bahasa sederhana saya mendefinisikan budaya sebagai “kebiasaan suatu daerah / tempat”.Anda lihat jalan raya di Kota Bandung yang kacau? Ya, karena kita belum membiasakan diri untuk teratur.

Nah, terkadang, untuk membentuk kebiasaan ini, harus ada aturan yang ditetapkan dalam masyarakat agar setiap perilaku bisa menjadi norma dan kebiasaan sehingga akhirnya dapat dikatakan bahwa itu adalah budaya suatu tempat.

Jika Anda piknik cukup jauh dan melihat budaya negara tetangga, Anda akan melihat bahwa terkadang, perlu usaha cukup keras agar suatu hal baik dapat dijadikan budaya (lihat saja Singapura yang menerapkan denda di mana-mana atau hukuman sosial di Jepang ketika ada yang melanggar budaya).

Kembali ke soal gereja… Setiap gereja memiliki budayanya sendiri. Ada gereja yang mewajibkan pelayan mimbarnya mengenakan jas atau setidaknya berpenampilan rapi di mimbar. Lalu, di sebagian gereja budaya ini bergeser (terutama jika gembala Anda mengidap penyakit jiwa sejenis Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang tergila-gila pada keteraturan secara berlebihan) menjadi kesempurnaan dalam berpenampilan. Anda akan disalahkan (bahkan dipecat sebagai pelayan mimbar) jika pakaian Anda terlalu besar, atau kurang modis. Anda bahkan akan dipermalukan ketika tidak mengenakan high heels atau rambut Anda kurang “tinggi”.

Kemuakan terhadap budaya yang berlebihan biasa akan membawa sebagian orang “membantingnya” secara berlebihan, membawanya ke kutub lain yang berlawanan. Jadilah gereja yang pelayan mimbarnya berpakaian sembarangan, seperti pemimpin pujian yang mengenakan celana pendek dan sepatu boot tinggi, atau justru jeans belel, sweater dan topi.

Kemudian kubu yang “netralnya ekstrim” beranggapan, tidak perlulah membahas hal-hal teknis seperti pakaian dan pernak-pernik tak berarti lainnya, lalu muncullah pertanyaan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan ini.

Lalu muncul pertanyaan, mana yang benar?

Mungkin saya tidak kompeten menjawab mana yang benar karena toh tiap kubu akan memiliki sanggahannya sendiri. Kubu ekstrim pertama akan mengatakan “Kita perlu memberi yang TERBAIK (dengan huruf kapital) untuk Tuhan”. Sementara kubu ekstrim kedua akan menjawab “Tuhan tidak melihat penampilan, Dia melihat hati”. Terakhir ekstrimis netral akan menjawab “gitu aja kok diributin”.

Untuk menanggapi (bukan menjawab) pertanyaan itu, sekaligus menutup tulisan ini, saya hanya mau mengingatkan kita satu hal: Tuhan membutuhkan penyembahan dan penghormatan dari umat-Nya, untuk itu dia membangun BUDAYA di kalangan orang Lewi di Perjanjian Lama. Budaya itu dituliskan dalam kitab Imamat, seperti petunjuk soal pakaian, atribut dan apa saja yang harus dilakukan Imam saat memasuki Kemah Suci.

Bukankah Tuhan tidak berubah? Jika Dia sedikit “longgar” pada kita hari-hari ini, tidak berarti Dia mengubah keinginan-Nya untuk menerima hormat dari umat-Nya. Budaya menaruh hormat pada Tuhan merupakan suatu yang harus dibangun. Karena…bagaimana orang di luar sana melihat penghormatan kita pada Tuhan? Sesederhana pakaian yang kita kenakan saat beribadah di gedung itu dan sikap kita saat beribadah (Walaupun tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu)

Lalu bagaimana soal ke gereja mengenakan koteka? Silahkan Anda menjawabnya sendiri…

 

Antara Rundown dan Liturgi

Pagi tadi saya mencoba beribadah di gereja Injili yang memiliki liturgi gerejawi yang benar-benar teratur, mulai dari paduan suara, doa pembuka, pembacaan kitab, pujian, pengakuan iman rasuli, kotbah, dan seterusnya. Sebuah ibadah di mana jemaan duduk dan berdiri diatur dalam sebuah tulisan.

Terus terang, baru pertama kali ini saya ibadah minggu di jenis gereja seperti ini. Gereja yang menjunjung “ibadah dengan akal sehat” dibanding “ibadah dengan emosional”. Bagi saya yang besar di gereja Pantekosta dan bertumbuh di gereja Karismatik, ini adalah sesuatu yang berbeda.

Ibadah ini masih menamakan pola ibadah (susunan ibadah) mereka dengan “liturgi”.

Sorenya, seorang sahabat mengajak saya beribadah di gereja karismatik modern yang singkatannya dieja dalam bahasa Inggris. Sebuah ibadah modern dengan lampu warna warni, pemimpin pujian berpakaian gaya anak muda (topi, jaket dan jeans) yang berjingkrak jingkrak sepanjang acara. 

Ibadah jenis ini menggunakan rundown sebagai  panduan acara mereka, lengkap dengan para crew yang menggunakan headphone dan berjalan hilir mudik merasa dirinya seperti bagian penting dari suatu acara hiburan kelas dunia. 

Sepulang dari ibadah, kami membahas beda antara “liturgi” dan “rundown”. Gereja Injili yang masih  berpegang pada aturan menggunakan bahasa liturgi sebagai panduan ibadah mereka, dan Gereja modern menggunakan bahasa rundown sebagai panduan mereka. 

Hasil dari pembicaraan kami adalah, tergantung dari bagaimana gereja melihat kegiatan yang dilakukannya saat itu, apakah ibadah atau “acara” (semacam acara hiburan). Terlepas dari konteks ‘kuno’ dan ‘modern’ yang mungkin lebih disukai.

Kami juga membahas mengenai mana jenis gereja yang lebih kami sukai. Kalau saya, terus terang saja… tidak dapat menjawab keduanya. Saya hanya ingin beribadah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya…

Dalam hati saya, hanya bisa berharap organisasi gereja yang saya cintai, tempat saya berjemaat dan bertumbuh di masa remaja saya, tidak harus berubah menjadi sedrastis sekarang. Saya menganalogikannya sebagai KFC yang mendadak mengubah menu menjadi ayam goreng khas Sunda, kehilangan citarasanya dan bahkan tidak akan mampu bersaing dengan restoran khas Sunda.

Saya hanya bisa menjawab… saya tidak sreg dengan ibadah di mana mereka yang berdiri di mimbar merasa bisa berpakaian semaunya. Di mana penghargaan terhadap Tuhan tidak ditunjukkan dalam berpakaian. Saya selalu percaya Tuhan menyukai aturan dan simbol-simbol. 

Walaupun aturan dalam imamat tidak lagi digunakan dalam jaman sekarang, namun bukankah esensi bahwa “Tuhan menginginkan penghormatan” tetap berlaku? Apakah Anda akan memakai kaos oblong, jaket dan jeans ke sebuah undangan pernikahan atau ketika Anda menikah? Jika tidak, lalu mengapa Anda menggunakannya ketika memimpin pujian?

Kira-kira apa yang dipikirkan Saudara yang berlainan agama dengan kita melihat mereka yang bertopi, jaket jogging, jeans dan sepatu menamakan dirinya “sedang menyembah Tuhan”, bukankah sikap kita selama ibadah (termasuk pakaian yang kita kenakan) menunjukkan tingkat penghargaan kita kepada Tuhan yang kita sembah.

Entahlah, itu hanya pendapat saya saja…

Holiday day 4: Istana dari Raja Cerdas yang Cinta Damai

Hari ini kami menggunakan Hop On Hop Off line biru sebagai sarana transportasi kami. Ada tiga line yang beroperasi siang (biru, merah dan hijau) dan line kuning khusus malam. 

Biaya menggunakan Hop On Hop Off sekitar KRW 12.000 per orang, berlaku sepanjang hari. Hop On Hop Off melewati juga beberapa hotel, sehingga tak perlu kuatir jika Anda tinggal di mana saja, Anda bisa naik City Tour Stop yang terdekat dengan hotel Anda)

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Namsangol Hanok Village, sebuah perkampungan kuno penduduk asli Korea. Jika Anda perhatikan, aksara yang digunakan adalah aksara China. Menunjukkan bahwa penduduk asli Korea satu rumpun dengan bangsa China.

Rumah-rumah yang ada di sana merupakan rumah yang sama dengan yang digunakan penduduk asli. Rumah-rumah itu dipindahkan ke tempat sekarang berdiri dengan menggunakan alat berat. Anda bisa googling untuk mengetahui apa saja fungsi tiap bagian rumah tersebut.

Tempat berikutnya adalah tiga istana raja, dimulai dari yang terkecil Changgyeonggung Palace, Changdeokgung dan yang terbesar Gyeongbokgung. Seharusnya kita membayar KRW 10.000 untuk masuk ke tiga istana tersebut, tapi kami beruntung karena Rabu terakhir setiap bulan merupakan cultural day, sehingga kita bisa masuk ke sana dengan gratis.

Oya, dalam setiap istana kita melihat lorong panjang di kiri dan kanan, rupanya mereka memisahkan antara tempat pria dan wanita.
Sebelum mengunjungi Gyeongbokgung, kami mampir dulu di Insadong, semacam jalanan yang menjual pernak pernik untuk turis, dengan gang-gang yang dipenuhi tempat makan makanan khas Korea.

Side dish (hidangan sampingan) pada makanan Korea banyak sekali, ada salad, kimchi, asinan lobak, taoge, bayam yang ditaruh di piring-piring kecil dan biasa kita bisa ambil secara cuma-cuma. Hidangan Utama biasanya memiliki porsi besar hingga kita membutuhkan piring kecil lagi untuk makan sedikit demi sedikit. 

Hal yang menarik dari rumah makan di Korea, terutama yang kecil, mereka tidak mengijinkan kita memesan jumlah porsi yang lebih sedikit dari jumlah orang. Mungkin itu kenapa bahkan wanita Korea makan banyaaaaak sekali, maksudnya mereka bisa menghabiskan makanan porsi besar yang oleh kita bisa dimakan oleh 2-3 orang.

Kembali lagi ke istana… Istana terkecil yang saya sebutkan pertama (saya tidak sanggup menuliskannya di sini) merupakan istana yang dibuat untuk ayahanda raja.

Istana kedua yang lebih besar dari istana pertama dibuat untuk keluarga raja, di sana bahkan ada ruang belajar putra mahkota raja.

Istana ketiga rupanya dulu merupakan tempat Raja bertitah, didirikan tahun 1394 dan di sana terdapat museum yang menyuguhkan budaya dan perkembangan Korea dari jaman ke jaman.

Korea merdeka tahun 1948 dari penjajahan Jepang, namun kemajuannya demikian pesat, melebihi Indonesia dan Malaysia yang merdeka lebih awal. Saya pikir mungkin karena mereka memiliki budaya kerja yang sangat baik. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan gesit (bahkan saat berjalan mereka cenderung ‘menyeruduk’ siapa saja yang ada di depannya tanpa sempat minta maaf saat mengenai orang yang diseruduk).

Saat keluar dari istana Gyeongbokgung, kami melihat ada demonstrasi di depan pusat pemerintahan Korea. Demonstrasi berjalan sangat tertib, diakhiri dengan menari bersama (semacam menari poco-poco) dan kemudian demonstran membubarkan diri dengan tertib pula.

Tak jauh daei gedung pemerintahan Korea, kita melihat ada patung besar Raja Sejong. Raja Sejong adalah Raja yang menciptakan huruf Hangeul Korea karena berpikir bahwa rakyatnya tak dapat membaca aksara mandarin.

Konon saat Raja memerintah, ada banyak bajak laut Jepang yang datang dan menjarah harta rakyat Korea. Para bajak laut itu bahkan menculik dan membawa rakyat Korea ke negaranya.

Saat dilaporkan pada Raja, beliau tidak mengumumkan peperangan, justru beliau berkata bahwa “Jepang adalah negara tetangga” dan “kita tidak berperang melawan negara tetangga”. Akhirnya, Raja memilih untuk berdiplomasi untuk membebaskan rakyatnya yang menjadi tawanan.

Raja mengirimkan kepercayaannya, seorang berani bernama Admiral Yi Sun Sgin yang datang ke Jepang untuk berdiplomasi. Keberanian dan kesetiaannya membuat Jepang mengampuni nyawanya. Beliau bolak balik ke Jepang sampai 40 kali dan berhasil membebaskan 667 warga yang ditawan

Raja Sejong dicintai dan diingat sampai sekarang karena beliau tidak membeda-bedakan rakyatnya. Pernah dia ditanya, “apakah kita akan mengorbankan satu batalyon hanya untuk membebaskan rakyat miskin?” Raja marah dan menjawab “apakah kamu akan berkata begitu jika yang ditawan adalah orang-orang terpandang?”

Karena jasanya, tangan kanan Sang Raja pun memiliki patung besarnya sendiri, dengan hiasan permainan air yang mengejutkan dan indah.

Setelah dari istana kami melakukan kunjungan singkat ke museum di bawah patung Raja Sejong yang berisi kisah Raja yang dicintai rakyatnya ini. 

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Sungai Cheonggyecheon (silahkan googling untuk mencari tahu sejarahnya). Sungai kecil ini terletak di jantung kota Seoul, memiliki air yang sangat jernih dan di tepiannya ada banyak orang yang duduk menikmati keindahannya. Dulunya, ini merupakan kawasan dengan rumah kumuh, namun kemudian dirombak menjadi kawasan seperti saat ini.

Sungai yang namanya sulit itu adalah perjalanan terakhir kami di hari itu. Kami kemudian berjalan kaki pulang ke hotel sekitar 20 menit dan beristirahat.

Besok kami akan ke Lotteworld untuk mengetahui wahana permainan indoor terbesar di dunia itu.

Holiday day 3: Negara yang ingin merdeka, film Korea dan keegoisan

Liburan hari ketiga kami dimulai dengan sarapan sekedarnya di hotel dilanjutkan dengan mengikuti city tour ke Petite France dan Nami Island. City tour kami dimulai dengan tepat waktu jam 7.50 dan dipimpin oleh seorang anak muda tampan bernama Willy yang dipanggil Wiw.

Oya, Korea adalah negara dengan 4 musim, akibatnya, di musim hampir summer seperti ini, langit masih terang sampai jam 8.30 malam. Kehidupan malam di Myeongdong berakhir pk. 1 malam dan baru dimulai pukul. 11.00 pagi. Jadi, jam 8 pagi saat kami mulai city tour, jalanan masih sepi walau langit sudah terang.

Anda bisa membeli paket city tour di Indonesia. City tour menggunakan bus yang diisi kira-kira 50 orang. 

Wiw menjelaskan singkat mengenai Petite France, tentang seorang pengusaha yang terpukau dengan keindahan Petite France di Perancis dan ingin membuat replikanya di Korea. Di dalamnya ada beberapa pertunjukkan seperti yang ada di Perancis (hanya dimainkan oleh anak-anak muda Korea), replika mini Menara Eiffel, Tunnel of love, dan masih banyak lagu. Jika tertarik, Anda bisa googling sendiri mengenai tempat ini.

Petite France di Korea digunakan untuk shooting film “You Who Came from the Stars”. Bahkan ada satu ruangan yanh memang didedikasikan untuk film itu. Karena saya tidak menonton film Korea, saya tidak tahu mengenai spot-spot yang ada dalam film. Pesan saya, jika lain kali Anda ingin ke Korea, nontonlah film-film Korea dulu.

Oya, perjalanan ke Petite France dari Myeongdong menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, selanjutnya dari Petite France ke Nami Island menghabiskan waktu sekitar 25 menit.

Nami Island adalah sebuah pulang di tengah danau. Anda juga bisa mencarinya di google mengenai sejarahnya, tentang seorang jendral bernama Nami yang dibuang ke pulau ini.

Tahun 2005, Naminara Island menyatakan diri merdeka, bahkan mereka memiliki bendera sendiri, tapi tentu saja Negara tidak peduli (hihihi). Untuk masuk ke Naminara, kita menggunakan Verry yang berangkat 15 menit sekali, dan membutuhkan waktu 5 menit untuk menyeberang.

Dari ujung ke ujung, dengan jalan cepat P. Nami dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Pulau Nami sebenarnya akan terlihat indah di awal musim gugur, ketika daun-daun berubah menjadi merah.

Seperti juga Petite France yang digunakan untuk shooting film, Pulau Nami digunakan untuk shooting film Winter Sonata, yang sekali lagi, saya tidak tahu.

Kami diberi waktu 4 jam di Nami, termasuk waktu untuk makan siang. Jam 3.20 kami kembali ke Myeongdong. Karena jalanan cukup padat, kami baru tiba di hotel sekitar jam 5 sore.

Setelah istirahat di hotel sekitar sejam, kami naik bus menuju ke Sungai Han. Menurut kabar, setiap jam 8 malam ada pertunjungan air mancur yang keluar dari sisi jembatan. Kami kurang beruntung karena langit masih terang sehingga warna warni lampu yang menyorot ke air tidak terlalu tampak.

Sepulang dari Han River, saya dan Papa saya bicara mengenai keegoisan. Saat kami berangkat dengan bus ke Han River, seluruh tempat duduk penuh dengan anak muda usia kuliah yang duduk santai. Mereka tidak peduli dengan masuknya Mama saya, wanita berusia 65 tahunan yang berwajah lelah, tak ada yang memberi tempat duduknya. Ini berbeda sekali dengan di Thailand, di mana anak-anak mudq ‘berlomba dalam melakukan perbuatan baik’, mereka seolah siap memberi tempat duduk bagi siapa saja, bahkan anak kecil yang baru pulang sekolah. Kalau Indonesia? Jangan ditanya deh…

Hal yang saya bahas dengan Papa saya adalah, apa yang membuat perbedaan budaya ini. Korea negara maju, Thailand tak semaju Korea, tapi kenapa rakyatnya begitu murah hati?

Korea negara mayoritas Kristen, dan Thailand mayoritas muda, tapi kenapa rakyat Thailand lebih mempraktekan perintah “berlomba dalam melakukan perbuatan baik”.

Korea Selatan negara republik, Thailand negara kerajaan, dan mereka tahu bagaimana melayani sesama.

Apakah teknologi, atau agama atau budaya negara yang menyebabkan perbedaan perilaku ini?

Dari sudut teknologi, kita tidak melihat banyak yang berbeda, jaman sekarant siapapun kemana-mana menggunakan gadget. 

Kemudian Papa dan saya membahas tentang sudut pandang agama. Memang benar, dalam agama Kristen bapak Pendeta yang berkotbah terlalu gereja-sentris. Seolah semua kotbah bertujuan agar jemaat mau memberi waktu, tenaga, perhatian, untuk gereja semata-mata. Atau bisa saja mereka menyalahartikan ayat “berbuat baik, terutama pada saudara seiman” dengan “berbuat baik di gereja saja”.

Saya tidak mau membahas agama lain yang tidak relevan. Kedua negara memiliki dua agama, Kristen dan Buddha. Jika memang agama adalah faktor penyebab, saya rasa bapak pendeta harus meninjau ulang topik kotbahnya di gereja. Memberikan contoh konkret bagaimana jadi garam dan terang dunia.

Mungkin juga budaya keluarga penyebabnya, tapi budaya keluarga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan nilai-nilai masyarakat. Mengapa bisa ada perbedaan seperti ini? 

Kemudian kami mempertimbangkan kemungkinan latar belakang nenek moyang. Nenek moyang Korea Selatan adalah China (Ras Mongol) yang mengajar tentang “dahulukan diri sendiri atau keluarga dibanding orang lain”, tapi Thailand pun sama-sama berasal dari raa Mongol. Jadi apa yang membedakan budaya ini?

Akhirnya kami berkesimpulan, agama merupakan faktor utama yang sangat menentukan sikap hidup bermasyarakat.

Setelah dari Sungai Han, kami makan malam di dekat hotel. Sedikit dikerjai oleh restoran kecil tempat kami makan sehingga kami memesan dua ekor ayam ginseng untuk masing-masing Papa dan Mama, padahal tadinya kami mau pesan satu ayam ginseng untuk beramai-ramai, tapi menurut waiter yang sudah berumur kami harus memesan 4 porsi (sejumlah orang yang makan). Ketika saya mengatakan bahwa “She doesn’t want to eat” sambil menunjuk Yovi, barulah kami diijinkan pesan 3 porsi saja. Tiga porsi itu demikian besar hingga kami harus pulang kekenyangan.

Tarif makan di Korea terbilang sangat mahal. Sekali makan, satu orang minimal menghabiskan KRW 10.000 atau sekitar Rp. 120.000.

Hari ini kami akhiri dengan mandi air hangat, besok kami akan city tour dan mengunjungi beberapa istana di Seoul.

Holiday day 2: Negara si cantik yang memiliki sistem luar biasa

Hari kedua kami diawali dengan pendaratan mulus di Korea yang gerimis. Setelah melewati imigrasi, kami mengantri untuk mendapatkan pocket wi fi dari Shinsegae Duty Free yang kami sewa dan selesaikan pembayarannya di Indonesia (satu pocket wifi untuk 3 devices, harga sewanya KRW 4.000/hari atau sekitar 48.000/hari). Anda bisa mencari dan memesannya lewat internet.

Satu pocket terdiri dari mifi, charger dan powerbank.

Hal yang mengagumkan adalah mereka melayani customer dengan super cepat, seolah mereka adalah robot. Mereka sepertinya memiliki sistem (termasuk sistem appraisal) yang baik sehingga apaun yang mereka lakukan sistematis dan efisien sekali.

Rupanya inilah syarat pertama negara maju (juga perusahaan yang mau maju), yaitu miliki sistem yang baik hingga seluruh manusia yang ada di bawahnya tunduk pada sistem yang berlaku dan semua  customer percaya bahwa mereka dilayani dengan adil, sistematis dan efisien.

Hal kedua yang saa pelajari begitu tiba di negara ginseng ini adalah seluruh petugas tidak bisa melihat “ketidaksesuaian” dan mereka langsung bertindak menyelesaikannya. Antrian sedikit saja mengular, dibuka pintu “darurat” baru sehingga masalah langsung terselesaikan.

Dua hal positif tersebut mengawali ketibaan saya di Korea (padahal tadi pagi saya baru membahas dengan Papa saya bahwa bahasa Indonesia ketibaan adalah kedatangan).

Setelah menyelesaikan urusan pocket wi fi, kami membeli t-money (kartu ‘ajaib’ untuk membayar transportasi) dan kemudian menunggu shuttle dari hotel tempat kami menginap. 

Hak positif ketiga yang harus dimiliki siapa saja yang ingin maju adalah masalah ketepatan waktu. Di jadwal keberangkatan shuttle car tertera pk. 9.35 dan mobil datang pukul 9.30 sehingga kami dapat berangkat tepat pk. 9.35. Entah bagaimana mereka mengaturnya, mobil itu selalu tepat tiba di tiap perhentian.

Saya menginap di Skypark 1 Myengdeong. Hotel yang sangat strategis untuk berjalan-jalan karena Myeongdong adalah pusat belanja (kosmetik) dan Korean street food. Sepanjang jalan kita hanya melihat toko kosmetik dan beberapa pedagang yang membagikan sampel secara cuma-cuma jika kita mau masuk ke dalam toko mereka… persaingan yang luar viasa

Setelah menaruh barang dan jalan-jalan sebentar di sekitar hotel (dan ‘dipaksa’ membeli beberapa kosmetik), pk. 14.00 kami menuju Namsan Seoul Tower (silahkan lihat instagram @greissia) untuk lebih jelasnya.

Sebenarnya ada banyak yang bisa dikunjungi di sana, seperti puncak tower, Hello Kitty World dan banyak tempat lain. Tapi jika kau pergi dengan keluargamu, kau tak bisa pergi ke tempat yang kau mau, pertimbangan mereka harus diperhitungkan juga.

Setelah makan siang yang terlambat di sana, kami pun memutuskan pulang dalam kondisi hujan yang cukup rapat 

Dari sana kami berjalan-jalan di sekitar hotel untuk melihat jajanan street food. Saya membeli satu jenis makanan yang hanya saya makan setengahnya karena saya curiga itu adalah torpedo, menjijikkan…

Setelah itu, saya tidak terlalu selera makan (siangnya saya sudah beli topokki, makanan khas Korea yang terkenal). Makanan di sana berkisar antara KRW 20-30 (IDR 24.000 – 36.000).

Tidak ada yang istimewa di sisa hari itu, kami kemudian pulang dan tidur kan belum mendapat tidur yang berkualitas semalam…

Besok kami akan mengikuti tour ke Nami Island dan Petite France… katanya sih itu lokasi yang terkenal karena dijadikan lokasi pembuatan film drama Korea, yang saya tidak ketahui karena saya tidak pernah menonton drama Korea.

Jadi lain kali Anda mau ke sini, pastikan sudah menonton satu saja seri Korea…

Holiday day 1: Negara yang dikucilkan tetangga

Tahun ini, keluarga kami menghabiskan liburan di Korea selama 5 hari (dan 2 hari di perjalanan). Mengunjungi negara yang tumbuh karena industri kreatif merupakan sesuatu yang baru bagi saya, namun tidak bagi adik saya, penyuka film korea yang tahun lalu sudah mengunjungi negeri ini.
Kami berempat berangkat pada hari pertama Idul Fitri, Minggu, 25 Juni 2017 dan pesawat pertama yang kami naiki adalah Air Asia Indonesia yang berangkat tepat waktu pk. 08.20 dan dikepalai seorang pilot handal asal Indonesia.

Kapten ini selalu memberi informasi pada para penumpang sehingga kekuatiran kami banyak berkurang sepanjang penerbangan. Kami disambut cuaca tidak bersahabat di Negeri Singapura ini. Akibat cuaca tak bersahabat ini, pesawat yang sudah hampir menyentuh landasan Singapura terpaksa dipaksa mengudara lagi karena jarak pandang yang sangat pendek (pilot memberitahu saat kami sudah di udara lagi). Namun kemudian pada percobaan kedua, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus sekali.

Perjalanan kali ini, lagi-lagi diatur oleh Yovi, yang membagikan buku petunjuk kepada kami semua, katanya agar tidak ada yang banyak tanya saat kami liburan nanti (yang mana saya lebih suka bertanya sebenarnya).

(maafkan karena bukunya kusut, Sib).

Kurang lebih begitulah itinerary perjalanan kami…

Hari pertama ini kami habiskan di Singapura. Untuk mengisi waktu, kami akan mengikuti heritage tour. Tour ini gratis, diperuntukkan bagi mereka yang transit cukup lama di Singapura, dan di sepanjang perjalanan Anda akan dipandu oleh tour guide yang banyak bicara. 

Untuk dapat mengikuti Heritage tour, Anda harus mendaftar di boot berwarna ungu yang terletak di Terminal 2. Di sana ada Bapak berbaju ala Hawaii biru muda yang ramah. Dia akan memutuskan apakah sebaiknya Anda ikut Heritage Tour. Karena jika penerbangan Anda berikutnya sebelum pk. 6.00 sore, maka Anda kemungkinan besar akan tertinggal pesawat jika memaksakan diri ikut tour ini.

Setelah early check ini yang cukup lama di Terminal 1 (karena kami akan menggunakan Thai Airways yang berangkat dari Terminal 1), kami kembali ke Terminal 2 (area arrival dekat McD) untuk memulai perjalanan keliling Singapore (video bisa dilihat di instagram @greissia).

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang biasa saja, kami hanya berhenti 30 menit di Garden by the bay dan 20 menit di kampung Glam (perkampungan yanh dipenuhi restoran Turki dengan mesjid besar di ujungnya) karena Merlion ditutup berkenaan dengan public holiday. Namun yang menjadi luar biasa adalah bagaimana tour guide yang merupakan seorang wanita berusia 40an keturunan China sepertinya menghindari mengucapkan “Indonesia” (beliau melarang kami mengambil gambar dan video saat beliau menjelaskan karena menurutnya, beliau tidak cukup baik dan itu aturan perusahaan)

Saya selalu bangga mengatakan bahwa negara asal saya adalah Indonesia, sampai hari itu. Dalam bus itu ada dua keluarga Indonesia: kami, dan keluarga (juga keturunan China) yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. 

Saya mulanya sadar ketika beliau tidak menyebutkan nama “Indonesia” di antara negara tetangga Singapura yang merayakan Lebaran (yang dia ceritakan). Lalu ketika tour guide menanyakan satu persatu asal negara kami, dia tidak mentebutkan “Indonesia” ketika merangkum negara mana saja yang ikut tour hari itu (tapi menyebut New Zealand dan Jepang yang masing-masing hanya diwakili 1 orang). Kemudian dia lagi-lagi tidak menyebut Indonesia ketika bercerita mengenai negara-negara tetangga yang warga negaranya kerap mengunjungi Singapura (padahal, dia menyebut Brunei, Vietnam dan Filipina).

Saya tidak heran. Bagi negara tetangga kita hari ini, Indonesia adalah negara rasis yang memenjarakan seorang Gubernur jujur hanya karena dia berasal dari kelompok minoritas.

Kalau dipikir-pikir, tanpa bermaksud rasis, sebenarnya keturunan China di Indonesia merupakan warga negara yang “tangguh”. Mereka bertahan tidak menggunakan bahasa China dalam pergaulan sehari-hari (kecuali di pulau-pulau yang dekat dengan negara tetangga), bahkan mereka hanya bisa bahasa Indonesia hingga dicibir ketika mengunjungi negara tetangga yang warga negara keturunan Chinanya berbahasa Mandarin dalam pergaulan sehari-hari. Namun walau begitu, warga negara keturunan China di Indonesia tetap mendapatkan diskriminasi yang tak adil dari mereka yang menamakan diri pribumi. Tapi sudahlah, mungkin negara ini masih harus belajar…

Setelah Heritage tour, kami kembali ke Terminal 1, makan malam di KFC dan menyantap ayam goreng tepung bumbu Kari yang tidak ada di Indonesia, kemudian menunggu sampai akhirnya kami diijinkan masuk ke pesawat.

Suatu insiden kecil yang menyebalkan adalah ketika dengan berat hati saya merelakan cairan pembersih softlens saya karena botolnya berkapasitas 120 ml (maksimum seharusnya 100 ml, tapi saya mengira 150 ml).

Pesawat Thai yang kami tumpangi akan transit sebentar di Bangkok sebelum melanjutkan ke Korea. Kami berangkat ke Bangkok pk. 20.55 waktu Singapura dan tiba di Bangkok pk. 22.15 waktu Bangkok (3 jam 20 menit). Kami mendapat makan malam yang cukup banyak (nasi tom yam, roti bagel, cake kayu manis dan salad) yang kami santap habis walau ayam bumbu kari masih terasa di mulut. Setelah makan saya minta white wine yang membuat saya mengantuk luar biasa sesudahnya. Di tengah rasa kantuk luar biasa, kami dipaksa turun di Bangkok, dan berganti pesawat ke Korea. 

Korea memiliki waktu yang sama dengan Indonesia bagian Timur. Kami tiba di Korea pk. 6.30 waktu Korea yang artinya menghabiskan perjalanan sekitar 4 jam. Sekali lagi kami mendapat makan (kali ini nasi ayam, kimchi, pastry, jus buah kemasan, yogurt rendah lemak dan buah-buahan) pada pk. 4.30 dini hari (waktu Korea) yang saya santap sebagian sambil setengah tertidur (yogurt dan minuman jus buah terpaksa saya masukan tas karena ‘tidak muat’).

Baiklah, hari satu saya akhiri di sini, hari berikutnya akan saya awali di ketibaan kami di Korea.