Satu Kelapa Terakhir

Sudah hampir dua minggu saya minum air kelapa tiap malam sebelum pulang, sejak saya merasa ada yang salah dengan tubuh saya dengan mendapati ternyata kolesterol saya cukup tinggi (269, luar biasa!!).

Saking rutinnya membeli air kelapa.pada orang yang sama, sampai-sampai kalau bapak tukang kelapa mau libur dia akan bilang pada saya, “neng, enjing mah bapak libur nya, teu jualan ah”, dan saya akan menjawab “muhun pak, abdi meser di pasar weh atuh” (bahasa Sunda saya memang sudah meningkat drastis, papa saya pasti bangga).

Tadi, sebelum saya pulang, saya mengirim paket dulu ke JNE Soekarno Hatta. Sebenarnya, saya bisa saja ambil jalan pintas pulang dan tidak perlu melewati tempat tukang kelapa, tapi kebiasaan minum air kelapa tiap malam membuat saya memaksakan diri berputar untuk beli air kelapa (mungkin juga dua minggu kebersamaan dengan tukang kelapa menimbulkan hubungan batin… Hmmm….).

Setibanya saya di sana, si bapak meringis sambil berkata, “neng, ditungguan ku bapak, ieu kalapa sisa hiji, teu dijual titatadi nungguan eneng” (tuh, bener kan, ada hubungan batin). Saya merasa trenyuh karenanya,… Bahasa rohaninya, bapak tukang kelapa memberkati saya hari ini. Mengingat bahwa ada satu konsumen yang setia membeli air kelapa tanpa buah tiap hari demi menurunkan kolesterol dan mendapat kulit cantik (taruhan, yang baca pasti ada yang pengen coba juga beli air kelapa).

“Atuh saya meserna sakalian weh jeung buahna nya Pak”

“Siap Neng”

Kalau berjualan hanya tentang uang, Bapak tukang kelapa bisa saja menjual sisa satu kelapa itu dari tadI (yang mana mungkin pembeli lain membeli buahnya juga, tidak seperti saya biasanya, airnya saja), mendapat uangnya, dan pulanG karena kelapa jualannya sudah habis. Bapak ini mengajar pada saya, dalam melakukan segala sesuatu, hubungan dengan manusia lain tetaplah lebih penting.

Saya pamit sambil tersenyum pada si bapak yang sedang beres-beres untuk pulang sambil berkata “nuhun Neng, sekarang bapak bIsa pulang”.

Terimakasih Pak, air kelapa hari ini manis sekali….

Advertisements

Negara dengan toleransi kebiadaban

Saya sedang menunggu mobil saya di cuci sambil sarapan kesiangan di sebuah kedai, ketika seorang ibu menerobos masuk ke kedai itu dengan logat kental “hei, aku beli soto ayam, tapi kuahnya yang banyak dan ayamnya tolong kau potong dadu kecil-kecil”. Sambil bicara begitu dia ngeloyor masuk ke dapur kedai tersebut.

“Mana coba, kulihat ayam kau seperti apa rupanya”. Pegawai kedai menurut saja, tidak protes ketika area paling privat kedai tersebut diinvasi mahluk asing bernama customer rese.

“Oh, seperti itu ayam kau, coba kau potonglah kecil2 macam dadu. Bisa kau potong? Coba potong… Nah iya begitu, setelah itu kasih kuah yang banyak. Anakku ga mau makan, biar kasih kuah saja yang banyak supaya langsung telan, iya kan yah, benar tidak?”

Dipecundangi seperti itu oleh konsumen yang adalah raja, pegawai kedai langsung merasa dirinya inferior dibanding ibu ini.

Itulah masalah bangsa ini, mudah sekali kita diperlakukan seperti bawahan oleh orang-orang yang tidak mengenal sopan santun. Cobalah berkendara di jalan raya kota ini, walau kita ikut aturan, ada saja orang-orang biadab (biadab itu lawan kata beradab, artinya tidak tahu aturan dalam bermasyarakat) yang seenaknya saja melanggar aturan.

Anda berada di jalur yang benar saat angkot seenaknya memotong jalan Anda dari kanan kemudian banting setir ke kiri saat akan mengangkut penumpang. Anda kemudian kaget dan berteriak “Heeeey”. Apa yang terjadi, supir angkot biadab itu akan balik menantang Anda sambil berkata “naon siah anjing”, dan kita pun menjadi inferior dibuatnya.

Itulah mengapa di negara ini terkenal jargon “sing waras ngalah”, karena jumlah orang waras minoritas dibanding orang tak waras. Apa jadinya jika orang waras tak mengalah, bisa dilumat habis oleh orang tak waras nanti…

Manusia atau sponsor

Kemarin saya dan anak asuh saya menonton acara lelang pakaian olahraga dari atlit Asian Games yang hasilnya akan disumbangkan untuk korban gempa di NTB. Tak hanya pakaian olahraga, raket, gitar Pak Mentri Hanif sampai jaket Ibu Mentri Puan pun ikut dilelang.

Lelang rata-rata dimulai dari 100 hingga 150 juta. Perwakilan dari perusahaan-perusahaan besar yang diundang duduk rapi di bagian depan studio seolah mereka adalah pengusaha yang siap mengeluarkan uang berapapun.

Mahasiswa dan para penonton lain duduk di bagian belakang dari studio, menonton perwakilan perusahaan besar yang menawar barang-barang yang dilelang. Sebuah raket seharga 150 juta, sehelai baju seharga 100 juta, dan seterusnya.

Setiap kali seorang memutuskan membeli barang-barang lelang, yang bersangkutan akan disebutkan namanya dan nama perusahaannya (Perwakilan dari….), diminta ke depan kemudian menyampaikan sepatah dua patah kata.

DI tengah-tengah acara, entah ini setting atau sungguhan, tiba-tiba ada inisiatif dari mahasiswa yang terlihat seperti main-main saja, mengumpulkan uang dari teman-teman mereka dan mengatakan akan menyumbangkannya.

Main-main ini lama-lama jadi sungguhan. Mulai dari kelompok mahasiswa mengumpulkan total uang 80 ribuan, kelompok mahasiswa yang lain mengumpulkan 150 ribuan, hingga ada yang 500 ribuan. Ada yang menyumbang 50 ribu, 150 ribu hingga 300 ribu,

Di tengah-tengah menonton saya berkata pada anak asuh saya, “Feb, kalau menurut Tuhan Yesus, mahasiswa yang memberi 50 ribu atau 150 ribu itu memberi lebih banyak daripada para pengusaha yang mengeluarkan uang 150 juta.”

Febi melihat saya dengan pandangan heran dan bertanya, “kenapa?”

“Pernah satu kali ada perempuan yang memberikan dua duit di Bait Suci, sementara banyak orang kaya memberi jauh lebih banyak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa ibu itu memberi lebih banyak, karena dia memberi semua uangnya.”

“Anak-anak mahasiswa itu mungkin hanya memiliki uang sedikit. Seratus ribu mungkin 20 persen dari uangnya, atau 10 persen. Tapi Bapak-bapak itu perwakilan dari perusahaan yang berpenghasilan miliaran sebulan. Seratus juta hanya kurang dari 1 persen bagi mereka”

“Belum lagi, nama dari perusahaan yang diwakili bapak-bapak itu disebutkan keras-keras dan kadang ditampilkan di layar LED, mahasiswa yang memberi tidak disebutkan namanya. Dari kekurangannya mereka memberi dan bahkan namanya tidak disebutkan. Ada seorang ibu yang hanya disebutkan sebagai seorang ibu memberikan 500 ribu rupiah”

Ketika kita memberi tanpa dikenal, ketika tangan kiri kita memberi tanpa sepengetahuan tangan kanan, ada hormon endorfin yang keluar dari otak kita dan itu membuat kita bahagia, membuat kita merasa menjadi manusia yang sesungguhnya.

Tanpa mengecilkan pemberian dari para pengusaha itu… Ketika kita memberi dan nama kita dipasang besar-besar di layar atau nama kita disebutkan di TV nasional,…….. itu namanya biaya promosi….

Membodohi Domba

Dari sekian banyak hewan yang dapat dipilih, Yesus memilih domba untuk menggambarkan umat-Nya, hewan bodoh yang gemar berkelahi dan sama sekali tidak mandiri.

Disukai atau tidak, pada akhirnya memang beginilah kita, domba-domba bodoh yang mudah disesatkan jika memiliki gembala yang tidak cakap.

Saat mendengar kotbah di salah satu gereja hari ini saya mengalami terkejut berkali-kali yang membuat saya berpikir, “domba-domba bodoh termangu-mangu dan mudah mengikuti siapa saja yang ada di depan… Kapankah domba akan menjadi pintar? Atau memang domba tidak ditakdirkan untuk pintar?”

Keterkejutan pertama saya adalah ketika pengkotbah mengaku bahwa dia adalah salah satu petinggi MNC… Saya tidak memiliki masalah pribadi dengan perusahaan yang pemimpinnya menjadi bunglon di dunia politik ini… Hanya saja cukup terkejut ketika gereja, saking banyaknya cabang, memutuskan untuk meminta siapapun berkotbah, memberi makan domba-domba yang hanya bisa termangu-mangu..

Baiklah, tak apa jika seorang sekuler bisa berkotbah,… Toh banyak yang begitu… Hal kedua yang mengejutkan saya adalah ketika beliau memberikan definisi visi orang Kristen, yang adalah cita-cita hidup semacam “mau jadi apa setelah kuliah nanti” dan berkali-kali mendefinisikan visi secara dangkal.

Saya pernah dikritik salah seorang hamba Tuhan ketika dalam rangkaian tulisan saya, saya menuliskan bahwa setiap orang memiliki visi yang berbeda dalam hidupnya. Menurut Hamba Tuhan tsb, yang saya setujui dan akhirnya saya kotbahkan pada anak-anak tiap kali saya diminta, visi orang Kristen adalah ‘menjadi serupa seperti Kristus’ (Roma 8:29).

Menjadi dokter, insinyur, dan lain-lain hanyalah ladang tempat kita mempraktekan misi yang Tuhan tetapkan untuk kita emban dan lakukan sebaik-baiknya (menjadi terang dunia).

Keterkejutan ketiga adalah ketika beliau berkata, untuk mencapai visi itu kita harus menabur, dan walaupun beliau membahas kisah penabur… Yang ditekankan dari contoh yang beliau alami mengenai menabur adalah “berbuat baik (menabur) agar suatu saat orang yang kita berikan perbuatan baik akhirnya akan membalas dan kita menuai dengan sukacita”. Sesungguhnya beliau sedang memberikan definisi menabur para pengusaha, yaitu “investasi dengan bunga tinggi”.

Keterkejutan berikutnya, dan yang paling besar adalah yang saya tuliskan di status tadi pagi, ketika beliau mengatakan ‘kesalahan pertama Adam adalah tidak memelihara Taman Eden sehingga ular bisa berkeliaran di dalamnya’. Saya paham maksudnya, bahwa sebagai orang Kristen, jangan biarkan iblis menguasai hati kita… Tapi contohnya sama sekali tidak relevan…

Ingin sekali saya menjelaskan pada bapak pdm berusia 50-60 tahunan itu (pendeta muda, entah mengapa mudah sekali memberi gelar pdm untuk melegitimasi seseorang agar bisa berkotbah) itu bahwa saat itu ular bukanlah hama yang merusak hasil ladang seperti jaman sekarang. Ingin sekali memberitahu bahwa saat itu…” Tapi, ah sudahlah…toh pada akhirnya hanya saya yang dianggap sok sokan, domba kurang ajar yang tidak pernah puas…

Ya, mungkin saya hanya domba yang kurang ajar… Yang sedang melihat domba-domba lain termangu-mangu… Toh pada akhirnya saya hanya akan bingung sendiri,… Lho kok hanya saya yang terlihat gelisah dan merasa ‘ada yang salah’… Mbeeeeekkkkkk

Supaya Kelihatan Menarik

Saya sudah mengatakan bahwa saya suka sekali membaca buku-buku Agatha Christie (Oya, saya baru saja mendownload sekitar 60 buku kriminal Agatha Christie. Jika ada yang mau, hubungi saya ya). Di salah satu bukunya, ada kalimat yang kurang lebih seperti berikut:

“Tentu tidak,” kata Poirot dengan murah hati. Dia merasa dirinya dalam keadaan nyaman yang berlebihan. “Dia berada dalam sebuah mobil yang boleh dikatakan kosong, sedang kedua gadis itu terengah-engah dan berpeluh-peluh dibebani ransel yang berat-berat dan tidak pula mempunyai kesadaran cara berpakaian supaya kelihatan menarik bagi laki-laki”

Sampai di kalimat itu, yang berada dalam halaman-halaman awal buku berjudul ‘Kubur Berkubah’, saya kemudian terhenti dan berpikir, “Apakah memang tujuan seorang wanita berpakaian kala itu (buku ini ditulis tahun 1956) adalah agar kelihatan menarik bagi laki-laki?” Mengingat lokasi penulisan adalah di Inggris. Apakah saat itu mereka berpikiran demikian?

Apakah sampai sekarang, tujuan para wanita menentukan cara berpakaiannya adalah agar terlihat menarik bagi laki-laki?

Dengan cara berpikir yang sama “apakah tujuan wanita menutup seluruh bagian tubuhnya adalah agar tidak ada pria yang tertarik?”

Setelah saya merenung singkat, saya berkesimpulan, setiap wanita memang ingin terlihat menarik bagi siapapun. Ketika seorang gadis memasuki usia remaja, hal terpenting bagi dirinya adalah ketika ada pria yang menganggapnya menarik. Makanya saya pernah berkata pada anak asuh saya, “masalah seorang remaja dimulai ketika ia merasa pendapat orang lain mengenai dirinya adalah hal yang sangat penting”.

Seorang wanita diciptakan indah, karenanya mereka ingin mendapatkan pujian atas keindahannya, seharusnya itu adalah hal yang wajar.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, ketika feminis bermunculan (saya tidak tahu apakah saya termasuk salah satu dari mereka), pendapat itu berubah menjadi “wanita berpakaian sesuai dengan pandangan mereka terhadap dirinya sendiri” dengan kata lain, “cara wanita berpakaian adalah urusannya sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain”. Dengan kata lain lagi “wanita bebas berpakaian seperti apapun yang mengekspresikan dirinya”

Ketika tujuan wanita berpakaian adalah agar “terlihat menarik bagi laki-laki”, bukankah wanita akhirnya hanya menjadi obyek untuk dilihat?

Kurang lebih begitu cara berpikir wanita modern.

Dengan pola pikir yang sama sebenarnya wanita modern menempatkan dirinya sejajar dengan kaum pria… dalam arti, sama-sama tinggi (bukan sama-sama rendah, lho). Artinya, para wanita modern berpikiran bahwa para pria modern seharusnya memiliki kendali sehat atas pikirannya, tidak lagi seperti kucing yang mudah (maaf) ‘terangsang’ ketika melihat ikan asin di depannya. Atau tidak terlalu ‘usil’ hingga mengurusi cara berpakaian wanita (cukuplah menyimpan dalam hati saja pendapatmu, jangan biarkan orang berpikir kamu adalah orang yang kepo dan usil).

Betul, wanita memang mahluk yang diciptakan dengan indah… Namun saya rasa keindahannya bukan terbatas pada kemolekan tubuh, tapi kecerdasan, kemampuan mengendalikan diri, dan kebaikan hatinya.

Dan pria adalah mahluk yang diciptakan dengan kekuatan… bukan untuk menekan atau menindas, tapi kekuatan untuk bekerja keras, bersabar dan melindungi..

Lho, kok saya malah bicara melantur ini…

Tentang Kebingungan Bahasa Roh

Untuk kalangan sendiri

Saat mengikuti pelajaran Alkitab dua puluh tahunan yang lalu, sebagai seorang remaja saya bertanya kepada pembimbing rohani di gereja kala itu, “bagaimana kita tahu kalau Bahasa Roh yang kita ucapkan adalah benar-benar bahasa Roh, dan bukannya sesuatu yang kita hafalkan dan ucapkan berulang-ulang… Atau sesuatu yang kita tiru dari orang lain dan kemudian kita ucapkan berulang-ulang”.

Saat itu terlihat rona terkejut di wajah pembimbing saya. Saya memang seorang remaja yang terlalu banyak berpikir. Dia kemudian menjawab “nanti kamu akan tahu sendiri”.

Belum puas dengan jawaban itu, saya bertanya lagi “ya, tapi bagaimana jika kita yakin itu bahasa Roh dari Tuhan padahal sebenarnya kita hanya terpengaruh dengan apa yang kita dengar dari orang lain. Atau bagaimana kita tahu bahwa itu bukan karangan kita saja”

Masih bingung, kali ini sambil gelagapan, tidak mengharapkan diberi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu, pembimbing saya akhirnya menjawab “ya, dengan iman”, dan walau tidak puas dengan jawaban itu, sayapun tidak bertanya lebih jauh lagi.

Ketika mengalami baptisan Roh Kudus beberapa bulan berikutnya, saya sedikit mengerti mengenai bahasa Roh ini. Tapi saya tetap berpikir bahwa Bahasa Roh seharusnya bukanlah sesuatu yang dihafalkan kemudian diucapkan berulang-ulang, atau sesuatu yang ditiru dari orang lain, seperti Worship Leader yang selalu mengucapkan sirabababababa setiap kali bertugas…

Pertanyaan itu kembali saya ingat ketika ibadah pagi ini,… Saat pemimpin pujian, sekelompok anak muda berjas dan berdasi kupu-kupu ala waiters hotel, mengucapkan sirapapapapapa rapapapapa sambil berkali-kali melihat jam, mengambil minum, menusukkan sedotan, melirik sana sini…

Ya, saya memang membuka mata saya… Sebenarnya masalahnya sederhana,… Telinga saya mudah terganggu… Suatu hal yang menyebalkan… Saya reflek membuka mata saat pemimpin pujian itu menaikkan nada yang sumbang…

Saya tahu, saya pernah mengatakan Tuhan tidak mempermasalahkan nada yang sumbang… Dan memang Ia tidak akan mempermasalahkannya, saya pun tidak… Hanya saja nada yang sumbang itu membuat saya membuka mata dan melihat yang bersangkutan sedang melakukan ini itu sambil terus rapapapapapa…

Keraguan itu kembali muncul di hati saya, seperti dua puluh tahun yang lalu… “bagaimana kita tahu bahwa iman mengenai bahasa Roh adalah benar-benar iman”.

Bahkan anak kecil yang belum mengerti pun bisa berkata rapapapapapa.

Ah, membingungkan bukan?

Membayar Pajak dan Membayar Tuhan

Kemarin tanggal 15. Setiap wajib pajak dan warga negara yang memiliki penghasilan diharuskan menyelesaikan pembayaran pajak penghasilan kepada negara (antara diharuskan atau kesadaran pribadi sih).

Dalam proses tersebut, saya tiba-tiba terpikir, “negara meminta 1 persen dari penghasilan kotor, dan gereja meminta 10 persen… yang benar saja!”

Sama seperti negara yang sering beriklan membayar pajak, kita seringkali mendengar iklan pendeta tiap minggu keempat mengenai “pentingnya membayar perpuluhan untuk ‘memperlancar’ berkat Tuhan” (baiklah, tidak segamblang ini, tapi intinya biasanya begitu)

Pikiran saya kemudian melayang lagi ke kasus gereja di Surabaya yang maha terkenal itu. Ketika suatu “kerajaan sinode” diperebutkan oleh anak pendeta besar yang hobi mengoleksi mobil mewah. Pertanyaannya, apakah orang yang mengaku hamba Tuhan ini membayar pajak kepada negara?

Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Saya bisa memahami sebagian orang akan berkata “jangan jadi provokatif” atau “yang seperti ini jangan dibahas di Facebook”. Saya tidak peduli… Apakah Anda, Hamba Tuhan, membayar pajak penghasilan kepada negara? Apakah Anda, pengelola gereja membayar pajak kepada negara?

Apakah Anda berkontribusi kepada kemajuan negara ini di luar dari sogokan-sogokan yang Anda berikan agar gereja Anda “aman”?

Saya suka sekali cerita ketika Yesus berkata “Berikan kepada kaisar apa yang harus kau berikan padanya” dengan kata lain “berilah pada negaramu apa yang harus kau berikan”. Sekarang, Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Gereja memiliki penghasilan luar biasa. Jika “iklan” Hamba Tuhan mengenai perpuluhan berhasil, maka ada ratusan juta, bahkan miliaran setiap bulannya yang diterima hanya dari perpuluhan. Lalu, apakah dari perpuluhan itu ada yang diberikan kepada negara?

Ketika Yesus mengatakan soal “berikan pada Tuhan apa yang harus kau berikan padanya” banyak orang mengaitkannya dengan memberi uang untuk Tuhan (yang biasanya dikaitkan dengan perpuluhan) karena saat itu mereka sedang membahas membayar pajak kepada Kaisar.

Namun hal yang lucu adalah, ketika orang Farisi bertanya soal “haruskah membayar pajak pada kaisar?” Yesus menyuruhnya membawa uang (dinar) kepada-Nya. “Gambar dan tulisan siapakah ini?” dan tebak.. gambar dan tulisan siapa di uang itu? Benar sekali!! KAISAR! (Markus 12 :13-17), bukan gambar dan tulisan Tuhan, bukan gambar dan tulisan imam…

Jadi, dalam pemikiran saya, ketika Yesus membahas “berikan pada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan”, Dia tidak sedang bicara tentang uang… Dalam bagian selanjutnya kita menemukan jawaban apa yang harus kita berikan kepada Tuhan “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan kekuatanmu”.

Saya tidak sedang memprovokasi dengan mengatakan “tidak perlu membayar perpuluhan kepada gereja”, toh organisasi sebesar itu memiliki biaya overhead yang besar (belum lagi gereja besar dengan banyak lighting, sound system, lantai marmer, lift, eskalator yang tentunya akan memakan biaya sangat tinggi…jika tidak dari perpuluhan, dari mana lagi… iya kan?).

Saya hanya mengajak sebagai orang Kristen kita tidak bersikap terlalu ekslusif. Tugas kita adalah menjadi terang dunia. Jangan berpikir bahwa dengan memberi “banyak uang” untuk gereja artinya Anda sudah “membayar Tuhan” untuk melakukan apa yang Anda mau… prosedurnya tidak seperti itu.

Saya hanya mengajak kita semua berpikiran terbuka. Tuhan tidak perlu dibayar dengan uang kita, tapi dengan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, “lalu mengapa seringkali kita diminta memberi uang untuk gereja”. Hmmm… Mungkin, selain karena gereja butuh biaya dan Hamba Tuhan perlu hidup, terkadang Tuhan ingin kita mengutamakan Tuhan dibanding berkatnya. Memberi uang yang seringkali menjadi “sesuatu-yang-sangat-kita-cintai” menunjukkan bahwa bagi kita, Tuhan lebih penting daripada berkat-Nya.

Bukan gereja yang membutuhkan uang,…tapi Tuhan perlu bukti bahwa bagi kita, Dia lebih penting daripada berkat-Nya…

Ah, semoga tulisan ini mudah dimengerti dan tidak disalahartikan…

Antara Kampanye dan Karakter

Tadi pagi saya ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi saya (Percayalah, Anda perlu rutin membersihkan karang gigi Anda, for your own good). Saya memarkirkan mobil saya di seberang klinik dokter gigi di Jl. Jend. Sudirman Bandung.

Setelah saya selesai, saat akan masuk ke mobil dan mencari kunci mobil di dalam tas (yang merupakan ritual yang menyebalkan), tukang parkir menghampiri saya dan berkata, “Neng, kalau punya kartu mah, semodel e-money bisa bayar sendiri di mesin parkir itu tuh“.

“Sebentar atuh Pak, sepertinya sih ada” dan saya yang sudah mendapatkan kunci mobil dengan susah payah dari dalam tas kembali melakukan pencarian dompet dengan susah payah dari dalam tas (padahal tas saya tidak terlalu besar, tapi sulit sekali mencari dan mengeluarkan barang dari dalamnya).

“Pak, pakai ini bisa ya” tanya saya setelah akhirnya berhasil mengeluarkan kartu belanja indomaret (E-Money dari Bank M*ndiri) dari dalam dompet.

“Bisa neng, sini geura ku saya diajarin cara pake mesinnya”, dan kami pun kemudian beriringan menghampiri mesin parkir merah yang ada di dekat situ.

“Sok neng, taro kartunya di situ”, saya menuruti instruksinya

“Terus pencet ini nih neng, pilih mobil… sok masukin nomor polisinya. Sok mau diliat dulu nomornya”

“Udah pak, terus gimana?

“Terus berapa jam? satu jam? sok pencet ku Neng”

Setelah selesai prosesnya dan mesin mengeluarkan struk parkir senilai Rp.3000, saya mengatakan”wah, hebat Pak”. Sebenarnya maksud saya adalah memuji si Tukang Parkir yang bersedia mengajarkan dan merelakan Rp.3000 langsung masuk ke rekening Kota Bandung.

“Yeuh, ieu teh programna Pak Wali Neng, Ridwan Kamil yeuh. Komo deui mun jadi gubernur pan? Alus Kang Ridwan mah”

Saya hanya nyengir, kemudian setelah berterimakasih sekali lagi, meninggalkan tempat itu.

Nilai lebih Kang Ridwan Kamil dalam mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat adalah, dia memiliki kesempatan rekam jejaknya dinilai di Bandung. Orang bisa melihat hasil kerjanya di Bandung sebagaimana orang melihat hasil kerja Ahok di Jakarta. Saya tidak dapat membandingkan keduanya karena nantinya tidak akan apple to apple.

Saya jadi ingat kata-kata yang sering saya sampaikan kepada murid-murid saya mengenai etika:

Walaupun Tuhan hanya melihat hati, tapi bagaimana pun manusia melihat apa yang di depan mata. Kamu tidak bisa berpenampilan seenaknya kemudian ingin dihargai orang. Kamu tidak bisa berkata ‘biarlah orang bilang apa, yang penting Tuhan melihat hati’

Dalam hal tanggung jawab, apa yang kau perbuat menunjukkan bagaimana orang menilaimu. Mungkin Tuhan menilai hatimu baik dan bisa menolerir kecerobohanmu… Tapi manusia yang tidak bisa menilai hatimu hanya menilai kecerobohanmu.

Pejabat publik biasanya hanya menunjukkan tanggungjawabnya pada hari-hari menjelang pemilihan. Pejabat yang bertanggungjawab menunjukkan etos kerjanya selama lima tahun masa jabatannya. Persetan jika kau melakukan itu untuk pencitraan, ketika kau melakukan apa yang benar terus menerus, maka orang akan melihat bahwa karaktermu memang seperti itu.

Saya kagum dengan tukang parkir yang tadi, melebihi kekaguman saya pada Pak Ridwan Kamil si pemilik program. Ketika sebelum pergi saya memujinya sekali lagi, “Terimakasih ya Pak sudah dijelaskan…” sambil mengacungkan jempol. Dengan rendah hati bapak itu bilang “Ah neng, da baru dapet penyuluhan, memang sudah seharusnya begitu. Semua petugas juga begitu”

Saya tidak tahu bagaimana hati si Bapak Tukang Parkir… Saya hanya tahu dia adalah orang yang menjalankan tanggungjawabnya dengan baik hari ini.

 

Manusia yang Berbudaya

PERHATIAN: TULISAN INI CUKUP BERAT, DAPAT MENIMBULKAN KEPALA PUSING DAN MATA BERKUNANG-KUNANG.

Menanggapi tulisan saya kemarin, seorang teman berkata “lama-lama gereja akan melarang orang berkoteka untuk masuk ke gereja”. Menurut saya, ini adalah suatu pembahasan yang sangat menarik. Saya tidak akan berpendapat apapun soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki ruangan ibadah yang besar dan nyaman di mall di sebuah kota yang jelas-jelas menjual kaos dan celana dengan harga kurang dari 100.000 saja?” Saya juga tidak akan berpendapat soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki gedung gereja dengan menara tinggi dan liturgi yang sangat teratur di mana ada banyak saudara yang bisa meminjamkan kemeja dan celana saat yang bersangkutan menginjakkan kakinya di Pulau Jawa (dengan mengenakan koteka turun dari pesawat).

Tidak sekedar menanggapi pernyataan di atas, saya memang berencana membahas topik mengenai “budaya” ketika pagi tadi saya mengunjungi Apotek Papa saya. Ada banyak orang mengantri membeli obat dengan resep di tangan, sementara Papa saya melayani seorang diri dari Pk. 09.00. Ke mana asisten apoteker? Datang terlambat!! Seperti biasanya! Ada sanksi untuk itu? Tidak, karena memang ketepatan waktu belum dibiasakan di sana.

Tanpa bermaksud membandingkan (maaf Pap), saya dan adik saya baru membuka Apotek yang baru (Sekalian Promosi: Gravita Farma, Jl. Mekar Laksana 11 G, ayo yang mau sehat silahkan mampir). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, memulai sesuatu yang baru itu menyenangkan.. Kita bisa memulai BUDAYA baru di tempat yang baru. Di apotek yang baru, ketika wawancara asisten apoteker, saya menekankan pentingnya tepat waktu dan bagaimana mereka akan mendapat sanksi ketika mereka datang terlambat. Nilai-nilai di bangun di suatu tempat, membentuk budaya tempat tersebut.

Sejak SD kita sering mendengar bahwa “Manusia adalah mahluk yang berbudaya” kemudian kita membayangkan budaya sebagai baju-baju adat yang berbeda-beda seperti yang dikenakan anak-anak TK saat hari Kartini. Pengertian BUDAYA tidak sedangkal itu. Budaya didefinisikan sebagai perilaku dan norma-norma sosial yang ada di suatu masyarakat, dengan bahasa sederhana saya mendefinisikan budaya sebagai “kebiasaan suatu daerah / tempat”.Anda lihat jalan raya di Kota Bandung yang kacau? Ya, karena kita belum membiasakan diri untuk teratur.

Nah, terkadang, untuk membentuk kebiasaan ini, harus ada aturan yang ditetapkan dalam masyarakat agar setiap perilaku bisa menjadi norma dan kebiasaan sehingga akhirnya dapat dikatakan bahwa itu adalah budaya suatu tempat.

Jika Anda piknik cukup jauh dan melihat budaya negara tetangga, Anda akan melihat bahwa terkadang, perlu usaha cukup keras agar suatu hal baik dapat dijadikan budaya (lihat saja Singapura yang menerapkan denda di mana-mana atau hukuman sosial di Jepang ketika ada yang melanggar budaya).

Kembali ke soal gereja… Setiap gereja memiliki budayanya sendiri. Ada gereja yang mewajibkan pelayan mimbarnya mengenakan jas atau setidaknya berpenampilan rapi di mimbar. Lalu, di sebagian gereja budaya ini bergeser (terutama jika gembala Anda mengidap penyakit jiwa sejenis Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang tergila-gila pada keteraturan secara berlebihan) menjadi kesempurnaan dalam berpenampilan. Anda akan disalahkan (bahkan dipecat sebagai pelayan mimbar) jika pakaian Anda terlalu besar, atau kurang modis. Anda bahkan akan dipermalukan ketika tidak mengenakan high heels atau rambut Anda kurang “tinggi”.

Kemuakan terhadap budaya yang berlebihan biasa akan membawa sebagian orang “membantingnya” secara berlebihan, membawanya ke kutub lain yang berlawanan. Jadilah gereja yang pelayan mimbarnya berpakaian sembarangan, seperti pemimpin pujian yang mengenakan celana pendek dan sepatu boot tinggi, atau justru jeans belel, sweater dan topi.

Kemudian kubu yang “netralnya ekstrim” beranggapan, tidak perlulah membahas hal-hal teknis seperti pakaian dan pernak-pernik tak berarti lainnya, lalu muncullah pertanyaan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan ini.

Lalu muncul pertanyaan, mana yang benar?

Mungkin saya tidak kompeten menjawab mana yang benar karena toh tiap kubu akan memiliki sanggahannya sendiri. Kubu ekstrim pertama akan mengatakan “Kita perlu memberi yang TERBAIK (dengan huruf kapital) untuk Tuhan”. Sementara kubu ekstrim kedua akan menjawab “Tuhan tidak melihat penampilan, Dia melihat hati”. Terakhir ekstrimis netral akan menjawab “gitu aja kok diributin”.

Untuk menanggapi (bukan menjawab) pertanyaan itu, sekaligus menutup tulisan ini, saya hanya mau mengingatkan kita satu hal: Tuhan membutuhkan penyembahan dan penghormatan dari umat-Nya, untuk itu dia membangun BUDAYA di kalangan orang Lewi di Perjanjian Lama. Budaya itu dituliskan dalam kitab Imamat, seperti petunjuk soal pakaian, atribut dan apa saja yang harus dilakukan Imam saat memasuki Kemah Suci.

Bukankah Tuhan tidak berubah? Jika Dia sedikit “longgar” pada kita hari-hari ini, tidak berarti Dia mengubah keinginan-Nya untuk menerima hormat dari umat-Nya. Budaya menaruh hormat pada Tuhan merupakan suatu yang harus dibangun. Karena…bagaimana orang di luar sana melihat penghormatan kita pada Tuhan? Sesederhana pakaian yang kita kenakan saat beribadah di gedung itu dan sikap kita saat beribadah (Walaupun tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu)

Lalu bagaimana soal ke gereja mengenakan koteka? Silahkan Anda menjawabnya sendiri…

 

Antara Rundown dan Liturgi

Pagi tadi saya mencoba beribadah di gereja Injili yang memiliki liturgi gerejawi yang benar-benar teratur, mulai dari paduan suara, doa pembuka, pembacaan kitab, pujian, pengakuan iman rasuli, kotbah, dan seterusnya. Sebuah ibadah di mana jemaan duduk dan berdiri diatur dalam sebuah tulisan.

Terus terang, baru pertama kali ini saya ibadah minggu di jenis gereja seperti ini. Gereja yang menjunjung “ibadah dengan akal sehat” dibanding “ibadah dengan emosional”. Bagi saya yang besar di gereja Pantekosta dan bertumbuh di gereja Karismatik, ini adalah sesuatu yang berbeda.

Ibadah ini masih menamakan pola ibadah (susunan ibadah) mereka dengan “liturgi”.

Sorenya, seorang sahabat mengajak saya beribadah di gereja karismatik modern yang singkatannya dieja dalam bahasa Inggris. Sebuah ibadah modern dengan lampu warna warni, pemimpin pujian berpakaian gaya anak muda (topi, jaket dan jeans) yang berjingkrak jingkrak sepanjang acara. 

Ibadah jenis ini menggunakan rundown sebagai  panduan acara mereka, lengkap dengan para crew yang menggunakan headphone dan berjalan hilir mudik merasa dirinya seperti bagian penting dari suatu acara hiburan kelas dunia. 

Sepulang dari ibadah, kami membahas beda antara “liturgi” dan “rundown”. Gereja Injili yang masih  berpegang pada aturan menggunakan bahasa liturgi sebagai panduan ibadah mereka, dan Gereja modern menggunakan bahasa rundown sebagai panduan mereka. 

Hasil dari pembicaraan kami adalah, tergantung dari bagaimana gereja melihat kegiatan yang dilakukannya saat itu, apakah ibadah atau “acara” (semacam acara hiburan). Terlepas dari konteks ‘kuno’ dan ‘modern’ yang mungkin lebih disukai.

Kami juga membahas mengenai mana jenis gereja yang lebih kami sukai. Kalau saya, terus terang saja… tidak dapat menjawab keduanya. Saya hanya ingin beribadah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya…

Dalam hati saya, hanya bisa berharap organisasi gereja yang saya cintai, tempat saya berjemaat dan bertumbuh di masa remaja saya, tidak harus berubah menjadi sedrastis sekarang. Saya menganalogikannya sebagai KFC yang mendadak mengubah menu menjadi ayam goreng khas Sunda, kehilangan citarasanya dan bahkan tidak akan mampu bersaing dengan restoran khas Sunda.

Saya hanya bisa menjawab… saya tidak sreg dengan ibadah di mana mereka yang berdiri di mimbar merasa bisa berpakaian semaunya. Di mana penghargaan terhadap Tuhan tidak ditunjukkan dalam berpakaian. Saya selalu percaya Tuhan menyukai aturan dan simbol-simbol. 

Walaupun aturan dalam imamat tidak lagi digunakan dalam jaman sekarang, namun bukankah esensi bahwa “Tuhan menginginkan penghormatan” tetap berlaku? Apakah Anda akan memakai kaos oblong, jaket dan jeans ke sebuah undangan pernikahan atau ketika Anda menikah? Jika tidak, lalu mengapa Anda menggunakannya ketika memimpin pujian?

Kira-kira apa yang dipikirkan Saudara yang berlainan agama dengan kita melihat mereka yang bertopi, jaket jogging, jeans dan sepatu menamakan dirinya “sedang menyembah Tuhan”, bukankah sikap kita selama ibadah (termasuk pakaian yang kita kenakan) menunjukkan tingkat penghargaan kita kepada Tuhan yang kita sembah.

Entahlah, itu hanya pendapat saya saja…