Membodohi Domba

Dari sekian banyak hewan yang dapat dipilih, Yesus memilih domba untuk menggambarkan umat-Nya, hewan bodoh yang gemar berkelahi dan sama sekali tidak mandiri.

Disukai atau tidak, pada akhirnya memang beginilah kita, domba-domba bodoh yang mudah disesatkan jika memiliki gembala yang tidak cakap.

Saat mendengar kotbah di salah satu gereja hari ini saya mengalami terkejut berkali-kali yang membuat saya berpikir, “domba-domba bodoh termangu-mangu dan mudah mengikuti siapa saja yang ada di depan… Kapankah domba akan menjadi pintar? Atau memang domba tidak ditakdirkan untuk pintar?”

Keterkejutan pertama saya adalah ketika pengkotbah mengaku bahwa dia adalah salah satu petinggi MNC… Saya tidak memiliki masalah pribadi dengan perusahaan yang pemimpinnya menjadi bunglon di dunia politik ini… Hanya saja cukup terkejut ketika gereja, saking banyaknya cabang, memutuskan untuk meminta siapapun berkotbah, memberi makan domba-domba yang hanya bisa termangu-mangu..

Baiklah, tak apa jika seorang sekuler bisa berkotbah,… Toh banyak yang begitu… Hal kedua yang mengejutkan saya adalah ketika beliau memberikan definisi visi orang Kristen, yang adalah cita-cita hidup semacam “mau jadi apa setelah kuliah nanti” dan berkali-kali mendefinisikan visi secara dangkal.

Saya pernah dikritik salah seorang hamba Tuhan ketika dalam rangkaian tulisan saya, saya menuliskan bahwa setiap orang memiliki visi yang berbeda dalam hidupnya. Menurut Hamba Tuhan tsb, yang saya setujui dan akhirnya saya kotbahkan pada anak-anak tiap kali saya diminta, visi orang Kristen adalah ‘menjadi serupa seperti Kristus’ (Roma 8:29).

Menjadi dokter, insinyur, dan lain-lain hanyalah ladang tempat kita mempraktekan misi yang Tuhan tetapkan untuk kita emban dan lakukan sebaik-baiknya (menjadi terang dunia).

Keterkejutan ketiga adalah ketika beliau berkata, untuk mencapai visi itu kita harus menabur, dan walaupun beliau membahas kisah penabur… Yang ditekankan dari contoh yang beliau alami mengenai menabur adalah “berbuat baik (menabur) agar suatu saat orang yang kita berikan perbuatan baik akhirnya akan membalas dan kita menuai dengan sukacita”. Sesungguhnya beliau sedang memberikan definisi menabur para pengusaha, yaitu “investasi dengan bunga tinggi”.

Keterkejutan berikutnya, dan yang paling besar adalah yang saya tuliskan di status tadi pagi, ketika beliau mengatakan ‘kesalahan pertama Adam adalah tidak memelihara Taman Eden sehingga ular bisa berkeliaran di dalamnya’. Saya paham maksudnya, bahwa sebagai orang Kristen, jangan biarkan iblis menguasai hati kita… Tapi contohnya sama sekali tidak relevan…

Ingin sekali saya menjelaskan pada bapak pdm berusia 50-60 tahunan itu (pendeta muda, entah mengapa mudah sekali memberi gelar pdm untuk melegitimasi seseorang agar bisa berkotbah) itu bahwa saat itu ular bukanlah hama yang merusak hasil ladang seperti jaman sekarang. Ingin sekali memberitahu bahwa saat itu…” Tapi, ah sudahlah…toh pada akhirnya hanya saya yang dianggap sok sokan, domba kurang ajar yang tidak pernah puas…

Ya, mungkin saya hanya domba yang kurang ajar… Yang sedang melihat domba-domba lain termangu-mangu… Toh pada akhirnya saya hanya akan bingung sendiri,… Lho kok hanya saya yang terlihat gelisah dan merasa ‘ada yang salah’… Mbeeeeekkkkkk

Advertisements

Supaya Kelihatan Menarik

Saya sudah mengatakan bahwa saya suka sekali membaca buku-buku Agatha Christie (Oya, saya baru saja mendownload sekitar 60 buku kriminal Agatha Christie. Jika ada yang mau, hubungi saya ya). Di salah satu bukunya, ada kalimat yang kurang lebih seperti berikut:

“Tentu tidak,” kata Poirot dengan murah hati. Dia merasa dirinya dalam keadaan nyaman yang berlebihan. “Dia berada dalam sebuah mobil yang boleh dikatakan kosong, sedang kedua gadis itu terengah-engah dan berpeluh-peluh dibebani ransel yang berat-berat dan tidak pula mempunyai kesadaran cara berpakaian supaya kelihatan menarik bagi laki-laki”

Sampai di kalimat itu, yang berada dalam halaman-halaman awal buku berjudul ‘Kubur Berkubah’, saya kemudian terhenti dan berpikir, “Apakah memang tujuan seorang wanita berpakaian kala itu (buku ini ditulis tahun 1956) adalah agar kelihatan menarik bagi laki-laki?” Mengingat lokasi penulisan adalah di Inggris. Apakah saat itu mereka berpikiran demikian?

Apakah sampai sekarang, tujuan para wanita menentukan cara berpakaiannya adalah agar terlihat menarik bagi laki-laki?

Dengan cara berpikir yang sama “apakah tujuan wanita menutup seluruh bagian tubuhnya adalah agar tidak ada pria yang tertarik?”

Setelah saya merenung singkat, saya berkesimpulan, setiap wanita memang ingin terlihat menarik bagi siapapun. Ketika seorang gadis memasuki usia remaja, hal terpenting bagi dirinya adalah ketika ada pria yang menganggapnya menarik. Makanya saya pernah berkata pada anak asuh saya, “masalah seorang remaja dimulai ketika ia merasa pendapat orang lain mengenai dirinya adalah hal yang sangat penting”.

Seorang wanita diciptakan indah, karenanya mereka ingin mendapatkan pujian atas keindahannya, seharusnya itu adalah hal yang wajar.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, ketika feminis bermunculan (saya tidak tahu apakah saya termasuk salah satu dari mereka), pendapat itu berubah menjadi “wanita berpakaian sesuai dengan pandangan mereka terhadap dirinya sendiri” dengan kata lain, “cara wanita berpakaian adalah urusannya sendiri, tidak ada urusan dengan orang lain”. Dengan kata lain lagi “wanita bebas berpakaian seperti apapun yang mengekspresikan dirinya”

Ketika tujuan wanita berpakaian adalah agar “terlihat menarik bagi laki-laki”, bukankah wanita akhirnya hanya menjadi obyek untuk dilihat?

Kurang lebih begitu cara berpikir wanita modern.

Dengan pola pikir yang sama sebenarnya wanita modern menempatkan dirinya sejajar dengan kaum pria… dalam arti, sama-sama tinggi (bukan sama-sama rendah, lho). Artinya, para wanita modern berpikiran bahwa para pria modern seharusnya memiliki kendali sehat atas pikirannya, tidak lagi seperti kucing yang mudah (maaf) ‘terangsang’ ketika melihat ikan asin di depannya. Atau tidak terlalu ‘usil’ hingga mengurusi cara berpakaian wanita (cukuplah menyimpan dalam hati saja pendapatmu, jangan biarkan orang berpikir kamu adalah orang yang kepo dan usil).

Betul, wanita memang mahluk yang diciptakan dengan indah… Namun saya rasa keindahannya bukan terbatas pada kemolekan tubuh, tapi kecerdasan, kemampuan mengendalikan diri, dan kebaikan hatinya.

Dan pria adalah mahluk yang diciptakan dengan kekuatan… bukan untuk menekan atau menindas, tapi kekuatan untuk bekerja keras, bersabar dan melindungi..

Lho, kok saya malah bicara melantur ini…

Tentang Kebingungan Bahasa Roh

Untuk kalangan sendiri

Saat mengikuti pelajaran Alkitab dua puluh tahunan yang lalu, sebagai seorang remaja saya bertanya kepada pembimbing rohani di gereja kala itu, “bagaimana kita tahu kalau Bahasa Roh yang kita ucapkan adalah benar-benar bahasa Roh, dan bukannya sesuatu yang kita hafalkan dan ucapkan berulang-ulang… Atau sesuatu yang kita tiru dari orang lain dan kemudian kita ucapkan berulang-ulang”.

Saat itu terlihat rona terkejut di wajah pembimbing saya. Saya memang seorang remaja yang terlalu banyak berpikir. Dia kemudian menjawab “nanti kamu akan tahu sendiri”.

Belum puas dengan jawaban itu, saya bertanya lagi “ya, tapi bagaimana jika kita yakin itu bahasa Roh dari Tuhan padahal sebenarnya kita hanya terpengaruh dengan apa yang kita dengar dari orang lain. Atau bagaimana kita tahu bahwa itu bukan karangan kita saja”

Masih bingung, kali ini sambil gelagapan, tidak mengharapkan diberi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu, pembimbing saya akhirnya menjawab “ya, dengan iman”, dan walau tidak puas dengan jawaban itu, sayapun tidak bertanya lebih jauh lagi.

Ketika mengalami baptisan Roh Kudus beberapa bulan berikutnya, saya sedikit mengerti mengenai bahasa Roh ini. Tapi saya tetap berpikir bahwa Bahasa Roh seharusnya bukanlah sesuatu yang dihafalkan kemudian diucapkan berulang-ulang, atau sesuatu yang ditiru dari orang lain, seperti Worship Leader yang selalu mengucapkan sirabababababa setiap kali bertugas…

Pertanyaan itu kembali saya ingat ketika ibadah pagi ini,… Saat pemimpin pujian, sekelompok anak muda berjas dan berdasi kupu-kupu ala waiters hotel, mengucapkan sirapapapapapa rapapapapa sambil berkali-kali melihat jam, mengambil minum, menusukkan sedotan, melirik sana sini…

Ya, saya memang membuka mata saya… Sebenarnya masalahnya sederhana,… Telinga saya mudah terganggu… Suatu hal yang menyebalkan… Saya reflek membuka mata saat pemimpin pujian itu menaikkan nada yang sumbang…

Saya tahu, saya pernah mengatakan Tuhan tidak mempermasalahkan nada yang sumbang… Dan memang Ia tidak akan mempermasalahkannya, saya pun tidak… Hanya saja nada yang sumbang itu membuat saya membuka mata dan melihat yang bersangkutan sedang melakukan ini itu sambil terus rapapapapapa…

Keraguan itu kembali muncul di hati saya, seperti dua puluh tahun yang lalu… “bagaimana kita tahu bahwa iman mengenai bahasa Roh adalah benar-benar iman”.

Bahkan anak kecil yang belum mengerti pun bisa berkata rapapapapapa.

Ah, membingungkan bukan?

Membayar Pajak dan Membayar Tuhan

Kemarin tanggal 15. Setiap wajib pajak dan warga negara yang memiliki penghasilan diharuskan menyelesaikan pembayaran pajak penghasilan kepada negara (antara diharuskan atau kesadaran pribadi sih).

Dalam proses tersebut, saya tiba-tiba terpikir, “negara meminta 1 persen dari penghasilan kotor, dan gereja meminta 10 persen… yang benar saja!”

Sama seperti negara yang sering beriklan membayar pajak, kita seringkali mendengar iklan pendeta tiap minggu keempat mengenai “pentingnya membayar perpuluhan untuk ‘memperlancar’ berkat Tuhan” (baiklah, tidak segamblang ini, tapi intinya biasanya begitu)

Pikiran saya kemudian melayang lagi ke kasus gereja di Surabaya yang maha terkenal itu. Ketika suatu “kerajaan sinode” diperebutkan oleh anak pendeta besar yang hobi mengoleksi mobil mewah. Pertanyaannya, apakah orang yang mengaku hamba Tuhan ini membayar pajak kepada negara?

Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Saya bisa memahami sebagian orang akan berkata “jangan jadi provokatif” atau “yang seperti ini jangan dibahas di Facebook”. Saya tidak peduli… Apakah Anda, Hamba Tuhan, membayar pajak penghasilan kepada negara? Apakah Anda, pengelola gereja membayar pajak kepada negara?

Apakah Anda berkontribusi kepada kemajuan negara ini di luar dari sogokan-sogokan yang Anda berikan agar gereja Anda “aman”?

Saya suka sekali cerita ketika Yesus berkata “Berikan kepada kaisar apa yang harus kau berikan padanya” dengan kata lain “berilah pada negaramu apa yang harus kau berikan”. Sekarang, Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Gereja memiliki penghasilan luar biasa. Jika “iklan” Hamba Tuhan mengenai perpuluhan berhasil, maka ada ratusan juta, bahkan miliaran setiap bulannya yang diterima hanya dari perpuluhan. Lalu, apakah dari perpuluhan itu ada yang diberikan kepada negara?

Ketika Yesus mengatakan soal “berikan pada Tuhan apa yang harus kau berikan padanya” banyak orang mengaitkannya dengan memberi uang untuk Tuhan (yang biasanya dikaitkan dengan perpuluhan) karena saat itu mereka sedang membahas membayar pajak kepada Kaisar.

Namun hal yang lucu adalah, ketika orang Farisi bertanya soal “haruskah membayar pajak pada kaisar?” Yesus menyuruhnya membawa uang (dinar) kepada-Nya. “Gambar dan tulisan siapakah ini?” dan tebak.. gambar dan tulisan siapa di uang itu? Benar sekali!! KAISAR! (Markus 12 :13-17), bukan gambar dan tulisan Tuhan, bukan gambar dan tulisan imam…

Jadi, dalam pemikiran saya, ketika Yesus membahas “berikan pada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan”, Dia tidak sedang bicara tentang uang… Dalam bagian selanjutnya kita menemukan jawaban apa yang harus kita berikan kepada Tuhan “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan kekuatanmu”.

Saya tidak sedang memprovokasi dengan mengatakan “tidak perlu membayar perpuluhan kepada gereja”, toh organisasi sebesar itu memiliki biaya overhead yang besar (belum lagi gereja besar dengan banyak lighting, sound system, lantai marmer, lift, eskalator yang tentunya akan memakan biaya sangat tinggi…jika tidak dari perpuluhan, dari mana lagi… iya kan?).

Saya hanya mengajak sebagai orang Kristen kita tidak bersikap terlalu ekslusif. Tugas kita adalah menjadi terang dunia. Jangan berpikir bahwa dengan memberi “banyak uang” untuk gereja artinya Anda sudah “membayar Tuhan” untuk melakukan apa yang Anda mau… prosedurnya tidak seperti itu.

Saya hanya mengajak kita semua berpikiran terbuka. Tuhan tidak perlu dibayar dengan uang kita, tapi dengan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, “lalu mengapa seringkali kita diminta memberi uang untuk gereja”. Hmmm… Mungkin, selain karena gereja butuh biaya dan Hamba Tuhan perlu hidup, terkadang Tuhan ingin kita mengutamakan Tuhan dibanding berkatnya. Memberi uang yang seringkali menjadi “sesuatu-yang-sangat-kita-cintai” menunjukkan bahwa bagi kita, Tuhan lebih penting daripada berkat-Nya.

Bukan gereja yang membutuhkan uang,…tapi Tuhan perlu bukti bahwa bagi kita, Dia lebih penting daripada berkat-Nya…

Ah, semoga tulisan ini mudah dimengerti dan tidak disalahartikan…

Antara Kampanye dan Karakter

Tadi pagi saya ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi saya (Percayalah, Anda perlu rutin membersihkan karang gigi Anda, for your own good). Saya memarkirkan mobil saya di seberang klinik dokter gigi di Jl. Jend. Sudirman Bandung.

Setelah saya selesai, saat akan masuk ke mobil dan mencari kunci mobil di dalam tas (yang merupakan ritual yang menyebalkan), tukang parkir menghampiri saya dan berkata, “Neng, kalau punya kartu mah, semodel e-money bisa bayar sendiri di mesin parkir itu tuh“.

“Sebentar atuh Pak, sepertinya sih ada” dan saya yang sudah mendapatkan kunci mobil dengan susah payah dari dalam tas kembali melakukan pencarian dompet dengan susah payah dari dalam tas (padahal tas saya tidak terlalu besar, tapi sulit sekali mencari dan mengeluarkan barang dari dalamnya).

“Pak, pakai ini bisa ya” tanya saya setelah akhirnya berhasil mengeluarkan kartu belanja indomaret (E-Money dari Bank M*ndiri) dari dalam dompet.

“Bisa neng, sini geura ku saya diajarin cara pake mesinnya”, dan kami pun kemudian beriringan menghampiri mesin parkir merah yang ada di dekat situ.

“Sok neng, taro kartunya di situ”, saya menuruti instruksinya

“Terus pencet ini nih neng, pilih mobil… sok masukin nomor polisinya. Sok mau diliat dulu nomornya”

“Udah pak, terus gimana?

“Terus berapa jam? satu jam? sok pencet ku Neng”

Setelah selesai prosesnya dan mesin mengeluarkan struk parkir senilai Rp.3000, saya mengatakan”wah, hebat Pak”. Sebenarnya maksud saya adalah memuji si Tukang Parkir yang bersedia mengajarkan dan merelakan Rp.3000 langsung masuk ke rekening Kota Bandung.

“Yeuh, ieu teh programna Pak Wali Neng, Ridwan Kamil yeuh. Komo deui mun jadi gubernur pan? Alus Kang Ridwan mah”

Saya hanya nyengir, kemudian setelah berterimakasih sekali lagi, meninggalkan tempat itu.

Nilai lebih Kang Ridwan Kamil dalam mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat adalah, dia memiliki kesempatan rekam jejaknya dinilai di Bandung. Orang bisa melihat hasil kerjanya di Bandung sebagaimana orang melihat hasil kerja Ahok di Jakarta. Saya tidak dapat membandingkan keduanya karena nantinya tidak akan apple to apple.

Saya jadi ingat kata-kata yang sering saya sampaikan kepada murid-murid saya mengenai etika:

Walaupun Tuhan hanya melihat hati, tapi bagaimana pun manusia melihat apa yang di depan mata. Kamu tidak bisa berpenampilan seenaknya kemudian ingin dihargai orang. Kamu tidak bisa berkata ‘biarlah orang bilang apa, yang penting Tuhan melihat hati’

Dalam hal tanggung jawab, apa yang kau perbuat menunjukkan bagaimana orang menilaimu. Mungkin Tuhan menilai hatimu baik dan bisa menolerir kecerobohanmu… Tapi manusia yang tidak bisa menilai hatimu hanya menilai kecerobohanmu.

Pejabat publik biasanya hanya menunjukkan tanggungjawabnya pada hari-hari menjelang pemilihan. Pejabat yang bertanggungjawab menunjukkan etos kerjanya selama lima tahun masa jabatannya. Persetan jika kau melakukan itu untuk pencitraan, ketika kau melakukan apa yang benar terus menerus, maka orang akan melihat bahwa karaktermu memang seperti itu.

Saya kagum dengan tukang parkir yang tadi, melebihi kekaguman saya pada Pak Ridwan Kamil si pemilik program. Ketika sebelum pergi saya memujinya sekali lagi, “Terimakasih ya Pak sudah dijelaskan…” sambil mengacungkan jempol. Dengan rendah hati bapak itu bilang “Ah neng, da baru dapet penyuluhan, memang sudah seharusnya begitu. Semua petugas juga begitu”

Saya tidak tahu bagaimana hati si Bapak Tukang Parkir… Saya hanya tahu dia adalah orang yang menjalankan tanggungjawabnya dengan baik hari ini.

 

Manusia yang Berbudaya

PERHATIAN: TULISAN INI CUKUP BERAT, DAPAT MENIMBULKAN KEPALA PUSING DAN MATA BERKUNANG-KUNANG.

Menanggapi tulisan saya kemarin, seorang teman berkata “lama-lama gereja akan melarang orang berkoteka untuk masuk ke gereja”. Menurut saya, ini adalah suatu pembahasan yang sangat menarik. Saya tidak akan berpendapat apapun soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki ruangan ibadah yang besar dan nyaman di mall di sebuah kota yang jelas-jelas menjual kaos dan celana dengan harga kurang dari 100.000 saja?” Saya juga tidak akan berpendapat soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki gedung gereja dengan menara tinggi dan liturgi yang sangat teratur di mana ada banyak saudara yang bisa meminjamkan kemeja dan celana saat yang bersangkutan menginjakkan kakinya di Pulau Jawa (dengan mengenakan koteka turun dari pesawat).

Tidak sekedar menanggapi pernyataan di atas, saya memang berencana membahas topik mengenai “budaya” ketika pagi tadi saya mengunjungi Apotek Papa saya. Ada banyak orang mengantri membeli obat dengan resep di tangan, sementara Papa saya melayani seorang diri dari Pk. 09.00. Ke mana asisten apoteker? Datang terlambat!! Seperti biasanya! Ada sanksi untuk itu? Tidak, karena memang ketepatan waktu belum dibiasakan di sana.

Tanpa bermaksud membandingkan (maaf Pap), saya dan adik saya baru membuka Apotek yang baru (Sekalian Promosi: Gravita Farma, Jl. Mekar Laksana 11 G, ayo yang mau sehat silahkan mampir). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, memulai sesuatu yang baru itu menyenangkan.. Kita bisa memulai BUDAYA baru di tempat yang baru. Di apotek yang baru, ketika wawancara asisten apoteker, saya menekankan pentingnya tepat waktu dan bagaimana mereka akan mendapat sanksi ketika mereka datang terlambat. Nilai-nilai di bangun di suatu tempat, membentuk budaya tempat tersebut.

Sejak SD kita sering mendengar bahwa “Manusia adalah mahluk yang berbudaya” kemudian kita membayangkan budaya sebagai baju-baju adat yang berbeda-beda seperti yang dikenakan anak-anak TK saat hari Kartini. Pengertian BUDAYA tidak sedangkal itu. Budaya didefinisikan sebagai perilaku dan norma-norma sosial yang ada di suatu masyarakat, dengan bahasa sederhana saya mendefinisikan budaya sebagai “kebiasaan suatu daerah / tempat”.Anda lihat jalan raya di Kota Bandung yang kacau? Ya, karena kita belum membiasakan diri untuk teratur.

Nah, terkadang, untuk membentuk kebiasaan ini, harus ada aturan yang ditetapkan dalam masyarakat agar setiap perilaku bisa menjadi norma dan kebiasaan sehingga akhirnya dapat dikatakan bahwa itu adalah budaya suatu tempat.

Jika Anda piknik cukup jauh dan melihat budaya negara tetangga, Anda akan melihat bahwa terkadang, perlu usaha cukup keras agar suatu hal baik dapat dijadikan budaya (lihat saja Singapura yang menerapkan denda di mana-mana atau hukuman sosial di Jepang ketika ada yang melanggar budaya).

Kembali ke soal gereja… Setiap gereja memiliki budayanya sendiri. Ada gereja yang mewajibkan pelayan mimbarnya mengenakan jas atau setidaknya berpenampilan rapi di mimbar. Lalu, di sebagian gereja budaya ini bergeser (terutama jika gembala Anda mengidap penyakit jiwa sejenis Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang tergila-gila pada keteraturan secara berlebihan) menjadi kesempurnaan dalam berpenampilan. Anda akan disalahkan (bahkan dipecat sebagai pelayan mimbar) jika pakaian Anda terlalu besar, atau kurang modis. Anda bahkan akan dipermalukan ketika tidak mengenakan high heels atau rambut Anda kurang “tinggi”.

Kemuakan terhadap budaya yang berlebihan biasa akan membawa sebagian orang “membantingnya” secara berlebihan, membawanya ke kutub lain yang berlawanan. Jadilah gereja yang pelayan mimbarnya berpakaian sembarangan, seperti pemimpin pujian yang mengenakan celana pendek dan sepatu boot tinggi, atau justru jeans belel, sweater dan topi.

Kemudian kubu yang “netralnya ekstrim” beranggapan, tidak perlulah membahas hal-hal teknis seperti pakaian dan pernak-pernik tak berarti lainnya, lalu muncullah pertanyaan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan ini.

Lalu muncul pertanyaan, mana yang benar?

Mungkin saya tidak kompeten menjawab mana yang benar karena toh tiap kubu akan memiliki sanggahannya sendiri. Kubu ekstrim pertama akan mengatakan “Kita perlu memberi yang TERBAIK (dengan huruf kapital) untuk Tuhan”. Sementara kubu ekstrim kedua akan menjawab “Tuhan tidak melihat penampilan, Dia melihat hati”. Terakhir ekstrimis netral akan menjawab “gitu aja kok diributin”.

Untuk menanggapi (bukan menjawab) pertanyaan itu, sekaligus menutup tulisan ini, saya hanya mau mengingatkan kita satu hal: Tuhan membutuhkan penyembahan dan penghormatan dari umat-Nya, untuk itu dia membangun BUDAYA di kalangan orang Lewi di Perjanjian Lama. Budaya itu dituliskan dalam kitab Imamat, seperti petunjuk soal pakaian, atribut dan apa saja yang harus dilakukan Imam saat memasuki Kemah Suci.

Bukankah Tuhan tidak berubah? Jika Dia sedikit “longgar” pada kita hari-hari ini, tidak berarti Dia mengubah keinginan-Nya untuk menerima hormat dari umat-Nya. Budaya menaruh hormat pada Tuhan merupakan suatu yang harus dibangun. Karena…bagaimana orang di luar sana melihat penghormatan kita pada Tuhan? Sesederhana pakaian yang kita kenakan saat beribadah di gedung itu dan sikap kita saat beribadah (Walaupun tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu)

Lalu bagaimana soal ke gereja mengenakan koteka? Silahkan Anda menjawabnya sendiri…

 

Antara Rundown dan Liturgi

Pagi tadi saya mencoba beribadah di gereja Injili yang memiliki liturgi gerejawi yang benar-benar teratur, mulai dari paduan suara, doa pembuka, pembacaan kitab, pujian, pengakuan iman rasuli, kotbah, dan seterusnya. Sebuah ibadah di mana jemaan duduk dan berdiri diatur dalam sebuah tulisan.

Terus terang, baru pertama kali ini saya ibadah minggu di jenis gereja seperti ini. Gereja yang menjunjung “ibadah dengan akal sehat” dibanding “ibadah dengan emosional”. Bagi saya yang besar di gereja Pantekosta dan bertumbuh di gereja Karismatik, ini adalah sesuatu yang berbeda.

Ibadah ini masih menamakan pola ibadah (susunan ibadah) mereka dengan “liturgi”.

Sorenya, seorang sahabat mengajak saya beribadah di gereja karismatik modern yang singkatannya dieja dalam bahasa Inggris. Sebuah ibadah modern dengan lampu warna warni, pemimpin pujian berpakaian gaya anak muda (topi, jaket dan jeans) yang berjingkrak jingkrak sepanjang acara. 

Ibadah jenis ini menggunakan rundown sebagai  panduan acara mereka, lengkap dengan para crew yang menggunakan headphone dan berjalan hilir mudik merasa dirinya seperti bagian penting dari suatu acara hiburan kelas dunia. 

Sepulang dari ibadah, kami membahas beda antara “liturgi” dan “rundown”. Gereja Injili yang masih  berpegang pada aturan menggunakan bahasa liturgi sebagai panduan ibadah mereka, dan Gereja modern menggunakan bahasa rundown sebagai panduan mereka. 

Hasil dari pembicaraan kami adalah, tergantung dari bagaimana gereja melihat kegiatan yang dilakukannya saat itu, apakah ibadah atau “acara” (semacam acara hiburan). Terlepas dari konteks ‘kuno’ dan ‘modern’ yang mungkin lebih disukai.

Kami juga membahas mengenai mana jenis gereja yang lebih kami sukai. Kalau saya, terus terang saja… tidak dapat menjawab keduanya. Saya hanya ingin beribadah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya…

Dalam hati saya, hanya bisa berharap organisasi gereja yang saya cintai, tempat saya berjemaat dan bertumbuh di masa remaja saya, tidak harus berubah menjadi sedrastis sekarang. Saya menganalogikannya sebagai KFC yang mendadak mengubah menu menjadi ayam goreng khas Sunda, kehilangan citarasanya dan bahkan tidak akan mampu bersaing dengan restoran khas Sunda.

Saya hanya bisa menjawab… saya tidak sreg dengan ibadah di mana mereka yang berdiri di mimbar merasa bisa berpakaian semaunya. Di mana penghargaan terhadap Tuhan tidak ditunjukkan dalam berpakaian. Saya selalu percaya Tuhan menyukai aturan dan simbol-simbol. 

Walaupun aturan dalam imamat tidak lagi digunakan dalam jaman sekarang, namun bukankah esensi bahwa “Tuhan menginginkan penghormatan” tetap berlaku? Apakah Anda akan memakai kaos oblong, jaket dan jeans ke sebuah undangan pernikahan atau ketika Anda menikah? Jika tidak, lalu mengapa Anda menggunakannya ketika memimpin pujian?

Kira-kira apa yang dipikirkan Saudara yang berlainan agama dengan kita melihat mereka yang bertopi, jaket jogging, jeans dan sepatu menamakan dirinya “sedang menyembah Tuhan”, bukankah sikap kita selama ibadah (termasuk pakaian yang kita kenakan) menunjukkan tingkat penghargaan kita kepada Tuhan yang kita sembah.

Entahlah, itu hanya pendapat saya saja…

Holiday day 4: Istana dari Raja Cerdas yang Cinta Damai

Hari ini kami menggunakan Hop On Hop Off line biru sebagai sarana transportasi kami. Ada tiga line yang beroperasi siang (biru, merah dan hijau) dan line kuning khusus malam. 

Biaya menggunakan Hop On Hop Off sekitar KRW 12.000 per orang, berlaku sepanjang hari. Hop On Hop Off melewati juga beberapa hotel, sehingga tak perlu kuatir jika Anda tinggal di mana saja, Anda bisa naik City Tour Stop yang terdekat dengan hotel Anda)

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Namsangol Hanok Village, sebuah perkampungan kuno penduduk asli Korea. Jika Anda perhatikan, aksara yang digunakan adalah aksara China. Menunjukkan bahwa penduduk asli Korea satu rumpun dengan bangsa China.

Rumah-rumah yang ada di sana merupakan rumah yang sama dengan yang digunakan penduduk asli. Rumah-rumah itu dipindahkan ke tempat sekarang berdiri dengan menggunakan alat berat. Anda bisa googling untuk mengetahui apa saja fungsi tiap bagian rumah tersebut.

Tempat berikutnya adalah tiga istana raja, dimulai dari yang terkecil Changgyeonggung Palace, Changdeokgung dan yang terbesar Gyeongbokgung. Seharusnya kita membayar KRW 10.000 untuk masuk ke tiga istana tersebut, tapi kami beruntung karena Rabu terakhir setiap bulan merupakan cultural day, sehingga kita bisa masuk ke sana dengan gratis.

Oya, dalam setiap istana kita melihat lorong panjang di kiri dan kanan, rupanya mereka memisahkan antara tempat pria dan wanita.
Sebelum mengunjungi Gyeongbokgung, kami mampir dulu di Insadong, semacam jalanan yang menjual pernak pernik untuk turis, dengan gang-gang yang dipenuhi tempat makan makanan khas Korea.

Side dish (hidangan sampingan) pada makanan Korea banyak sekali, ada salad, kimchi, asinan lobak, taoge, bayam yang ditaruh di piring-piring kecil dan biasa kita bisa ambil secara cuma-cuma. Hidangan Utama biasanya memiliki porsi besar hingga kita membutuhkan piring kecil lagi untuk makan sedikit demi sedikit. 

Hal yang menarik dari rumah makan di Korea, terutama yang kecil, mereka tidak mengijinkan kita memesan jumlah porsi yang lebih sedikit dari jumlah orang. Mungkin itu kenapa bahkan wanita Korea makan banyaaaaak sekali, maksudnya mereka bisa menghabiskan makanan porsi besar yang oleh kita bisa dimakan oleh 2-3 orang.

Kembali lagi ke istana… Istana terkecil yang saya sebutkan pertama (saya tidak sanggup menuliskannya di sini) merupakan istana yang dibuat untuk ayahanda raja.

Istana kedua yang lebih besar dari istana pertama dibuat untuk keluarga raja, di sana bahkan ada ruang belajar putra mahkota raja.

Istana ketiga rupanya dulu merupakan tempat Raja bertitah, didirikan tahun 1394 dan di sana terdapat museum yang menyuguhkan budaya dan perkembangan Korea dari jaman ke jaman.

Korea merdeka tahun 1948 dari penjajahan Jepang, namun kemajuannya demikian pesat, melebihi Indonesia dan Malaysia yang merdeka lebih awal. Saya pikir mungkin karena mereka memiliki budaya kerja yang sangat baik. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan gesit (bahkan saat berjalan mereka cenderung ‘menyeruduk’ siapa saja yang ada di depannya tanpa sempat minta maaf saat mengenai orang yang diseruduk).

Saat keluar dari istana Gyeongbokgung, kami melihat ada demonstrasi di depan pusat pemerintahan Korea. Demonstrasi berjalan sangat tertib, diakhiri dengan menari bersama (semacam menari poco-poco) dan kemudian demonstran membubarkan diri dengan tertib pula.

Tak jauh daei gedung pemerintahan Korea, kita melihat ada patung besar Raja Sejong. Raja Sejong adalah Raja yang menciptakan huruf Hangeul Korea karena berpikir bahwa rakyatnya tak dapat membaca aksara mandarin.

Konon saat Raja memerintah, ada banyak bajak laut Jepang yang datang dan menjarah harta rakyat Korea. Para bajak laut itu bahkan menculik dan membawa rakyat Korea ke negaranya.

Saat dilaporkan pada Raja, beliau tidak mengumumkan peperangan, justru beliau berkata bahwa “Jepang adalah negara tetangga” dan “kita tidak berperang melawan negara tetangga”. Akhirnya, Raja memilih untuk berdiplomasi untuk membebaskan rakyatnya yang menjadi tawanan.

Raja mengirimkan kepercayaannya, seorang berani bernama Admiral Yi Sun Sgin yang datang ke Jepang untuk berdiplomasi. Keberanian dan kesetiaannya membuat Jepang mengampuni nyawanya. Beliau bolak balik ke Jepang sampai 40 kali dan berhasil membebaskan 667 warga yang ditawan

Raja Sejong dicintai dan diingat sampai sekarang karena beliau tidak membeda-bedakan rakyatnya. Pernah dia ditanya, “apakah kita akan mengorbankan satu batalyon hanya untuk membebaskan rakyat miskin?” Raja marah dan menjawab “apakah kamu akan berkata begitu jika yang ditawan adalah orang-orang terpandang?”

Karena jasanya, tangan kanan Sang Raja pun memiliki patung besarnya sendiri, dengan hiasan permainan air yang mengejutkan dan indah.

Setelah dari istana kami melakukan kunjungan singkat ke museum di bawah patung Raja Sejong yang berisi kisah Raja yang dicintai rakyatnya ini. 

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Sungai Cheonggyecheon (silahkan googling untuk mencari tahu sejarahnya). Sungai kecil ini terletak di jantung kota Seoul, memiliki air yang sangat jernih dan di tepiannya ada banyak orang yang duduk menikmati keindahannya. Dulunya, ini merupakan kawasan dengan rumah kumuh, namun kemudian dirombak menjadi kawasan seperti saat ini.

Sungai yang namanya sulit itu adalah perjalanan terakhir kami di hari itu. Kami kemudian berjalan kaki pulang ke hotel sekitar 20 menit dan beristirahat.

Besok kami akan ke Lotteworld untuk mengetahui wahana permainan indoor terbesar di dunia itu.

Holiday day 3: Negara yang ingin merdeka, film Korea dan keegoisan

Liburan hari ketiga kami dimulai dengan sarapan sekedarnya di hotel dilanjutkan dengan mengikuti city tour ke Petite France dan Nami Island. City tour kami dimulai dengan tepat waktu jam 7.50 dan dipimpin oleh seorang anak muda tampan bernama Willy yang dipanggil Wiw.

Oya, Korea adalah negara dengan 4 musim, akibatnya, di musim hampir summer seperti ini, langit masih terang sampai jam 8.30 malam. Kehidupan malam di Myeongdong berakhir pk. 1 malam dan baru dimulai pukul. 11.00 pagi. Jadi, jam 8 pagi saat kami mulai city tour, jalanan masih sepi walau langit sudah terang.

Anda bisa membeli paket city tour di Indonesia. City tour menggunakan bus yang diisi kira-kira 50 orang. 

Wiw menjelaskan singkat mengenai Petite France, tentang seorang pengusaha yang terpukau dengan keindahan Petite France di Perancis dan ingin membuat replikanya di Korea. Di dalamnya ada beberapa pertunjukkan seperti yang ada di Perancis (hanya dimainkan oleh anak-anak muda Korea), replika mini Menara Eiffel, Tunnel of love, dan masih banyak lagu. Jika tertarik, Anda bisa googling sendiri mengenai tempat ini.

Petite France di Korea digunakan untuk shooting film “You Who Came from the Stars”. Bahkan ada satu ruangan yanh memang didedikasikan untuk film itu. Karena saya tidak menonton film Korea, saya tidak tahu mengenai spot-spot yang ada dalam film. Pesan saya, jika lain kali Anda ingin ke Korea, nontonlah film-film Korea dulu.

Oya, perjalanan ke Petite France dari Myeongdong menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, selanjutnya dari Petite France ke Nami Island menghabiskan waktu sekitar 25 menit.

Nami Island adalah sebuah pulang di tengah danau. Anda juga bisa mencarinya di google mengenai sejarahnya, tentang seorang jendral bernama Nami yang dibuang ke pulau ini.

Tahun 2005, Naminara Island menyatakan diri merdeka, bahkan mereka memiliki bendera sendiri, tapi tentu saja Negara tidak peduli (hihihi). Untuk masuk ke Naminara, kita menggunakan Verry yang berangkat 15 menit sekali, dan membutuhkan waktu 5 menit untuk menyeberang.

Dari ujung ke ujung, dengan jalan cepat P. Nami dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Pulau Nami sebenarnya akan terlihat indah di awal musim gugur, ketika daun-daun berubah menjadi merah.

Seperti juga Petite France yang digunakan untuk shooting film, Pulau Nami digunakan untuk shooting film Winter Sonata, yang sekali lagi, saya tidak tahu.

Kami diberi waktu 4 jam di Nami, termasuk waktu untuk makan siang. Jam 3.20 kami kembali ke Myeongdong. Karena jalanan cukup padat, kami baru tiba di hotel sekitar jam 5 sore.

Setelah istirahat di hotel sekitar sejam, kami naik bus menuju ke Sungai Han. Menurut kabar, setiap jam 8 malam ada pertunjungan air mancur yang keluar dari sisi jembatan. Kami kurang beruntung karena langit masih terang sehingga warna warni lampu yang menyorot ke air tidak terlalu tampak.

Sepulang dari Han River, saya dan Papa saya bicara mengenai keegoisan. Saat kami berangkat dengan bus ke Han River, seluruh tempat duduk penuh dengan anak muda usia kuliah yang duduk santai. Mereka tidak peduli dengan masuknya Mama saya, wanita berusia 65 tahunan yang berwajah lelah, tak ada yang memberi tempat duduknya. Ini berbeda sekali dengan di Thailand, di mana anak-anak mudq ‘berlomba dalam melakukan perbuatan baik’, mereka seolah siap memberi tempat duduk bagi siapa saja, bahkan anak kecil yang baru pulang sekolah. Kalau Indonesia? Jangan ditanya deh…

Hal yang saya bahas dengan Papa saya adalah, apa yang membuat perbedaan budaya ini. Korea negara maju, Thailand tak semaju Korea, tapi kenapa rakyatnya begitu murah hati?

Korea negara mayoritas Kristen, dan Thailand mayoritas muda, tapi kenapa rakyat Thailand lebih mempraktekan perintah “berlomba dalam melakukan perbuatan baik”.

Korea Selatan negara republik, Thailand negara kerajaan, dan mereka tahu bagaimana melayani sesama.

Apakah teknologi, atau agama atau budaya negara yang menyebabkan perbedaan perilaku ini?

Dari sudut teknologi, kita tidak melihat banyak yang berbeda, jaman sekarant siapapun kemana-mana menggunakan gadget. 

Kemudian Papa dan saya membahas tentang sudut pandang agama. Memang benar, dalam agama Kristen bapak Pendeta yang berkotbah terlalu gereja-sentris. Seolah semua kotbah bertujuan agar jemaat mau memberi waktu, tenaga, perhatian, untuk gereja semata-mata. Atau bisa saja mereka menyalahartikan ayat “berbuat baik, terutama pada saudara seiman” dengan “berbuat baik di gereja saja”.

Saya tidak mau membahas agama lain yang tidak relevan. Kedua negara memiliki dua agama, Kristen dan Buddha. Jika memang agama adalah faktor penyebab, saya rasa bapak pendeta harus meninjau ulang topik kotbahnya di gereja. Memberikan contoh konkret bagaimana jadi garam dan terang dunia.

Mungkin juga budaya keluarga penyebabnya, tapi budaya keluarga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan nilai-nilai masyarakat. Mengapa bisa ada perbedaan seperti ini? 

Kemudian kami mempertimbangkan kemungkinan latar belakang nenek moyang. Nenek moyang Korea Selatan adalah China (Ras Mongol) yang mengajar tentang “dahulukan diri sendiri atau keluarga dibanding orang lain”, tapi Thailand pun sama-sama berasal dari raa Mongol. Jadi apa yang membedakan budaya ini?

Akhirnya kami berkesimpulan, agama merupakan faktor utama yang sangat menentukan sikap hidup bermasyarakat.

Setelah dari Sungai Han, kami makan malam di dekat hotel. Sedikit dikerjai oleh restoran kecil tempat kami makan sehingga kami memesan dua ekor ayam ginseng untuk masing-masing Papa dan Mama, padahal tadinya kami mau pesan satu ayam ginseng untuk beramai-ramai, tapi menurut waiter yang sudah berumur kami harus memesan 4 porsi (sejumlah orang yang makan). Ketika saya mengatakan bahwa “She doesn’t want to eat” sambil menunjuk Yovi, barulah kami diijinkan pesan 3 porsi saja. Tiga porsi itu demikian besar hingga kami harus pulang kekenyangan.

Tarif makan di Korea terbilang sangat mahal. Sekali makan, satu orang minimal menghabiskan KRW 10.000 atau sekitar Rp. 120.000.

Hari ini kami akhiri dengan mandi air hangat, besok kami akan city tour dan mengunjungi beberapa istana di Seoul.

Holiday day 2: Negara si cantik yang memiliki sistem luar biasa

Hari kedua kami diawali dengan pendaratan mulus di Korea yang gerimis. Setelah melewati imigrasi, kami mengantri untuk mendapatkan pocket wi fi dari Shinsegae Duty Free yang kami sewa dan selesaikan pembayarannya di Indonesia (satu pocket wifi untuk 3 devices, harga sewanya KRW 4.000/hari atau sekitar 48.000/hari). Anda bisa mencari dan memesannya lewat internet.

Satu pocket terdiri dari mifi, charger dan powerbank.

Hal yang mengagumkan adalah mereka melayani customer dengan super cepat, seolah mereka adalah robot. Mereka sepertinya memiliki sistem (termasuk sistem appraisal) yang baik sehingga apaun yang mereka lakukan sistematis dan efisien sekali.

Rupanya inilah syarat pertama negara maju (juga perusahaan yang mau maju), yaitu miliki sistem yang baik hingga seluruh manusia yang ada di bawahnya tunduk pada sistem yang berlaku dan semua  customer percaya bahwa mereka dilayani dengan adil, sistematis dan efisien.

Hal kedua yang saa pelajari begitu tiba di negara ginseng ini adalah seluruh petugas tidak bisa melihat “ketidaksesuaian” dan mereka langsung bertindak menyelesaikannya. Antrian sedikit saja mengular, dibuka pintu “darurat” baru sehingga masalah langsung terselesaikan.

Dua hal positif tersebut mengawali ketibaan saya di Korea (padahal tadi pagi saya baru membahas dengan Papa saya bahwa bahasa Indonesia ketibaan adalah kedatangan).

Setelah menyelesaikan urusan pocket wi fi, kami membeli t-money (kartu ‘ajaib’ untuk membayar transportasi) dan kemudian menunggu shuttle dari hotel tempat kami menginap. 

Hak positif ketiga yang harus dimiliki siapa saja yang ingin maju adalah masalah ketepatan waktu. Di jadwal keberangkatan shuttle car tertera pk. 9.35 dan mobil datang pukul 9.30 sehingga kami dapat berangkat tepat pk. 9.35. Entah bagaimana mereka mengaturnya, mobil itu selalu tepat tiba di tiap perhentian.

Saya menginap di Skypark 1 Myengdeong. Hotel yang sangat strategis untuk berjalan-jalan karena Myeongdong adalah pusat belanja (kosmetik) dan Korean street food. Sepanjang jalan kita hanya melihat toko kosmetik dan beberapa pedagang yang membagikan sampel secara cuma-cuma jika kita mau masuk ke dalam toko mereka… persaingan yang luar viasa

Setelah menaruh barang dan jalan-jalan sebentar di sekitar hotel (dan ‘dipaksa’ membeli beberapa kosmetik), pk. 14.00 kami menuju Namsan Seoul Tower (silahkan lihat instagram @greissia) untuk lebih jelasnya.

Sebenarnya ada banyak yang bisa dikunjungi di sana, seperti puncak tower, Hello Kitty World dan banyak tempat lain. Tapi jika kau pergi dengan keluargamu, kau tak bisa pergi ke tempat yang kau mau, pertimbangan mereka harus diperhitungkan juga.

Setelah makan siang yang terlambat di sana, kami pun memutuskan pulang dalam kondisi hujan yang cukup rapat 

Dari sana kami berjalan-jalan di sekitar hotel untuk melihat jajanan street food. Saya membeli satu jenis makanan yang hanya saya makan setengahnya karena saya curiga itu adalah torpedo, menjijikkan…

Setelah itu, saya tidak terlalu selera makan (siangnya saya sudah beli topokki, makanan khas Korea yang terkenal). Makanan di sana berkisar antara KRW 20-30 (IDR 24.000 – 36.000).

Tidak ada yang istimewa di sisa hari itu, kami kemudian pulang dan tidur kan belum mendapat tidur yang berkualitas semalam…

Besok kami akan mengikuti tour ke Nami Island dan Petite France… katanya sih itu lokasi yang terkenal karena dijadikan lokasi pembuatan film drama Korea, yang saya tidak ketahui karena saya tidak pernah menonton drama Korea.

Jadi lain kali Anda mau ke sini, pastikan sudah menonton satu saja seri Korea…