Negara dengan toleransi kebiadaban


Saya sedang menunggu mobil saya di cuci sambil sarapan kesiangan di sebuah kedai, ketika seorang ibu menerobos masuk ke kedai itu dengan logat kental “hei, aku beli soto ayam, tapi kuahnya yang banyak dan ayamnya tolong kau potong dadu kecil-kecil”. Sambil bicara begitu dia ngeloyor masuk ke dapur kedai tersebut.

“Mana coba, kulihat ayam kau seperti apa rupanya”. Pegawai kedai menurut saja, tidak protes ketika area paling privat kedai tersebut diinvasi mahluk asing bernama customer rese.

“Oh, seperti itu ayam kau, coba kau potonglah kecil2 macam dadu. Bisa kau potong? Coba potong… Nah iya begitu, setelah itu kasih kuah yang banyak. Anakku ga mau makan, biar kasih kuah saja yang banyak supaya langsung telan, iya kan yah, benar tidak?”

Dipecundangi seperti itu oleh konsumen yang adalah raja, pegawai kedai langsung merasa dirinya inferior dibanding ibu ini.

Itulah masalah bangsa ini, mudah sekali kita diperlakukan seperti bawahan oleh orang-orang yang tidak mengenal sopan santun. Cobalah berkendara di jalan raya kota ini, walau kita ikut aturan, ada saja orang-orang biadab (biadab itu lawan kata beradab, artinya tidak tahu aturan dalam bermasyarakat) yang seenaknya saja melanggar aturan.

Anda berada di jalur yang benar saat angkot seenaknya memotong jalan Anda dari kanan kemudian banting setir ke kiri saat akan mengangkut penumpang. Anda kemudian kaget dan berteriak “Heeeey”. Apa yang terjadi, supir angkot biadab itu akan balik menantang Anda sambil berkata “naon siah anjing”, dan kita pun menjadi inferior dibuatnya.

Itulah mengapa di negara ini terkenal jargon “sing waras ngalah”, karena jumlah orang waras minoritas dibanding orang tak waras. Apa jadinya jika orang waras tak mengalah, bisa dilumat habis oleh orang tak waras nanti…

Advertisements