Manusia atau sponsor


Kemarin saya dan anak asuh saya menonton acara lelang pakaian olahraga dari atlit Asian Games yang hasilnya akan disumbangkan untuk korban gempa di NTB. Tak hanya pakaian olahraga, raket, gitar Pak Mentri Hanif sampai jaket Ibu Mentri Puan pun ikut dilelang.

Lelang rata-rata dimulai dari 100 hingga 150 juta. Perwakilan dari perusahaan-perusahaan besar yang diundang duduk rapi di bagian depan studio seolah mereka adalah pengusaha yang siap mengeluarkan uang berapapun.

Mahasiswa dan para penonton lain duduk di bagian belakang dari studio, menonton perwakilan perusahaan besar yang menawar barang-barang yang dilelang. Sebuah raket seharga 150 juta, sehelai baju seharga 100 juta, dan seterusnya.

Setiap kali seorang memutuskan membeli barang-barang lelang, yang bersangkutan akan disebutkan namanya dan nama perusahaannya (Perwakilan dari….), diminta ke depan kemudian menyampaikan sepatah dua patah kata.

DI tengah-tengah acara, entah ini setting atau sungguhan, tiba-tiba ada inisiatif dari mahasiswa yang terlihat seperti main-main saja, mengumpulkan uang dari teman-teman mereka dan mengatakan akan menyumbangkannya.

Main-main ini lama-lama jadi sungguhan. Mulai dari kelompok mahasiswa mengumpulkan total uang 80 ribuan, kelompok mahasiswa yang lain mengumpulkan 150 ribuan, hingga ada yang 500 ribuan. Ada yang menyumbang 50 ribu, 150 ribu hingga 300 ribu,

Di tengah-tengah menonton saya berkata pada anak asuh saya, “Feb, kalau menurut Tuhan Yesus, mahasiswa yang memberi 50 ribu atau 150 ribu itu memberi lebih banyak daripada para pengusaha yang mengeluarkan uang 150 juta.”

Febi melihat saya dengan pandangan heran dan bertanya, “kenapa?”

“Pernah satu kali ada perempuan yang memberikan dua duit di Bait Suci, sementara banyak orang kaya memberi jauh lebih banyak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa ibu itu memberi lebih banyak, karena dia memberi semua uangnya.”

“Anak-anak mahasiswa itu mungkin hanya memiliki uang sedikit. Seratus ribu mungkin 20 persen dari uangnya, atau 10 persen. Tapi Bapak-bapak itu perwakilan dari perusahaan yang berpenghasilan miliaran sebulan. Seratus juta hanya kurang dari 1 persen bagi mereka”

“Belum lagi, nama dari perusahaan yang diwakili bapak-bapak itu disebutkan keras-keras dan kadang ditampilkan di layar LED, mahasiswa yang memberi tidak disebutkan namanya. Dari kekurangannya mereka memberi dan bahkan namanya tidak disebutkan. Ada seorang ibu yang hanya disebutkan sebagai seorang ibu memberikan 500 ribu rupiah”

Ketika kita memberi tanpa dikenal, ketika tangan kiri kita memberi tanpa sepengetahuan tangan kanan, ada hormon endorfin yang keluar dari otak kita dan itu membuat kita bahagia, membuat kita merasa menjadi manusia yang sesungguhnya.

Tanpa mengecilkan pemberian dari para pengusaha itu… Ketika kita memberi dan nama kita dipasang besar-besar di layar atau nama kita disebutkan di TV nasional,…….. itu namanya biaya promosi….

Advertisements