Membodohi Domba


Dari sekian banyak hewan yang dapat dipilih, Yesus memilih domba untuk menggambarkan umat-Nya, hewan bodoh yang gemar berkelahi dan sama sekali tidak mandiri.

Disukai atau tidak, pada akhirnya memang beginilah kita, domba-domba bodoh yang mudah disesatkan jika memiliki gembala yang tidak cakap.

Saat mendengar kotbah di salah satu gereja hari ini saya mengalami terkejut berkali-kali yang membuat saya berpikir, “domba-domba bodoh termangu-mangu dan mudah mengikuti siapa saja yang ada di depan… Kapankah domba akan menjadi pintar? Atau memang domba tidak ditakdirkan untuk pintar?”

Keterkejutan pertama saya adalah ketika pengkotbah mengaku bahwa dia adalah salah satu petinggi MNC… Saya tidak memiliki masalah pribadi dengan perusahaan yang pemimpinnya menjadi bunglon di dunia politik ini… Hanya saja cukup terkejut ketika gereja, saking banyaknya cabang, memutuskan untuk meminta siapapun berkotbah, memberi makan domba-domba yang hanya bisa termangu-mangu..

Baiklah, tak apa jika seorang sekuler bisa berkotbah,… Toh banyak yang begitu… Hal kedua yang mengejutkan saya adalah ketika beliau memberikan definisi visi orang Kristen, yang adalah cita-cita hidup semacam “mau jadi apa setelah kuliah nanti” dan berkali-kali mendefinisikan visi secara dangkal.

Saya pernah dikritik salah seorang hamba Tuhan ketika dalam rangkaian tulisan saya, saya menuliskan bahwa setiap orang memiliki visi yang berbeda dalam hidupnya. Menurut Hamba Tuhan tsb, yang saya setujui dan akhirnya saya kotbahkan pada anak-anak tiap kali saya diminta, visi orang Kristen adalah ‘menjadi serupa seperti Kristus’ (Roma 8:29).

Menjadi dokter, insinyur, dan lain-lain hanyalah ladang tempat kita mempraktekan misi yang Tuhan tetapkan untuk kita emban dan lakukan sebaik-baiknya (menjadi terang dunia).

Keterkejutan ketiga adalah ketika beliau berkata, untuk mencapai visi itu kita harus menabur, dan walaupun beliau membahas kisah penabur… Yang ditekankan dari contoh yang beliau alami mengenai menabur adalah “berbuat baik (menabur) agar suatu saat orang yang kita berikan perbuatan baik akhirnya akan membalas dan kita menuai dengan sukacita”. Sesungguhnya beliau sedang memberikan definisi menabur para pengusaha, yaitu “investasi dengan bunga tinggi”.

Keterkejutan berikutnya, dan yang paling besar adalah yang saya tuliskan di status tadi pagi, ketika beliau mengatakan ‘kesalahan pertama Adam adalah tidak memelihara Taman Eden sehingga ular bisa berkeliaran di dalamnya’. Saya paham maksudnya, bahwa sebagai orang Kristen, jangan biarkan iblis menguasai hati kita… Tapi contohnya sama sekali tidak relevan…

Ingin sekali saya menjelaskan pada bapak pdm berusia 50-60 tahunan itu (pendeta muda, entah mengapa mudah sekali memberi gelar pdm untuk melegitimasi seseorang agar bisa berkotbah) itu bahwa saat itu ular bukanlah hama yang merusak hasil ladang seperti jaman sekarang. Ingin sekali memberitahu bahwa saat itu…” Tapi, ah sudahlah…toh pada akhirnya hanya saya yang dianggap sok sokan, domba kurang ajar yang tidak pernah puas…

Ya, mungkin saya hanya domba yang kurang ajar… Yang sedang melihat domba-domba lain termangu-mangu… Toh pada akhirnya saya hanya akan bingung sendiri,… Lho kok hanya saya yang terlihat gelisah dan merasa ‘ada yang salah’… Mbeeeeekkkkkk

Advertisements