Tentang Kebingungan Bahasa Roh


Untuk kalangan sendiri

Saat mengikuti pelajaran Alkitab dua puluh tahunan yang lalu, sebagai seorang remaja saya bertanya kepada pembimbing rohani di gereja kala itu, “bagaimana kita tahu kalau Bahasa Roh yang kita ucapkan adalah benar-benar bahasa Roh, dan bukannya sesuatu yang kita hafalkan dan ucapkan berulang-ulang… Atau sesuatu yang kita tiru dari orang lain dan kemudian kita ucapkan berulang-ulang”.

Saat itu terlihat rona terkejut di wajah pembimbing saya. Saya memang seorang remaja yang terlalu banyak berpikir. Dia kemudian menjawab “nanti kamu akan tahu sendiri”.

Belum puas dengan jawaban itu, saya bertanya lagi “ya, tapi bagaimana jika kita yakin itu bahasa Roh dari Tuhan padahal sebenarnya kita hanya terpengaruh dengan apa yang kita dengar dari orang lain. Atau bagaimana kita tahu bahwa itu bukan karangan kita saja”

Masih bingung, kali ini sambil gelagapan, tidak mengharapkan diberi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu, pembimbing saya akhirnya menjawab “ya, dengan iman”, dan walau tidak puas dengan jawaban itu, sayapun tidak bertanya lebih jauh lagi.

Ketika mengalami baptisan Roh Kudus beberapa bulan berikutnya, saya sedikit mengerti mengenai bahasa Roh ini. Tapi saya tetap berpikir bahwa Bahasa Roh seharusnya bukanlah sesuatu yang dihafalkan kemudian diucapkan berulang-ulang, atau sesuatu yang ditiru dari orang lain, seperti Worship Leader yang selalu mengucapkan sirabababababa setiap kali bertugas…

Pertanyaan itu kembali saya ingat ketika ibadah pagi ini,… Saat pemimpin pujian, sekelompok anak muda berjas dan berdasi kupu-kupu ala waiters hotel, mengucapkan sirapapapapapa rapapapapa sambil berkali-kali melihat jam, mengambil minum, menusukkan sedotan, melirik sana sini…

Ya, saya memang membuka mata saya… Sebenarnya masalahnya sederhana,… Telinga saya mudah terganggu… Suatu hal yang menyebalkan… Saya reflek membuka mata saat pemimpin pujian itu menaikkan nada yang sumbang…

Saya tahu, saya pernah mengatakan Tuhan tidak mempermasalahkan nada yang sumbang… Dan memang Ia tidak akan mempermasalahkannya, saya pun tidak… Hanya saja nada yang sumbang itu membuat saya membuka mata dan melihat yang bersangkutan sedang melakukan ini itu sambil terus rapapapapapa…

Keraguan itu kembali muncul di hati saya, seperti dua puluh tahun yang lalu… “bagaimana kita tahu bahwa iman mengenai bahasa Roh adalah benar-benar iman”.

Bahkan anak kecil yang belum mengerti pun bisa berkata rapapapapapa.

Ah, membingungkan bukan?

Advertisements