Membayar Pajak dan Membayar Tuhan


Kemarin tanggal 15. Setiap wajib pajak dan warga negara yang memiliki penghasilan diharuskan menyelesaikan pembayaran pajak penghasilan kepada negara (antara diharuskan atau kesadaran pribadi sih).

Dalam proses tersebut, saya tiba-tiba terpikir, “negara meminta 1 persen dari penghasilan kotor, dan gereja meminta 10 persen… yang benar saja!”

Sama seperti negara yang sering beriklan membayar pajak, kita seringkali mendengar iklan pendeta tiap minggu keempat mengenai “pentingnya membayar perpuluhan untuk ‘memperlancar’ berkat Tuhan” (baiklah, tidak segamblang ini, tapi intinya biasanya begitu)

Pikiran saya kemudian melayang lagi ke kasus gereja di Surabaya yang maha terkenal itu. Ketika suatu “kerajaan sinode” diperebutkan oleh anak pendeta besar yang hobi mengoleksi mobil mewah. Pertanyaannya, apakah orang yang mengaku hamba Tuhan ini membayar pajak kepada negara?

Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Saya bisa memahami sebagian orang akan berkata “jangan jadi provokatif” atau “yang seperti ini jangan dibahas di Facebook”. Saya tidak peduli… Apakah Anda, Hamba Tuhan, membayar pajak penghasilan kepada negara? Apakah Anda, pengelola gereja membayar pajak kepada negara?

Apakah Anda berkontribusi kepada kemajuan negara ini di luar dari sogokan-sogokan yang Anda berikan agar gereja Anda “aman”?

Saya suka sekali cerita ketika Yesus berkata “Berikan kepada kaisar apa yang harus kau berikan padanya” dengan kata lain “berilah pada negaramu apa yang harus kau berikan”. Sekarang, Apakah gereja membayar pajak kepada negara?

Gereja memiliki penghasilan luar biasa. Jika “iklan” Hamba Tuhan mengenai perpuluhan berhasil, maka ada ratusan juta, bahkan miliaran setiap bulannya yang diterima hanya dari perpuluhan. Lalu, apakah dari perpuluhan itu ada yang diberikan kepada negara?

Ketika Yesus mengatakan soal “berikan pada Tuhan apa yang harus kau berikan padanya” banyak orang mengaitkannya dengan memberi uang untuk Tuhan (yang biasanya dikaitkan dengan perpuluhan) karena saat itu mereka sedang membahas membayar pajak kepada Kaisar.

Namun hal yang lucu adalah, ketika orang Farisi bertanya soal “haruskah membayar pajak pada kaisar?” Yesus menyuruhnya membawa uang (dinar) kepada-Nya. “Gambar dan tulisan siapakah ini?” dan tebak.. gambar dan tulisan siapa di uang itu? Benar sekali!! KAISAR! (Markus 12 :13-17), bukan gambar dan tulisan Tuhan, bukan gambar dan tulisan imam…

Jadi, dalam pemikiran saya, ketika Yesus membahas “berikan pada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan”, Dia tidak sedang bicara tentang uang… Dalam bagian selanjutnya kita menemukan jawaban apa yang harus kita berikan kepada Tuhan “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan kekuatanmu”.

Saya tidak sedang memprovokasi dengan mengatakan “tidak perlu membayar perpuluhan kepada gereja”, toh organisasi sebesar itu memiliki biaya overhead yang besar (belum lagi gereja besar dengan banyak lighting, sound system, lantai marmer, lift, eskalator yang tentunya akan memakan biaya sangat tinggi…jika tidak dari perpuluhan, dari mana lagi… iya kan?).

Saya hanya mengajak sebagai orang Kristen kita tidak bersikap terlalu ekslusif. Tugas kita adalah menjadi terang dunia. Jangan berpikir bahwa dengan memberi “banyak uang” untuk gereja artinya Anda sudah “membayar Tuhan” untuk melakukan apa yang Anda mau… prosedurnya tidak seperti itu.

Saya hanya mengajak kita semua berpikiran terbuka. Tuhan tidak perlu dibayar dengan uang kita, tapi dengan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, “lalu mengapa seringkali kita diminta memberi uang untuk gereja”. Hmmm… Mungkin, selain karena gereja butuh biaya dan Hamba Tuhan perlu hidup, terkadang Tuhan ingin kita mengutamakan Tuhan dibanding berkatnya. Memberi uang yang seringkali menjadi “sesuatu-yang-sangat-kita-cintai” menunjukkan bahwa bagi kita, Tuhan lebih penting daripada berkat-Nya.

Bukan gereja yang membutuhkan uang,…tapi Tuhan perlu bukti bahwa bagi kita, Dia lebih penting daripada berkat-Nya…

Ah, semoga tulisan ini mudah dimengerti dan tidak disalahartikan…

Advertisements