Antara Kampanye dan Karakter


Tadi pagi saya ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi saya (Percayalah, Anda perlu rutin membersihkan karang gigi Anda, for your own good). Saya memarkirkan mobil saya di seberang klinik dokter gigi di Jl. Jend. Sudirman Bandung.

Setelah saya selesai, saat akan masuk ke mobil dan mencari kunci mobil di dalam tas (yang merupakan ritual yang menyebalkan), tukang parkir menghampiri saya dan berkata, “Neng, kalau punya kartu mah, semodel e-money bisa bayar sendiri di mesin parkir itu tuh“.

“Sebentar atuh Pak, sepertinya sih ada” dan saya yang sudah mendapatkan kunci mobil dengan susah payah dari dalam tas kembali melakukan pencarian dompet dengan susah payah dari dalam tas (padahal tas saya tidak terlalu besar, tapi sulit sekali mencari dan mengeluarkan barang dari dalamnya).

“Pak, pakai ini bisa ya” tanya saya setelah akhirnya berhasil mengeluarkan kartu belanja indomaret (E-Money dari Bank M*ndiri) dari dalam dompet.

“Bisa neng, sini geura ku saya diajarin cara pake mesinnya”, dan kami pun kemudian beriringan menghampiri mesin parkir merah yang ada di dekat situ.

“Sok neng, taro kartunya di situ”, saya menuruti instruksinya

“Terus pencet ini nih neng, pilih mobil… sok masukin nomor polisinya. Sok mau diliat dulu nomornya”

“Udah pak, terus gimana?

“Terus berapa jam? satu jam? sok pencet ku Neng”

Setelah selesai prosesnya dan mesin mengeluarkan struk parkir senilai Rp.3000, saya mengatakan”wah, hebat Pak”. Sebenarnya maksud saya adalah memuji si Tukang Parkir yang bersedia mengajarkan dan merelakan Rp.3000 langsung masuk ke rekening Kota Bandung.

“Yeuh, ieu teh programna Pak Wali Neng, Ridwan Kamil yeuh. Komo deui mun jadi gubernur pan? Alus Kang Ridwan mah”

Saya hanya nyengir, kemudian setelah berterimakasih sekali lagi, meninggalkan tempat itu.

Nilai lebih Kang Ridwan Kamil dalam mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat adalah, dia memiliki kesempatan rekam jejaknya dinilai di Bandung. Orang bisa melihat hasil kerjanya di Bandung sebagaimana orang melihat hasil kerja Ahok di Jakarta. Saya tidak dapat membandingkan keduanya karena nantinya tidak akan apple to apple.

Saya jadi ingat kata-kata yang sering saya sampaikan kepada murid-murid saya mengenai etika:

Walaupun Tuhan hanya melihat hati, tapi bagaimana pun manusia melihat apa yang di depan mata. Kamu tidak bisa berpenampilan seenaknya kemudian ingin dihargai orang. Kamu tidak bisa berkata ‘biarlah orang bilang apa, yang penting Tuhan melihat hati’

Dalam hal tanggung jawab, apa yang kau perbuat menunjukkan bagaimana orang menilaimu. Mungkin Tuhan menilai hatimu baik dan bisa menolerir kecerobohanmu… Tapi manusia yang tidak bisa menilai hatimu hanya menilai kecerobohanmu.

Pejabat publik biasanya hanya menunjukkan tanggungjawabnya pada hari-hari menjelang pemilihan. Pejabat yang bertanggungjawab menunjukkan etos kerjanya selama lima tahun masa jabatannya. Persetan jika kau melakukan itu untuk pencitraan, ketika kau melakukan apa yang benar terus menerus, maka orang akan melihat bahwa karaktermu memang seperti itu.

Saya kagum dengan tukang parkir yang tadi, melebihi kekaguman saya pada Pak Ridwan Kamil si pemilik program. Ketika sebelum pergi saya memujinya sekali lagi, “Terimakasih ya Pak sudah dijelaskan…” sambil mengacungkan jempol. Dengan rendah hati bapak itu bilang “Ah neng, da baru dapet penyuluhan, memang sudah seharusnya begitu. Semua petugas juga begitu”

Saya tidak tahu bagaimana hati si Bapak Tukang Parkir… Saya hanya tahu dia adalah orang yang menjalankan tanggungjawabnya dengan baik hari ini.

 

Advertisements