Manusia yang Berbudaya


PERHATIAN: TULISAN INI CUKUP BERAT, DAPAT MENIMBULKAN KEPALA PUSING DAN MATA BERKUNANG-KUNANG.

Menanggapi tulisan saya kemarin, seorang teman berkata “lama-lama gereja akan melarang orang berkoteka untuk masuk ke gereja”. Menurut saya, ini adalah suatu pembahasan yang sangat menarik. Saya tidak akan berpendapat apapun soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki ruangan ibadah yang besar dan nyaman di mall di sebuah kota yang jelas-jelas menjual kaos dan celana dengan harga kurang dari 100.000 saja?” Saya juga tidak akan berpendapat soal “bolehkah seorang mengenakan koteka memasuki gedung gereja dengan menara tinggi dan liturgi yang sangat teratur di mana ada banyak saudara yang bisa meminjamkan kemeja dan celana saat yang bersangkutan menginjakkan kakinya di Pulau Jawa (dengan mengenakan koteka turun dari pesawat).

Tidak sekedar menanggapi pernyataan di atas, saya memang berencana membahas topik mengenai “budaya” ketika pagi tadi saya mengunjungi Apotek Papa saya. Ada banyak orang mengantri membeli obat dengan resep di tangan, sementara Papa saya melayani seorang diri dari Pk. 09.00. Ke mana asisten apoteker? Datang terlambat!! Seperti biasanya! Ada sanksi untuk itu? Tidak, karena memang ketepatan waktu belum dibiasakan di sana.

Tanpa bermaksud membandingkan (maaf Pap), saya dan adik saya baru membuka Apotek yang baru (Sekalian Promosi: Gravita Farma, Jl. Mekar Laksana 11 G, ayo yang mau sehat silahkan mampir). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, memulai sesuatu yang baru itu menyenangkan.. Kita bisa memulai BUDAYA baru di tempat yang baru. Di apotek yang baru, ketika wawancara asisten apoteker, saya menekankan pentingnya tepat waktu dan bagaimana mereka akan mendapat sanksi ketika mereka datang terlambat. Nilai-nilai di bangun di suatu tempat, membentuk budaya tempat tersebut.

Sejak SD kita sering mendengar bahwa “Manusia adalah mahluk yang berbudaya” kemudian kita membayangkan budaya sebagai baju-baju adat yang berbeda-beda seperti yang dikenakan anak-anak TK saat hari Kartini. Pengertian BUDAYA tidak sedangkal itu. Budaya didefinisikan sebagai perilaku dan norma-norma sosial yang ada di suatu masyarakat, dengan bahasa sederhana saya mendefinisikan budaya sebagai “kebiasaan suatu daerah / tempat”.Anda lihat jalan raya di Kota Bandung yang kacau? Ya, karena kita belum membiasakan diri untuk teratur.

Nah, terkadang, untuk membentuk kebiasaan ini, harus ada aturan yang ditetapkan dalam masyarakat agar setiap perilaku bisa menjadi norma dan kebiasaan sehingga akhirnya dapat dikatakan bahwa itu adalah budaya suatu tempat.

Jika Anda piknik cukup jauh dan melihat budaya negara tetangga, Anda akan melihat bahwa terkadang, perlu usaha cukup keras agar suatu hal baik dapat dijadikan budaya (lihat saja Singapura yang menerapkan denda di mana-mana atau hukuman sosial di Jepang ketika ada yang melanggar budaya).

Kembali ke soal gereja… Setiap gereja memiliki budayanya sendiri. Ada gereja yang mewajibkan pelayan mimbarnya mengenakan jas atau setidaknya berpenampilan rapi di mimbar. Lalu, di sebagian gereja budaya ini bergeser (terutama jika gembala Anda mengidap penyakit jiwa sejenis Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang tergila-gila pada keteraturan secara berlebihan) menjadi kesempurnaan dalam berpenampilan. Anda akan disalahkan (bahkan dipecat sebagai pelayan mimbar) jika pakaian Anda terlalu besar, atau kurang modis. Anda bahkan akan dipermalukan ketika tidak mengenakan high heels atau rambut Anda kurang “tinggi”.

Kemuakan terhadap budaya yang berlebihan biasa akan membawa sebagian orang “membantingnya” secara berlebihan, membawanya ke kutub lain yang berlawanan. Jadilah gereja yang pelayan mimbarnya berpakaian sembarangan, seperti pemimpin pujian yang mengenakan celana pendek dan sepatu boot tinggi, atau justru jeans belel, sweater dan topi.

Kemudian kubu yang “netralnya ekstrim” beranggapan, tidak perlulah membahas hal-hal teknis seperti pakaian dan pernak-pernik tak berarti lainnya, lalu muncullah pertanyaan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan ini.

Lalu muncul pertanyaan, mana yang benar?

Mungkin saya tidak kompeten menjawab mana yang benar karena toh tiap kubu akan memiliki sanggahannya sendiri. Kubu ekstrim pertama akan mengatakan “Kita perlu memberi yang TERBAIK (dengan huruf kapital) untuk Tuhan”. Sementara kubu ekstrim kedua akan menjawab “Tuhan tidak melihat penampilan, Dia melihat hati”. Terakhir ekstrimis netral akan menjawab “gitu aja kok diributin”.

Untuk menanggapi (bukan menjawab) pertanyaan itu, sekaligus menutup tulisan ini, saya hanya mau mengingatkan kita satu hal: Tuhan membutuhkan penyembahan dan penghormatan dari umat-Nya, untuk itu dia membangun BUDAYA di kalangan orang Lewi di Perjanjian Lama. Budaya itu dituliskan dalam kitab Imamat, seperti petunjuk soal pakaian, atribut dan apa saja yang harus dilakukan Imam saat memasuki Kemah Suci.

Bukankah Tuhan tidak berubah? Jika Dia sedikit “longgar” pada kita hari-hari ini, tidak berarti Dia mengubah keinginan-Nya untuk menerima hormat dari umat-Nya. Budaya menaruh hormat pada Tuhan merupakan suatu yang harus dibangun. Karena…bagaimana orang di luar sana melihat penghormatan kita pada Tuhan? Sesederhana pakaian yang kita kenakan saat beribadah di gedung itu dan sikap kita saat beribadah (Walaupun tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu)

Lalu bagaimana soal ke gereja mengenakan koteka? Silahkan Anda menjawabnya sendiri…

 

Advertisements