Antara Rundown dan Liturgi


Pagi tadi saya mencoba beribadah di gereja Injili yang memiliki liturgi gerejawi yang benar-benar teratur, mulai dari paduan suara, doa pembuka, pembacaan kitab, pujian, pengakuan iman rasuli, kotbah, dan seterusnya. Sebuah ibadah di mana jemaan duduk dan berdiri diatur dalam sebuah tulisan.

Terus terang, baru pertama kali ini saya ibadah minggu di jenis gereja seperti ini. Gereja yang menjunjung “ibadah dengan akal sehat” dibanding “ibadah dengan emosional”. Bagi saya yang besar di gereja Pantekosta dan bertumbuh di gereja Karismatik, ini adalah sesuatu yang berbeda.

Ibadah ini masih menamakan pola ibadah (susunan ibadah) mereka dengan “liturgi”.

Sorenya, seorang sahabat mengajak saya beribadah di gereja karismatik modern yang singkatannya dieja dalam bahasa Inggris. Sebuah ibadah modern dengan lampu warna warni, pemimpin pujian berpakaian gaya anak muda (topi, jaket dan jeans) yang berjingkrak jingkrak sepanjang acara. 

Ibadah jenis ini menggunakan rundown sebagai  panduan acara mereka, lengkap dengan para crew yang menggunakan headphone dan berjalan hilir mudik merasa dirinya seperti bagian penting dari suatu acara hiburan kelas dunia. 

Sepulang dari ibadah, kami membahas beda antara “liturgi” dan “rundown”. Gereja Injili yang masih  berpegang pada aturan menggunakan bahasa liturgi sebagai panduan ibadah mereka, dan Gereja modern menggunakan bahasa rundown sebagai panduan mereka. 

Hasil dari pembicaraan kami adalah, tergantung dari bagaimana gereja melihat kegiatan yang dilakukannya saat itu, apakah ibadah atau “acara” (semacam acara hiburan). Terlepas dari konteks ‘kuno’ dan ‘modern’ yang mungkin lebih disukai.

Kami juga membahas mengenai mana jenis gereja yang lebih kami sukai. Kalau saya, terus terang saja… tidak dapat menjawab keduanya. Saya hanya ingin beribadah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya…

Dalam hati saya, hanya bisa berharap organisasi gereja yang saya cintai, tempat saya berjemaat dan bertumbuh di masa remaja saya, tidak harus berubah menjadi sedrastis sekarang. Saya menganalogikannya sebagai KFC yang mendadak mengubah menu menjadi ayam goreng khas Sunda, kehilangan citarasanya dan bahkan tidak akan mampu bersaing dengan restoran khas Sunda.

Saya hanya bisa menjawab… saya tidak sreg dengan ibadah di mana mereka yang berdiri di mimbar merasa bisa berpakaian semaunya. Di mana penghargaan terhadap Tuhan tidak ditunjukkan dalam berpakaian. Saya selalu percaya Tuhan menyukai aturan dan simbol-simbol. 

Walaupun aturan dalam imamat tidak lagi digunakan dalam jaman sekarang, namun bukankah esensi bahwa “Tuhan menginginkan penghormatan” tetap berlaku? Apakah Anda akan memakai kaos oblong, jaket dan jeans ke sebuah undangan pernikahan atau ketika Anda menikah? Jika tidak, lalu mengapa Anda menggunakannya ketika memimpin pujian?

Kira-kira apa yang dipikirkan Saudara yang berlainan agama dengan kita melihat mereka yang bertopi, jaket jogging, jeans dan sepatu menamakan dirinya “sedang menyembah Tuhan”, bukankah sikap kita selama ibadah (termasuk pakaian yang kita kenakan) menunjukkan tingkat penghargaan kita kepada Tuhan yang kita sembah.

Entahlah, itu hanya pendapat saya saja…

Advertisements

One thought on “Antara Rundown dan Liturgi

Comments are closed.