Hari ini kami menggunakan Hop On Hop Off line biru sebagai sarana transportasi kami. Ada tiga line yang beroperasi siang (biru, merah dan hijau) dan line kuning khusus malam. 

Biaya menggunakan Hop On Hop Off sekitar KRW 12.000 per orang, berlaku sepanjang hari. Hop On Hop Off melewati juga beberapa hotel, sehingga tak perlu kuatir jika Anda tinggal di mana saja, Anda bisa naik City Tour Stop yang terdekat dengan hotel Anda)

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Namsangol Hanok Village, sebuah perkampungan kuno penduduk asli Korea. Jika Anda perhatikan, aksara yang digunakan adalah aksara China. Menunjukkan bahwa penduduk asli Korea satu rumpun dengan bangsa China.

Rumah-rumah yang ada di sana merupakan rumah yang sama dengan yang digunakan penduduk asli. Rumah-rumah itu dipindahkan ke tempat sekarang berdiri dengan menggunakan alat berat. Anda bisa googling untuk mengetahui apa saja fungsi tiap bagian rumah tersebut.

Tempat berikutnya adalah tiga istana raja, dimulai dari yang terkecil Changgyeonggung Palace, Changdeokgung dan yang terbesar Gyeongbokgung. Seharusnya kita membayar KRW 10.000 untuk masuk ke tiga istana tersebut, tapi kami beruntung karena Rabu terakhir setiap bulan merupakan cultural day, sehingga kita bisa masuk ke sana dengan gratis.

Oya, dalam setiap istana kita melihat lorong panjang di kiri dan kanan, rupanya mereka memisahkan antara tempat pria dan wanita.
Sebelum mengunjungi Gyeongbokgung, kami mampir dulu di Insadong, semacam jalanan yang menjual pernak pernik untuk turis, dengan gang-gang yang dipenuhi tempat makan makanan khas Korea.

Side dish (hidangan sampingan) pada makanan Korea banyak sekali, ada salad, kimchi, asinan lobak, taoge, bayam yang ditaruh di piring-piring kecil dan biasa kita bisa ambil secara cuma-cuma. Hidangan Utama biasanya memiliki porsi besar hingga kita membutuhkan piring kecil lagi untuk makan sedikit demi sedikit. 

Hal yang menarik dari rumah makan di Korea, terutama yang kecil, mereka tidak mengijinkan kita memesan jumlah porsi yang lebih sedikit dari jumlah orang. Mungkin itu kenapa bahkan wanita Korea makan banyaaaaak sekali, maksudnya mereka bisa menghabiskan makanan porsi besar yang oleh kita bisa dimakan oleh 2-3 orang.

Kembali lagi ke istana… Istana terkecil yang saya sebutkan pertama (saya tidak sanggup menuliskannya di sini) merupakan istana yang dibuat untuk ayahanda raja.

Istana kedua yang lebih besar dari istana pertama dibuat untuk keluarga raja, di sana bahkan ada ruang belajar putra mahkota raja.

Istana ketiga rupanya dulu merupakan tempat Raja bertitah, didirikan tahun 1394 dan di sana terdapat museum yang menyuguhkan budaya dan perkembangan Korea dari jaman ke jaman.

Korea merdeka tahun 1948 dari penjajahan Jepang, namun kemajuannya demikian pesat, melebihi Indonesia dan Malaysia yang merdeka lebih awal. Saya pikir mungkin karena mereka memiliki budaya kerja yang sangat baik. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan gesit (bahkan saat berjalan mereka cenderung ‘menyeruduk’ siapa saja yang ada di depannya tanpa sempat minta maaf saat mengenai orang yang diseruduk).

Saat keluar dari istana Gyeongbokgung, kami melihat ada demonstrasi di depan pusat pemerintahan Korea. Demonstrasi berjalan sangat tertib, diakhiri dengan menari bersama (semacam menari poco-poco) dan kemudian demonstran membubarkan diri dengan tertib pula.

Tak jauh daei gedung pemerintahan Korea, kita melihat ada patung besar Raja Sejong. Raja Sejong adalah Raja yang menciptakan huruf Hangeul Korea karena berpikir bahwa rakyatnya tak dapat membaca aksara mandarin.

Konon saat Raja memerintah, ada banyak bajak laut Jepang yang datang dan menjarah harta rakyat Korea. Para bajak laut itu bahkan menculik dan membawa rakyat Korea ke negaranya.

Saat dilaporkan pada Raja, beliau tidak mengumumkan peperangan, justru beliau berkata bahwa “Jepang adalah negara tetangga” dan “kita tidak berperang melawan negara tetangga”. Akhirnya, Raja memilih untuk berdiplomasi untuk membebaskan rakyatnya yang menjadi tawanan.

Raja mengirimkan kepercayaannya, seorang berani bernama Admiral Yi Sun Sgin yang datang ke Jepang untuk berdiplomasi. Keberanian dan kesetiaannya membuat Jepang mengampuni nyawanya. Beliau bolak balik ke Jepang sampai 40 kali dan berhasil membebaskan 667 warga yang ditawan

Raja Sejong dicintai dan diingat sampai sekarang karena beliau tidak membeda-bedakan rakyatnya. Pernah dia ditanya, “apakah kita akan mengorbankan satu batalyon hanya untuk membebaskan rakyat miskin?” Raja marah dan menjawab “apakah kamu akan berkata begitu jika yang ditawan adalah orang-orang terpandang?”

Karena jasanya, tangan kanan Sang Raja pun memiliki patung besarnya sendiri, dengan hiasan permainan air yang mengejutkan dan indah.

Setelah dari istana kami melakukan kunjungan singkat ke museum di bawah patung Raja Sejong yang berisi kisah Raja yang dicintai rakyatnya ini. 

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Sungai Cheonggyecheon (silahkan googling untuk mencari tahu sejarahnya). Sungai kecil ini terletak di jantung kota Seoul, memiliki air yang sangat jernih dan di tepiannya ada banyak orang yang duduk menikmati keindahannya. Dulunya, ini merupakan kawasan dengan rumah kumuh, namun kemudian dirombak menjadi kawasan seperti saat ini.

Sungai yang namanya sulit itu adalah perjalanan terakhir kami di hari itu. Kami kemudian berjalan kaki pulang ke hotel sekitar 20 menit dan beristirahat.

Besok kami akan ke Lotteworld untuk mengetahui wahana permainan indoor terbesar di dunia itu.

Advertisements