Liburan hari ketiga kami dimulai dengan sarapan sekedarnya di hotel dilanjutkan dengan mengikuti city tour ke Petite France dan Nami Island. City tour kami dimulai dengan tepat waktu jam 7.50 dan dipimpin oleh seorang anak muda tampan bernama Willy yang dipanggil Wiw.

Oya, Korea adalah negara dengan 4 musim, akibatnya, di musim hampir summer seperti ini, langit masih terang sampai jam 8.30 malam. Kehidupan malam di Myeongdong berakhir pk. 1 malam dan baru dimulai pukul. 11.00 pagi. Jadi, jam 8 pagi saat kami mulai city tour, jalanan masih sepi walau langit sudah terang.

Anda bisa membeli paket city tour di Indonesia. City tour menggunakan bus yang diisi kira-kira 50 orang. 

Wiw menjelaskan singkat mengenai Petite France, tentang seorang pengusaha yang terpukau dengan keindahan Petite France di Perancis dan ingin membuat replikanya di Korea. Di dalamnya ada beberapa pertunjukkan seperti yang ada di Perancis (hanya dimainkan oleh anak-anak muda Korea), replika mini Menara Eiffel, Tunnel of love, dan masih banyak lagu. Jika tertarik, Anda bisa googling sendiri mengenai tempat ini.

Petite France di Korea digunakan untuk shooting film “You Who Came from the Stars”. Bahkan ada satu ruangan yanh memang didedikasikan untuk film itu. Karena saya tidak menonton film Korea, saya tidak tahu mengenai spot-spot yang ada dalam film. Pesan saya, jika lain kali Anda ingin ke Korea, nontonlah film-film Korea dulu.

Oya, perjalanan ke Petite France dari Myeongdong menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, selanjutnya dari Petite France ke Nami Island menghabiskan waktu sekitar 25 menit.

Nami Island adalah sebuah pulang di tengah danau. Anda juga bisa mencarinya di google mengenai sejarahnya, tentang seorang jendral bernama Nami yang dibuang ke pulau ini.

Tahun 2005, Naminara Island menyatakan diri merdeka, bahkan mereka memiliki bendera sendiri, tapi tentu saja Negara tidak peduli (hihihi). Untuk masuk ke Naminara, kita menggunakan Verry yang berangkat 15 menit sekali, dan membutuhkan waktu 5 menit untuk menyeberang.

Dari ujung ke ujung, dengan jalan cepat P. Nami dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Pulau Nami sebenarnya akan terlihat indah di awal musim gugur, ketika daun-daun berubah menjadi merah.

Seperti juga Petite France yang digunakan untuk shooting film, Pulau Nami digunakan untuk shooting film Winter Sonata, yang sekali lagi, saya tidak tahu.

Kami diberi waktu 4 jam di Nami, termasuk waktu untuk makan siang. Jam 3.20 kami kembali ke Myeongdong. Karena jalanan cukup padat, kami baru tiba di hotel sekitar jam 5 sore.

Setelah istirahat di hotel sekitar sejam, kami naik bus menuju ke Sungai Han. Menurut kabar, setiap jam 8 malam ada pertunjungan air mancur yang keluar dari sisi jembatan. Kami kurang beruntung karena langit masih terang sehingga warna warni lampu yang menyorot ke air tidak terlalu tampak.

Sepulang dari Han River, saya dan Papa saya bicara mengenai keegoisan. Saat kami berangkat dengan bus ke Han River, seluruh tempat duduk penuh dengan anak muda usia kuliah yang duduk santai. Mereka tidak peduli dengan masuknya Mama saya, wanita berusia 65 tahunan yang berwajah lelah, tak ada yang memberi tempat duduknya. Ini berbeda sekali dengan di Thailand, di mana anak-anak mudq ‘berlomba dalam melakukan perbuatan baik’, mereka seolah siap memberi tempat duduk bagi siapa saja, bahkan anak kecil yang baru pulang sekolah. Kalau Indonesia? Jangan ditanya deh…

Hal yang saya bahas dengan Papa saya adalah, apa yang membuat perbedaan budaya ini. Korea negara maju, Thailand tak semaju Korea, tapi kenapa rakyatnya begitu murah hati?

Korea negara mayoritas Kristen, dan Thailand mayoritas muda, tapi kenapa rakyat Thailand lebih mempraktekan perintah “berlomba dalam melakukan perbuatan baik”.

Korea Selatan negara republik, Thailand negara kerajaan, dan mereka tahu bagaimana melayani sesama.

Apakah teknologi, atau agama atau budaya negara yang menyebabkan perbedaan perilaku ini?

Dari sudut teknologi, kita tidak melihat banyak yang berbeda, jaman sekarant siapapun kemana-mana menggunakan gadget. 

Kemudian Papa dan saya membahas tentang sudut pandang agama. Memang benar, dalam agama Kristen bapak Pendeta yang berkotbah terlalu gereja-sentris. Seolah semua kotbah bertujuan agar jemaat mau memberi waktu, tenaga, perhatian, untuk gereja semata-mata. Atau bisa saja mereka menyalahartikan ayat “berbuat baik, terutama pada saudara seiman” dengan “berbuat baik di gereja saja”.

Saya tidak mau membahas agama lain yang tidak relevan. Kedua negara memiliki dua agama, Kristen dan Buddha. Jika memang agama adalah faktor penyebab, saya rasa bapak pendeta harus meninjau ulang topik kotbahnya di gereja. Memberikan contoh konkret bagaimana jadi garam dan terang dunia.

Mungkin juga budaya keluarga penyebabnya, tapi budaya keluarga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan nilai-nilai masyarakat. Mengapa bisa ada perbedaan seperti ini? 

Kemudian kami mempertimbangkan kemungkinan latar belakang nenek moyang. Nenek moyang Korea Selatan adalah China (Ras Mongol) yang mengajar tentang “dahulukan diri sendiri atau keluarga dibanding orang lain”, tapi Thailand pun sama-sama berasal dari raa Mongol. Jadi apa yang membedakan budaya ini?

Akhirnya kami berkesimpulan, agama merupakan faktor utama yang sangat menentukan sikap hidup bermasyarakat.

Setelah dari Sungai Han, kami makan malam di dekat hotel. Sedikit dikerjai oleh restoran kecil tempat kami makan sehingga kami memesan dua ekor ayam ginseng untuk masing-masing Papa dan Mama, padahal tadinya kami mau pesan satu ayam ginseng untuk beramai-ramai, tapi menurut waiter yang sudah berumur kami harus memesan 4 porsi (sejumlah orang yang makan). Ketika saya mengatakan bahwa “She doesn’t want to eat” sambil menunjuk Yovi, barulah kami diijinkan pesan 3 porsi saja. Tiga porsi itu demikian besar hingga kami harus pulang kekenyangan.

Tarif makan di Korea terbilang sangat mahal. Sekali makan, satu orang minimal menghabiskan KRW 10.000 atau sekitar Rp. 120.000.

Hari ini kami akhiri dengan mandi air hangat, besok kami akan city tour dan mengunjungi beberapa istana di Seoul.

Advertisements