Holiday day 2: Negara si cantik yang memiliki sistem luar biasa


Hari kedua kami diawali dengan pendaratan mulus di Korea yang gerimis. Setelah melewati imigrasi, kami mengantri untuk mendapatkan pocket wi fi dari Shinsegae Duty Free yang kami sewa dan selesaikan pembayarannya di Indonesia (satu pocket wifi untuk 3 devices, harga sewanya KRW 4.000/hari atau sekitar 48.000/hari). Anda bisa mencari dan memesannya lewat internet.

Satu pocket terdiri dari mifi, charger dan powerbank.

Hal yang mengagumkan adalah mereka melayani customer dengan super cepat, seolah mereka adalah robot. Mereka sepertinya memiliki sistem (termasuk sistem appraisal) yang baik sehingga apaun yang mereka lakukan sistematis dan efisien sekali.

Rupanya inilah syarat pertama negara maju (juga perusahaan yang mau maju), yaitu miliki sistem yang baik hingga seluruh manusia yang ada di bawahnya tunduk pada sistem yang berlaku dan semua  customer percaya bahwa mereka dilayani dengan adil, sistematis dan efisien.

Hal kedua yang saa pelajari begitu tiba di negara ginseng ini adalah seluruh petugas tidak bisa melihat “ketidaksesuaian” dan mereka langsung bertindak menyelesaikannya. Antrian sedikit saja mengular, dibuka pintu “darurat” baru sehingga masalah langsung terselesaikan.

Dua hal positif tersebut mengawali ketibaan saya di Korea (padahal tadi pagi saya baru membahas dengan Papa saya bahwa bahasa Indonesia ketibaan adalah kedatangan).

Setelah menyelesaikan urusan pocket wi fi, kami membeli t-money (kartu ‘ajaib’ untuk membayar transportasi) dan kemudian menunggu shuttle dari hotel tempat kami menginap. 

Hak positif ketiga yang harus dimiliki siapa saja yang ingin maju adalah masalah ketepatan waktu. Di jadwal keberangkatan shuttle car tertera pk. 9.35 dan mobil datang pukul 9.30 sehingga kami dapat berangkat tepat pk. 9.35. Entah bagaimana mereka mengaturnya, mobil itu selalu tepat tiba di tiap perhentian.

Saya menginap di Skypark 1 Myengdeong. Hotel yang sangat strategis untuk berjalan-jalan karena Myeongdong adalah pusat belanja (kosmetik) dan Korean street food. Sepanjang jalan kita hanya melihat toko kosmetik dan beberapa pedagang yang membagikan sampel secara cuma-cuma jika kita mau masuk ke dalam toko mereka… persaingan yang luar viasa

Setelah menaruh barang dan jalan-jalan sebentar di sekitar hotel (dan ‘dipaksa’ membeli beberapa kosmetik), pk. 14.00 kami menuju Namsan Seoul Tower (silahkan lihat instagram @greissia) untuk lebih jelasnya.

Sebenarnya ada banyak yang bisa dikunjungi di sana, seperti puncak tower, Hello Kitty World dan banyak tempat lain. Tapi jika kau pergi dengan keluargamu, kau tak bisa pergi ke tempat yang kau mau, pertimbangan mereka harus diperhitungkan juga.

Setelah makan siang yang terlambat di sana, kami pun memutuskan pulang dalam kondisi hujan yang cukup rapat 

Dari sana kami berjalan-jalan di sekitar hotel untuk melihat jajanan street food. Saya membeli satu jenis makanan yang hanya saya makan setengahnya karena saya curiga itu adalah torpedo, menjijikkan…

Setelah itu, saya tidak terlalu selera makan (siangnya saya sudah beli topokki, makanan khas Korea yang terkenal). Makanan di sana berkisar antara KRW 20-30 (IDR 24.000 – 36.000).

Tidak ada yang istimewa di sisa hari itu, kami kemudian pulang dan tidur kan belum mendapat tidur yang berkualitas semalam…

Besok kami akan mengikuti tour ke Nami Island dan Petite France… katanya sih itu lokasi yang terkenal karena dijadikan lokasi pembuatan film drama Korea, yang saya tidak ketahui karena saya tidak pernah menonton drama Korea.

Jadi lain kali Anda mau ke sini, pastikan sudah menonton satu saja seri Korea…

Advertisements