Tahun ini, keluarga kami menghabiskan liburan di Korea selama 5 hari (dan 2 hari di perjalanan). Mengunjungi negara yang tumbuh karena industri kreatif merupakan sesuatu yang baru bagi saya, namun tidak bagi adik saya, penyuka film korea yang tahun lalu sudah mengunjungi negeri ini.
Kami berempat berangkat pada hari pertama Idul Fitri, Minggu, 25 Juni 2017 dan pesawat pertama yang kami naiki adalah Air Asia Indonesia yang berangkat tepat waktu pk. 08.20 dan dikepalai seorang pilot handal asal Indonesia.

Kapten ini selalu memberi informasi pada para penumpang sehingga kekuatiran kami banyak berkurang sepanjang penerbangan. Kami disambut cuaca tidak bersahabat di Negeri Singapura ini. Akibat cuaca tak bersahabat ini, pesawat yang sudah hampir menyentuh landasan Singapura terpaksa dipaksa mengudara lagi karena jarak pandang yang sangat pendek (pilot memberitahu saat kami sudah di udara lagi). Namun kemudian pada percobaan kedua, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus sekali.

Perjalanan kali ini, lagi-lagi diatur oleh Yovi, yang membagikan buku petunjuk kepada kami semua, katanya agar tidak ada yang banyak tanya saat kami liburan nanti (yang mana saya lebih suka bertanya sebenarnya).

(maafkan karena bukunya kusut, Sib).

Kurang lebih begitulah itinerary perjalanan kami…

Hari pertama ini kami habiskan di Singapura. Untuk mengisi waktu, kami akan mengikuti heritage tour. Tour ini gratis, diperuntukkan bagi mereka yang transit cukup lama di Singapura, dan di sepanjang perjalanan Anda akan dipandu oleh tour guide yang banyak bicara. 

Untuk dapat mengikuti Heritage tour, Anda harus mendaftar di boot berwarna ungu yang terletak di Terminal 2. Di sana ada Bapak berbaju ala Hawaii biru muda yang ramah. Dia akan memutuskan apakah sebaiknya Anda ikut Heritage Tour. Karena jika penerbangan Anda berikutnya sebelum pk. 6.00 sore, maka Anda kemungkinan besar akan tertinggal pesawat jika memaksakan diri ikut tour ini.

Setelah early check ini yang cukup lama di Terminal 1 (karena kami akan menggunakan Thai Airways yang berangkat dari Terminal 1), kami kembali ke Terminal 2 (area arrival dekat McD) untuk memulai perjalanan keliling Singapore (video bisa dilihat di instagram @greissia).

Sebenarnya ini adalah perjalanan yang biasa saja, kami hanya berhenti 30 menit di Garden by the bay dan 20 menit di kampung Glam (perkampungan yanh dipenuhi restoran Turki dengan mesjid besar di ujungnya) karena Merlion ditutup berkenaan dengan public holiday. Namun yang menjadi luar biasa adalah bagaimana tour guide yang merupakan seorang wanita berusia 40an keturunan China sepertinya menghindari mengucapkan “Indonesia” (beliau melarang kami mengambil gambar dan video saat beliau menjelaskan karena menurutnya, beliau tidak cukup baik dan itu aturan perusahaan)

Saya selalu bangga mengatakan bahwa negara asal saya adalah Indonesia, sampai hari itu. Dalam bus itu ada dua keluarga Indonesia: kami, dan keluarga (juga keturunan China) yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. 

Saya mulanya sadar ketika beliau tidak menyebutkan nama “Indonesia” di antara negara tetangga Singapura yang merayakan Lebaran (yang dia ceritakan). Lalu ketika tour guide menanyakan satu persatu asal negara kami, dia tidak mentebutkan “Indonesia” ketika merangkum negara mana saja yang ikut tour hari itu (tapi menyebut New Zealand dan Jepang yang masing-masing hanya diwakili 1 orang). Kemudian dia lagi-lagi tidak menyebut Indonesia ketika bercerita mengenai negara-negara tetangga yang warga negaranya kerap mengunjungi Singapura (padahal, dia menyebut Brunei, Vietnam dan Filipina).

Saya tidak heran. Bagi negara tetangga kita hari ini, Indonesia adalah negara rasis yang memenjarakan seorang Gubernur jujur hanya karena dia berasal dari kelompok minoritas.

Kalau dipikir-pikir, tanpa bermaksud rasis, sebenarnya keturunan China di Indonesia merupakan warga negara yang “tangguh”. Mereka bertahan tidak menggunakan bahasa China dalam pergaulan sehari-hari (kecuali di pulau-pulau yang dekat dengan negara tetangga), bahkan mereka hanya bisa bahasa Indonesia hingga dicibir ketika mengunjungi negara tetangga yang warga negara keturunan Chinanya berbahasa Mandarin dalam pergaulan sehari-hari. Namun walau begitu, warga negara keturunan China di Indonesia tetap mendapatkan diskriminasi yang tak adil dari mereka yang menamakan diri pribumi. Tapi sudahlah, mungkin negara ini masih harus belajar…

Setelah Heritage tour, kami kembali ke Terminal 1, makan malam di KFC dan menyantap ayam goreng tepung bumbu Kari yang tidak ada di Indonesia, kemudian menunggu sampai akhirnya kami diijinkan masuk ke pesawat.

Suatu insiden kecil yang menyebalkan adalah ketika dengan berat hati saya merelakan cairan pembersih softlens saya karena botolnya berkapasitas 120 ml (maksimum seharusnya 100 ml, tapi saya mengira 150 ml).

Pesawat Thai yang kami tumpangi akan transit sebentar di Bangkok sebelum melanjutkan ke Korea. Kami berangkat ke Bangkok pk. 20.55 waktu Singapura dan tiba di Bangkok pk. 22.15 waktu Bangkok (3 jam 20 menit). Kami mendapat makan malam yang cukup banyak (nasi tom yam, roti bagel, cake kayu manis dan salad) yang kami santap habis walau ayam bumbu kari masih terasa di mulut. Setelah makan saya minta white wine yang membuat saya mengantuk luar biasa sesudahnya. Di tengah rasa kantuk luar biasa, kami dipaksa turun di Bangkok, dan berganti pesawat ke Korea. 

Korea memiliki waktu yang sama dengan Indonesia bagian Timur. Kami tiba di Korea pk. 6.30 waktu Korea yang artinya menghabiskan perjalanan sekitar 4 jam. Sekali lagi kami mendapat makan (kali ini nasi ayam, kimchi, pastry, jus buah kemasan, yogurt rendah lemak dan buah-buahan) pada pk. 4.30 dini hari (waktu Korea) yang saya santap sebagian sambil setengah tertidur (yogurt dan minuman jus buah terpaksa saya masukan tas karena ‘tidak muat’).

Baiklah, hari satu saya akhiri di sini, hari berikutnya akan saya awali di ketibaan kami di Korea.

Advertisements