Saya pernah berkata bahwa budaya Indonesia (khususnya keluarga yang berasal dari Warga Negara Keturunan Tionghoa) sangat minim sekali berekspresi…

Saat orang Indonesia ditanya “apa perasaanmu?” mereka hanya memiliki dua alternatif jawaban, yaitu senang atau tidak senang… Dalam kamus mereka tidak ada perasaan “kecewa” atau “terhina” atau “dicampakkan” atau “putus asa” atau perasaan-perasaan lainnya. Semua perasaan negatif akan berkumpul menjadi “tidak senang” dan perasaan positif menjadi “senang”.

Saat membahas bersama rekan2 pelayanan anak, mereka berkata hal ini dimulai dari rumah. Anak-anak tidak memiliki kebebasan untuk bersuara, untuk menyatakan pendapat dan mengungkapkan perasaan. Anak-anak terlalu diatur agar memiliki ekspresi sesuai harapan orang dewasa.

Dalam pelayanan saya di beberapa gereja dan sekolah Kristen, khususnya ketika mereka sedang ada acara khusus, saya sering menemukan suatu pertanyaan yang menjadi contoh hipotesis saya di atas. 

Biasanya guru atau guru sekolah minggu akan bertanya “apa kalian merasa diberkati (senang)?” lalu anak-anak akan menjawab dengan bergumam “yaaa”, merasa tidak puas biasanya guru akan bertanya lagi “yang merasa diberkati (senang) angkat tangannya”, lalu saat ada yang tidak mengangkat tangan, guru tersebut akan mengeluarkan kalimat-kalimat seperti “kok ga semuanya angkat tangan” atau kalimat lain soal bersyukur atau sukacita, sehingga anak-anak yang tadi tidak angkat tangan akan terpaksa mengangkat tangannya.

Minggu kemarin saya mengunjungi suatu retreat anak untuk membawakan firman. Sebelum pujian, ada guru yang bertanya pada siswa peserta retreat “untuk apa kalian datang kemari?”

Peserta pertama yang ditanya menjawab “merayakan Paskah”, dijawab “baguusss”, peserta kedua ditanya dan menjawab “merayakan Paskah” dijawab “wah sama jawabannya”, peserta ketiga ditanya dan menjawab yang sama dan guru itu berkata “wah nyontek nih”.

Ketika peserta keempat, seorang anak yang terlihat cerdas, ditanya ia menjawab “untuk bermain bersama teman”, karena dia tidak ingin dianggap menyontek. 

Bukannya mengapresiasi niat anak yang mengikuti retreat untuk main, guru itu menjawab “ah, kan main bisa di rumah”, anak itu lalu berpikir keras “untuk tidur bersama teman” dijawab “itu juga bisa dilakukan di rumah”, karena tidak ada pilihan lagi, dengan lesu anak itu menjawab “untuk merayakan Paskah”

Selanjutnya guru itu bertanya pada empat puluh siswa yang hadir satu persatu dan mendapat jawaban yang sama (benar-benar menghabiskan waktu, pikir saya).

Kalau itu tergantung pada saya, maka saya tidak akan merasa keberatan ada yang merasa tidak senang ikut acara camp,… justru itu membuat saya bekerja lebih keras membuat ia merasa senang,…dan diberkati.

atau saya tidak akan menyalahkan anak yang mengaku ingin main di retreat atau sekolah minggu,… tugas saya memperbaii paradigmanya dengan tindakan, bukan dengan pemaksaan agar dia menjawab sesuai keinginan saya.

Anak-anak perlu diajar menyampaikan perasaan dan pendapatnya sejak dini… seringkali orang tua dan pengajar yang tanpa disadari membuat mereka takut (dan apatis) jika berpendapat atau memiliki perasaan yang tidak sesuai dengan keinginan orang dewasa.

Dengan mengetahui pendapat dan perasaan mereka, kita dapat lebih efektif mengajar dan mengarahkan mereka.

Advertisements