Antara Kehendak Tuhan dan “Ramalan” Pendeta


(Untuk kalangan sendiri)

Heboh pilkada baru saja mencapai klimaksnya. Saat ini kondisi yang memanas ini sedang menurun menuju anti-klimaks. Masih ada sisa-sisa kemarahan di media sosial. Janji ditagih, penyesalan dicuitkan dan olok-olok dilontarkan.

Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas mengenai Ahok atau Anies. Tiba-tiba saja saya teringat pada masa pilkada sekitar enam bulan yang lalu, ada sebuah video yang cukup viral, berisi seorang pendeta yang menghampiri Ahok dan merasa mendapatkan “pesan dari Tuhan” yang harus disampaikan. Dalam video itu terlihat Bapak Pendeta berkata bahwa Tuhan menetapkan Ahok untuk menang satu putaran, menjadi gubernur  lagi dan nanti Ahok akan menjadi Presiden. Hari ini kita melihat apakah ramalan nubuat bapak pendeta itu tergenapi atau tidak.

Saudara, seperti pernah saya tulis sebelumnya, tulisan dengan tanda “untuk kalangan sendiri” di awal artikel saya tujukan khusus untuk Umat Kristen, tidak untuk menjelek-jelekkan, tapi untuk bahan renungan bersama.

Akhir-akhir ini emosi kita, bangsa Indonesia seolah sedang diajak naik roda berputar yang diputar dengan cepat. Kewarasan dipermainkan hingga ke titik nadir. Di mana-mana kita melihat makian, sindiran dan kata-kata pedas hilir mudik tidak hanya di media sosial, namun juga di kehidupan nyata. Isu SARA diangkat seolah mayoritas berhak untuk mendiskreditkan minoritas.

Emosi yang dimainkan ini bagi mayoritas merupakan bahan bakar untuk dapat memilih di sisi mana dia berdiri dan dengan lantang menyuarakan pilihannya. Sebagian berpihak pada kewarasan sebagian lagi hanya berpikir dirinya waras (padahal tidak). Namun bagi minoritas, emosi yang dimainkan ini menumpuk dan muncul dengan cara-cara tak terduga. Sebagian mengeluarkannya dengan cara melakukan doa puasa untuk negeri, sebagian memutuskan untuk menutup telinga dan tak peduli, sebagian lagi memutuskan untuk mengungsi saja ke luar negeri.

Bagi para rohaniwan, emosi yang fluktuatif ini merupakan suatu ujian yang berat. Bagaimana mereka harus tetap peka terhadap suara Tuhan atau terbawa emosi saat menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Emosi memang diberikan Tuhan kepada seluruh mahluk hidup, termasuk manusia… namun kemampuan mengendalikan emosi hanya diberikan kepada manusia.

Memang betul, Pendeta juga manusia, namun Pendeta seharusnya tidak seperti umat lainnya yang dapat terbawa emosi dengan begitu mudah. Membaurkan suara Tuhan dengan emosi merupakan hal yang sangat menyesatkan. Bayangkan dalam emosinya seorang Pendeta menyampaikan pesan yang diklaimnya sebagai “Suara Tuhan”, kemudian ternyata apa yang disampaikannya tidak sama dengan kehendak Tuhan. Apa kira-kira reaksi umat? Apa kira-kira reaksi dunia? Apakah Tuhan yang disembah Pendeta itu bisa salah? Atau pendeta itu mendengar Tuhan yang salah?

Selain pendeta yang bernubuat mengenai Ahok yang akan memenangkan Pilkada satu putaran dan ternyata kemudian entah Tuhan berubah pikiran (yang mana agak aneh) atau kehendak Tuhan berbeda, kita juga pernah mendengar ada pendeta yang mengeluarkan nubuatan-nubuatan yang akhirnya terbukti tidak tergenapi. Nubuatan mengenai tanggal akhir jaman yang keliru adalah salah satu contohnya.

Jangan salah sangka, saya tidak menganggap rendah nubuatan, bahkan Rasul Paulus berkata “janganlah anggap rendah nubuat-nubuat” (I Tesalonika 5:20), namun bukankah selanjutnya dia berkata “ujilah segala sesuatu”

Saya tidak akan memanjangkan tulisan ini. Saya akan menutupnya dengan sebuah ayat yang ditulis Rasul Petrus “karena nubuat TIDAK PERNAH dihasilkan oleh KEINGINAN MANUSIA, sebaliknya orang-orang kudus Elohim telah mengucapkan APA YANG DIHASILKAN oleh ROH KUDUS” (2 Petrus 1:21, penekanan dari saya, versi ILT 3)

Ya, nubuat tidak didorong oleh emosi manusia, tapi oleh dorongan Roh Kudus. Jadi lain kali, tolong berhati-hatilah ketika Anda (khususnya Pendeta) berkata “Tuhan berfirman kepada saya bahwa….”, pastikan itu tidak dihasilkan oleh emosi atau keinginan Anda sendiri.

Advertisements