Belakangan ini makan ala botram sedang trend di Bandung. Saya tidak tahu bagaimana di kota lain, karena sepertinya masakan Sunda yang paling cocok untuk cara makan jenis ini. 

Sejak awal trend ini, saya yang ribet dan rese ini selalu berkomentar “idih” setiap kali melihat gaya makan botram. Masalahnya, kemajuan jaman membuat kita manusia memberi wadah untuk makanan yang kita makan… Walau manusia makhluk sosial, toh manusia juga makhluk berakal yang menghargai privacy,… itulah alasan saya.

Bayangkan nasi yang dikumpulkan di tengah beserta sayur mayur dan lauk, yang akan diambil dengan tangan kemudian dimakan bersama-sama dalam wadah daun yang jadi satu.

Budaya botram sendiri merupakan budaya daerah Sunda untuk masyarakat yang tinggal di desa, artinya makan bersama dengan sayur yang dibawa bersama-sama juga.

Namun hari-hari terakhir ini sepertinya masyarakat perkotaan ingin mencoba makan ala masyarakat pedesaan. Makan botram dilakukan di mana-mana, mulai dari di rumah hingga di rumah makan.

Kemarin saya melihat foto botram, yang mana makanan disusun di lantai dengan beralaskan daun. Lalu saya berkata kepada teman saya, “Bedanya manusia dengan binatang itu, manusia membawa makanan ke mulutnya, tapi binatang membawa mulut ke makanannya.”

Bagi Anda umat Kristen, tahu kan kisah mengenai pasukan Gideon yang ditolak Tuhan karena membawa mulut ke air dan bukan sebaliknya. 

Lalu teman saya menjawab, ini hal menarik yang membuat saya menuliskan ini, “Bedanya manusia dan hewan adalah, manusia bisa memilih untuk menjadi seperti hewan, tapi hewan tidak punua pilihan untuk jadi seperti manusia”

Bukan botram yang ingin saya angkat di tulisan ini, tapi kenyataan bahwa jaman sekarang banyak manusia yang memilih berkelakuan seperti binatang. Manusia adalah mamalia yang berakal dan berbudaya. Tanpa akal dan budaya, hanya tersisa mamalia saja.

Berita yang kita dengarkan akhir-akhir ini: penganiayaan anak SMP, pembunuhan mahasiswa, penyerangan supir ojek online, merupakan sedikit contoh manusia yang merendahkan dirinya menjadi seperti binatang.

Salah satu sifat yang paling membuat manusia menjadi seperti binatang adalah sikap iri hati. Saya memiliki dua ekor anjing di rumah. Anjing yang pertama sudah berusia 6 tahun, dan anjing kedua baru berusia 1 tahun. Saat anjing pertama saya pegang dan elus biasanya anjing kedua akan panik. Dia minta saya menghentikan kegiatan saya dan mengelus dia saja. Jika saya tidak juga mengelus dia, maka dia akan mulai mengganggu anjing pertama. 

Sebaliknya saat anjing kedua yang saya elus, anjing pertama akan datang dan menaruh mukanya di badan saya (walau tidak secara agresif menyerang anjing kedua).

Mogoknya angkot di kota Bandung kemarin disebabkan iri hati supir angkot yang merasa dirugikan karena keberadaan taksi dan ojek online. Sungguh alasan yang lucu. Mereka ingin hak mereka diperjuangkan tanpa melakukan kewajiban dan tanpa mempertimbangkan kebebasan customer untuk memilih sarana transportasi yang dia sukai. 

Bukankah kisah mengenai pembunuhan pertama yang dilakukan oleh kakak terhadap adiknya juga disebabkan iri hati, padahal kesalahan awal terletak pada si kakak yang tidak memberi persembahan pada Tuhan sebagaimana mustinya. Mirip supir angkot kan? Dia yang mulai kasih layanan buruk, saat ada saingan dan memenangkan hati customer, malah marah-marah dan menganiaya.

Ya, manusia bisa memilih untuk menjadi seperti binatang yang bertindak berdasarkan iri hatinya, atau mengikuti saran Tuhan pada Kain saat ia mulai merasa iri “hati-hati, dosa sedang mengintip, kau harus berkuasa atasnya… ”

Pembeda manusia dan hewan adalah manusia diberi kemampuan menguasai emosinya dengan akal budi… jika tidak, maka manusia hanyalah mamalia biasa. Maafkan tulisan mengacau yang melompat-lompat ini, semoga Anda bisa memahami maksud saya..

Advertisements