Adik saya dan saya bukan orang Jakarta, tapi kami kagum dengan Ahok yang memiliki integritas tinggi dan kinerjanya yang membuat Ibukota negara kita menjadi luar biasa.(Kami juga makin lama makin ga respek sama kubu Anies Sandi yang nyinyir dan aneh). 

Baru saja adik saya mengirimi Whatsapp yang isinya memberitahu bahwa Pastor besar Gilbert mengeluarkan twit mengenai lagu Hashem Melech (The Lord is King), lagu rohani Yahudi yang ditiru oleh PKS dan kubu Anies Sandi menjadi “kobarkan semangat”.

Tak sampai menunggu waktu lama twitnya langsung bikin heboh senusantara dan menjadi trending topic. Luar biasa bukan ketika sebuah kebencian dipupuk. Saya tidak mengatakan Pak Pendeta menyebarkan kebencian, tidak! Pak Pendeta adalah korban kesalahpahaman saya, saya rasa.

Maksud saya, kebetulan twit beliau dibaca oleh orang dengan kebencian dan take all this election things personally.

Walau saya termasuk orang yang suka menulis ‘pedas’, namun saya selalu mencari narasumber dan memastikan apa yang akan saya tuliskan. 

Jadi sebelum ikut euforia mengolok-olok kubu paslon 3 mengenai plagiat lagu, saya mencoba mencari tahu dulu mengenai lagu ini dan alangkah terkejutnya saya menemukan sebuah video lagu berjudul C’est La Vie oleh Khalid yang musiknya sama persis dengan Kobarkan Semangat nya Anies Sandi

Saya terkejut dengan fakta bahwa yang ditiru oleh Anies Sandi bukanlah lagu Hashem Melech, karena sebenarnya melodi Hashem Melech pun diambil lagu lain yaitu C’est La Vie yang dirilis tahun 2012 (Hashem Melech tahun 2013). Saya sendiri tidak tahu bagaimana proses penggunaan melodi antar negara seperti itu.

Anda yang mengenal saya melalui tulisan saya (karena terkadang tulisan saya lebih kejam daripada saya sendiri) tentu tahu bahwa saya tidak biasa mendiamkan sesuatu yang salah berlalu begitu saja. Orang lain mungkin akan pura-pura tidak tahu selama kubunya mendapat keuntungan, tapi maaf, saya tidak bisa begitu.

Saya berusaha mengirimi Direct Message via twitter pada Pak Pendeta, agar beliau bisa meralatnya tanpa harus terkesan diberitahu saya. Tapi sepertinya settingan twitter tidak bisa mengirim DM pada seseorang yang tidak mengikuti kita (salahkan twitter saudaraku).

Jadi, karena saya adalah orang ribet dengan hati dan isi kepala yang rese, akhirnya saya memention beliau dan mengatakan bahwa kali ini beliau salah. 

Saya pikir beliau adalah Pendeta Besar dengan karakter seperti Pendeta Gereja Bintang Lima yang saya kenal yang selau mengatakan dirinya selalu benar dan akan mengamuk dan memecat orang yang mengritiknya.

Yah, saya tidak tahu bagaimana karakter Pak Pendeta ini. Namun seluruh hormat saya padanya malam ini karena beliau langsung merespon dan mengakui kesalahannya (walau se-Nusantara sudah keburu geger sih).

(walau twit sebelah kiri dihapus oleh ybs, mungkin takut orang baca twit saya yang jelas-jelas mengatakan bahwa beliau salah)

Namun lepas dari masalah election dan plagiat ini, saya kemudian merenungkan betapa kita bisa menjadi sangat memihak dan tidak obyektif ketika dihadapkan pada sebuah berita mengenai keburukan lawan kita.

Mungkin ini yang terjadi pada kubu lawan ketika mendengar “Ahok menista agama”. Tanpa cek dan ricek langsung menyebarkan berita secara luar biasa dan menjadikannya masalah dengan cakupan nasional.

Melalui tulisan ini saya mengajak seluruh sahabat, khususnya umat Kristen, untuk bisa berkepala dingin menyikapi semua hal. Jika tak bisa berkepala dingin, setidaknya tahan diri dan lakukan cek dan ricek sebelum menyebarkan sebuah berita.

Karena karakter seseorang terlihat dari bagaimana ia saat mengalami tekanan, dan saat memiliki kekuasaan…

Saya berharap semoga Bapa di Surga memberi kita hikmat untuk berkata benar dan bersikap benar agar kita senantiasa menjadi terang di dunia ini.
tambahan: Beberapa pengikut Ps. Gilbert mencoba membenarkan diri dan Ps. Gilbert kembali memberi klarifikasi… Saya hormat, Pak!

Advertisements