Sarang Penyamun


​Kemarin saya berdiskusi dengan beberapa teman mengenai “gereja”. Gereja bukan bahasan favorit saya belakangan ini sebenarnya. Tapi karena memang kami sedang membahas mengenai pekerjaan di gereja jadi nyerempet ke topik yang baru-baru ini saya bahas, mengenai iklan komersial di multimedia gereja.

Salah seorang yang duduk dalam diskusi itu berkata “gua ga lihat apa yang salah dengan iklan di multimedia”, lalu saya tanya balik “kira-kira kenapa ya Yesus marah pada yang berjual beli di Bait Suci”, dijawab “nah itu masalahnya, gua juga ga paham kenapa Yesus harus marah.”

Lalu beliau melanjutkann “Yesus marah-marah (harap dicatat, bagi saya beda antara marah dengan marah-marah) dan mengatakan bahwa para pedagang itu menjadikan Rumah Bapa sebagai sarang penyamun. Gua ga paham apa definisi sarang penyamun”

Saya membuka Alkitab elektronik saya, tiga Injil pertama menggunakan istilah sarang penyamun, sementara Yohanes menggunakan istilah ‘tempat berjualan’. Teman saya melanjutkan “apakah tempat berjualan sama dengan sarang penyamun”, sebuah pertanyaan yang menarik, tapi keluar konteks. Kalau kita persempit di kitab Yohanes saja, maka yang akan kita baca adalah Yesus marah karena Rumah Doa dijadikan tempat berjualan.

Saya sudah sering membahas ini sebenarnya. Saya pernah menulis bahwa Yesus marah ketika perhatian yang seharusnya ditujukan pada Tuhan (Rumah doa) menjadi pada bisnis (tempat berjualan).

Lalu dengan polosnya teman saya berkata, “gua rasa sih karna burung-burung itu bikin kotor. Kalau di multimedia, gua belum liat ada yang salah”.

Dalam perenungan pribadi saya, tiba-tiba saya teringat satu kata “PASAR”. Anda yang pernah SMP Psti pernah belajar bahwa pasar dalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, dengan kata lain, pasar adalah “tempat berjual beli” atau “tempat berjualan”. Mengutip apa yang Yesus katakan saat marah, saya akan menggantinya menjadi “Seharusnya Rumah Bapa-Ku menjadi Rumah Doa dan kau menjadikannya pasar?”

Di pasar, Anda akan melihat para penjual dan pembeli. Jika Tempat doa dijadikan pasar, maka pertanyaan selanjutnya adalah “siapa yang menjual? Siapa yang membeli?” Dan “apa yang dijual? Apa yang dibeli?”

Bagaimana jika saya katakan bahwa gereja saat ini menjual peluang bisnis bagi jemaatnya? Pengusaha membelinya, jemaat adalah target marketnya… Misalkan, bagaimana dengan iklan ini: Jika anak Anda les musik di tempat kami, mereka akan punya kesempatan main musik di salah satu gereja besar di Bandung…

Bagaimana jika saya katakan bahwa gereja saat ini menjual hiburan bagi jemaatnya, sebuah prestise karena menjadi jemaat gereja berkelas di kota besar?

(Bedakan dengan sebuah profesionalisme… jika Anda seorang supplier alat musik, misalnya, tentu gereja harus membayar Anda jika ingin membelinya)

Tidak? 

Lalu apa yang membuat Yesus marah dan kisah ini ada di Alkitab kita? Apa karena barang dagangannya kotor? Sesederhana itu?

Apakah ketika Yesus datang ke dunia, ia sedang memainkan permainan jual beli? Di sinilah letak masalahnya…. Jika kasih karunia diberikan secara gratis, … jika hubungan dengan Bapa dijamin dengan darah yang mahal tanpa kita harus membayarnya… masakan Tempat Doa itu direbut menjadi tempat jual beli? Bukankah itu akhirnya membuat pelaku bisnis di dalamnya menjadi pencuri? Pencuri kemuliaan dan hormat,… sarang penyamun…

Advertisements