Tadi pagi, saat saling mencari (karena lagi-lagi saya kesiangan sehingga mama saya keluar sendirian, akhirnya menyerah dan kembali ke kamar… kemudian saya mencari adik saya agar tidak menunggui mama saya….rumit deh pokoknya), saya bertemu dengan seorang bapak keturunan China (oya, di sini China ya China aja) yang mengajak saya biacara dengan bahasa China. Karena tidak bisa berbahasa China, saya jawab “I don’t speak Chinese, sorry” (sepertinya kalimat ini yang paling sering saya ucapkan selama liburan. 

Beliau melihat saya dengan tatapan heran dan berkata, “where are you from” yang saya jawab dengan “Indonesia”. Sekali lagi dia bertanya  (seperti dengan nada kecewa) “but you are Indonesian Chinese, right?”. Dengan percaya diri saya menjawab “yes, but we don’t speak Chinese in Indonesia”.

Sebenarnya alasan saya kurang tepat, ada banyak juga Warga Negara Keturunan yang bisa berbahasa Mandarin di Indonesia (walau tak banyak) dan di beberapa daerah memang Warga Negara Keturunan berbahasa Mandarin dalam percakapan sehari-hari. Tapi saya tinggal di Pulau yang penduduknya berbaur dan berbahasa Indonesia.

Lagipula saya besar di era Orde Baru, di mana bahasa Mandarin tidak diajarkan di sekolah dan bahkan etnis China tidak disukai (suka atau tidak itulah kenyataannya). Berbeda dengan era sekarang di mana banyak sekolah menggunakan tiga bahasa.

Setelah sarapan, kami bersiap-siap karena jam 11 kami sudah harus meninggalkan kapal. Tempat tinggal kami berikutnya adalah bayview hotel, sebuah hotel besar dekat dengan Penang street (salah satu pusat kuliner di penang). 

Sempat terjadi sedikit kebingungan karena dua kamar yang kami pesan seharusnya memiliki besar yang sama (harga sama, tipe sama), tapi yang satu begitu strategis tempatnya dan besar, yang satu lagi terkesan kamar gudang (di pojok, kecil, jauh dari lift). Walaupun hotel besar, namun layanan hotel ini begitu membingungkan, kami harus bolak balik ke bawah untuk komplain (password wo fi expired, kunci tidak berfungsi berkali-kali, ada bau bangkai tikus di dekat lift). Namun seluruh personil melayani dengan sangat ramah dan baik.

Setelah istirahat dan berenang sebentar di hotel, kami makan siang kemudian mengunjungi Gurney Mall dan Paragon mall, mall terbesar di Penang, tapi tidak lama karena saya tidak terlalu suka mall. 
Makan siang kami hari ini begitu ‘berwarna’, untuk pertama kalinya saya mencoba makanan India. Karena beberapa bulan belakangan saya suka menonton drama India, maka saya sering mendengar makanan India seperti samosa, poori dan thosa…oya, roti canai dan teh tarik juga. Saya suka makanan India, kaya akan rempah walau sedikit blenger.

Supir taksi yang membawa kami ke hotel memberitahu bahwa ada tempat makan di sebelah kiri hotel. Malamnya, Papa, saya dan Yovi mencari tempat makan itu dengan tekad akan mencoba makanan Penang. Setelah berjalan…dan berjalan…dan berjalan akhirnya saya mengatakan pada Papa saya, “sepertinya kita salah dan harus balik lagi deh”. Saya pikir sebaik ya kita ke Penang street saja seperti tadi siang yang letaknya di kanan hotel. Mungkin saja supir taksi itu salah sebut kanan dan kiri.

Tapi Papa saya itu tekadnya kuat sekali. Ia menjawab “kita jalan terus”. Karena adik saya memilih abstain, dan saya kalah usia, maka saya terpaksa ikut jalan terus (dengan perkiraan ‘papa saya akan menyesal nanti’, bukan ancaman kok). 

Akhirnya kami menemukan sebuah tempat makan, semacam foodcourt. Sebenarnya tempat makan itu terdiri dari dua bagian, halal dan haram. Kami kebetulan masuk ke tempat halal, dan tidak tahu kalau di sebelah ada tempat makan haram. Tanpa mengurangi rasa hormat, preferensi kami tentu saja makanan non halal.

Saya memesan sup tomyam yang enak, adik saya cendol es krim, papa saya makanan unik bernama Pesambur Rojak. Pesambur Rojak adalah makanan mirip gado-gado yang isinya dapat kita pilih, mulai dari seafood, bakso dan gorengan lain. Papa saya memilih seafood (udang, sotong, ketam) dan terkejut dengan harga fantastis (42 RM sekitar Rp. 130 ribu). 

Saya cukup kagum dengan Malaysia. Mereka tidak memiliki banyak suku bamgsa seperti Indonesia, tapi rupanya hal itu membuat mereka menghargai suku bangsa yang berbeda. Mereka berkata semua yang tinggal di Malaysia adalah Malaysia. Melayu, India, China hidup berdampingan tanpa takut yang satu akan menyerang yang lain. Gereja, Mesjid, Buddha temple, Hindu temple, berdiri tanpa takut dihancurkan. Memang ironis, ketika negara lain membanggakan kesatuan dalam keragaman saat mereka tidak terlalu beragam, bangsa Indonesia yang sangat beragam memiliki masalah dalam kesatuan.

Melihat bagaimana bangsa-bangsa yang berbeda hidup berdampingan, setidaknya di Pulau Pinang ini, saya jadi memiliki definisi baru toleransi yang paling mudah dilakukan: urus saja urusanmu sendiri (dan kaummu), hargai orang lain dengan tidak perlu mengurusi urusan mereka.

Ini adalah malam tahun baru. Kami tidak merayakannya dengan countdown seperti yang banyak dilakukan orang, tapi tahun ini kami mendengar orang-orang melakukan countdown dan kemudian melihat kembang api dari jendela kamar hotel kami di lantai 14.

Selamat tahun baru semuanya. Due to network error, saya terlambat memposting tulisan ini.

Advertisements