Holiday day 3: Apa yang dicari orang?


Kesimpulan saya setelah melewati hari ini adalah sebuah pertanyaan “apa yang dicari orang?”. Pertanyaan itu terpikir oleh saya ketika menyaksikan sebuah pertunjukkan di Cruise yang menjadi tempat kami menginap malam ini.Sebelum tiba di cerita itu, saya akan menceritakan pengalaman kami hari ini. 

Hari ini dimulai dengan bangun siang (yang saya namakan bangun sebangunnya) dan bermalas-malasan. Karena saya senang bangun siang, maka adik saya meninggalkan kami (saya, Papa dan Mama) entah ke mana. Kami sendiri memulainya dengan sarapan makanan khas Penang (Hokkien mie, semacam mie dan bihun dengan kuah udang, udang besar, udang kering dan daging babi), kemudian melanjutkan ke Priangin Mall yang baru mulai beroperasi pukul 11 dan tutup pukul 9 malam.

Penang masa ini didominasi oleh turis Asia, mulai dari India hingga China yang berjalan hilir mudik sepanjang Armenian street, berhenti untuk membeli makanan sebentar, kemudian berjalan lagi. Walau ada juga beberapa turis kulit putih yang sibuk mengambil gambar street art di Armenian street ini.

Kami membeli beberapa oleh-oleh, tidak banyak… dengan alasan “biar urusan oleh-oleh cepat beres”. Oleh-oleh khas dari Penang selain kaos bergambar street art yang dibuat di Thailand adalah Penang White Coffee. Sebenarnya white coffee yang dimaksud bukankah bijih kopi berwarna putih, tapi kopi hitam dengan kremer. 

Oya, di Armenian Street ini, jika Anda suatu saat mengunjunginya, kunjungi sebuah cafe bernama my own cafe yang hanya menjual satu jenis makanan saja, yaitu mie laksa. Mie laksa buatan mereka enak sekali, tersedia dengan dua ukuran, kecil dan besar. Di luar cafe ada penjual es krim kelapa yang rasanya ajaib, terutama jika dimakan di cuaca panas. Untuk minumannya, saya sarankan kopi durian, rasanya benar-benar membuat Anda menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kepuasan luar biasa.

Kapal Star Cruise Libra adalah cruise 9 lantai dengan beberapa layanan mulai dari salon, spa, jogging track, whirlpool (silahkan googling jika Anda tertarik).
Saya tidak dapat menemukan turis berkulit putih yang menaiki kapal ini, beda dengan saat di Halong Bay Vietnam di mana kami dulu merupakan satu-satunya turis Asia. Entah karena bukan waktu mereka untuk liburan model begini, atau mereka tidak tertarik menghabiskan liburan di Cruise.

Cruise dipenuhi turis Asia dari China, India dan Thailand… setidaknya itu bahasa yang saya temukan di sini (saya juga belum mendengar bahasa Indonesia, tapi ada kemungkinan banyak orang Medan yang menggunakan bahasa China dalam pergaulan). 

Nah, karena dipenuhi oleh orang Asia, Anda apat menebak apa bedanya dengan turis kulit putih. Saya tidak sedang meremehkan ras Asia karena saya pun orang Asia. Tapi kalau kita berbesar hati kita dapat mengakui kekurangan maupun kelebihan kita.

Dengan tak adanya turis Asia, bar penjual minuman kosong. Anda tahu kan bar, bangku-bangku tinggi menghadap penjual minuman. Orang Asia itu senangnya berkumpul, ke mana-mana bersama. Jadi Anda bisa melihat gerombolan yang terdiri dari berbagai usia di seluruh ruangan kapal. Juga, orang Asia suia mengambil foto dan jarang belanja jika harganya mahal. Maka, dek dipenuhi orang berfoto dan pusat belanja kosong sama sekali.

Orang Asia memiliki gaya makan yang sama saat diberitahu “ambil sepuasnya”, kalau ga habis tinggalkan saja… rugi dong kalau ga mencoba semua. Mungkin karena dulunya kita negara jajahan, dan rasa persaingan yang ditanamkan orang tua kita begitu tinggi, maka silahkan tebak bagaimana jadinya. Turis China yang mengantri bebek di depan papa saya memilih bagian daging saja dan ingin daging yang baru dipotong. Jadi tanpa sungkan saat belum tersedia di pinggan dia menunggu dan langsung mengambil bebek baru tiga kali berturut-turut dengan jumlah yang luar biasa, membuat antrian di belakangnya tiba-tiba saja menjadi panjang.

Turis Asia makan tanpa adanya aturan yang mengikat. Ada banyak makanan sisa yang ditinggalkan di meja dan mereka kan dengan santai merokok bahkan saat mengetahui bahwa ruangan itu berAC dan merokok akan sangat mengganggu tamu lain. Belum lagi masalah bicara keras-keras sambil makan di meja (atau saat mengangkat telepon sambil makan). Saya pernah berada satu kapal dengan turis ‘bule’ dan melihat dengan jelas perbedaan ini.

Turis Asia juga tidak saling menyapa satu dengan yang lain, terutama dengan yang tak dikenal, seolah mencurigai semua orang. Saat berpapasan, sekalipun di jalan sempit, mereka akan sibuk sendiri, atau bahkan membuang muka agar tak perlu tersenyum. Bandingkan dengan turis kulit putih yang memasang wajah senyum sambil berkata good evening atau good morning saat berpapasan. 

Sungguh, saya tidak sedang bersikap rasis di sini, tapi itulah kenyataannya, bahkan disadari atau tidak saya pun melakukannya tanpa perlu melakukan pembelaan diri bahwa yang saya lakukan itu kebiasaan yang baik.

Saat memperlihatkan jadwal acara di kapal, Papa saya bilang tidak tertarik dengan semuanya: sexy dance, line dance, casino, band perform. Namun akhirnya kami melihat pertunjukkan yang luar biasa (atau dapat juga disebut atraksi) dari beberapa penampil berkulit putih yang diadakan di ruang theater lt. 5. Star Cruise adalah kapal Eropa yang melayani perjalanan di Asia. Kapten, Staff Captain dan Chief Engineer adalah orang Eropa, dan crew lainnya merupakan orang Asia.


Ketika menonton pertunjukkan itu tiba-tiba terpikir oleh saya, sebenarnya apa yang dicari orang dengan menari, main hulahup bahkan melalukan atraksi dengan resiko terjengkang ke belakang. Apakah mereka hanya puas karena bayaran? Atau kepuasan saat mendengar tepuk tangan penonton lebih besar daripada kepuasan menerima bayaran. Ah, tapi bukankah itulah bedanya mereka yang melakukan sesuatu karena passion dan karena bayaran. Mereka yang melakukan sesuatu dengan passion puas dengan pencapaian dan hal lain di luar  / selain materil yang mereka dapatkan.

Oya, anehnya walau para penari itu mengenakan pakaian minim, tapi gaya dan bahasa tubuh mereka tidak erotis seperti jika Anda menonton dangdut erotis di Indonesia, aneh sekali.

Setelah menonton kami melihat-lihat Casino (ejujurnya untuk yang pertama kalinya). Kasino didominasi oleh orang-orang tua yang (sekali lagi) entah mencari apa dalam hidup. Saya hanya memikirkan dua kemungkinan untuk orang tua yang gemar bermain di kasino. Mereka suka perasaan “mendapatkan uang” di usia sudah tidak produktif. Atau mereka suka perasaan “beruntung” saat menang, di tengah-tengah kehidupan nyata di mana orang sulit untuk beruntung. Saya juga baru tahu bahwa orang-orang Malaysia cukup membayar RM 50 untuk masuk ke StarCruise, dan kebanyakan mereka masuk untuk Kasino (tentu saja Warna Negara Malaysia keturunan China non muslim, karena mereka yang muslim tidak diperkenankan).

Tak ada hal istimewa di sisa hari ini, angin begitu besar sampai kami tak berminat untuk ke dek kapal. Hanya menikmati Music Heart trio yang menyanyikan lagu-lagu dengan blending voice yang indah…. sampai akhirnya mengantuk dan tidur pk. 11.30

Advertisements