Di tengah-tengah kisruh sosial politik dan entah apa yang saya gemar komentari di negara sendiri, ijinkan saya menyelipkan cerita mengenai liburan keluarga akhir tahun ini. Akhir tahun ini saya dan keluarga akan menghabiskan waktu di Penang, sebuah pulau kecil di bagian barat Malaysia. 

Kami naik Air Asia, tiba di Kuala Lumpur pk. 11.30 waktu Malaysia dan harus menunggu selama 3 jam sebelum melanjutkan lagi ke Penang. Jika Saudara pernah baca tulisan saya saat ke Thailand tahun ini, Saudara akan tahu bahwa kami pernah tercatat masuk ke Malaysia tapi tidak pernah tercatat keluar (tepatnya hanya papa dan mama karena waktu itu saya dan Yovi ga sempat masuk imigrasi mengingat waktu transit yang sangat mepet akibat delay yang tak diduga-duga) . Hal itu sedikit menyulitkan Papa dan mama karena kedatangannya ke Malaysia tercatat ‘ditolak’. Namun untunglah petugas imigrasi bisa mengerti saat dijelaskan dan mengijinkan mereka masuk.

Perjalanan Kuala Lumpur-Penang hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit saja. Penang adalah sebuah pulau yang sedang membangun. Kami naik Bus Rapidpenang ke hotel yang dikendarai oleh seorang wanita keturunan China-Melayu (Namanya Sue Chen Binti Ahmad) yang sangat mahir. 

Sepanjang perjalanan kami melihat ada begitu banyak rumah susun. Tidak, bukan apartemen, tapi rumah susun… Anda tahu kan bedanya? Buat saya sih sederhana, rumah tinggi dengan banyak jemuran dan anak tangga sampai ke atas itu pasti kategorikan rumah susun, walau fungsinya sama.

Saking banyaknya rumah susun, saya sampai yakin bahwa di Penang ini orang tidak diijinkan lagi membeli tanah. Untuk tinggal di Penang, satu-satunya kesempatan rumah mereka adalah meninggali rumah petak itu. Saya rasa kebanyakan yang tinggal di sana adalah para buruh pabrik (ada banyak pabrik di Penang) dan karyawan.

Armenian street, jalanan tempat hotel yang kami tinggali adalah seperti kota tuanya Semarang, merupakan Pecinan dan tempatnya street art. Hal yang menarik dark Armenian street ini adalah bangunan kuno yang dipertahankan tanpa dipugar. Bahkan ada beberapa bangunan tua yang nyaris dapat dikatakan puing dijadikan cafe atau bakery yang ditata apik dan menarik.

Seperti yang td saya bilang, Armenian street dikenal dengan street artnya. Yaitu tembok-tembok yang digambari atau diberi pojok-pojok selfie.

Selain itu, karena ini merupakan Pecinan, maka Armenian Street dan sekitarnya juga dipenuhi dupa, temple Buddha dan lampion-lampion.


Anda akan menemukan tempat menyewa sepeda seperti ini di sini:

Di mana Anda dapat meminjam sepeda dengan 5 RM (sekitar Rp.15.000) untuk dua jam penggunaan.

Oya, makanan di Penang dapat dibilang murah, Anda bisa mendapat semangkok shrimp dumpling dengan bihun atau bakso ikan dengan bihun seharga 6RM (18.000 rp) di kios pinggir jalan (kisaran harga 5 – 8 RM (15.000 – 24.000 rp), sementara makanan di restoran berkisar 10 RM (Rp.30.000) sampai 15 RM (Rp. 45.000).

Tak banyak yang dapat dikisahkan hari ini. Kami kelelahan karena perjalanan yang tidak terlalu panjang tapi waktu menunggu yang begitu lama. Besok rencananya kami akan menggunakan bus dan berkeliling bagian selatan Penang… see you tommorrow

Advertisements