Konsep Anak, Bapa… dan bidan


Tadi… tepatnya kemarin malam sebenarnya, saya membaca mengenai ‘ceramah’ Rizieq Shihab di hadapan pengikutnya,… kurang lebih mempertanyakan siapa bidan yang membantu kelahiran Yesus. Umat Kristen, Anda dan saya, jujur saja… pernahkah kita berpikir kritis seperti Rizieq ini? Siapa yang membantu kelahiran Yesus? Seorang bidan? Ataukah Yusuf yang membantu kelahiran Maria? 

Saya pernah menulis mengenai “Apakah Yesus tidak dilahirkan di kandang?” Saya rasa untuk menjawab pertanyaan Rizieq, kita bisa dengan kalem menjawab “Saya rasa Maria memang membutuhkan bantuan saat melahirkan, dan orang-orang yang ada di sana membantunya.”

Ayolah, hal ini tidak akan membuat kita menjadi marah, bukan? Mempertanyakan siapa yang membantu kelahiran Yesus bukanlah masalah besar.

Sebenarnya yang menjadi inti permasalahan adalah karena Rizieq Shihab ini mempertanyakan iman kita bahwa Yesus adalah Anak Tuhan. Saya tidak akan menggunakan kata Anak Allah, karena mereka benar… Allah tidak beranak dan tidak memperanakkan (silahkan baca penjelasan saya di sini).

Konsep Bapa dan Anak ini memang sesuatu yang sulit dipahami oleh pengamat dari luar yang melihat iman Kristen tanpa mempelajarinya. Sesulit konsep mengenai Tritunggal dan Tuhan yang menjadi manusia untuk menebus seluruh dosa ciptaan-Nya itu. Tentu saja sulit dipahami, karena sekalinya Anda memahami hal ini, maka Anda akan dengan segera beriman pada Kristus.

Baiklah, mari kita membahas ini… Supaya jika ada di antara Anda, para pembaca, yang masih bingung harus menjawab apa saat ditanya…bisa mendapat sedikit gambaran mengenai konsep Bapa-Anak ini.

Bagaimana mungkin sanggup memahami konsep Bapa dan Anak jika satu-satunya hal yang terpikir ketika mendengar kata ‘anak’ hanyalah hubungan suami-istri dan bagaimana ‘membuat anak’. Mereka bertanya “Bagaimana mungkin Tuhan memiliki anak?” 

Betul sekali! Dia tidak mungkin memiliki anak dengan cara seorang manusia memiliki anak. Karena manusia ini mahluk fana… tidak dapat mengasihi tanpa syarat. Karena itulah Tuhan memberi pengalaman baru untuk mengasihi dengan sebuah hubungan. Hubungan suami-istri dan hubungan orang tua-anak. Bandingkan dengan Tuhan yang sanggup mengasihi secara luar biasa manusia yang berkali-kali menyakiti hati-Nya.

Tapi baiklah, mari kita ikuti cara berpikir dunia mengenai hubungan ayah-anak ini . Tahukah Anda apa yang membuat seorang pria menjadi seorang ayah? Itu karena ia menurunkan DNA-nya kepada anak kandungnya. Dalam kelas Biologi kita belajar mengenai hal ini. Sperma ayah bertemu dengan sel telur ibu, menjadi seorang manusia yang memiliki struktur DNA orang tuanya, termasuk ayahnya.

Dengan cara berpikir yang sama, mari kita melihat kepada Dia, yang dilahirkan dari seorang anak dara (perawan). Mengapa Dia disebut Anak Tuhan? Karena Dia memiliki DNA Tuhan. Tuhan tidak memerlukan cara yang sama dengan seorang manusia untuk menempatkan seorang bayi di dalam rahim seorang anak dara.

Saya tidak mengerti apakah Rizieq Shihab pernah membaca Al-Quran mengenai kelahiran Nabinya bernama Isa yang lahir dari perawan Maria. (Sudah lama saya meyakini bahwa ada perbedaan antara Yesus dan Isa-Almasih… sejak saya mengetahui bahwa Isa Almasih tidak mati untuk menebus dosa manusia, maafkan saya.. Bukankah itu inti dari kehadiran-Nya di dunia, untuk menebus dosa manusia? Jika saya seorang Greissia diceritakan dengan cara berbeda oleh orang lain, misalkan saya memiliki orang tua yang sama tapi hidup dengan cara berbeda, memiliki hobby yang berbeda, kemampuan dan pekerjaan yang berbeda, bukankah artinya kami dua orang berbeda?). Bagaimana caranya Isa Almasih dapat lahir dari seorang perawan?

Sekali lagi, Tuhan menaruh diri-Nya dalam rahim seorang Perawan bernama Maria, itulah mengapa Yesus disebut Anak Tuhan. Mengapa Dia harus menjadi manusia? Karena manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak sanggup membawa dirinya kepada Tuhan yang kudus. Karena manusia dengan Tuhan sudah terpisah begitu jauh akibat dosa.

Mengapa Dia harus menjadi manusia? Supaya Dia dapat mewakili manusia menerima setiap kutuk dan hukuman atas dosa, supaya setiap orang yang menerima-Nya mendapatkan kehidupan kekal dan hak untuk menjadi Anak-anak Tuhan.

UPS!!! Ada kata “Anak Tuhan” lagi di sini!!

Ada dua konsep Bapa-Anak yang berbeda di sini. Yesus disebut Anak Tuhan karena Dia sendiri yang adalah Tuhan ditempatkan dalam diri seorang anak dara dan lahir ke dunia.

Kita disebut Anak Tuhan karena telah diadopsi dari maut kepada kekal dengan darah yang mahal. Tahukah Anda seorang anak adopsi mendapatkan hak yang sama di mata hukum seperti anak kandung? Itulah sebabnya Yesus disebut “yang Sulung” sementara kita adalah “anak-anak Tuhan”

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Rm 8:29)

Kita yang tadinya bukan milik Tuhan, melainkan milik dosa… ditebus dengan darah yang mahal supaya menjadi milik Tuhan, diadopsi menjadi anak-anak Tuhan.

Masih dalam minggu Natal,… bukankah kita patut bersyukur, karena kita dapat menyebut diri kita anak-anak Tuhan? kita dapat memanggilnya BAPA. Kita ditentukan menjadi serupa (masih ingat penjelasan saya tentang DNA?) dengan gambaran Yesus?

Sulit memang memahami hal ini jika Anda tak memiliki kerendahan hati yang cukup untuk mengakui bahwa kebaikan kita tak akan sanggup membawa kita ke dalam keselamatan kekal. Sulit memahami hal ini jika kita masih mengandalkan akal manusia untuk keagungan Tuhan yang Maha Besar. Namun bukan berarti Anda tidak bisa memahaminya. Tuhan mengasihi Anda, dan Dia ingin agar Anda menjadi anak-anak-Nya. Proses menjadi anak-anak Tuhan begitu sederhana. Dia sudah melakukan semuanya, Anda hanya tinggal percaya dan menerimanya. Percaya bahwa Dia sudah mati untuk menebus dosa-dosamu, dan menerima Dia menjadi Juru Selamatmu.

Kiranya Damai Sejahtera, Hikmat dari Surga dan tuntunan Roh Kudus menyertai kita semua. Amin.

Advertisements