Lapor, Pak Polisi!


Hari Sabtu kemarin, rumah nenek saya kemalingan! Seorang nenek berusia 82 tahun seorang diri di rumah, menjadi incaran orang-orang yang tak memiliki perasaan. Dua orang itu memiliki tutur kata manis, mengetahui pola hidup nenek saya, memanfaatkan keluguannya dengan pura-pura memberikan perhatian. Mereka mengaku sebagai petugas PDAM yang bertugas memeriksa meteran air.

Satu orang bertugas mengajak nenek saya bicara, dengan perhatian dan nada bicara halus lembut, bahkan menasihati nenek saya agar berhati-hati seorang diri di rumah, sementara rekannya bertugas “menghabisi” uang dan perhiasan yang ada di laci-laci lemari.

Tiga kamar berhasil diacak-acak, seluruh baju nenek dan tante saya dikeluarkan. Amplop, dompet, tempat perhiasan, semua ludes diambil oleh pencuri itu, meninggalkan laptop, televisi, kamera digital dan barang-barang lain yang sulit dibawa.

Setelah merasa cukup mengambil semuanya, rekannya yang bertugas di dalam menelepon temannya yang sedang bicara dengan nenek saya, kemudian keduanya pamit dengan manis sambil sekali lagi memberi nasihat pada nenek saya agar berhati-hati dan tidak membukakan pintu jika ada orang asing yang mengetuk (benar-benar ironis).

Nenek saya baru menyadari tiga jam kemudian, saat akan masuk ke kamar dan melihat kamar berantakan, kemudian menghubungi mama saya yang segera menghubungi adik saya. Adik saya menghubungi saya dan buzzz… tersebarlah berita melalui group kami. Saya meminta adik saya menghubungi RT, sementara saya sendiri memutuskan pergi ke kantor polisi, sebuah keputusan yang kurang mendapat dukungan yang lainnya.

Sementara saya ke kantor polisi, Pak RT dan satpam yang saat itu bertugas mengunjungi rumah nenek saya, bicara dengan adik dan mama saya (dan tentu saja nenek saya). Suatu hal yang menurut saya aneh adalah, satpam dan pak RT mengatakan bahwa dalam setaun itu sudah delapan kali terjadi peristiwa “kemalingan” di komplek itu. Lebih aneh lagi karena satpam berkata “tidak perlulah lapor polisi, nanti ilang ayam jadi ilang kambing, ilang kambing jadi ilang sapi”

Tiga puluh dua tahun Order Baru ditambah lima belas tahun masa reformasi tanpa dampak di Indonesia membuat bangsa ini begitu apatis dan tidak percaya dengan pemerintah. Rasanya aneh kalau kita mengurus sesuatu ke pemerintahan dan mereka membantu kita tanpa ada pungli. Kemarin saya mengurus Hak Cipta untuk dua lagu saya ke kementrian kehakiman dan begitu terpukau dengan layar sentuh besar yang bertuliskan: laporkan jika ada gratifikasi.

Saat melapor ke kantor polisi, saya melihat sebuah tulisan besar “TIDAK DIPUNGUT BIAYA UNTUK SELURUH LAYANAN KEPOLISIAN”. Berbeda dengan jaman dahulu yang sedikit-sedikit biaya administrasi, pelicin ini dan itu, saat ini kita melihat wajah baru birokrasi pemerintahan kita, dan sebagai warga yang sudah kenyang dengan kelakuan aparat yang seenaknya, kita seolah tak percaya.

Di kantor polisi saya sempat berbicara dengan polisi. Saya bertanya, “Pak, sebenarnya jika ada kemalingan seperti ini, seharusnya warga lapor atau tidak sih?” Saya tahu ini pertanyaan yang konyol, tapi dari seluruh orang yang saya mintai pendapat, kebanyakan mereka akan berkata “tidak perlu lapor, untuk apa? Malah akan menambah biaya… toh barang yang sudah hilang tidak akan kembali”

Jawaban polisi itu membuat saya memiliki suatu pandangan baru akan pentingnya melapor. Polisi itu menjelaskan, “seharusnya sih melapor, Bu. Mungkin barang-barang yang hilang tidak kembali, tapi setiap laporan yang masuk akan menjadi masukan dan evaluasi bagi kepolisian. Kami akan meningkatkan keamanan dengan lebih lama patroli di tempat-tempat yang rawan kemalingan. Kami akan membahas setiap kasus di rapat koordinasi dan itu akan sangat membantu meningkatkan keamanan kota ini”

Saudara, STOP menjadi warga negara yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri! Barangmu mungkin tidak akan kembali, tapi dengan melapor Anda sedang ikut berkontribusi meningkatkan keamanan kota dan membantu kinerja polisi.

Serse yang bertugas saat saya datang sedang akan makan siang. Beliau buru-buru menyelesaikan makan siangnya sementara saya bicara dengan petugas piket. Serse ini masih sangat muda dan mendapat ‘semprotan’ nenek saya yang masih apatis dengan keadaan bangsa ini, “Nanti jangan ke sini lagi ya…saya keberatan kalau polisi bolak balik ke rumah saya!”. Polisi itu dengan senyum berkata, “tidak Nek, pemeriksaan sudah cukup. Kami coba tingkatkan keamanan di wilayah ini”

Saudara, saya memiliki sedikit harapan untuk bangsa ini. Apalagi kemarin kita mendengar Kapolri mengeluarkan perintah untuk menindak oknum yang sembarangan melakukan sweeping. Ya, saya optimis dengan bangsa ini, selama…. selama warganya masih mau memberi kontribusi kepada negara. Bukan kontribusi negatif yang memenuhi media sosial dengan cacian, tapi kontribusi nyata yang membantu pemerintah mewujudkan negara yang sejahtera.

Terkadang kita sebagai minoritas terlalu sering ‘play victim’, merasa diri menjadi korban keadaan yang tak berdaya. Saudara, bukankah martir mati karena mempertahankan kebenaran dan bukan karena menjadi korban keadaan? Ditarik ke keadaan paling ekstrim, saya akan mengutip kata-kata seorang Pendeta, “Saya lebih baik mati membela apa yang benar (untuk bangsa ini) daripada mati di rumah sakit dengan banyak selang di tubuh saya”

Advertisements