Haram, Iman, dan Bisnis


Hari-hari terakhir adalah jahat,…itu yang dikatakan Firman Tuhan dan itu terbukti sekarang. Namun ada satu hal yang tidak diperingatkan pada kita sebelumnya. Mungkin Tuhan gemar bercanda. Dia tidak mengingatkan bahwa hari-hari terakhir makin banyak orang dengan kebodohan yang luar biasa menguras kesabaran orang lain. 
Berita-berita hoax dan kolom-kolom komentar di media sosial menunjukkan pada kita bahwa sebagian manusia mungkin sedang kembali menjadi suatu mahluk primata jenis lain yang menyerupai manusia, namun levelnya setingkat lebih rendah dari manusia. Juga berita-berita terakhir mengenai boikot ini itu dan tuduh sana-sini makin memperkuat dugaan saya.

Sementara teknologi semakin maju, otak manusia semakin mundur. Mau tidak mau saya jadi memikirkan kemungkinan bahwa suatu saat cerita di film Terminator akan terjadi, manusia dikuasai oleh mesin.

Sweeping atribut Natal adalah salah satu kemunduran ini. Jika kita bisa duduk santai dan memikirkan secara logis dengan akal manusia kita, maka seharusnya ada beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Atau, ada beberapa pertanyaan ala 5W 1H yang ingin saya tanyakan:

  1. Apa sebenarnya atribut Natal menurut Anda?
  2. Apa makna atribut Natal bagi Anda?
  3. Kenapa Anda begitu terganggu dengan yang anda sebut atribut Natal itu?
  4. Kapan Anda mulai merasa bahwa yang Anda sebut atribut Natal itu mengganggu Anda?
  5. Siapa saja yang menurut Anda terganggu dengan yang Anda sebut Atribut Natal iti?
  6. Bagaimana itu mengganggu Anda dan mereka?

Jika seluruh pertanyaan itu dijawab dengan kepala dingin, logika dan hati yang tidak panas membara, maka Anda akan menemukan bahwa seluruh permasalahan ini sifatnya konyol belaka.

Beberapa orang kemudian menyebut-nyebut:”haram hukumnya” melakukan ini dan itu dan menjadikan fatwa sebuah lembaga sebagai dasar bertindak.

Jika kita melihat asal katanya (Bahasa Arab), Haram adalah status hukum terhadap suatu aktivitas atau benda, apakah dilarang atau tidak. Di mana jika dilakukan akan berdampak hukum, dalam agama akan disebut dosa. Biasanya ini berlaku dalam suatu negara agama di mana hukum agama yang digunakan untuk menjalankan suatu negara.

Namun, pertanyaannya apakah label haram ini berkembang terus?  Apakah seorang yang menamakan diri pemuka agama berhak mengklaim ini haram, itu haram lalu dijadikan dasar bertindak oleh aparat? Jika ya, bukankah sistem kemanusiaan kita mengalami kemunduran? Jika suatu saat pemuka agama berfatwa “haram hukumnya berkomunikasi dengan yang berbeda agama” lalu bagaimana? 

Akhirnya kita akan mendapat jawaban, bahwa sesuatu dikatakan haram ketika itu dapat melemahkan iman seseorang. Iman seperti apa yang mudah dilemahkan oleh banyak perkara? Jika kita mau menguji sebuah mobil balap, kita tidak akan menyimpannya di garasi, mengelusnya dan mencucinya tiap hari, bukan? Kita akan membawanya ke medan balap dan mencobanya di lokasi yang sulit. Jika mobil itu dapat melaluinya, itu adalah mobil yang baik.

Jika kita mau menguji iman, jika perlu pelajari keyakinan orang lain… jika Anda tetap teguh pada iman Anda, itu adalah iman yang teruji. Jika kita mau menguji iman, hadapkan diri dengan banyak godaan untuk berbuat dosa… jika Anda tetap teguh pada iman Anda, itu adalah iman yang teruji.

Tapi hal seperti ini tidak akan dipahami oleh spesies primata baru yang menyerupai manusia itu…mereka tidak akan paham. Pada akhirnya yang dirusak adalah diri sendiri, makin lama makin primitif dan tak mampu berpikir kritis.

Ngomong-ngomong soal atribut Natal yang diharamkan… sepertinya ada salah paham di sini. Benda-benda yang disebut atribut Natal itu, di Amerika pun sudah tidak disebut atribut Natal, tapi atribut holiday season. Itu atribut liburan akhir tahun, karena sebenarnya sama sekali tidak berkaitan dengan Natal.

Atribut itu saat ini berkaitan dengan nilai bisnis suatu mall atau temoat hiburan, negara-negara Islam saja mengerti hal ini. Hanya negara kita yang orang-orangnya cukup bodoh untuk mempermasalahkannya.

Tapi, atribut Natal yang sebenarnya adalah Kasih Tuhan… lucunya, sweeping yang dilakukan justru makin melekatkan atribut itu dalam hati kita, 

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan, yang ada dalam Kristus Yesus. (Roma 8:38-39).

Advertisements