Sudah hampir dua bulan rambut saya rontok parah…. Parah yang saya maksud di sini adalah PARAH… Saking parahnya, sampai ke manapun saya pergi, Anda bisa mengikuti jejak saya dengan hanya mengikuti rambut-rambut yang berceceran di lantai. Saya sendiri heran dan takjub pada kebaikan Tuhan karena sampai sekarang kepala saya belum botak.

Tidak, tidak… saya tidak sedang menggunakan kalimat-kalimat hiperbola di sini. Saya benar-benar serius. Saya dan adik saya memiliki ketebalan rambut super, katanya karena mama saya terus-terusan menyantap bubur kacang hijau ketika hamil. Saya lahir dengan rambut seperti Don King hingga nenek buyut saya bahkan berkata, seumur hidupnya baru kali itu melihat bayi yang memiliki rambut sebanyak saya. Rambut-rambut halus bahkan menutupi punggung dan wajah saya sehingga dibutuhkan laser untuk membersihkan wajah saya dari rambut.

Bayangkan betapa terpukulnya saya mengetahui kini ketebalan rambut saya adalah sepertiga ketebalan rambut adik saya. Artinya saya sudah kehilangan dua pertiga rambut saya. Benar-benar mengharukan… tidak… benar-benar tragis!

Setiap kali saya memegang rambut saya, pasti ada sedikitnya lima helai ikut tercabut. Saya tidak tahu kenapa. Ada yang bilang mungkin efek sakit Demam Berdarah yang saya derita bulan Agustus. Tapi ini sudah awal Desember… Kenapa oh kenapa… (sudahlah, saya tidak cocok dengan karakter meratap-ratap seperti ini.)

Saat ini saya fokus pada menumbuhkan rambut baru. Karena hal terburuk adalah, seluruh rambut saya sedang mengalami regenerasi, dan kalau memang itu terjadi… (yang terburuk adalah), maka kerontokan ini akan terus terjadi sampai seluruhnya digantikan rambut baru (amit-amit…. mudah-mudahan ngga sampe begini)

Tapi ngomong-ngomong soal regenerasi, saya jadi teringat mengenai pembicaraan saya dengan seorang sahabat beberapa waktu lalu. Dia memulai percakapan dengan “menurutmu, apa artinya regenerasi” yang saya jawab dengan “artinya generasi lama harus mengalah dan pensiun, digantikan dengan generasi baru yang lebih kekinian, lebih segar, lebih cerdas dan memiliki ide-ide baru yang up to date”.

Banyak organisasi sosial (khususnya gereja) tetap mempertahankan generasi lama, atau bisa juga generasi lama (maaf) tidak tahu diri dan terus saja menduduki kursi yang seharusnya sudah dia berikan ke generasi baru.

Akibatnya bisa sangat fatal untuk organisasi tersebut. Si Anu yang tua itu akan merasa terancam, menjadi arogan dan menganggap bahwa ia adalah perwakilan dewa, yang kata-katanya selalu benar. Sementara mereka yang muda merasa kehadirannya di organisasi itu tidak akan berkembang, mulai mencari atau bahkan membuat organisasi baru. Bak lingkaran setan, mereka kemudian terus duduk di bangkunya, menjadi arogan, dan begitu seterusnya.

Organisasi yang mau bertahan lama dan berjaya adalah organisasi yang memahami istilah “regenerasi”. Ketika pada usia tertentu, yang tua menjadi pembina yang muda, mempersiapkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang.

Bukankah kehidupan diatur seperti itu? Jika tidak, Tuhan akan mempertahankan manusia dan tidak akan ada kematian. Manusia akan terus hidup dalam usia tua dan lelah dengan dunia ini.

Saya tidak akan memanjangkan tulisan ini sebelum Anda semua menjadi bosan. Hanya satu tips dari saya… Jika Anda merasa terlalu lama di suatu posisi dan ada orang-orang yang mulai berkasak kusuk tentang posisi Anda… miliki pikiran terbuka dan hati yang besar… mungkin ada orang lain yang lebih cocok di posisi Anda….

Advertisements