Pengacara, Jaksa, atau Hakim?


“Menurut kamu, suami itu pengacara atau jaksa (penuntut)”? sebuah pesan dari adik saya di Whatsapp.

Adik saya (lagi-lagi) membuat sebuah pertanyaan yang cukup aneh, tapi cerdas. Karena saya belum berkeluarga, maka saya menjawab seperti ini, “Kalau di film India yang saya tonton setiap hari,… seorang suami biasanya menjadi penuntut ketika sedang berdua dengan istrinya, tapi menjadi pengacara di hadapan orang lain” (Demam serial India sedang melanda rumah kami. Ceritanya yang bagus dan sarat dengan nilai membuat saya tertarik, tapi hanya memilih satu dari antara banyak serial yang tidak putus-putus di salah satu TV swasta)

“Tapi menurut kamu seperti apa?” cecar adik saya lagi dengan pertanyaannya.

Setelah berpikir cukup keras sambil makan mie kesukaan saya akhirnya saya menjawab “Hmm…. saya setuju dengan film India itu”

Masalahnya, pria punya ego cukup tinggi untuk mengalah ketika bersama wanitanya. Ego yang sama yang membela wanitanya ketika diserang pihak ketiga… Cukup natural, cukup masuk akal.

“Iya, tapi menurut kamu seharusnya seperti apa?” Adik saya memang keras kepala, seperti kakaknya ketika sedang berada dalam perdebatan.

“Ya seharusnya seperti itu,” jawab saya “bukankah kasih menutupi segala sesuatu?” lanjut saya.

“Baik, kalau begitu pembela Jessica itu sedang menutupi kesalahan Jessica” adik saya berkelit (rupanya dia ingin menentang salah satu sifat kasih dalam Alkitab). Oya, Anda tahu kan kisah Jessica yang tidak beres-beres itu?

Bukan begitu” jawab saya “tapi tidak seharusnya seseorang membongkar aib pasangannya di depan orang lain. Untuk itulah saya tadi berkata, di depan orang lain suami seharusnya membela istrinya dan bukan menjatuhkannya. Karena seorang pengacara menggunakan praduga tidak bersalah… sebaliknya seorang penuntut harus membuktikan bahwa si ‘terdakwa’ bersalah.”

“Baik, kalau orang tua, … menurut kamu pengacara atau jaksa?” Adik saya ini entah mendapat ide dari mana membedakan orang berdasarkan pengacara dan jaksa.

“Menurut saya sama saja. Prinsipnya adalah kasih menutupi segala sesuatu.”

Setelah jeda beberapa detik, adik saya menjawab “orang tua yang menjadi pengacara saja, akan membela anaknya membabi buta. Tidak peduli anak salah atau benar, mereka membela anaknya mati-matian. Akibatnya anaknya akan menjadi seorang yang manja dan berpikir bahwa dia tidak pernah salah”.

Saya jadi teringat salah satu kisah dalam serial India yang saya tonton. Ketika itu seorang anak 12 tahun menabrak seorang wanita tua yang adalah ibu dari ibu tirinya. Sang ayah yang merasa bersalah karena bercerai dengan ibunya membela mati-matian anak ini. Sang ibu awalnya menimpakan kesalahan pada dirinya, seolah yang menabrak adalah dirinya, karena bagaimana mungkin anak 12 tahun mengendarai mobil. Kemudian sidang yang panjang akhirnya digelar dan terbukti bahwa sebenarnya si Ibu sedang berada di mall saat kejadian tersebut berlangsung. Si anak 12 tahun pun bebas karena diputuskan bahwa penabraknya adalah orang lain yang tidak diketahui.

Beberapa hari kemudian si anak melakukan kesalahan di sekolah dan si ayah dipanggil. Di depan kepala sekolah yang sedang menceritakan kesalahan anaknya (yang memang pembangkang dan nakal) si anak berkata, “Ayah saya akan membereskan dan menutupi kesalahan saya. Kesalahan apapun yang saya buat tidak masalah bagi ayah saya. Dia akan menutupinya dan membela saya.”

Saya suka reaksi Sang Ayah selanjutnya. Dia pergi ke hakim dan membuka kembali kasus tabrak lari. Melaporkan bahwa yang menabrak adalah anaknya sendiri, sehingga si anak dijatuhi hukuman, yaitu ikut pekerjaan sosial selama 6 bulan.

Adik saya melanjutkan lagi, “tapi kalau orang tua menuntut anaknya terus menerus, tidak pernah membelanya dan selalu mencari kesalahan anak-anaknya, maka anaknya akan menjadi minder dan tidak punya pendirian.”

Sebuah poin yang bagus sekali, lalu saya menjawab “kalau begitu kita tidak bisa mengelompokkan orang tua yang baik menjadi ‘pengacara atau jaksa’, karena orang tua yang baik adalah yang tahu menempatkan dirinya kapan menjadi pengacara, kapan menjadi jaksa, bahkan kapan menjadi hakim”

“Lalu bagaimana dengan kakak?” Saya bertanya

“kalau kamu sih jelas jaksa. Bukan sebagai kakak saja, kamu orangnya selalu mencari-cari apa yang salah.”

Anehnya, dikatai begitu saya tidak marah. Memang betul, dalam pekerjaan saya, saya harus menemukan mana yang salah dari suatu sistem, supaya saya bisa memperbaikinya.

“Tulislah tentang ini, sib!” kata adik saya lagi.

“Tidak janji ya, akan sulit sekali” jawab saya, “akan sulit bagi pembaca mendapat pesan atau makna dari ini semua”

Tulisan ini dibuat atas permintaan adik saya. Saya akan tutup dengan sebuah pemikiran yang kita semua telah ketahui. Kita adalah orang berdosa. Ketika saatnya nanti, kita akan dihakimi berdasarkan dosa-dosa kita. Semua agama mengakui hal ini. Namun ada satu berita baiknya. Hukuman atas dosa kita tidak akan pernah sanggup kita tanggung, karena neraka sekalipun tidak akan cukup untuk membalaskan semua kesalahan dan dosa kita.

Dibutuhkan seorang yang sangat kuat yang dapat menanggung hukuman dosa kita. Kristus sudah melakukannya di atas salib. Karena Dia bukan saja bersedia menjadi pembela kita, tapi menanggung hukuman dosa kita. Sebuah keadilan tercapai – dosa harus dihukum! Namun kasih yang besar telah membuat Dia mengorbankan diri-Nya sendiri untuk kita.

Jadi, ketika suatu saat kita dihakimi atas dosa-dosa kita. Kita yang telah menerima dan di berada di dalam Dia yang telah dihukum atas seluruh dosa kita, akan mendapat pembelaan, bukan lagi dari seorang pengacara, tapi Hakim Agung. Karena jika Hakim itu telah menanggung kesalahan kita, bagaimana mungkin Dia berlaku tak adil dengan menghukum kita?

Namun pertanyaannya adalah, apakah seorang yang baru saja dibebaskan dari dosa yang begitu besar akan kembali pada dosa? Apakah seorang yang baru saja lolos dari hukuman maut mau kembali kepada maut? Apakah seorang anak yang melihat ayahnya dihukum karena kesalahannya mau melakukan kesalahan lagi?

 

 

 

Advertisements