Hari keempat tidak terlalu padat. Kami hanya mengunjungi 3 tempat: Wat Po, Ananta Sanakom dan Catuchak Weekend Market. Namun merupakan hari yang sangat amat melelahkan mengingat apa yang terjadi. 

Di pagi hari, kami (saya, adik saya, dan kedua tante saya) mengunjungi Wat Po, biara dengan Patung Buddha Tidur besar (tapi bukan yang terbesar di dunia). Tak banyak yang bisa kami ceritakan mengenai tempat ini. Biasanya orang akan melanjutkan dengan Grand Palace setelah dari Wat Po. Tapi karena kami mengejar waktu (harus check out dan pindah hotel lagi) kami tidak mengunjungi Grand Palace.

Tiket masuk Grand Palace cukup mahal, dan menurut adik saya yang sudah pernah ke sana, desain interiornya tidak jauh beda dengan pelataran Wat Po dan kita tidak tahu peruntukkan tiap ruangan jika kita tidak menyewa jasa tour guide.

Sekembalinya ke hotel, kami langsung beres-beres untuk pindah hotel (lagi). Kali ini ke Vic 3 hotel (hotel baru yang tidak banyak orang tahu, sehingga kami sulit ketika bertanya). Kamar hotel ini sungguh nyaman, dekat dengan stasiun BTS dan Chatuchak.

Supir taksi yang mengangkut kami ke Vic 3 merupakan dua orang (dari dua taksi) yang sangat ramah. Supir taksi yang mengangkut saya mengumpulkan banyak brosur di mobilnya, menunjukkan pada kami tempat-tempat yang seharusnya kami kunjungi. Dalam bahasa Inggris yang sulit dimengerti dia menjelaskan di mana seharusnya kami menginap dan ke mana saja seharusnya kami pergi. Tentu saja sudah terlambat karena ini merupakan hari terakhir kami di Bangkok.

Setelah menyimpan barang-barang di kamar, kami menggunakan dua taksi menuju ke Ananta Sanakom Throne Hall, sebuah bangunan dengan nuansa Eropa. Bangunan ini didirikan oleh Raja sebagai bagian dari istana yang berfungsi menerima tamu kenegaraan dengan jamuan. Dibangun oleh King Rama V dan menghabiskan waktu 8 tahun (sayangnya Sang Raja sudah wafat saat bangunan ini selesai) hinggal tahun 1915 dan menghabiskan 15 juta baht (jika dihitung ke kurs hari ini sekitar 6 Miliar Rupiah).

Hari ini, bangunan ini tidak lagi digunakan untuk jamuan dan hanya digunakan untuk museum barang-barang Raja dan Ratu.

Anda akan benar-benar terpukau saat ada di dalam. Kubah yang begitu megah dihiasi dengan banyak lukisan, singgasana Raja dan Ratu yang terbuat dari emas, miniatur paviliun kerajaan yang juga terbuat dari emas bertatahkan berlian, sulaman yang sangat besar dan dibuat selama dua tahun, tempat-tempat perhiasan Ratu, dan masih banyak lagi.

Sebelum masuk ke istana kita harus menitipkan seluruh tas dan barang bawaan kita di loker yang letaknya di gedung terpisah dengan istana. Jika kedapatan masih membawa barang-barang yang saya sebutkan di atas, kita harus kembali ke gedung tempat loker.

Masuk ke dalam istana Anda akan digeledah, sama sekali tidak diijinkan membawa kamera, handphone, kacamata hitam, dan wanita harus menggunakan rok atau menutup (maaf) selangkangan (yang bercelana panjang) dengan kain. Mereka menyediakan kain seharga 50 Baht yang dapat dibeli untuk menutupi bagian yang saya sebutkan tadi.

 

Di halaman gedung kita diberi semacam wireless telephone yang akan memandu dan menceritakan apa saja yang akan kita lihat. Di setiap barang-barang pajangan terdapat no kode (101 – 129). Untuk mengetahui benda apa dan dibuat dari apa, kita hanya tinggal memencet kode dan tombol play kemudian mendengarkan wireless telephone itu.

Para penjaga di museum tidak suka jika kita hanya sekedar melihat-lihat. Mereka terus saja mengatakan bahwa kita harus memencet kode dan mendengarkan keterangan di sana.

Oya, dalam dekorasi-dekorasi yang digunakan, baik untuk singgasana maupun pahatan, ada banyak hewan dari mitologi kuno seperti naga, hanoman dan burung garuda. Rupanya sejarah Thailand berakar dari agama Hindu yang kuat, berubah menjadi Buddha yang kuat.

Dari banyaknya Garuda, saya mulai bertanya-tanya, mengapa Indonesia menggunakan burung Garuda sebagai lambang negara jika itu memang bukan dari “sejarah asli” Indonesia. Sebenarnya, dengan melihat banyaknya kemiripan dengan Indonesia (dulu Indonesia dikuasai kerajaan Hindu-Buddha), saya mulai bertanya-tanya, apa yang merupakan sesuatu yang asli Indonesia dan bukan dibawa oleh pendahulu-pendahulu dari Thailand dan Vietnam masuk ke bumi Nusantara ini.

Sepulang dari Ananta Sanakom, kami mengalami kesulitan yang luar biasa. Sulit sekali mencari taksi dan tuktuk dengan harga pantas yang mau mengangkut kami ke Sanam Pao, lokasi hotel kami. Saat keberangkatan, kami hanya menghabiskan uang 80 THB saja per mobil. Saat mau pulang rata-rata mereka meminta 400 THB per mobil.

Akhirnya kami mendapat satu taksi yang bersedia mengantar ke Sanam Pao dengan 100 THB saja. Karena jumlah kami berenam, diputuskan empat orang berangkat terlebih dahulu, menyisakan saya dan salah seorang tante saya menunggu transportasi berikutnya yang mau mengangkut kami.

Gawatnya, tidak satu pun taksi yang kami berhentikan mau mengangkut kami ke Sanam Pao, alasannya… jalan menuju ke sana macet. Terkena “macet” di Bangkok berarti Anda tidak maju sama sekali. Sekumpulan karyawan swasta memberitahu kami untuk naik bus no 503 (yang belakangan kami tahu tidak ada bus no 503).

Setelah menunggu…menunggu… dan menunggu, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja (sebelumnya saya sudah mencari tahu bahwa jarak istana itu ke hotel saya hanya 1 jam berjalan kaki). Setelah berjalan sekitar 500 meter, ada sebuah taksi yang akhirnya mau mengangkut kami dengan meter. Tak sampai 300 meter yang lama (sekitar 30 menit) karena macet total dan tak bergerak dan meter menunjukkan 125 THB, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki lagi sekitar 1,5 km (menurut supir taksi).

Perjalanan kaki selama 45 menit itu merupakan perjalanan kaki yang panjang, dengan trotoar yang penuh kami terus berjalan menuju hotel dan bertanya setiap beberapa ratus meter.

Kami keluar dari Ananta Samakom pk. 16.30 dan tiba di hotel pk. 18.20 (yang mana tidak berbeda jauh dengan penumpang taksi pertama yang ternyata berjalan kaki juga dan melanjutkan dengan BTS).

Setelah istirahat selama 1,5 jam di hotel, kami melanjutkan perjalanan ke Chatuchak Weekend Market. Suasana di Chatuchak benar-benar ramai. Tempat ini merupakan surganya siapapun yang suka belanja (dan jajan). Banyak penjual pakaian menjual baju retail dengan harga wholesale. Chatuchak kebanyakan menyediakan baju untuk anak-anak muda, sedikit sekali pakaian untuk mereka yang berusia di atas 60an. Jika Anda berusia di atas 60an dan mencari pakaian yang tepat, Pratunam Market mungkin pilihan yang lebih baik.

Pasar Chatuchak buka mulai hari Jumat malam (sekitar pk. 6 malam) sampai Sabtu dini hari (3 pagi), dilanjutkan sabtu pagi (06.00) smpai sore (18.00) dan Minggu (dengan rentang yang sama dengan Sabtu). Namun jika Anda ingin ke weekend market, Jumat malam adalah pilihan yang tepat karena tidak perlu berpanas-panasan di sana.

Kami tiba di hotel pukul 12 malam, dengan kebingungan bagaimana caranya memasukkan belanjaan ke tas kami yang memang sudah penuh. Tidak terasa ini merupakan malam terakhir dan besok kami akan pulang kembali ke Bandung.

 

Advertisements