Hari ketiga dapat dikatakan puncak perjalanan kami di Bangkok, Thailand. Kami mengunjungi cukup banyak tempat dan mengakhirinya dengan kelelahan luar biasa. Namun apa yang kami alami, sebanding dengan kelelahan itu, saya rasa.

Roti-roti basi

Perjalanan hari ketiga kami dimulai dengan roti-roti yang basi dan bau. Ya, tante-tante saya membeli roti di 7 eleven yang berjarak sekitar 200 meter dari hotel kami. Sesampainya di hotel, bau apak dan basi tercium saat membuka roti-roti itu (hanya Papa saya yang tidak peduli dan terus memakan rotinya sampai habis).

Kemarin saya katakan bahwa etika bangsa ini luar biasa. Saat saya komplain ke 7 eleven, tanpa banyak bicara, manager toko langsung memperlihatkan tanggal kadaluarsa (esok hari), mengambil struk belanjaan, tiga buah roti yang belum dibuka dan dua buah roti basi yang sudah dibuka. Awalnya saya tidak tahu apa yang dilakukannya, dia sibuk hilir mudik mengambil barang sesuai dengan yang dibeli oleh tante saya, kemudian menscannya dengan barcode.

Entah bagaimana cara kerja sistem toko itu, dia kemudian menghitung biaya yang dikeluarkan untuk roti yang dikembalikan dan tanpa banyak bicara mengembalikan uang. Saya tidak tahu apakah itu disebabkan mereka tidak dapat berbicara bahasa Inggris dengan lancar atau memang mereka memiliki prosedur yang luar biasa.

Setelah sarapan dengan makanan cepat saji yang dipanaskan di microwave 7 eleven, kami kemudian memulai perjalanan ke Siam Centre untuk mengunjungi Madame Tussaud. Jarak antara Siam Centre dengan hotel kami adalah sekitar 900 meter sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki.


Menghormati Raja

Saat sedang berjalan, tiba-tiba polisi memarahi saya dan memaksa saya untuk mundur (karena saya suka berjalan di depan dengan kecepatan luar biasa). Saat saya melihat ke belakang, rupanya para pejalan kaki lain (termasuk keluarga saya) sedang berhenti tanpa alasan yang jelas dan entah menunggui apa.

Namun kemudian seorang ibu dengan logat Thailand dan bahasa Inggris yang agak sulit dimengerti (orang Thailand tidak bisa mengucapkan ‘s’ di tengah kata. Mereka mengucapkan rice dengan “rai”) menjelaskan bahwa di Thailand (khususnya Bangkok), sewaktu-waktu ketika raja atau ratu lewat semua pejalan kaki harus berhenti saat diperintahkan oleh polisi. Menurutnya, mereka bahkan bisa menunggu diam selama satu jam tanpa mengetahui siapa yang akan lewat (raja atau ratu) dan kapan mereka lewat.

Menurut ibu itu, rakyat jelata tidak boleh sampai melihat wajah raja secara langsung. Beliau bahkan menunduk saat mobil kerajaan lewat (yang saya ikuti karena latah). Saya cukup terkejut mendengar ini dan sepertinya dia menangkap keterkejutan saya. Dia melanjutkan penjelasannya dengan berkata bahwa sebenarnya Raja dan Ratu mereka sayang pada rakyatnya dan demikian pula sebaliknya, hanya saja para polisi seringkali berlebihan. Mereka bersikap seolah-olah Raja Thailand adalah tiran yang ditakuti oleh rakyatnya, padahal sebenarnya tidak demikian.

Dari caranya bercerita, saya bisa menangkap bahwa Raja Thailand memang sangat disayangi dan dihormati oleh Rakyatnya. Dari cuplikan di Siam Niramit Show saya bahkan melihat rakyat yang bertemu raja benar-benar mencium kaki Raja. Saya dan adik saya menyimpulkan bahwa ini mungkin merupakan salah satu sebab Rakyat Thailand memiliki sikap yang sangat sopan, karena mereka tidak mau mempermalukan rajanya. Mereka benar-benar menghormati Raja dan menjaga sikap (termasuk tidak membuang sampah sembarangan), disamping tentu saja ada alasan lain.

Di Bandung, kita bisa melihat sampah di mana-mana bahkan di alun-alun kota. Alasannya bermacam-macam, dimulai dari tukang sampah yang malas mengangkut sampah, sistem yang berantakan dan mentalitas bangsa yang buruk. Banyaknya tukang jual makanan memperburuk keadaan ini.

Di Bangkok, ada banyak juga penjual makanan, tapi jalanan tetap bersih tanpa sampah berserakan di mana-mana… benar-benar mengagumkan.

Madame Tussaud

Saya rasa sudah banyak yang mengetahui mengenai Madame Tussaud. Kita tidak hanya bisa melihat museum patung lilin di Bangkok, tapi juga di Singapura, Hongkok, London, dan banyak kota besar lainnya.

Madame Tussaud (silahkan googling sejarahnya) adalah museum yang berisi patung-patung lilin tokoh-tokoh terkenal dari seluruh dunia, mulai dari Van Diesel sampai Mahatma Gandhi, Ronaldo sampai Picasso, Justin Bieber sampai Oprah ada di sini. 

Pembuatan patung-patung lilin itu membutuhkan waktu tiga bulan, mulai dari mengukur tinggi badan, lebar pinggang, dll, mencari warna kulit, mata dan rambut yang cocok hingga proses membuat dan mendandani.

Satu hal yang mencolok yang akan membedakan patung lilin dari manusia biasa (tentu saja yang sedang sama-sama diam tak bergerak) adalah tatapan mata. Mereka memiliki tatapan mata kosong yang menatap ke satu arah. Tak heran jika Alkitab berkata “mata adalah pelita tubuh” (Matius 6:22).

Itulah juga kenapa saya sering berkata bahwa jika manusia tidak dapat berekspresi, mereka tak beda dengan patung lilin saat orang lain melihat mereka. Ah, tapi bukankah ekspresi (yang jarang dimiliki orang Asia) merupakan produk dari keluarga? Keluarga Asia kurang memberi kesempatan bagi anak-anak mereka untuk berpendapat dan berekspresi. Semua keputusan harus diputuskan oleh orang tua dan anak tidak memiliki pilihan selain menurut. Anak tidak boleh mengungkapkan perasaan, terutama jika bertentangan dengan keinginan dan perintah orang tua, kecuali jika mereka ingin dicap kurang ajar (atau bahkan anak durhaka).

Dari Madame Tussaud kami lanjutkan dengan menyaksikan film 4D “Ice Age: No time for nuts” yang luar biasa. Anda akan diberi kacamata 3D, dan merasakan sensasi basah dan angin saat menonton

Terminal 21 dan Art of Paradise

Dari Siam Center kami melanjutkan perjalanan ke Terminal 21, tempat di mana kami akan makan siang. Makan siang di lantai 5 Terminal 21 (food court area) benar-benar luar biasa murah. Saya menyarankan Anda mencobanya jika ke Thailand. Ada banyak makanan enak dengan harga luar biasa. Saya mencoba Pork Steak yang sangat enak dengan harga 40 Baht saja (sekitar 16 ribu rupiah). Anda juga bisa mendapat Sup Ikan yang lezat dengan harga 35 Baht saja (sekitar 14 ribu rupiah). Dari deposit yang kami anggarkan 1000 Baht untuk berenam, kami akhirnya mengambil kembalian sebanyak 450 Baht. Artinya kami hanya menghabiskan 550 Baht (sekitar 220 ribu rupiah) dengan porsi begitu banyak (makanan, snack, minuman dan dessert).

Dari Terminal 21 kemudian kami menggunakan MRT menuju Mall Esplanade untuk menunggu pertunjukkan Siam Niramit di Art of Paradise. Kami tiba pk. 3.30 dan menghabiskan waktu 1,5 jam di Art of Paradise. Art of Paradise adalah semacam galeri untuk berfoto dengan lukisan 3 Dimensi yang dibuat di dinding dan lantai.

Saya tidak dapat berkata banyak mengenai Art of Paradise selain “batas antara bagus dan sempurna hanyalah masalah jarak dan sudut pandang”. Anda akan mendapat hasil yang berbeda jika mengambil foto dari tempat yang ditentukan (ada spot-spot foto yang disarankan).

Di lantai dasar Esplanade terdapat food market yang menawarkan banyak jajanan khasu Thailand seperti di bawah ini:

Selanjutnya kami menuju Siam Niramit dengan menggunakan shuttle car yang disediakan oleh Siam Niramit Show, khusus mengangkut penumpang yang akan ke Siam Niramit:

Siam Niramit

Siam Niramit merupakan pertunjukkan luar biasa. Anda tidak boleh melewatkanya jika datang ke Bangkok. Satu lagi, jangan datang tepat waktu. Datanglah satu atau dua jam sebelum pertunjukkan dimulai. Anda bisa berbelanja oleh-oleh, melihat Thai Village dan mencoba makanan khas Thailand yang dibagikan di Thai Village, dan berfoto bersama dengan beberapa tokoh yang dengan senang hati diajak berfoto ria.

Kita tidak diijinkan untuk mengambil gambar sama sekali di dalam gedung pertunjukkan Siam Niramit. Seluruh kamera harus dititipkan sebelum masuk ke gedung pertunjukkan (yang dapat diambil setelah pertunjukkan usai).

Secara keseluruhan, pertunjukkan ini tanpa cela. Otomatisasi dan kerjasama krew menghasilkan pertunjukkan hebat yang luar biasa… sebuah standar kesempurnaan yang dilanjutkan dengan latihan dan kebiasaan setiap hari.


Penjelasan lisan mengenai apa yang dipertunjukkan menggunakan dua bahasa, Thailand dan Inggris, tapi mereka juga memberi penjelasan tulisan di LCD dengan bahasa Mandarin, Jepang, Korea dan Yunani. Seharusnya, mengingat begitu banyak orang Indonesia mengunjungi Thailand, mereka mempertimbangkan menyertakan Bahasa Indonesia dalam penjelasan tulisan. Atau memang orang Indonesia jarang yang mau menonton Siam Niramit saat di Bangkok. Mereka lebih suka belanja dan belanja… entahlah…


Satu hal yang menarik perhatian saya adalah iklan sebelum pertunjukkan Siam Niramit. Anda tahu kan kalau Thailand terkenal dengan iklannya yang luar biasa. Adik saya menduga bahwa tingginya etika masyarakat Thailand adalah karena mereka sering disuguhi iklan yang memotivasi dan membangun.

Iklah yang menarik perhatian saya adalah iklan mengenai Thailand sendiri. Jika Anda melihat iklan petani dan nelayan di Indonesia, tampak mereka terlihat serius dengan pekerjaannya seperti merenungi nasib. Dalam iklan Thailand, mereka terlihat begitu bangga sekedar menanam padi dengan gotong royong sekeluarga (bahkan anak-anak kecil ikut). Kemudian ada satu scene ketika seorang anak yang sedang membawa bunga hasil panen tersandung di jembatan karena ada paku yang keluar. Mengetahui bahwa akan ada rombongan kerajaan yang lewat, dia menaruh dulu bunga-bunganya, mencari batu besar dan kemudian memukul paku itu sampai tak lagi menghalangi jalan sehingga rombongan Raja dapat lewat dengan selamat.

Saya bukan orang yang suka mendiskreditkan bangsa Indonesia. Sejujurnya, saya sangat mencintai negara saya. Justru karena saya begitu mencintai Indonesia, saya ingin melihat negara tercinta saya itu maju.

Di Thailand, seluruh lapisan masyarakat bekerjasama untuk membangun mental anak bangsa, bahkan sampai iklan pun digunakan untuk membangun. Di Indonesia? Bahkan iklan pun dapat merusak mental.

Thailand adalah negara yang tak beda jauh dengan Indonesia. Di Thai village kita dapat melihat sawah, orang-orangan sawah, orang membatik dan wayang. Di Esplanade, kita melihat jajanan pasar yang tidak jauh beda dengan Indonesia (bahkan ada cendol yang dijual). Saat pertunjukkan Siam Niramit, kita melihat selingan permainan angklung dari para pemeran (saya sampai ragu apakah angklung memang diciptakan oleh Bapak Daeng Sutisna). Perbedaan antara Thailand dan Indonesia hanyalah satu hal: Mentalitas Rakyat!

——

ps: Oya. btw… semua tiket masuk ke tempat-tempat di atas kami beli dari Indonesia (melalui internet), jauh lebih murah dan mudah.

Advertisements