Hari kedua liburan kami di Bangkok dimulai dengan suatu aktivitas yang disukai para wanita: BELANJA! Kami belanja di Pasar Pratunam yang letaknya tepat di sebelah hotel kami, dan melanjutkan belanja di Platinum. Adik saya nyaris stress mencari oleh2 untuk keluarga besarnya dan saya hanya bisa kebingungan melihatnya (jangan salah, saya sendiri sudah belanja cukup banyak walau tidak sebanyak ncik2 kalap dari Indonesia lainnya).

Setelah berbelanja kami check out dari first hotel dan pindah ke Siam Swana Hotel. Hotel ini cukup enak juga dan lokasinya tidak jauh dari BTS sehingga memudahkan kami bepergian ke mana saja (silahkan googling untuk mengetahui lebih jauh tentang hotel ini).

Siam Swana Hote
Siam Swana Hotel

Setelah cukup melepaskan kelelahan setelah proses belanja yang melelahkan, kami pun berangkat menuju Wat Arun, temple terbesar di Bangkok. Sayang sekali karena Wat Arun sedang dalam perbaikan, namun menurut saya sih cukuplah untuk bisa menikmati bangunan yang luar biasa.

youtube https://youtu.be/BM1uf6pQbbc%5D

Hal yang menarik perhatian saya bukanlah Wat Arun saja, namun kapal yang membawa kami ke Wat Arun. Seluruh kapal yang merupakan alat transportasi air Thailand memiliki kualitas bersih yang luar biasa, mereka benar-benar menyediakan tempat sampah di kapal dan tak seorang pun berani membuang sampah baik di kapal maupun ke air sungai. Mengingat kemajuan Thailand dan Jakarta tidak terlalu jauh, saya berharap Jakarta sebagai ibu kota negara pun memiliki kualitas bersih yang sama dengan Bangkok.

 

Warga Thailand adalah warga yang ramah walau kami agak kesulitan dengan bahasa. Jika Anda naik Train di Bangkok, Anda akan merasa berdosa kalau Anda duduk saat penuh. Para pemuda (dan pemudi) berebut memberikan tempat duduk pada prioritas yang tertulis di dinding train (anak-anak, orang tua dan wanita hamil). Tanpa denda mereka bisa menjaga kondisi kereta terjaga, tidak ada yang makan dan minum juga tidak ada sampah, dan satu nilai tambah adalah kesiapsediaan warga memberikan tempat duduk bagi siapapun yang dinilai lebih memerlukan (saya bahkan melihat seorang nenek memberikan tempat duduknya untuk anak sekolah yang terlihat sangat mengantuk sepulang sekolah).

Menurut saya ini luar biasa! Singapura menetapkan denda bagi siapapun yang makan dan minum dalam MRT, juga yang membuang sampah, namun mereka lupa memanusiakan warganya. Thailand tidak menetapkan denda, namun warganya memiliki rasa kemanusiaan yang luar biasa di samping menaati aturan yang ada.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya bergurau dengan adik saya. Di Thailand (seperti juga Malaysia dan Singapura), kita melihat escalator tersedia di tempat umum seperti jembatan penyeberangan, dan dalam kondisi hidup (menyala). Saya tanyakan pada adik saya, “menurut kamu apa yang terjadi jika Indonesia menyediakan escalator di tempat umum seperti itu?” Adik saya menjawab “cepat rusak”, menurut saya tidak. Saya katakan bahwa yang terjadi adalah escalator itu akan dimatikan begitu saja oleh pemerintah daerah. Mungkin dengan alasan “takut rusak” atau “dalam perbaikan”.

Dari Wat Arun kami langsung menuju ke River City Mall, tempat kami menukarkan voucher dengan tiket dinner di Bangkok Princess Cruise. Tidak sehebat saat kami menikmati hidangan di Cruise Halong Bay, namun cukup dapat dikatakan makan besar. Entah bagaimana mereka mengatur, dari tiga Princess Cruise yang disediakan, Cruise tempat saya berada didominasi oleh orang Indonesia. Sepertinya mereka memang mengelompokkan customer berdasarkan negara asal. Anda bisa membayangkan bukan apa yang terjadi di sebuah ruangan Buffet dinner yang didominasi orang Indonesia?

Tidak banyak yang kami alami hari ini. Kami pulang dari River City ke hotel dengan menggunakan taksi yang ternyata lebih murah daripada jika naik BTS.

Besok kami akan ke Madam Tussaud, mudah-mudahan banyak cerita yang bisa disampaikan… Good Night!

 

Advertisements