Liburan lebaran kali ini, saya dan keluarga memutuskan untuk “melarikan diri” ke Bangkok, Thailand, salah satu kota termacet di dunia.

Seperti yang saya pernah ceritakan dahulu, bahwa Thailand adalah satu-satunya negara di Asia yang belum pernah dijajah oleh Bangsa asing. Dulu saya merasa bahwa tidak pernah dijajah membuat rakyatnya hidup dalam “rasa aman yang berlebihan” hingga sulit untuk maju. Tapi ternyata, bangsa kita pun mengalaminya, jadi rasanya teori saya tidak dapat diterima.

Karena tidak ada penerbangan Bandung-Bangkok, maka adik saya (yang selalu menjadi panitia akomodasi dalam perjalanan-perjalanan kami) memesan dua tiket (Bandung – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur – Bangkok) dengan jeda hanya 1.5 jam saja.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya menelepon pihak Air Asia kalau-kalau ada kemungkinan kami bisa tukar penerbangan secara free atau bisa diaturkan sehingga kami bisa masuk ke bagian transfer (transit) sehingga tidak perlu urusan dengan pihak imigrasi. Tapi kedua ide saya ditolak mentah-mentah oleh pihak Air Asia yang saya telepon.

Jadi, dengan rasa cemas dan deg-degan kami menanti hari ini. Adik saya mengatakan dia optimis bahwa kami tidak akan ketinggalan pesawat, dia bahkan mempelajari peta dan denah KLIA2, bandara tempat kami mendarat dan pergi lagi ke Bangkok (walau saya yakin dia pasti merasa cemas juga).

Benar saja, seperti ketakutan saya, pesawat ke Kuala Lumpur yang seharusnya kami naiki pk. 8.20 delay. Kami baru berangkat pk. 9.30. Artinya, kami baru akan mendarat di KL pk. 12.30 dan keluar dari pesawat pk.12.45 waktu setempat sedangkan waktu boarding pesawat selanjutnya adalah 12.55.

image

Dengan rasa cemas luar biasa kami berlari dari pintu kedatangan ke bagian imigrasi yang jauhnya lumayan. Alhasil saya dan adik saya mendapat urutan pertama di bagian imigrasi. Petugas imigrasi yang melayani saya rupanya sedang malas, dengan mendecakkan lidah, beliau memberi cap pada paspor saya.

Petugas imigrasi yang melayani adik saya bersikap ramah. Dia bertanya “berapa hari di Malaysia” yang dijawab dengan “hanya transit. We are late”. Sepanjang pesawat, kami berdoa agar pesawat ke Thailand juga mengalami delay. Namun Tuhan mengirim bantuan dengan cara-Nya sendiri. Petugas imigrasi yang melayani adik saya langsung berkata “balik lagi saja supaya cepat.” Thanks to her kami akhirnya tiba tepat saat boarding time dan tidak mengalami keterlambatan seperti yang kami takutkan.

Sampai Thailand, kami disambut dengan guyuran hujan besar yang mengakibatkan kemacetan yang luar biasa. Supir taksi Thailand terkenal karena kelicikannya, jadi kami memesan taksi dari bandara, berharap kami bisa mendapat harga yang pantas. Petugas di Bandara mengatakan kami akan dikenakan biaya sesuai argo yang berjalan, biasanya sih sekitar 300 Baht.

Taksi di Thailand yang menggunakan argo jauh lebih murah hati daripada taksi di Bandung. Di Bandung argometer taksi berjalan cepat sekali, entah diberi makan apa oleh pemiliknya. Di Thailand argo berjalan begitu lambat.

Supir taksi saya meminta biaya tol setiap kali kami melewati pintu tol (70 Baht dan 50 Baht, harga yang sebenarnya). Namun dia menghentikan kami di depan jalan masuk hotel sehingga saya perlu berjalan sekitar 50 meter ke pintu hotel. Argo menunjukkan 251 Baht, namun saat saya memberi 270 Baht, dia ngotot meminta 300 Baht. Total saya mengeluarkan 420 Baht.

Supir taksi adik saya membayarkan dulu biaya tol (70 Baht dan 50 Baht), kemudian menipu adik saya dengan mengatakan biaya tol adalah 120 dan 70. Dia mempersilahkan adik saya menghitung sendiri (120 + 70 + 250). Jadi total adik saya mengeluarkan 440 Baht.

Hotal yang kami tempati, First Hotel merupakan hotel yang cukup bagus dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kami merekomendasikannya jika Anda ingin mengunjungi kota ini (silahkan googling untuk mengetahuinya)

Berbicara mengenai surganya belanja, Ibukota Thailand ini adalah rajanya. Pakaian-pakaian dengan bahan yang bagus dijual dengan harga mulai dari 40 Baht (16 ribu rupiah) saja. Karena di Thailand ini bukan musim liburan, maka harga saat ini sedang murah-murahnya.

image

Kami tadi mengunjungi Asiatique, sebuah mall yang dulunya adalah dermaga yang dibangun oleh Raja Thailand khusus untuk pedagang Eropa. Sebuah langkah bijaksana agar rakyatnya tidak dijajah. Asiatique adalah mall di dekat sungai Chao Praya sehingga kami ke sana dengan menggunakan perahu yang khusus disediakan oleh Asiatique secara cuma-cuma (setelah sebelumnya berjalan kaki 1,1 km dari hotel dilanjuitkan dengan naik BTS).

Pulang dari situ kami membeli durian, mango sticky rice dan kelelahan setelah memakan itu semua. Saya menyempatkan diri untuk menulis ini sebelum nanti mandi dan tidur pulas. Besok pagi, kami akan melanjutkan belanja dan wisata kami di Bangkok… See you tomorrow.

Ps: untuk video lain, silahkan mengunjungi instagram saya @greissia.

Advertisements