Tambolaka, si manis yang tak berdandan


Hari ini saya ada si kota Tambolaka, Pulau Sumba bagian Barat Daya… dalam rangka memberikan training untuk guru2 PPA dari Compassion…

image

Saya tidak akan membahas apa yang terjadi selama training, saya akan membahas sekilas mengenai kehidupan di kota ini.

Tambolaka adalah salah satu kota terbesar (yang kecil) yang terletak di Pulau Sumba bagian Barat Daya di propinsi Nusa Tenggara Timur, lima puluh lima menit perjalanan dengan pesawat dari Bali. Bagian selatan pulau ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia.

image

Pertama saya menginjakkan kaki di Tambolaka, saya langsung merasa shock setelah menyadari bahwa sinyal XL, provider kebanggaan saya tidak ada sama sekali di pulau ini. Aneh ya, ketika kebutuhan kita bertambah, maka dengan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas, kebutuhan tersier pun akhirnya berubah menjadi primer.

Saya agak lega ketika mengetahui di hotel ada sinyal wi fi dari speedy. Walau tidak terlalu kuat, cukuplah untuk memberi kabar keluarga bahwa saya sudah tiba di Tambolaka.

Hari pertama saya mengunjungi salah satu pantai yang letaknya sekitar 30 menit dari tempat kami menginap. Pantainya masih sangat ‘perawan’ dengan pasir lembut dan sampah yang hampir tidak ada. Ombaknya cukup besar, dan karena tadi saya katakan berbatasan dengan Samudera Hindia maka sejauh mata memandang kita tidak melihat air laut yang biru, tapi di kejauhan kita lihat air laut biru tua kehitaman, menunjukkan kedalamannya. Rencananya kami akan melihat sunset, tapi sayangnya awan hitam tebal menutupi sang surya yang siap menenggelamkan diri itu (saya berusaha, tapi selalu gagal menggunakan bahasa puitis nan indah).

Sepanjang jalan menuju pantai, kita bisa langsung menyimpulkan bahwa daerah itu belum diterangi listrik. Kalau anak-anak jaman sekarang, tidak ada listrik terkait dengan tidak ada tempat untuk mengisi ulang daya baterai hape. Jika tidak ada tempat untuk men-charge hape, maka tidak ada hape. Tidak ada hape berarti mimpi buruk! (Agak berlebihan, tapi akuilah kalau ini benar)

image

Rumah adat Sumba memiliki atap yang cukup tinggi. Foto di atas adalah salah satu contoh rumah adat Sumba yang sengaja dibangun pengusaha untuk tempat wisata. Tapi kurang lebih menggambarkan atap dari rumah adat Sumba.

image

Rumah adat Sumba berbentuk panggung dan mereka menempatkan hewan ternak di bagian paling bawah rumah. Mereka sendiri tinggal di dasar rumah panggung. Keluarga yang cukup kaya memiliki satu lantai lagi di bagian atas yang dipakai untuk gudang tempat penyimpanan makanan.

Di halaman rumah penduduk asli Sumba terdapat makam yang dibuat dengan indah. Makin indah makam yang dibuat, makin sejahtera keluarga tersebut. Bahkan ada makam yang diberi bangunan khusus. Makam itu berisi tulang belulang keluarga. Jadi, jika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, mereka akan mengubur jenazahnya di belakang rumah untuk kurang lebih satu tahun lamanya sampai jenazah akan menjadi tulang belulang. Kemudian setelah satu tahun atau lebih, mereka akan menggali kembali makam sementara itu, mengambili tulang-tulangnya dan menguburnya bersama leluhurnya di makam yang ada di depan rumah.

image

Ketika makam ini dibuat, maka keluarga yang membangunnya akan membuat syukuran, memotong 2-5 ekor lembu yang masing-masing seharga 30 juta (sebagian dari mereka memelihara lembu itu sejak kecil). Makin besar makam yang dibuat, makin banyak lembu yang dipotong.

Kemudian, setiap kali membongkar makam untuk menambahkan tulang belulang, mereka akan memotong 2 ekor lembu lagi.

Hari kedua, setelah saya menyelesaikan tanggung jawab saya mengajar 196 guru-guru yang luar biasa, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Danau Weekuri, danau yang terletak 1,5 jam berkendaraan jauhnya dari hotel.

image

Sepanjang perjalanan menuju Danau Weekuri saya seolah menjelajahi waktu kembali ke jaman sebelum peradaban… Ada banyak rumah-rumah panggung tanpa penerangan di sepanjang jalan, membuat saya berpikir mengenai bagaimana mereka bisa hidup dengan kondisi seperti itu.

Namun kalau dipikir-pikir, bukankah itu kebebasan yang sebenarnya,…anak-anak terlihat bahagia bermain dengan hujan, tidak terikat dengan gadget atau tontonan televisi. Mereka melambaikan tangan dengan ramah kepada siapa saja yang melewati rumah mereka.

image

Bagian selatan danau ini adalah Samudera Hindia. Jika kita melihat dari sisi seberang danau, ke arah palung di bawah, maka kita sedang melihat bagian dari Samudera Hindia yang dalam.

image

Danau ini airnya sangat jernih, kita bisa berenang  dan menikmati airnya yang segar sekali. Ini adalah salah satu dari tidak banyak tempat tujuan wisata di Pulau Sumba ini.

Air danau Weekuri adalah air laut. Jadi rupanya ada celah yang membuat air laut masuk ke danau ini, membuatnya menjadi danau air asin yang begitu jernih airnya…

image

image

image

image

image

image

Karena kandungan garamnya cukup tinggi, maka danau weekuri hampir sama dengan laut mati, kita bisa dengan mudah mengambang di permukaannya.

Makanan khas tidak halal dari kota ini adalah se’i babi. Berbeda dari se’i babi di Kupang yang dimasak dengan asap, se’i babi Sumba adalah daging babi panggang dipotong-potong dan disajikan dengan daun pepaya.

Saya melihat masyarakat Indonesia Timur, khususnya Sumba Barat ini sebagai masyarakat yang ramah. Mereka mengucapkan salam hangat tidak dengan cium pipi seperti kebiasaan di pulau Jawa, tapi dengan menyentuhkan hidung ke hidung temannya. Saya tidak bisa membayangkan jika adik saya berulangtahun (atau menikah) di Sumba ini… dengan hidungnya yang sensitif, saya rasa dia akan bersin-bersin seharian.

Berbeda dengan Sumba Barat yang saya datangi, menurut pak Ishak yang mengantar kami, di Sumba Timur lebih keras. Setiap wilayah memiliki raja sendiri, dan jika raja mati, dua orang hambanya harus dikubur hidup-hidup bersama jenazah sang raja. Tapi untung saja hal tersebut berakhir sekitar lima tahun lalu… Luar biasa bukan yang seperti ini masih ada di negeri kita…

Apalagi yang bisa saya katakan dari Sumba… Oya, saya kurang cocok dengan rasa air di daerah ini yang manis dan kopinya yang kurang pekat. Namun sangat suka dengan sambal tomatnya yang super sekali…

Begitu saja ulasan saya tentang perjalanan ke Sumba Barat Daya, kota Tambolaka di propinsi Nusa Tenggara Timur. Sangat bersyukur pada Tuhan untuk kesempatan melihat bagian lain dari Indonesia tercinta. Bagi saya, kota ini adalah tempat yang manis, namun tak didandani… ya, si manis yang tak berdandan.

Advertisements