Memuji Orang Farisi (Sebuah Ulasan “Christian Entertainment”)


Seperti tulisan Gereja Bintang Lima sebelumnya yang menuai banyak kritik, tulisan Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment juga menuai kritik (entah berapa persen dari pembaca yang melancarkan kritik diam-diam atau terang-terangan).

Anda pasti menuduh mengira saya seorang yang menyukai kritik atau mencari sensasi. Walau saya tidak menolak kritik dan (sedikit) menyukai sensasi, namun alasan saya menulis bukan itu. Saya hanya tidak bisa diam ketika sesuatu ‘menurut saya’ tidak pada tempatnya, dan ketika mulut sudah tidak dapat berbicara, maka jari-jari saya yang berbicara.

Seorang teman menegur saya sebulan setelah tulisan itu dimuat. Menurutnya, tulisan itu membuat “panas telinga” beberapa orang terkait. Saya tidak mengerti mengenai istilah ‘orang terkait’ ini, karena ketika seseorang mengaitkan dirinya dengan tulisan itu, maka secara tidak langsung beliau mengakui bahwa beliaulah yang dimaksud dalam tulisan itu.

Tulisan itu memang muncul karena kegelisahan dalam hati saya melihat banyak upacara keagamaan (baca: ibadah) berubah menjadi sebuah pertunjukkan rohani (performance) dengan begitu banyak tata lampu, sound system, kostum, make up, fotografer, kameramen.

Anda mungkin bertanya “dari mana kamu  menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka mengatakannya demikian. Ada banyak status dan gambar yang diupload dengan caption “great performance” atau “pertunjukkan yang luar biasa” dan pujian demi pujian dilancarkan pada mereka yang berperan di atas panggung yang kemudian menjawab dengan tersipu-sipu “terima kasih”.

“Tapi bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka bahkan tidak berdoa untuk membuka ibadah! Seolah Tuhan hanyalah tamu yang datang terlambat dan entah duduk di mana. Seolah Tuhan hanyalah pengunjung reguler dari gedung gereja dan bukan TUAN atas ibadah.

“Tapi bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa ibadah berubah menjadi performance?”

Jawabannya sederhana… karena mereka yang menyebut diri WORSHIP LEADER tidak berperan sebagai PEMIMPIN, melainkan hanya sibuk menari dan bernyanyi di panggung. Seolah tidak peduli apakah jemaat yang sedang mereka pimpin memuji Tuhan atau tidak, bahkan berkata “Motivasi kami adalah urusan kami, motivasi jemaat adalah urusan mereka. Jika tidak suka cara kami, silahkan cari tempat lain yang kau suka.”

Saudara, tulisan GBL: Christian Performance adalah sebuah kisah fiksi mengenai hitamnya seorang Pemimpin Pujian yang salah memahami fungsinya dalam ibadah yang secara sistem diubah menjadi pertunjukkan rohani. Seorang sahabat berkata, “yah, tapi kita harus menerima kekurangan mereka. Seharusnya jemaat dapat menerima kekurangan (organisasi) gerejanya seperti istri menerima kekurangan suami”

Anda tahu apa yang lucu dari pernyataan di atas?

Entah mengapa saya langsung membayangkan orang Farisi atau para Imam dengan pakaian kebesarannya berkata “kami tidak bisa menerima kritik” (sebenarnya tidak mau), atau “kami orang Lewi, suku terpilih. Apapun yang kami perbuat, kamu harus bisa menerima kekurangan kami”. Ada juga versi ‘baper’nya “kami sudah berbuat banyak, tega-teganya kamu mengkritik kami seperti itu”.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu, bagaimana dengan Anda? Suatu sistem yang terbolak-balik seperti ini membuat saya bingung setengah mati. Ketika suatu yang tidak pada tempatnya ditunjukkan dan dikritik, lalu tiba-tiba si pengkritik berubah menjadi pelaku sebuah kejahatan serius yang dinamakan menghakimi (terdengar seperti kasus Setya Novanto, bukan? Ketika saksi tiba-tiba diperlakukan seperti tersangka)

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika tiba-tiba saya berubah menjadi peran antagonis yang bersikap begitu tega pada segelintir orang yang (entah mengapa) panas hatinya membaca tulisan itu.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika mereka yang melihat ketidakberesan dipaksa untuk diam dan mengikuti saja ketidakberesan yang terjadi hanya karena mereka itu hanya “jemaat biasa” sementara bapak pendeta serta ‘orang-orang lewi” yang berdiri di panggung selalu benar.

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika domba yang kelaparan justru diteriaki “kalau tidak puas di sini, pindah saja ke kandang lain, mungkin tempatmu bukan di sini”

Saya tidak mengerti sistem seperti itu ketika suatu ketidakberesan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan seharusnya terjadi dan mereka yang menginginkan kebenaran justru dianggap tidak normal.

Saya tidak mengerti sistem seperti ini ketika ada orang berkata “kita harus menerima orang-orang Farisi di sinagoge itu apapun yang mereka lakukan”

Saya hanya mengerti, bagi mereka kritik atau perumpamaan atau apapun merupakan suatu serangan pribadi dan sama sekali tidak berdampak… bahkan kalau pun itu disampaikan oleh Kristus sendiri.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya . Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia- Matius 21:45-56a

Tapi pada akhirnya, apalah arti ini semua… Bukan tidak mungkin bahwa mereka pun menganggap saya bersikap seperti orang Farisi. Atau mungkin gedung gereja telah dipenuhi oleh orang-orang Farisi… entahlah.

 

 

Advertisements