Kemarin saya mengalami kejadian yang lucu-lucu-kesal. Artinya jika diceritakan sekarang lucu juga, tapi saat mengalaminya lumayan membuat saya kesal.

Pulang dari suatu kegiatan, saya mendapati bahwa tanki bensin saya sudah nyaris kosong (sebenarnya sudah berkedip-kedip), sehingga saya sengaja belok ke jalan yang ada pom bensin, terusan Pasir Koja.

Karena saya tidak membawa uang tunai, saya mengeluarkan kartu debit saya dan kurang lebih beginilah percakapan saya dengan Mas Tukang Isi Bensin yang masih trainee (pakai baju hitam putih)

G : Mas bisa pake debit?

M : Bisa

G : Oke, isi 200.000 aja

Biasa saya mengisi jumlah pasti dan bukannya full jika menggunakan debit dan sedang terburu-buru, agar kartu bisa digesek sementara menunggu bensin diisi ke mobil.

Saya kasih debitnya, Masnya sepertinya lupa bilang “dimulai dari nol” yang pasti ada di prosedur pengisian bensin. Kemudian masnya isi bensinnya sambil pegang2 kartu debit saya nunggu bensin penuh.

G : Mas, kartunya ga digesek?

M : Mbak yakin mau saya gesek kartunya?

G : Hah? Maksudnya gimana Mas?

M : Mbak yakin bensinnya masuk semua ke mobilnya Mbak??

Di sini saya mulai bingung dengan pertanyaan Masnya. Dia menanyakan perihal keyakinan saya pada apa?? Jika ditanya, tentu saja saya beriman pada mesin isi bensin itu. Itu sebabnya saya ada di situ mengisi bensin mobil saya yang tankinya nyaris kosong. Atau jangan-jangan dia tidak beriman bahwa mobil saya bisa menerima bensin sebanyak itu. Tapi itu urusan saya, bukan urusan dia.

G : Memangnya Mas gak yakin kalau bensinnya bakal masuk semua ke mobil saya?

M : Yakin juga sih Mbak. Cuma maksudnya kalau nanti saya gesek ga bisa cashback lho Mbak.

G : (makin bingung) Maksudnya gimana sih Mas?

M : Iya memangnya Mbaknya yakin bensinnya masuk semua ke mobil Mbak?

G : Duh, maksudnya gimana sih Mas? Memangnya tinggal dikit ya persediaan bensin di sini?

M : Ngga juga sih Mbak, bensin mah masih ada.

G : Terus masalahnya si Mas di mana?

M : Ya kalau bensinnya sampe ga masuk semua ke mobilnya Mbak, nanti ga bisa cashback.

Sebenarnya alasan “gak bisa cashback” ini aneh juga. Kalau seandainya dia salah ketik dari 200.000 jadi 500.000, lalu tidak bisa dicashback??

Mendengar pernyataan dia terakhir, akhirnya meledaklah saya. Yah, siapapun yang mengenal saya tahu batas-batas ketidakwajaran kesabaran saya. Terkadang saya bisa sangat sabar, tapi ketika dihadapkan pada situasi dimana saya merasa bingung, biasanya kesabaran saya mudah habis.

G : (membentak) : Ya udah, ga bisa cashback gapapa, bodo amat. YANG PENTING SEKARANG CEPAT GESEK KARTU SAYA!! SAYA BURU-BURU!!

Entah apa yang dia rasakan atau pikirkan saat itu (mungkin saya dia belum pernah bertemu pelanggan yang ngotot ingin bayar di muka), yang jelas dia langsung menggesek kartu saya.

Saya paham benar apa yang disebut “prosedur”, saya membantu beberapa perusahaan untuk membuat prosedur mereka. Karena saya paham PROSEDUR, saya tidak marah saat dikenakan biaya cabut gigi oleh dokter gigi, untuk mengambil gigi yang tertinggal pasca operasi geraham bungsu di klinik yang sama (hanya berbeda dokter).

Karena saya paham prosedur, saya tidak akan ribut membayar denda saat kartu parkir saya hilang.

Namun apa yang dilakukan Mas ini sepertinya merupakan “improvisasi” dari prosedur yang ada. Saya yakin 1000% tidak mungkin dalam prosedur disebutkan:

Jika customer membayar dengan debit dan ingin segera digesek tanyakan “yakin bensinnya masuk semua?

Mungkin, sekali lagi MUNGKIN, prosedur yang tertulis adalah:

Terima pembayaran jika dan hanya jika proses pengisian bahan bakar sudah selesai dilakukan

Saya yakin masalahnya adalah komunikasi. Kesalahan komunikasi banyak membuat masalah, bukan? Sebuah kalimat yang seharusnya diucapkan dengan sopan, jika kita mengucapkannya dengan membentak akan menyampaikan pesan yang berbeda.

Mungkin Anda berkata “lalu kenapa kamu perlu membentak anak muda tidak berdaya yang sedang mengumpulkan receh dan pengalaman”. Jawabannya :hmm, mungkin karena saya sedang lelah!

Ah, saya tidak akan memanjangkan masalah komunikasi di sini… Karena sejujurnya saya menulis ini hanya untuk menceritakan pengalaman konyol yang baru saya hadapi dan mengupdate blog ini, hehe…

 

 

Advertisements