Menurut saya, politik kita sedang berada di puncak keemasan. Sejak munculnya orang-orang benar, seolah ada harapan baru bagi negeri ini. Walau ada juga beberapa orang, entah bayaran atau tidak, berperan antagonis dan memusuhi si orang benar. Tapi itulah kehidupan, tidak akan enak jika tidak ada penyeimbang.

Hal yang paling saya sukai adalah terbentuknya dua kubu di negeri ini, kubu pembela orang benar, dan kubu pembela orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar. Saya tidak mengatakan bahwa orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar otomatis adalah koruptor. Lihatlah Ratna Sarumpaet, walau dia pernah ada kasus sedikit, tapi dia bukan koruptor lagi sekarang… toh dia mati-matian melawan Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok yang saat ini sedang jadi “maskot kebenaran” Indonesia. Atau Ahmad Dani yang mati-matian membenci Ahok… dia kan bukan koruptor, tapi toh dia tidak suka pada yang benar.

Nah, hal yang bagi saya lucu adalah reaksi dari pihak orang-yang-tidak-menyukai-orang-benar yang berusaha menjatuhkan orang benar. Mereka seperti naga yang terus menerus mengeluarkan api dari mulutnya. Api yang (mereka harap) mematikan. Cuitan mantan presiden kita salah satunya.

Beberapa orang yang masih bisa melihat dan berpikir sehat dapat mengatakan dengan pasti, sepuluh tahun sebelum kepemimpinan Presiden Jokowi, tidak banyak kemajuan yang berarti. Ada banyak koruptor yang berasal dari kalangan mentri dan politisi, ada banyak proyek mangkrak yang memakan biaya besar, seolah negara ini berjalan tanpa komando, negara autopilot.

Mantan Presiden kita mencuit-cuit, tidak terima jika banyak orang yang membandingkan hasil kerja 10 tahunnya dengan hasil kerja Presiden saat ini yang baru jalan dua tahun. Mantan Presiden kita mengungkit-ungkit seolah berkata “saya sudah lelah kok kalian tega!!”, hanya saja saya belum mendengar dia mencipta lagu lagi yang berkaitan dengan kegalauan hatinya ini.

Respon terhadap curhatan Mantan kita ini pun beragam. Ada yang membelanya, ada yang membully dan ada yang memilih diam saja.

Saya selalu respect pada orang yang berani berkata benar di atas yang benar dan salah di atas yang salah. Tidak peduli mereka dihujat atau dikata-katai ‘sok main hakim sendiri’, mereka adalah orang-orang banyak bicara yang memiliki sikap. Tentu saya tidak membenarkan bullying! Kata-kata yang berisi makian dan celaan hanyalah bukti bahwa bangsa ini ternyata masih buruk komunikasinya.

Salah satu “akun anonim” yang saya sukai adalah Pakar Mantan, yang menanggapi curhatan Mantan Presiden dengan menampilkan bukti-bukti dan fakta-fakta logis. Reaksinya membuahkan hasil, Sang Mantan terdiam beberapa saat lamanya.

Ketika suatu hal tidak pada tempatnya, kita bisa melihat ada saja orang-orang yang ‘banyak bicara’, mereka mengkritisi hal-hal yang tidak pada tempatnya tersebut. Di dalam hati mereka seolah ada gejolak yang tak bisa dipadamkan, “this is not right!” dan mereka bicara. Di dalam pikiran mereka seolah ada sengatan yang tak bisa dihentikan, “this is not right!” dan mereka menulis.

Panggung politik memiliki keuntungannya tersendiri, yaitu: Tak perlu ada kata ‘dosa’ dibawa-bawa, itulah kenapa bentuk ketidaksetujuan yang diungkapkan dengan satire dan sindiran mulai marak, disamping makian dan celaan yang tak kalah banyaknya (saya sih setuju kalau yang memaki terlalu kasar dan mencemarkan nama baik dihukum penjara)

Berbeda lagi dengan panggung rohani. Ada banyak kata “dosa” dan “menghakimi” di dalamnya. Tunjukkan mana yang menurutmu benar, maka kamu mungkin sedang jatuh dalam dosa “menghakimi sendiri”. Tunjukkan apa yang salah, maka kamu sedang jatuh dalam dosa “menghakimi sendiri”. Yah, saya tidak akan mengelak, di panggung politik pun kata-kata seperti itu banyak yang suka mengucapkan (dan kebanyakan mungkin adalah orang Kristen yang bersembunyi di balik ayat ‘jangan menghakimi’).

Saya pernah menunjukkan kesalahan tindakan seseorang satu kali, dan dia menjawab “yang penting motivasinya benar”. Kalimat “yang penting motivasinya benar” ini setara dengan “saya tidak punya motivasi yang buruk”. Lihatlah kasus Zaskia Gotik yang dituduh melecehkan Pancasila. Dia tidak mudah dibebaskan hanya dengan kalimat “saya tidak ada motivasi untuk ….”

Tidak!! Motivasi tidak cukup sebagai parameter tindakan kita. Berilah bayi Anda nasi rendang, kemudian katakan bahwa motivasi Anda adalah kasih sayang. Bayi Anda mungkin akan mati karena mengalami masalah pencernaan serius. Dapatkah Anda berkata “yang penting motivasi saya benar” ??

Orang-orang yang banyak bicara itu tidak peduli motivasi Anda. Mereka hanya peduli apa yang Anda lakukan benar atau salah. Ketika ternyata kepala dan hati mereka mengatakan bahwa itu tidak benar, mereka akan bicara (atau menulis). Tergantung kebesaran hati Anda menerimanya.

Lawan dari orang-orang yang banyak bicara adalah orang yang memilih diam. Saya berhati-hati dengan tipe seperti ini. Mereka diam, menganalisa, dan menjauh saat Anda terperosok lebih dalam. Bandingkan dengan orang yang banyak bicara. Mereka mengamati, memperingati, dan mungkin memiliki solusi untuk Anda… Jika Anda cukup rendah hati untuk belajar.

Saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah kisah politik dari masa lalu. Tentang seorang Raja yang melakukan kesalahan besar. Dia membahayakan bahkan membunuh orang yang setia padanya, demi merebut istrinya yang cantik dan sedang berselingkuh dengannya. Tuhan mengasihi raja ini sehingga mengirimkan utusan padanya yang memperingatinya. Saya bersyukur di akhir kisah itu, Sang Raja tidak mengatakan “kamu ini sirik ya sama saya karena bisa dapat istri baru yang cantik?? Kepaitan kamu sama saya?? Main hakim sendiri ya kamu??” dan kemudian memasukkan utusan itu ke penjara. Karena jika akhir kisahnya seperti itu, mungkin sampai sekarang dia tidak akan dikenal sebagai Raja Daud yang dekat dengan hatinya Tuhan.

Saya memiliki harapan baru atas Indonesia ini. Mudah-mudahan Presiden Jokowi memiliki kebesaran hati seperti Raja Daud, jika suatu saat ia mengambil langkah yang salah dan dinasihati oleh orang-orang yang peduli padanya. Yah…saya memiliki harapan besar atas negeri ini.

 

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”

(2 Timotius 4:2-3)

Advertisements