Untuk kalangan sendiri

cemetery

Berita kematian datang silih berganti, seolah menghajar kita terus menerus. Kemarin saya dikagetkan dengan kepergian sepasang suami istri sahabat baik dari sahabat saya yang juga merupakan orang tua dari seorang kenalan saya. Mereka merupakan dua dari tiga korban longsor yang terjadi di hotel Club Bali. Semua orang yang mengenalnya terkejut dan berharap mereka masih hidup ketika Tim Basarnas belum berhasil mengeluarkan mereka.

Namun apa hendak dikata, Tuhan berkehendak lain. Puing-puing hotel menimpa tubuh mereka yang sepertinya langsung merenggut nyawa mereka.  Info dari pihak hotel, mereka berdua sempat pindah kamar pada pukul 10 malam, dan kamar sebelumnya aman dari kejadian longsor. Seolah mereka berdua mengetahui bahwa sudah waktunya menghadap Sang Ilahi. Keluarga yang ditinggal sedih, namun mereka tidak memiliki pilihan selain menerima keputusan Yang Maha Kuasa. Bukankah Dia Sang Pemilik Kehidupan? Dia yang memberi, bukankah Dia berhak mengambil?

Berita kematian di sekitar kita datang tanpa pandang usia. Seolah siapapun harus siap saat kematian datang, toh memang tidak ada pilihan.

Pagi ini saya dikejutkan dengan berita tutup usia seorang Hamba Tuhan besar. Hamba Tuhan yang oleh jemaatnya dipercaya akan ditinggal saat pengangkatan untuk berperang melawan antikris (berdasarkan salah satu kotban beliau). Hamba Tuhan besar yang kotbah-kotbahnya begitu luar biasa dan saya kagumi… Pastor Petrus Agung.

Diberitakan tutup usia pada hari Minggu, 13 Maret 2016 pk. 23.00, kemudian berita mulai menjadi simpang siur pada hari Senin, 14 Maret 2016. Seorang rekan hamba Tuhan tidak mau menerima kenyataan bahwa Sang Pastor Besar telah berpulang, mengutip kata-kata Yesus “ia tidak mati, hanya tidur”, dan mengumumkan bahwa Sang Pastor hanya koma.

Kemudian mereka mengambil jenazahnya dari Rumah Sakit, mengumpulkan jemaat dan memulai suatu jenis doa yang baru saya dengar “doa kebangkitan”, dikatakan mereka mengadakan Pertemuan Doa Ilahi untuk mendoakan kebangkitan Pastor Petrus Agung. Entah bagaimana ceritanya,… Mungkin beberapa orang mengambil kesimpulan saat mendengar gabungan berita antara ‘mati’, ‘koma’ dan ‘doa kebangkitan’, kemudian menyebarkan sebuah berita yang isinya bahwa Pastor Petrus Agung telah dibangkitkan dari kematian.

Picture1Berita mulai menjadi liar, hingga diturunkannya berita bahwa jemaat akan berdoa hingga pk. 15.00 untuk memohon kuasa kebangkitan dari Tuhan. Ah, mereka rupanya lebih ingin Pastor Petrus Agung bersama mereka daripada bersama Tuhan. Tanpa memikirkan apa yang sudah dialami Pastor Petrus Agung dalam kehidupan setelah kematian, mereka memintanya terus berlari walau pertandingannya sudah selesai.

Tak lama berita diakhiri oleh sebuah pengumuman bahwa akhirnya para pemimpin jemaat melihat pada jenazah Pastor Petrus Agung yang sepertinya sudah merasa tenang, dan akhirnya diputuskan untuk merelakan kepergiannya, memandikan jenazahnya dan memulai prosesi pemakaman. (Hello…ke mana perginya iman itu… bukankah Lazarus dibangkitkan hari keempat?

Saya tidak tahu apakah tulisan saya kali ini menunjukkan kurangnya iman saya, atau justru iman saya yang luar biasa akan kedaulatan Tuhan. Saya tidak pernah menemukan satu orang pun dalam kitab Suci yang memohon agar Tuhan membangkitkan anak, saudara, keluarga, atau kerabatnya yang sudah mati. Tidak ada! Oh, hanya satu orang yang berani melakukan itu, Elia. Tapi tahukah Anda mengapa ia melakukannya? Saya ceritakan sedikit.

Suatu saat terjadi kekeringan di seluruh negeri sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Tuhan memerintahkan Elia untuk  pergi ke Sarfat, karena di sana ada seorang janda yang sudah dipilih Tuhan untuk memberi Elia makan. Saat Elia tiba, Janda ini sedang mengumpulkan kayu api saat ia melihat ada orang asing datang, orang asing aneh yang berani-beraninya berseru “minta minum”. Rupanya ia adalah wanita yang baik. Dengan segera ia mengambil air untuk Elia. Saat ia sedang mengambil minum, Elia teriak lagi “aku juga minta roti”.

Kalau saya, pasti sudah kesal sekali. Apakah dia tidak tahu bahwa kekeringan sedang melanda negeri. Wanita di Sarfat ini berkata “Demi Yahweh, Tuhanmu yang hidup… aku tidak punya roti, hanya tepung dan minyak sedikit sekali. Ini juga aku lagi mengumpulkan kayu untuk membuat makanan terakhir untuk aku dan anakku” (terjemahan bebas dari saya, silahkah lihat versi alkitabnya di I Raja-Raja 17:7-24)

Kisah selanjutnya, Elia memberi jaminan atas nama Tuhan bahwa tepung dan minyak yang dimiliki perempuan itu tidak akan habis jika dia membuat roti untuk si Hamba Tuhan dulu baru kemudian buat mereka. Sebuah permintaan yang berani bukan? Saya bayangkan ia berkata “tenang aja, buat aja dulu roti untukku, baru untukmu dan anakmu. Karena kata Tuhan tepungmu tidak akan habis, demikian juga minyakmu.”

Bayangkan apa yang ada di pikiran janda itu saat mengolah tepung. Ia memiliki iman yang luar biasa, bukan? Iman di tengah-tengah kesulitan, dan Tuhan memberikan imbalan sesuai janji-Nya, kehidupan mereka dipelihara.

Tak lama kemudian, anak dari perempuan itu sakit keras. Alkitab mengatakan ia sakit keras hingga tak ada lagi nafasnya. Bagaimana perasaan wanita itu? Ah, apakah itu karena si nabi ini mengetahui dan melaporkan kesalahan-kesalahannya pada Tuhannya hingga Tuhan menghukumnya?

Elia kemudian mengambil anak itu, membawanya ke kamar atas yang ia tempati dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. Bagi saya, wanita ini tetap menunjukkan imannya dengan memberikan anak ini kepada Elia. Elia kemudian berdoa pada Tuhan agar ia menghidupkan anak ini. Ajaib! Tuhan mendengarkan permintaan Elia dan anak ini hidup kembali.
Apa kesimpulan Anda? Kalau saya,… Ketika Elia berdoa memohon kehidupan anak ini, ia melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk janda ini. Tidak ada kepentingan manusia di dalamnya. Tidak ada doa “Tuhan, kasihani janda ini yang pasti akan kesepian saat anaknya mati”. Tidak! Elia berdoa untuk mempertahankan nama Tuhannya yang hidup.

Setelah Elia, saya tidak pernah menemukan lagi seorang yang begitu berani meminta agar Tuhan mengembalikan nyawa mereka yang sudah dipanggil pulang, apalagi di Perjanjian Baru.

Ketika seorang anak dari perwira yang percaya meninggal, Yesus berkata “ia tidak mati, hanya tidur”. Saudara pikir apakah ini iman? Tidak!! ini bukan imannya Yesus. Ini adalah kedaulatan-Nya. Ia memiliki kedaulatan atas kehidupan dan kematian. Maka ia berkata Talitakum!

Kehidupan dan juga kematian adalah kedaulatan Tuhan (walau gaya hidup yang tidak bijak ikut berperan dalam usia seseorang).

Banyak yang berkata bahwa suatu saat Pak Petrus pernah berkotbah bahwa dia akan menjadi salah satu yang berperan dalam kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Saya kok kuatir… apa yang dilakukan jemaat dan hamba Tuhan di Semarang adalah karena mereka takut jika ternyata apa yang mereka percayai selama ini bukan kehendak Tuhan, bahwa ternyata rencana Tuhan berbeda dengan apa yang sudah sering mereka dengar…

Saya kok kuatir.. apa yang dilakukan jemaat di Semarang dan hamba Tuhan yang memprakarsainya bukanlah sikap yang bijak. Seolah mempertanyakan kedaulatan Tuhan akan kehidupan. Lagipula, untuk kepentingan siapa mereka melakukan itu? Kepentingan Tuhan, atau mereka sendiri?

Saya kok kuatir.. nama Tuhan kita justru dipermalukan dengan kejadian ini. Di saat Gubernur Ibu Kota berkata “bagi saya mati adalah keuntungan” yang ramai-ramai diamini oleh pengikut Kristus lainnya. Tiba-tiba ada seorang hamba Tuhan dan jemaat Tuhan beramai-ramai tidak terima dengan kematian seorang Hamba Tuhan, seolah tidak yakin bahwa yang bersangkutan sudah mengalami kehidupan kematian bersama Kristus di Sorga.

Saya kok kuatir.. apa yang diprakarsai oleh para hamba Tuhan ini justru akan menimbulkan reaksi kekecewaan yang luar biasa kepada Tuhan ketika seolah-olah Tuhan tidak mengabulkan doa yang dinaikkan ribuan orang dengan menangis, berteriak, berguling-guling, naik kursi, melompat, dan lain-lain.

Saya kok kuatir..tapi ah, siapa saya sehingga bisa mengomentari kejadian yang luar biasa ini. Mungkin iman saya yang kurang dibandingkan para pendeta besar itu…

Advertisements