Radang Sendi, Opname untuk Kemewahan dan Sistem Jadul


Tanggal 24 kemarin, saya mengalami sakit yang luar biasa di daerah punggung bagian bawah. Dimulai dari bangun pagi, tubuh sulit digerakkan. Kemudian saya mandi air hangat dan menjalani aktivitas yang cukup melelahkan (saya saat itu bertugas memimpin outbound untuk 90 karyawan sebuah rumah makan di Bandung).

Besoknya, tanggal 25, saya mengalami sakit seharian, namun membuat janji dengan seorang dokter umum yang belajar ilmu faal di Negeri China. Beliau mengatakan bahwa saya memiliki struktur tulang belakang lordosis (dari kecil saya memang ‘tenggeng’) sehingga seharusnya tidak boleh mengangkat benda-benda berat karena itu akan membebani pinggang dan pinggul saya. Ia kemudian mengatakan bahwa kemungkinan ada radang di lima ruas bagian bawah tulang belakang saya, dan mengajari saya cara menerapi diri sendiri.

Pulangnya, saya coba saran dari dokter itu, namun rupanya sakit saya sudah lebih dari sekedar ‘keadaan lordosis’, dan puncaknya tengah malam, saya hampir tidak bisa menggerakkan badan. Bahkan membalikkan badan saat tidur saja sulit sekali. Kemudian, diantar oleh seorang teman saya ke IGD RS Boromeus, yang kemudian memberi suntikan anti sakit dan obat tidur pada saya, juga obat otot dan pil pain kiler.

Setelah itu saya pulang, namun subuhnya rasa sakit luar biasa kembali terasa dan saya tidak dapat menggerakkan tubuh saya (untungnya tangan saya masih bisa bergerak). Setelah dipaksakan akhirnya saya bisa meraih telepon dan membuat janji dengan adik dan teman saya untuk mengantar saya ke RS setelah agak siang.

Di Rumah Sakit Santosa, saya diperiksa oleh dokter Spesialis Rehabilitasi Medis dan dokter Spesialis Saraf. Keduanya mengatakan kemungkinan saya radang sendi, atau saraf kejepit, dan menyarankan agar saya diopname selama seminggu. Namun malangnya, tak ada kamar kosong. Menurut dokter, ini dampak dari BPJS, sehingga banyak orang yang “tiba-tiba” merasa sakit dan ingin dirawat di RS ber-AC. Beberapa orang datang ke RS dengan keluhan ringan, namun ingin opname. Saat tidak diijinkan, mengamuk dan mengancam akan melaporkan ke kemenkes. Aaah, benar-benar luar biasa bukan bangsa kita ini? Bahkan menginap di RS pun dianggap sebagai kemewahan.

Dari Santosa saya dirujuk ke Boromeus, dan setelah cukup lama berputar-putar, saya menemukan bahwa di Boromeus ada kamar VIP, tapi tidak ada dokter spesialis saraf atau rehabilitasi medis untuk melakukan terapi pada saya. Akhirnya di tengah-tengah kelelahan saya dan para pengantar (mereka pasti lebih lelah), saya dibawa lagi ke Santosa untuk difisioterapi.

Hari itu merupakan perjuangan yang cukup berat bagi saya karena tubuh saya sepertinya sulit sekali diajak bekerja sama.

Sampai ke rumah, Mama saya memberi saya korset magnet, kemudian menyuruh saya menggunakan alat terapi listrik yang biasa digunakan Mama saya untuk asmanya (menurut penjualnya alat terapi ini bagus juga untuk banyak penyakit).

Setelah minum obat anti radang yang disarankan adik ipar saya (yang adalah seorang dokter), tubuh saya terasa agak ringan dan saya bisa tidur pulas.

Besok paginya, saya bangun dengan tubuh yang jauh lebih segar (terutama setelah Papa saya menumpangkan tangannya dan berdoa untuk saya), namun tulang belakang tetap terasa tidak enak, sehingga saya memutuskan untuk sekali lagi difisioterapi.

Kami (saya dan adik saya) datang ke RS Santosa pk. 11.00, penjaga mengatakan bahwa kami harus mengantri 20 orang dan menyarankan saya datang pk.14.00 mengingat perjalanan cukup jauh tidak baik bagi tulang belakang saya, kami pun menunggu di Santosa Cafe hingga pukul 13,15 kemudian kami kembali ke lt.5, tempat fisioterapi.

Setiba di lt.5 saya bertanya pada penjaga, berapa orang lagi yang harus saya tunggu. Dia jawab 3 orang lagi. Jam 2, saat tidak juga dipanggil, kembali saya bertanya dan penjaga menjawab 1 orang lagi. Namun sampai pk.3.00 kami tidak juga dipanggil hingga saya kembali bertanya. Dia kemudian menyuruh saya untuk menunggu sambil tiduran di ruang terapi.

Namun, setelah menunggu 15 menit, saya tidak juga diberi perlakuan apapun, adik saya bertanya pada suster yang menjawab seenaknya, ‘tunggu aja’. Lalu adik saya memaksa melihat daftar pasien. Benar saja, nama saya ada di atas, ditulisi 13.30 di sampingnya, dan sudah dilewati sekitar 10 orang. Saat kami protes, suster hanya menjawab ‘tanya saja orang di depan’.

Di depan, adik saya bertanya pada penjaga, dia malah marah-marah sambil berkata bahwa dia juga tidak tahu karena dioper oleh temannya dari Shift pagi. Saya, yang sudah menyusul, mengatakan tidak peduli bagaimana koordinasi mereka yang aneh kenapa nama saya tidak dipanggil. Dia malah menjawab “alatnya belum ada”. Nah, lalu kenapa orang-orang sesudah saya dipanggil.

Setelah pertengkaran yang cukup alot, akhirnya seorang petugas wanita meminta maaf dan mengatakan ini semua salah komunikasi di pihak mereka. Oya, adik saya melihat layar komputer yang dipelototi petugas itu. Lucunya, hanya ada nama-nama pasien di sebuah lembar excell, namun tidak ada centang. Siapa yang tahu saya terlewat atau tidak????

Aneh juga, Rumah Sakit sebesar itu memiliki sistem yang luar biasa jadul.

Pulang dari fisioterapi, tubuh saya terasa lebih enak, dan saat saya menulis ini, saya sudah bisa duduk dan berdiri tanpa bantuan… walau saya belum dapat membungkukan atau memutar badan.

Saya rasa dalam dua hari saya akan bisa berlari. Sangat bersyukur karena Tuhan memberi saya kesembuhan lebih cepat dari perkiraan orang. Atau memang, Tuhan memberi saya bonus waktu untuk beristirahat dari segala aktivitas.

Well, bukankah sakit diberikan Tuhan sebagai peringatan agar kita beristirahat…

Advertisements