Setelah lama tidak menulis di blog diary ini, baru saja saya berpikir… Apakah hari-hari saya berlalu demikian tak berarti, hingga saya tak menangkap makna atau pelajaran apapun yang terjadi. Bahkan pergantian tahun 2016 pun saya lalui seolah tak memiliki mimpi atau harapan di tahun ini.

Memang saya berada di usia di mana saya merasa membuat resolusi hampir tidak ada gunanya. Saat saya remaja dulu, seorang pembimbing menyuruh kami menuliskan resolusi kami di awal tahun, kemudian menyimpannya dalam amplop tertutup yang dimasukkan dalam box terkunci yang kuncinya dimasukkan ke dalam lemari besi dengan kombinasi khusus yang dimasukkan lagi dalam lemari terkunci yang kuncinya diselipkan dalam lemari baju (baik, sebenarnya hanya dalam amplop tertutup dan disimpan saja). Kemudian dia mengatakan agar kami mendoakannya, dan nanti amplop itu akan dibuka di akhir tahun untuk kami lihat, apakah resolusi kami tercapai atau tidak.

Di usia saya sekarang, saya merasa itu adalah sesuatu yang bodoh, karena anehnya dalam waktu kurang dari satu bulan kita akan segera melupakan apa yang kita tulis di amplop itu (baik, mungkin bukan kita, hanya saya saja). Parahnya lagi, kita lupa bahwa amplop itu pernah ada. Tapi sepertinya memang itu yang diharapkan oleh pembimbing kami.

Bukankah ini sesuatu yang bodoh? Seperti mencobai Tuhan dengan berjalan ke negeri asing yang tidak kita ketahui, melihat peta sekali saja, menyimpannya dan berjalan dengan “iman”. Oke, mungkin analoginya agak kurang tepat, tapu maksud saya menuliskan resolusi dengan cara seperti itu tidak ada gunanya.

Kemudian, dalam usia lebih matang, saya membuat resolusi, menuliskannya, paling tidak dalam blog seperti ini agar kapan-kapan saya bisa membukanya… (Oya, Anda mungkin dapat menemukan resolusi saya tahun-tahun sebelumnya). Tapi ternyata, kesibukan sehari-hari dan hal-hal tak terduga yang terjadi membuat saya dengan segera melupakannya, sehingga saya merasa cara seperti itu pun tak terlalu signifikan. Mungkin bagi orang lain signifikan, tapi ternyata tidak bagi saya.

Dalam usia lebh matang lagi saya membuat resolusi dan menyimpannya dalam kepala saya dan mengulangnya tiap hari. Ternyata cara ini lebih buruk lagi, karena sepertinya selalu saja kepala saya membuat alasan untuk tidak melakukannya.

Di saat saya mulai putus asa, sementara tahun-tahun berganti begitu saja saya kemudian berpikir, apa yang salah. Sebagian Anda yang membaca mungkin akan tertawa dan berkata ” kamu yang salah!”. Tentu saja saya yang salah, tidak mungkin Anda yang salah… Tapi di mana letak kesalahannya?

Sebagian orang menuliskan resolusi “naik pangkat” di awal tahun, kemudian menjalankan aktivitas kerja dengan biasa-biasa. Menjelang akhir tahun saat resolusi tidak tercapai, mereka mulai uring-uringan dan berpikir bahwa mereka menjalani satu tahun yang sia-sia.

Sebagian orang menuliskan resolusi “memiliki bentuk badan ideal” di awal tahun, kemudian menjalankan aktivitas seperti biasa. Saat ada makan besar, mereka berpikir “ah, masih ada besok…. Besok saya akan mulai olahraga dan diet ketat”, dan terjadilah seperti itu… Menjelang akhir tahun, bentuk badannya lebih buruk daripada awal tahun, uring-uringan dan berpikir bahwa mereka menjalani satu tahun yang sia-sia.

Saya menyimpulkan, secara garis besar kesalahan dalam ketidaktercapaian resolusi ada dalam sikap menunda-nunda dan gaya hidup biasa-biasa.  Jika kita berani membuat resolusi, maka kita harus siap dan berani mengganti kebiasaan hidup kita. Jika tidak, maka resolusi akan menjadi sia-sia.

Jadi, akhirnya saya menyimpulkan, resolusi yang menempati nomor satu adalah ini: “melakukan segala sesuatu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan (Kol 3:23)” dan “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.( Pengkhotbah 9:10)”

Jadi tahun ini, sebelum membuat resolusi aneh-aneh, saya hanya memastikan bahwa apapun yang dipercayakan Tuhan pada saya, saya akan mengerjakan itu sekuat tenaga seperti untuk Tuhan.

Mudah-mudahan, tak ada lagi hari-hari yang dilewatkan sia-sia dan tanpa makna… Ehm, jika saya lupa menuliskan makna itu di sini,… Mungkin karena saya sedang kelelahan 🙂

Advertisements