Kemarin, seorang teman mengirim cerita lama ke group whatsapp dimana saya menjadi salah satu anggotanya. Kisah mengenai seorang tukang cukur tua di Amerika Serikat yang baik hati, mencukur karena hobby dan dorongan membantu sesama.

Pertama dia mencukur seorang tukang bunga. Saat si tukang bunga ingin membayar, si tukang cukur menolak dan mengatakan bahwa ia mencukur sebagai bentuk pelayanan pada masyarakat. Si tukang bunga pun pergi dengan penuh rasa terimakasih.

Esok harinya, si tukang cukur melihat, depan rumahnya dipenuhi bunga – bunga segar dan cantik…

Hari itu, seorang polisi datang untuk dicukur. Ketika sudah selesai, lagi-lagi tukang cukur tua menolak untuk dibayar, dan polisi meninggalkannya dengan penuh rasa terimakasih.

Esok paginya, ia menerima selusin donat, sebagai tanda terimakasih dari polisi.

Hari itu juga, ia kedatang seorang Indonesia yang ingin dicukur rambutnya. Saat hendak membayar, tukang cukur tua menolaknya dan mengatakan ia melakukannya untuk pelayanan pada masyarakat.

Esok paginya, Anda pasti bisa menebak apa yang terjadi… Ada banyak orang Indonesia berada di luar untuk mendapat jasa cukur gratis.

Memang ini hanya joke. Tapi joke yang masuk akal, bukan? Maksud saya, masuk akal kita sebagai orang Indonesia,… dan kemungkinan besar hal seperti itu memang sering terjadi.

Baik, sekarang ijinkan saya menganalisa joke yang bagus tersebut.

Pertama,  orang Indonesia itu pastilah tidak seperti tukang bunga atau polisi yang meninggalkan si tukang cukur dengan perasaan terimakasih. Dia pasti meninggalkannya dengan perasaan puas dan berpikir sudah sewajarnya orang setua itu melakukan pelayanan.

Namun, bukankah itulah mentalitas miskin yang dimiliki bangsa kita. Ketika ada orang kaya datang ke daerah atau kampung kita dan membagi-bagikan sesuatu, tanpa sungkan kita berebut, bahkan minta tambah, seolah si kaya memang berkewajiban membantu.

Saat seorang mampu membantu yang berkekurangan, bukannya sungkan, yang dibantu malah akan bersikap seenaknya meminta lebih karena beranggapan si mampu wajib membantunya.

Ya, saya kenal banyak orang seperti ini. Saat kita tergerak dan membantunya secara rutin lama kelamaan mereka melunjak dan justru malah mencurangi kira. Meminta yang tidak-tidak, berbohong, dan berdalih “ah dia mah kaya, gapapa ditipu sedikit aja”.

Hal yang menarik adalah, kenapa hal seperti ini kebanyakan terjadi di negara berkembang cenderung miskin? Apakah kemiskinan akan menggerogoti harga diri seseorang.

Membaca hal ini beberapa orang tentu akan mencibir dan menuduh saya tidak berpihak pada orang miskin. Tidak! saya bukannya membenci orang miskin, saya membenci mentalitas miskin dan selalu ingin diberi.

Setiap manusia diberikan tugas oleh Tuhan untuk “mengolah tanah” yang kita pijak, bukan untuk menerima bantuan apalagi memalak orang lain. Saat manusia memutuskan untuk hidup dari pemberian, ia telah keluar dari takdirnya.

Bagaimana jika ia tak mampu lagi bekerja? Yaah… saya rasa itu pengecualian. Selama kita tidak mau dianggap disable atau tidak mampu, kita harus bersedia mengolah tanah, karena hanya dengan memiliki mentalitas “mengolah tanah”, seorang manusia memenuhi takdirnya dan memiliki harga diri…

Advertisements