Antara kesempatan, gojek, dan ketamakan


Kemarin saya menemukan sepenggal percakapan seperti ini di facebook. Terlepas dari apakah percakapan ini benar terjadi atau rekayasa, saya menganggap bahwa ini sesuatu yang sangat menarik:

image

Saya mengerti jika tidak banyak yang akan menyetujui pendapat saya atau tulisan saya ini… Tapi, setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya, bukan?

Kemarin saya memuat percakapan itu di facebook disertai sedikit pendapat saya… Bahwa saya menganggap orang itu serakah… Namun saya tak menambahkan penjelasan apapun untuk memancing komentar dan pendapat beberapa teman yang merasa tertarik…

Seperti dugaan saya, semua yang memberi komentar tidak setuju dengan pandangan saya bahwa supir gojek yang dimaksud adalah serakah. Bagi mereka si assisten si kedutaan adalah seorang yang pandai memanfaatkan kesempatan untuk mencari uang.

Baik, jika itu topik yang diangkat, maka pencopet pun adalah mereka yang pandai memanfaatkan kesempatan, yaitu kelengahan orang lain, untuk mencari uang.

Tunggu sebentar! Saya yakin Anda akan protes, ‘tapi kan menjadi supir gojek itu halal, mencopet itu haram’. Benar sekali! Seringkali saya agak sulit menemukan cara yang paling mudah dimengerti untuk mengungkapkan pemikiran saya. Tapi akan saya coba…

Begini, jika target hidup seseorang adalah mencari uang sebanyak-banyaknya, maka apa bedanya si asisten kedutaan yang narik ojek dengan pencopet? Mereka sama-sama memanfaatkan kesempatan untuk mencari uang.

Saya tidak pernah suka kata “memanfaatkan kesempatan” untuk aktivitas ‘mencari uang’. Karena bagi telinga saya, itu terdengar seperti pencuri.

Jika Anda seksama membaca artikel di atas, Anda akan menemukan bahwa si asisten kedutaan yang fasih berbahasa Perancis ini memiliki sebuah pekerjaan utama, yaitu Asisten Kedutaan Belgia khusus bahasa Perancis. Dia bukan seorang part timer (jika begitu, sudah pasti dia akan menyebutkannya. Lagipula, jabatan asisten di kedutaan tidak diisi oleh seorang part timer).

Dia bilang bahwa pekerjaannya tidak terlalu banyak. Hari itu kebetulan dia tidak ada kerjaan. Jadi, alih-alih dia berinisiatif mengambil extra mile dalam pekerjaannya, ia malah nyambi supir ojek modern. Saya tidak heran jika dalam beberapa tahun ke depan ia tidak akan naik pangkat.

Saya katakan bahwa orang ini tamak, serakah… Ia memerlukan gengsi sebagai asisten di Kedutaan Belgia – dibuktikan dengan fasihnya ia menjelaskan siapa dirinya (saya pikir ia hanya akan menjawab “sambilan Mbak”, dan bukan langsung menjelaskan pekerjaan utamanya) – namun ingin mendapatkan tambahan penghasilan dengan cara “memanfaatkan kesempatan” saat di kantor tidak sibuk.

Apa yang salah, kata Anda?
Baik, jika bagi Anda belum jelas juga, saya akan tambah penjelasan saya. Orang ini telah melakukan sebuah fraud. Saya seorang konsultan Manajemen dan sangat paham dengan kecurangan kecil seperti ini.

Fraud adalah suatu tindakan yang mengambil keuntungan dari perusahaan untuk kepentingan pribadi. Saya beri contoh… Fraud adalah ketika Anda menggunakan telpon kantor untuk menelpon kekasih Anda membicarakan urusan pribadi. Fraud adalah ketika Anda terlambat masuk setelah istirahat makan siang berakhir. Fraud adalah ketika Anda mengambil kertas kantor untuk mengerjakan tugas anak Anda di sekolah.

Jika Anda seorang pemilik usaha, memiliki anak buah yang nyambi bekerja di luar saat kebetulan dia tidak sibuk, apakah Anda akan tetap mau membayarnya?

Ketika Anda bekerja, maka orang yang mempekerjakan Anda membayar waktu Anda, setiap detik mulai dari jam masuk hingga jam pulang yang Anda miliki adalah milik orang yang membayar Anda. Ketika Anda menggunakannya untuk kepentingan lain, Anda sama seperti pencopet.

Jika Anda berkata, “oh tidak, waktu saya adalah milik saya”, kalau begitu sudah saatnya Anda mengundurkan diri dari tempat kerja Anda dan membuka usaha Anda sendiri.

Jadi, apakah Anda sudah menangkap maksud saya ketika saya berkata dia adalah seorang yang tamak?

Tak hanya itu yang saya soroti. Apakah Anda pernah belajar ekonomi? Tak perlu mengambil S2 untuk mengetahui hukum ekonomi: ketika supply lebih tinggi dari demand maka harga akan turun, demikian sebaliknya jika supply lebih sedikit dari demand maka harga akan naik.

Saat ini penghasilan supir gojek menurun drastis. Anda tahu kenapa? Betul! Karena jumlah mereka yang meningkat drastis. Dilihat dari sudut pandang ekonomi tentu ada jalan keluarnya, yaitu inovasi. Namun bukan itu yang sedang saya bahas.

Tahukah Anda imbas dari seorang serakah yang memanfaatkan kesempatan dengan mencuri waktu untuk mencari uang terhadap mereka yang betul-betul kekurangan?

Tahukah Anda bahwa beras dan uang sekolah anak lebih penting dari tiket Bon Jovi?

Tahukah Anda bahwa ketamakan menghancurkan? Baik itu menghancurkan orang di sekitar Anda maupun menghancurkan Anda sendiri. Itulah sebabnya Tuhan membenci ketamakan. Mamon, dapat juga berartikan ketamakan… Merupakan saingan terbesar Tuhan.

Anda tahu kenapa? Karena ketamakan dapat membuat seseorang tidak bisa bersyukur.

Dalam Lukas 12, Yesus membahas ketamakan dan mengikutinya dengan perintah ‘Jangan kuatir’.

Ketamakan juga dapat membuat seseorang meragukan Tuhan dengan terus menerus kuatir kalau apa yang diterimanya tidak pernah cukup.

Ah, saya rasa tak perlu lagi saya perpanjang tulisan ini. Saya hanya akan menutupnya dengan ini:

Lukas 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Yesus mengatakan itu sebelum Dia memberi perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh…

Anda tahu kenapa orang kaya itu dikatakan bodoh? Karena ia mengisi hidupnya hanya dengan mencari uang, dan uang, dan uang… Harta, dan harta, dan harta…

Tanpa ia sadari bahwa manusia diciptakan begitu mulia… Saking mulianya hingga hidupnya dikuasai Pencipta…

Menjadi mahluk mulia itu memiliki tujuan hidup yang jauh lebih tinggi daripada sekedar menjadi kaya…

Menjadi mahluk mulia itu memiliki potensi yang lebih besar daripada sekedar mengumpulkan uang…

image

Advertisements