Short Holiday day 1 : tipuan iklan internet, klemar-klemer, dan negara miskin peradaban


Sudah lama saya tidak menulis pengalaman di blog ini… Aneh sekali, seolah sudah lama saya tidak mengalami sesuatu yang menarik dalam kehidupan saya beberapa bulan belakangan. Sesungguhnya tidak begitu… Hanya saja pekerjaan yang padat membuat saya memandang hari-hari saya hanya seperti melihat matahari yang selalu terbit dan terbenam. Terlalu biasa hingga nilai ajaibnya tak lagi terasa.

Tulisan kali ini mungkin tidak terlalu menarik untuk pembaca sekalian. Namun sekali-sekali saya perlu menulis hal-hal tentang kehidupan yang membuat saya bersyukur senantiasa…

Liburan hari kemerdekaan kali ini diisi dengan sebuah liburan yang singkat, melelahkan sekaligus menyenangkan. Nilai menyenangkan di sini hanya karena kali ini keluarga yang ikut cukup banyak…. Ada om saya (kakaknya mama) dan istrinya yang jauh-jauh datang dari Surabaya… Hanya 2 hari di Bandung untuk mengunjungi nenek saya tapi dipaksa ikut liburan singkat karena nenek saya pun ikut.

Juga ada tante saya (adik mama saya) dari Surabaya dan anak laki-lakinya, sepupu kesayangan saya yang sedang berlibur dari kuliahnya di China. Selain itu ada nenek saya yang luar biasa dan dua tante saya yang lain. Selain tentu saja ada keluarga saya. Kehadiran mereka membuat liburan singkat kali ini terasa luar biasa…

Dua bulan lalu Papa saya berinisiatif membooking cottage untuk liburan singkat 17 Agustus melalui internet. Cottage ini berada di tengah-tengah perkebunan Teh Walini dan berada di kawasan yang sama dengan pemandian air panas Walini…di Ciwidey.

Karena ternyata jumlah keluarga yang ikut banyak, dan karena di Perkebunan Teh Walini tak ada lagi cottage kosong, adik saya membooking cottage tambahan di Saung Gawir, yang berjarak sekitar 5 km dari Walini.

Perjalanan pergi memakan waktu cukup lama karena ternyata cukup banyak orang yang seperti kami. Memanfaatkan waktu liburan singkat ke Ciwidey.

Perkebunan teh Walini adalah tempat yang sejuk. Tak seindah apa yang ada di internet, tapi cukuplah untuk tempat beristirahat. Cottage di Walini pun bukan tempat yang modern, terdiri dari dua kamar, ruang nonton TV, dapur dan halaman depan berisi bale-bale yang cukup luas. Bangunannya tidak modern dengan kasur busa yang sudah lama dan selimut tebal namun berlubang-lubang karena sundutan rokok.

image

image

image

image

Dapur cukup untuk memasak, dan kamar mandi selalu terisi dengan air panas.. Keran air benar-benar mengeluarkan air panas, baik di kamar mandi maupun di tempat cuci piring. Konon katanya air panas bukan berasal dari water heater, tapi dari pegunungan, entah mengapa air panas pegunungan itu tak juga habis.

Di area yang sama, terdapat pemandian air panas. Sebenarnya saya ingin sekali berendam air panas seperti di Ciater, namun kondisi kemarin tidak memungkinkan kami untuk melakukannya. Kolam renang air panas penuh sesak, bahkan di mana-mana terdapat tikar dan orang-orang yang duduk di atasnya.

Saung Gawir dikelola dengan lebih baik. Tak ada perkebunan teh, hanya cottage dan villa dengan pemandangan ke arah gunung dan perkampungan di Ciwidey. Namun tempat tidur cukup nyaman. (tapi saya tidur di luar bersama sepupu dan Papa saya karena pertimbangan kapasitas). Kami yang mendapat bagian di tempat ini adalah keluarga saya, tante saya dan sepupu saya.

Ada pemanas ruangan berupa tungku di tiap cottage yang sayangnya tidak kami gunakan karena Papa dan Mama saya takut dengan asap yang mungkin akan masuk ruangan. Walau saya memaksa dengan mengatakan ada cerobong asap hingga asap tak mungkin masuk,  namun Papa dan Mama saya tetap tak mau menggunakan kayu bakar yang sudah di sediakan. Akibatnya, malam hari kami sangat kedinginan hingga paginya bangun dengan tubuh lelah.

Liburan seperti ini bukan jenis liburan yang saya sukai. Saya lebih suka pantai sebagai tempat berlibur. Tapi, seperti telah saya katakan… Berkumpulnya keluarga membuat liburan selalu terasa menyenangkan.

Ada kejadian yang membuat saya cukup emosi dan akhirnya marah di hari pertama. Kejadiannya di Alf*mart, saat saya sedang akan membeli beberapa keperluan untuk malam harinya. Antrian panjang di dua kasir yang buka sepertinya tidak membuat kasir bekerja cepat. Gerak-geriknya begitu lambat, membuat saya dan adik saya kesal setengah mati. Karena lama mengantri tante saya menyusul saya dan berkata, kalau barang yang dicari tak ada, tak usah beli apapun. Saya katakan barangnya ada, hanya saja kasir yang melayani bergerak dengan sangat lambat. Dengan polos tante saya berkata cukup keras…”Oh, mungkin orang baru makanya klemar klemer” sambil ngeloyor pergi.

Setelah orang di depan saya yang hanya membeli dua item saja selesai dilayani dengan sangat lama, tiba-tiba kasir itu berjongkok dan menelepon supplier Aqua galon. Saya duga dia sengaja melakukannya, karena kesal mendengar kami mengeluhkan lambatnya pelayanannya.

Di kasir sebelahnya ada dua orang petugas. Yang satu sedang melayani customer, yang satu hanya berdiri saja melihat ke layar. Adik saya lalu mengatakan pada yang sedang berdiri, “Mas, tolong dong saya sama Mas aja dilayani. Itu Masnya yang itu kok malah telepon ya”. Saya melihat ke belakang dan antrian begitu panjang.

Petugas tersebut melihat saya, tersenyum, melihat temannya yang telepon, kemudian kembali memandangi layar monitor. Kedua kali saya yang memanggil dengan lebih keras, “Mas, ayo dong.. Kenapa sih ga mau? Memangnya ga bisa?”

Rupanya dia pikir jika dia melakukannya, dia mengkhianati temannya yang sedang telepon dengan menahan kesal pada kami.

Adik saya kemudian berbisik “apa ga jadi aja ya”. Kali ini ego saya sudah mulai kena. Saya katakan pada adik saya kalau tidak jadi, maka Alfa*art tak rugi apapun, tapi kita kalah.

Ketiga kali saya kembali berkata, “Mas, gimana sih” dengan nada yang lebih tinggi. Tiba-tiba petugas yang sedang melayani di kasir sebelah menyenggol temannya dan memberi kode agar melayani kami.

Tak menunggu 1 menit untuk saya akhirnya marah, “Mas, peka dong jadi orang. Lihat antrian belakang saya panjang, Mas kok malah berdiri aja. Jadi orang kerja harus mendahulukan customer dong. Itu Mas yang satu lagi kenapa telepon padahal antrian panjang. Masa pesan barang malam-malam gini lebih penting daripada melayani antrian sepanjang ini.

Aneh ya, saya lihat Alf*mart kok makin lama pelayanan makin buruk (memang benar, berkali-kali saya kecewa dengan pelayanan mini market satu ini, mulai dari uang kembalian yang dicatut sampai petugas yang lelet). Makanya kalau di Bandung ada Alf*mart dan Ind*maret berdekatan, saya sih pilih Ind*maret.”

Selanjutnya saya mengomel sampai petugas yang telepon memerah mukanya. Saya rasa, jika saya tahan lebih lama lagi dia akan mengamuk.

Mas yang melayani kami pun lelet juga. Mengambil plastik pun lama sekali, hingga akhirnya saya dan adik saya mengambil belanjaan kami yang cukup banyak “sudah, ga usah diplastikin, urusin aja kembalian”. Setelah proses menghitung kembalian yang juga sangat lama akhirnya selesai juga transaksi kami di Alf*mart.

Untungnya kekesalan kami di hari pertama dihapuskan oleh sepupu saya yang bercerita mengenai hari-hari belajarnya di China.

Hal yang menarik perhatian saya mengenai negeri nenek moyang saya ini adalah budaya orang-orangnya yang jauh dari istilah “modern”. Sepupu saya cerita, di China orang biasa meludah sembarangan, tak hanya di jalan, namun di tempat perbelanjaan seperti Carrefour. Ketika seseorang ingin meludah, dia akan langsung meludah tak peduli di mana ia berada.

Berikutnya adalah tentang mengurus anak. Celana anak-anak di sana dilubangi di bagian membuang air, membuat mereka mudah buang air di mana saja saat mereka ingin.

Berikutnya adalah tentang toilet… Toilet umum di China tidak memiliki pintu, beberapa bahkan tidak memiliki sekat. Anda bisa melihat bebas orang lain yang sedang buang air tanpa mereka merasa risih.

image

Selanjutnya adalah tentang etika. Mohon maaf sebelumnya, namun bukan rahasia umum bahwa beberapa keturunan China di Indonesia pun masih memiliki masalah dengan etika. (Walau saya tak akan menampik jika beberapa orang Indonesia sendiri tak paham masalah etika). Tak heran jika nenek moyang bahkan saudara-saudara di tanah asal mereka pun memiliki masalah serius dengan etika. Contoh salah satunya adalah menghampiri orang yang mereka pikir aneh dan memandanginya dari atas ke bawah.

Cerita-cerita adik sepupu saya tentang negeri nenek moyang saya cukup menarik…Cukup untuk membuat saya bersyukur bahwa kakek buyut saya memutuskan datang ke Indonesia dan saya dilahirkan sebagai Warga Negara Indonesia. Cukup untuk membuat saya bersyukur bahwa dulu Indonesia pernah dijajah bangsa Eropa yang setidaknya mewariskan etika dan mengajarkan bagaimana menjadi “beradab”.

Namun tetap saja saya merasa bingung, kok bisa China menjadi raksasa perekonomian dunia. Saya membahasnya bersama adik saya. Lihat saja, China memproduksi barang-barang murah tanpa peduli dengan etika (pemalsuan) dan kepuasan pelanggan (dipakai sebentar rusak). Namun lucunya, pelanggan tidak dapat complain karena “udah murah kok mau yang bagus”. Satu-satunya yang bisa dibanggakan mungkin adalah semangat belajar dan kerja keras yang luar biasa. Itu adalah rahasia kesuksesan mereka, bahkan di dunia olahraga sekalipun

Kesuksesan mungkin bisa didapat dari semangat belajar dan kerja keras. Tapi sesungguhnya kualitas suatu bangsa ditentukan dari etika masyarakat, baik dalam kehidupan sosial maupun bisnis.
Hari pertama diakhiri dengan baik, namun tak bisa membuat kami tidur nyenyak karena udara dingin menggigit tulang. Jika lain kali Anda ke Ciwidey, bawalah cadangan selimut, kaus kaki, baju hangat dan jangan lupa nyalakan pemanas ruangan jika ada.

Advertisements