Minggu kemarin saya mengikuti acara wisuda PAUD Ekklesia di Lippo Cikarang. Anak-anak kecil yang begitu percaya diri maju ke depan dengan menggunakan baju panjang dan topi kelulusan, disambut oleh beberapa orang dewasa di depan yang memindahkan pita topi dari kiri ke kanan.

Saya jadi teringat dulu saya pernah mengalami seperti itu.. Bukan saat kelulusan S1 atau S2, tapi kelulusan TK.

Kita tidak memakai toga saat lulus SD, SMP atau SMA. Kita bertemu toga hanya saat lulus TK dan perguruan tinggi. Menurut Anda kenapa?

Saya pikir mungkin karena kita mengalami masa-masa sulit saat TK dan perguruan tinggi… Itu sebabnya kita mendapat penghargaan demikian tinggi, berjubah panjang dengan topi.

Masa – masa TK adalah ketika seorang anak keluar dari zona nyaman bernama keluarga dan berkenalan dengan dunia baru bernama guru dan teman-teman. Ketika seorang anak belajar untuk tidak egois dan bersosialisasi, itu sebabnya kelulusannya perlu dirayakan, “hey, kau sudah siap untuk sekolah sungguhan sekarang.. Siap untuk menghormati guru dan memiliki teman-teman… Siap untuk bertanggungjawab dan displin”

Masa-masa perguruan tinggi adalah ketika seseorang keluar dari zona nyaman remaja dan masuk ke dalam dunia orang dewasa. Belajar untuk memasuki “hutan rimba” di luar sana. Maka kelulusannya perlu dihargai, “hey, kau sudah sarjana… Siap untuk menghidupi dirimu sendiri”

Pendidikan di luar negeri menghargai lulusan high school dengan toga, namun tidak di Indonesia. Di sana, lulusan SMA dianggap siap untuk mandiri dan menghidupi dirinya sendiri… Tidak di Indonesia…

Mereka lulus dengan kebanggaan jubah panjang wisuda. Menyadari bahwa hidup mereka baru dimulai…. Ya, bagi saya toga adalah lambang dimulainya suatu kehidupan yang baru…

Sementara di negara kita tercinta, anak-anak SMA lulus dengan corat coret dan pawai di jalan. Bagi mereka, perayaan akan berakhirnya masa sekolah lebih penting dari kenyataan bahwa hidup yang sebenarnya baru saja dimulai.. Dengan mentalitas seperti itu, jubah kelulusan memang belum pantas mereka pakai.

Tidak heran jika hampir dalam segala hal kita tertinggal.

Saya jadi bingung… Apakah toga yang membuat seorang lulusan SMA menyadari tanggungjawabnya yang baru, atau tanggungjawab yang membuat seseorang pantas memakai toga…?

Ah, jika anak-anak TK saja paham akan tanggungjawab baru yang akan mereka hadapi, masakan para lulusan SMA kita ini tidak memahaminya?

Advertisements