Logika Roda Dua dan Empat


Anda pasti pernah melihat video seorang polisi yang menilang supir transjakarta dan membela pengendara motor, kan? Jika belum, berikut linknya untuk Anda:

Satu hal yang menyebalkan dari video itu adalah ketika si pengendara motor berkata “saya roda dua….”

Dalam berlalu lintas di Indonesia, entah siapa yang menetapkan, makin sedikit jumlah roda kendaraan yang Anda bawa, maka kekuatan Anda makin besar di depan hukum.

Tidak jarang polisi pada akhirnya membela pengendara motor dibanding pengendara mobil ketika terjadi konflik di lalu lintas.

Setahun lalu saya mengalami hal yang menyebalkan dengan pengendara motor (walau tidak melibatkan polisi). Saya yang sedang berkendara santai di depan mesjid Batununggal di hari Jumat (bertepatan dengan Jumat Agung), dan baru melewati polisi tidur, tiba-tiba saja dikejutkan oleh seorang pengendara motor tanpa helm yang sekonyong-konyong entah muncul darimana menjatuhkan motornya di depan mobil saya. Untunglah respon saya menginjak rem masih cepat… Jika tidak, entah apa jadinya.

Saya sangat beruntung karena satpam mesjid membela saya “si ibu mah da lalaunan, teu keur ngebut.” ( Ibu ini mengendara pelan, tidak sedang ngebut). Namun warga yang akan sholat Jumat dan ada di sekitar situ memperlakukan saya seolah saya kriminal yang sedang menyakiti “orang kecil”

Saya benci dengan istilah “orang kecil”. Seringkali istilah ini dijadikan alasan untuk bersikap sembarangan. Seolah istilah “orang kecil” dapat membebaskan pemilik sebutan dari masalah.

Saat kejadian itu ada tiga kalimat yang membuat saya muak. Kalimat pertama dan kedua diucapkan oleh warga kepada pengendara motor itu “ka polisi weh pak.. da polisi mah pasti ngabela motor, orang kecil” dan “ibu kan punya mobil, bapak ini mah orang kecil cuma punya motor. Ibu harus ganti rugi”. Berikutnya kalimat yang diucapkan pengendara motor itu “biar saya salah juga tapi ibu tetap yang harus ganti rugi ke saya, soalna pan saya mah roda dua, ibu roda empat”.

Karena kenekadan saya, akhirnya saya jawab, ” oke, kita ke polisi. Bapak yakin kalau ke polisi saya yang bakal diminta ganti? Coba cek surat-surat Bapak. Trus, tadi Bapak ga pake helm kan? Banyak saksi juga kalau Bapak yang salah lho.” Setelah berpikir tidak terlalu lama akhirnya Bapak itu menyadari posisinya lemah dan mengatakan, “ya udah bu, ga usah ganti”. Dalam hati saya berkata ” ya iyalah, mobil gue juga penyok dan bempernya sobek”.

Namun tiba-tiba saja saya diingatkan bahwa itu adalah Jumat Agung dan 2000 tahun yang lalu, ada Seorang yang mau menanggung kesalahan manusia walaupun diri-Nya tak bersalah, dan melihat patahnya stang motor bapak itu (yang ternyata hanya seorang tukang bangunan), maka saya pun berkata, “Bapak tunggu di sini. Saya ke ATM sebentar. Bapak ga usah ganti mobil saya (sebelumnya saya berkata kalau dia mau dapat ganti rugi dari saya, dia juga harus memberi saya ganti rugi). Saya akan beri sedikit uang untuk membantu Bapak memperbaiki motor Bapak. Jangan pergi, Bapak percaya aja saya pasti balik lagi.”

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja kemarahan saya berkurang 50%. Rupanya hormon endorfin sedang bekerja di otak saya. Singkat cerita, saya ke ATM yang berjarak sekitar 300 meter dengan mobil mengambil uang di ATM dan kembali lagi pada bapak tadi di depan Mesjid yang sudah memulai ibadah Sholat Jumat. Kemudian, saya pergi dari tempat itu dengan penuh kemenangan.

Namun masalahnya bukanlah soal kemanusiaan dan kebaikan hati. Tapi mengenai harga diri yang dimiliki bangsa ini. Entah mengapa mereka memiliki pola pikir bahwa karena mereka “orang kecil” maka mereka selalu menjadi korban kehidupan dan wajib diberi bantuan, dan bukannya berpikir bahwa karena mereka “orang kecil” maka mereka harus berusaha lebih giat meningkatkan taraf hidupnya.

Entah mengapa bangsa ini berpikir bahwa orang kecil adalah kaum marjinal yang tidak memiliki kemampuan dan layak jika hidup hanya dari belas kasihan saja. Jangan salah sangka, bukannya saya tidak memiliki belas kasihan dan suka mendiskreditkan orang yang tidak mampu. Saya hanya tidak suka jika mental terjajah terus menerus ada pada bangsa ini. Mental menjadi korban kehidupan harus segera dihapus jika bangsa ini ingin maju.

Siapa bilang harga diri hanya milik orang berduit. Eit, jangan kira harga diri adalah kesombongan. Harga diri adalah sesuatu yang mempertahankan hakikat manusia sebagai mahluk mulia. Harga diri akan menahan pengendara motor yang memang salah untuk berkata “saya kan cuma roda dua…” sebaliknya berkata “saya yang salah… Mari kita bicarakan bagaimana menyelesaikannya.

Harga diri menahan orang dari berkata “saya kan HANYA orang kecil.. ” sebaliknya berkata “walau saya orang kecil, saya akan berusaha…”

Sejalan dengan itu, harga diri yang akan menahan pejabat dari korupsi, sebaliknya berpikir, “gengsi kalau mencuri dan menggunakan uang yang bukan milik saya”

Harga diri yang akan membuat kita menjadi bangsa yang besar… Mudah-mudahan…

Advertisements