Ada sebuah banyolan lama yang tiba-tiba saja menjadi favorit saya. Setelah beberapa hal yang saya alami, saya merasa bahwa seringkali karena kesempitan cara berpikir kita, kita menekan orang lain agar mereka (terpaksa) melakukan apa yang kita arahkan.

Banyolan itu adalah kisah tentang seorang kakek dan cucunya yang membawa keledai keluar kota. Pertama-tama sang cucu naik ke atas keledai sedangkan si kakek berjalan menuntun keledai. Kemudian mereka berpapasan dengan sejumlah orang. Sejumlah orang itu melihat mereka dan mulai berbisik-bisik.

Akhirnya satu orang memberanikan diri memberi masukan pada orang itu, “Nak, aku berkata begini untuk kebaikanmu. Aku lihat kau sebenarnya anak yang baik, jadi aku berniat memberi masukan padamu. Tidakkah kau kasihan melihat kakekmu yang renta berjalan kaki sementara kau naik keledai.

Jadilah anak berbakti, nak. Berilah punggung keledai untuk kakekmu. Aku sih hanya kasihan padamu. Agar kau tidak diomongin orang.”

Kemudian anak ini berunding dengan kakeknya. Akhirnya, untuk menghindari gunjingan orang, mereka sepakat untuk bertukar tempat… Si anak berjalan menuntun keledai, dan kakeknya naik ke punggung keledai.

Tak lama mereka berjumpa lagi dengan sekumpulan orang yang setelah melihat mereka mulai berbisik-bisik. Sama seperti yang pertama, salah seorang dari mereka menghampiri si kakek dan bicara, “Hei Pak Tua, saya melihat Anda seorang yang baik hati dan bijak. Mohon jangan marah… Saya ingin memberi Anda masukan agar di kemudian hari Anda tidak menjadi bahan omongan orang.

Mengapa kau begitu tega membiarkan cucu kecilmu berjalan kaki menuntun keledai sementara kau menaikinya. Lihat kaki-kakinya yang kecil begitu kepayahan. Aku bermaksud baik memberimu nasihat, kasihani dia.”

Sekali lagi si kakek berunding dengan cucunya. Demi menghindari gunjingan di kemudian hari, mereka pun sepakat untuk turun dari keledai dan bersama-sama menuntun keledai itu.

Tak lama mereka berpapasan lagi dengan sekelompok orang yang melihat mereka, berbisik-bisik sambil tersenyum geli. Satu orang dari mereka kemudian berteriak, “Hei… Kalian ini bodoh atau apa? Kalian memiliki keledai untuk dinaiki tapi malah berjalan kaki. Mubazir Tuhan memberi kalian berkat jika tidak kalian gunakan.”

Lagi,  Sang Kakek berunding dengan cucunya. Akhirnya, untuk menghindari dikata-katai, mereka sepakat untuk menaiki keledai itu bersama-sama.

Kemudian mereka berjumpa lagi dengan kelompok orang berikutnya yang sekali lagi, berbisik-bisik saat melihat mereka. Seperti sebelumnya, seorang dari kelompok itu menghampiri mereka.

“Kalian terlihat seperti orang baik-baik. Jangan merusak reputasi kalian dengan berbuat sekejam ini. Kasihan keledai ini dinaiki dua orang. Lihat, dia tampak sangat kelelahan.

Aku memberitahu kalian untuk kebaikan. Jangan sampai di kemudian hari orang-orang bergunjing buruk tentang kalian.”

Setelah perundingan berikutnya yang melelahkan, akhirnya si kakek dan cucunya sepakat untuk berjalan sambil menggendong keledai itu.

Kisahnya berhenti sampai di situ. Saya rasa tak perlu lagi melanjutkannya.

Sebagai orang timur, kita sering dihadapkan dengan posisi seperti itu… Baik sebagai orang yang mudah memberikan “nasihat” berdasarkan judgement kita, maupun sebagai orang yang berada dalam posisi sulit dan merasa ketakutan dengan penilaian orang.

Ada satu kata yang saya benci setengah mati: “menghindari fitnah”. Dasar dari orang timur bertindak bukanlah karena mereka memiliki integritas, namun karena mereka mengejar reputasi baik semata-mata.

Saya pernah dalam posisi mengangkut keledai. Partner kerja saya adalah seorang pria yang sudah menikah. Dalam beberapa kesempatan kami terpaksa harus ke tempat tujuan bersama.

Dulu, dari tempat kerja (kantor) kami ke tempat tujuan dengan motor untuk menghindari macet. Kemudian orang mulai bergunjing. Sebagian memberi nasihat, untuk menghindari fitnah sebaiknya jangan naik motor karena tidak enak jika dilihat orang.

Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak lagi naik motor. Karena kami berasal dari kantor yang sama, maka kami naik mobil bersama. Apakah Anda pikir gunjingan berhenti? Tidak! Sebagian berkata agar kami tidak ” berdua-duaan” di dalam mobil.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi masing-masing walau dari dan ke tempat yang sama. Saat hujan, rekan kerja saya akan kehujanan dan saya harus membawakan barang-barangnya di dalam mobil saya. Tiba-tiba saja saya merasa seperti sedang menggotong keledai di pundak saya.

Saya benci posisi seperti ini. Ketika kita memikirkan pendapat orang lain dan menganggapnya begitu penting hingga kita menjadi canggung melakukan apapun.

Saya benci posisi seperti ini. Ketika kita terpaksa menghindari fitnah. Padahal kita sama sekali tidak bisa mencegah orang untuk tidak memfitnah.

Jika saya boleh sedikit sarkastis. Jika saya kemana-mana dengan partner wanita, dalam posisi saya belum menikah, toh orang mungkin akan menganggap saya memiliki kelainan…

Saya lelah jika hidup saya harus berdasarkan pendapat orang lain…

Jadi, sebaiknya saya turunkan keledai dari pundak saya… Bagaimana dengan Anda? Akankah Anda tetap membawanya di pundak Anda?

Advertisements